Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on September 30th, 2007 2 Comments »
Saat sedih ku sendiri
tanpa ada seorangpun tahu
Apakah mereka begitu tak mengerti yang kurasa?
Hatiku terluka dan begitu perihnya
Tak satupun yang tahu akan isi hatiku
Di depan semua orang aku seolah-olah riang
Tapi di dalam lubuk hatiku banyak hal yang menyakitkan
Kenapa aku begini?
Sungguh ku tak ingin begini
Siapakah yang bisa menolongku bebas dari semua ini
Ku merasa sangat berbeda dengan mereka
Mereka begitu asing bagiku
Aku juga punya hati
Aku punya perasaan
Ku ingin dihargai
Perasaan yang saat ini kurasa
Sering buatku merasa sedih dan sepi sendiri
Hanya di dalam hati, aku memendam rasa ini
Kadang ku merasa tak sanggup dengan semua ini
Tapi terus kucoba tuk tegar
Isi hatiku adakah yang tahu?
Ku pendam semua rasa dalam hatiku
Sungguh tak mudah bagiku
Aku tersiksa, ku ingin bebas
Bebas menjadi diriku sendiri dan bukan menjadi orang lain.
Permanent link to this post (142 words, estimated 34 secs reading time)
Posted in Puisi on September 30th, 2007 No Comments »
Bebas dan lepas
Bagai burung yang terbang bebas di langit
Bebas melakukan apa pun tanpa peduli apa pun
Hidup seekor burung yang tak terkekang
Tak seperti manusia
Hanya hidup dalam kekangan
Hidup dalam peraturan yang rumit
Tak bebas untuk lakukan apa pun
Burung-burung yang terbang bebas di angkasa
Terbang dengan polosnya tanpa suatu kekhawatiran
Melihat indahnya dunia
Tak seperti manusia yang hanya hidup dalam kepalsuan.
Permanent link to this post (66 words, estimated 16 secs reading time)
Posted in Puisi on September 29th, 2007 No Comments »
Separuh tubuh dan ragaku saling berebut tempat
demi sebuah perubahan yang ingiin aku lakukan
Sebagian berkata,
“Untuk apa kamu meninggalkan semuanya jika nantinya
kamu akan kembali juga?”
Sebagian lagi berkata,
“Langkah kebelakang hanya akan membuatmu menangis,
jadi kenapa tidak maju meski setapak?”
Posted in Puisi on September 29th, 2007 No Comments »
Aku heran mengapa cinta masih juga bersikap seperti itu
Kenapa dia begitu membenci kemandirian
Dan tidak ingin ditinggalkan
Apa ruginya jika sepasang kekasih meninggalkannya?
Dia masih punya jutaan pasangan yang memujanya
Kenapa dia harus membuat sepasang kekasih yang dulunya
saling mencintai sekarang menjadi musuh?
Kepakku terbata patah,
Menyusur pelangi kelabu jatuh ke tanah basah
Lukaku bisu,LukaKu BisU,
Terselubung jelaga perak kedengkian
Biarku memenggal sayapku sekalian
Pedihnya luka tak pula berkawan
Dewa, angkalah aku ke ujung angkasa
Merupa aura menguntai bencana
Atau tenggelamkanku dalam palung samudra
Menjelma hara mengurai petaka
Terik siang tak lagi terasa menyengat di Café Bonk kala itu, perbincanganku dengan Nezt dan Agni seputar pasangan hidup yang ideal mulai mengalir lancar begitu kami membicarakan masalah teman kami yang tidak direstui hubungannya oleh orang tua.
“Sebenarnya masalah ortu Fe apa sih?” -Disinilah pembicaraan kami bermula-
Posted in Puisi, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Jeritan, Kerinduan dan kenangan, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk, Renungan on September 29th, 2007 1 Comment »
Tanyakan padaku, Ayah…
Sebuah alasan dibalik tangisku
Aku akan menjawab,
“Aku bergelut dengan kawanku !”
Maka, marahlah padaku
Tanyakan pula padaku, Ayah…
Sebuah alasan dibalik gelak riangku
‘Kan ku jawab,
“Beruk ini sungguh lucu !”
Maka, tertawalah bersamaku
Marahmu,
Kasih yang tercurah penuh
Tawamu,
Kebahagiaan yang terdalam untukku
Posted in Puisi on September 29th, 2007 No Comments »
Keputusan besar telah diambil
Melepaskan cinta ini sekali lagi meski aku ingin sekali melanjutkan
Menjauhkan hati ini dari petaka cinta nan Maha Dahsyat
Mengubur semua cinta yang kembali agar…..tak kembali lagi
Aku tak mau merasakan ini lagi
Aku tak mau mengharapkan cinta datang padaku saat ini
Posted in Puisi on September 29th, 2007 No Comments »
Ketika sebuah kumpulan kenangan menyeruak hebat di dalam
hati dan pikiranku,hanya satu yang aku rasakan
Kepedihan,
Betapa kenangan-kenangan itu telah menyayat tiap inci sel tubuhku
Betapa kenangan-kenangan itu telah menenggelamkan semua tawaku
ke dasar palung yang paling dalam
Betapa kenangan-kenangan itu telah merobek seluruh tawa yang selama ini
Posted in Puisi on September 29th, 2007 No Comments »
Ketika cinta yang telah pergi menjadi mimpi yang
menghantui setiap desahan nafas
Apakah aku harus tetap terjaga hingga mimpi itu tidak akan datang?
AKu terlalu takut untuk meghadapinya
Aku terlalu khawatir kalau dia akan membawaku
Aku…terlalu khawatir kalau aku akan terjerumus lagi
dan jatuh….