KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ketika laut menabur desau merasuki kalbumu sampai parau

Tahukah dirimu…?

bahwa bumi memendam takdir untuk selalu tersenyum.

(pada tamparan ombak

yang menyeret pasir-pasir pantai dan menggulungnya dalam gelora arus)

“Kau milikku, Pelaut.” Ia merasa berhak pada dirimu.

Memang….

dari rahimnya kau kenyang

tetapi dalam buaian kabut malam kau terlelap.

Ruhban mengasingkan diri ke perwara

khidmat berdiam disertai jeritan lonceng-lonceng yang kelaparan

serta aroma kemenyan yang sayup-sayup menyentuh hidung langit.

Dewa-dewa pun iba pada tangisan bumi yang hening

hingga dibuatnya langit bersin dalam gelegar

dan bulan turut menghela ombak yang dihirupnya ke arah kapal itu.

Laut tidaklah tawar

ia mencandumu dengan lompatan ombak dan jejak-jejak garam.

(maka engkau tidaklah surut; malah menggeliat penuh gelora)

Hatimu yang karam oleh kesombongan

makin memutus satu-satunya tali yang mengikat kalian berdua:

Perahu itu.

Ketika laut menabur desau

merasuki kalbumu sampai parau

Tahukah dirimu…?

bahwa bumi memendam takdir untuk selalu setia.

(menunggumu yang kelaparan dan tak berdaya di bibir pantai)

April 2007.

Tinggalkan Komentar