Ketika Laut Menabur Desau
September 2nd, 2007 by Stebby Julionatan
Ketika laut menabur desau merasuki kalbumu sampai parau
Tahukah dirimu…?
bahwa bumi memendam takdir untuk selalu tersenyum.
(pada tamparan ombak
yang menyeret pasir-pasir pantai dan menggulungnya dalam gelora arus)
“Kau milikku, Pelaut.” Ia merasa berhak pada dirimu.
Memang….
dari rahimnya kau kenyang
tetapi dalam buaian kabut malam kau terlelap.
Ruhban mengasingkan diri ke perwara
khidmat berdiam disertai jeritan lonceng-lonceng yang kelaparan
serta aroma kemenyan yang sayup-sayup menyentuh hidung langit.
Dewa-dewa pun iba pada tangisan bumi yang hening
hingga dibuatnya langit bersin dalam gelegar
dan bulan turut menghela ombak yang dihirupnya ke arah kapal itu.
Laut tidaklah tawar
ia mencandumu dengan lompatan ombak dan jejak-jejak garam.
(maka engkau tidaklah surut; malah menggeliat penuh gelora)
Hatimu yang karam oleh kesombongan
makin memutus satu-satunya tali yang mengikat kalian berdua:
Perahu itu.
Ketika laut menabur desau
merasuki kalbumu sampai parau
Tahukah dirimu…?
bahwa bumi memendam takdir untuk selalu setia.
(menunggumu yang kelaparan dan tak berdaya di bibir pantai)
April 2007.