Sang Bayi
September 2nd, 2007 by Stebby Julionatan
Mesbah kecil itu berbicara
tentang guratan takdir pada kepalan Sang Bayi:
“Nanti ia lebih menderita darimu, Ibu.
Menanggung biru punggung dunia dalam benaknya.”
“Tidakkah ada bayi lain?
Sedang rahimku saja masih gemetar
karenanya.” Kau merasa kehilangan.
Pada lembaran-lembaran kosong, nantinya ia menulis.
Pada bangku-bangku kosong, nantinya ia mengajar.
Dan hanya ada selusin cawan
yang menampung potongan-potongan katanya.
Namun tak apa, sebab itulah permulaan kalimat.
great,, pilihan kata yang bagus! hmm.. kapan yah aquw bisa buat somekind like those poem? Kaya’nya musti berguru lama dulu nih?! hehehehe…