Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Agustus 25th, 2007 No Comments »
Saat pertama kali menginjak masa
Di kala masih tersembunyi rasa penasaran
Bertanya-tanya penuh bimbang, apakah ini mimpi?
Masa berlalu dan selama itu kita bersama
Tak terpikirkan, adakah perubahan didepan nanti?
Dalam suka kadang ada duri yang melukai
Dalam duka kadang ada secercah sinar yang menerangi
Posted in Puisi on Agustus 25th, 2007 No Comments »
Ada masa untuk berharap
Bermimpi, seakan kita hidup selamanya
Impian tentang keindahan yang seakan kekal selamanya
Dambaan seorang ibu tua yang mengharap sang putri akan segera hadir menemani
Menyelimuti tubuh yang kedinginan
Pelukan hangat yang tetap menjadikannya berharga
Sesal sesekali mewarnai
Saat tersadar dari mimpi
Hidup tak seindah impian mu, sang pemimpi
Memetik fantasi
dari langit-langit mimpi
kupegang erat
kudekap rapat
bayangan wajahmu
bergumul
rindumu rinduku
terengah-engah kita
dalam nikmat dan kehangatan
antara cemas dan harapan
Amboi ..
cintamu cintaku
menyatulah dalam peluk cium
membaranya asmara!
Permanent link to this post (35 words, estimated 8 secs reading time)
Posted in Puisi on Agustus 22nd, 2007 No Comments »
Berdiri sendiri dan mematung
Ketika langit telah pucat
Raja siang tlah tenggelam
Dan dewi malam segera bersiap
Aku masih sendiri dan mematung
Diantara bising roda-roda
Diemperan gedung-gedung yang menjulang
Menghirup puas asap knalpot dan sumpah serapah
Angin sore. Perlahan menyapa daun-daun pohon angsana pinggiran jalan. Langit sore, seperti sore-sore yang lain, sama. Cerah tapi gelap. Satu dua mobil atau juga motor melintas di depanku setiap tiga puluh detikan. Memainkan mataku, membuat kedua bola mataku hilir mudik.
Asap gudang garam filterku menyeruak ke langit entah kemana. Ini adalah batang ketujuh yang kunikmati dari setengah jam lalu. samasekali tidak nikmat meski telah kuhabiskan ketujuh batang itu, hanya saja mulutku tak mau berhenti menghisap batang tembakau sepuluh sentian karena hisapannya sedikit mengurangi resahku.
Tiap hari termenung menatap langit mendung
didepan kaca tak bicara hanya memandang terselimut luka
kenapa setiap hari kau pandangi langit?apa yang kau lihat?
tak adakah kegiatan lain yang kau lakukan?
ku hanya tersenyum tersipu,bukannya tak ingin
tapi ku tak bisa
Posted in Puisi on Agustus 21st, 2007 No Comments »
–
Daun yang sintal lagi berdesir
melayang jatuh menancap tanah
menembus hening, bertahan pada pelukan angin,
kering-sepi, kelam-membelam pada malam.
Suaranya berdesrak terus menghambur
mencium jalan, meriuh bagai dentum kematian,
segala berserakan, segala memisah, segala menghening,
segalanya mengental; hilang-tidur angin berdesir, aspal ,
Posted in Puisi on Agustus 21st, 2007 No Comments »
Nafsu adalah binatang liar
tak dapat makan anak diterkam
gelap mata lupakan kepala
nafsu yang kuasa kepala tunduk padanya
Kaki, tangan, cakar tergiring pula
Muka mengeras tembok
takut dan malu sirna pada ronanya
tunas sendiri dipetiknya
hati telah mati
Posted in Puisi on Agustus 21st, 2007 No Comments »
Nafsu adalah binatang buas
bosan pada betinanya
anak sendiri ditungganginya
yang tercipta dari potongan tubuh
dan campuran darahnya sendiri
Nafsu adalah paman gagahi keponakan
saat tercium tetangga
mengkambinghitamkan cinta
Ujungnya berbadan dua
lalu keponakan potong malu sang paman
saat lena sehabis menggapai angkasa
Posted in Puisi on Agustus 21st, 2007 No Comments »
Nafsu atau kepala yang berkusa?
nafsu bakar kepala
menjadikannya tawanan
terpenjara pada birahi
Ketika sepi penuh angan
mimpi mencumbu putri Firaun
yang menari gairah
diiringi dendang rebana
yang memabukkan jiwa
siapa saja memandangnya
Sadar hanya sepi mencumbunya
dan mulailah kepala