KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Agustus 2007

Pertemuan yang Ditakdirkan

Saat pertama kali menginjak masa
Di kala masih tersembunyi rasa penasaran
Bertanya-tanya penuh bimbang, apakah ini mimpi?

Masa berlalu dan selama itu kita bersama
Tak terpikirkan, adakah perubahan didepan nanti?

Dalam suka kadang ada duri yang melukai
Dalam duka kadang ada secercah sinar yang menerangi

Kerinduan Hati

Ada masa untuk berharap
Bermimpi, seakan kita hidup selamanya
Impian tentang keindahan yang seakan kekal selamanya
Dambaan seorang ibu tua yang mengharap sang putri akan segera hadir menemani
Menyelimuti tubuh yang kedinginan
Pelukan hangat yang tetap menjadikannya berharga

Sesal sesekali mewarnai
Saat tersadar dari mimpi
Hidup tak seindah impian mu, sang pemimpi

Memetik fantasi

dari langit-langit mimpi

kupegang erat

kudekap rapat

bayangan wajahmu

bergumul

rindumu rinduku

terengah-engah kita

dalam nikmat dan kehangatan

antara cemas dan harapan

Amboi ..

cintamu cintaku

menyatulah dalam peluk cium

membaranya asmara!

Pelangi Malam

Berdiri sendiri dan mematung
Ketika langit telah pucat
Raja siang tlah tenggelam
Dan dewi malam segera bersiap

Aku masih sendiri dan mematung
Diantara bising roda-roda
Diemperan gedung-gedung yang menjulang
Menghirup puas asap knalpot dan sumpah serapah

Rindu

Angin sore. Perlahan menyapa daun-daun pohon angsana pinggiran jalan. Langit sore, seperti sore-sore yang lain, sama. Cerah tapi gelap. Satu dua mobil atau juga motor melintas di depanku setiap tiga puluh detikan. Memainkan mataku, membuat kedua bola mataku hilir mudik.
Asap gudang garam filterku menyeruak ke langit entah kemana. Ini adalah batang ketujuh yang kunikmati dari setengah jam lalu. samasekali tidak nikmat meski telah kuhabiskan ketujuh batang itu, hanya saja mulutku tak mau berhenti menghisap batang tembakau sepuluh sentian karena hisapannya sedikit mengurangi resahku.

Mata Hati

Tiap hari termenung menatap langit mendung

didepan kaca tak bicara hanya memandang terselimut luka

kenapa setiap hari kau pandangi langit?apa yang kau lihat?

tak adakah kegiatan lain yang kau lakukan?

ku hanya tersenyum tersipu,bukannya tak ingin

tapi ku tak bisa

-

Daun yang sintal lagi berdesir

melayang jatuh menancap tanah

menembus hening, bertahan pada pelukan angin,

kering-sepi, kelam-membelam pada malam.

Suaranya berdesrak terus menghambur

mencium jalan, meriuh bagai dentum kematian,

segala berserakan, segala memisah, segala menghening,

segalanya mengental; hilang-tidur angin berdesir, aspal ,

Nafsu I

 

Nafsu adalah binatang liar

tak dapat makan anak diterkam

gelap mata lupakan kepala

nafsu yang kuasa kepala tunduk padanya

Kaki, tangan, cakar tergiring pula

Muka mengeras tembok

takut dan malu sirna pada ronanya

tunas sendiri dipetiknya

hati telah mati

Nafsu II

Nafsu adalah binatang buas

bosan pada betinanya

anak sendiri ditungganginya

yang tercipta dari potongan tubuh

dan campuran darahnya sendiri

Nafsu adalah paman gagahi keponakan

saat tercium tetangga

mengkambinghitamkan cinta

Ujungnya berbadan dua

lalu keponakan potong malu sang paman

saat lena sehabis menggapai angkasa

Nafsu III

Nafsu atau kepala yang berkusa?

nafsu bakar kepala

menjadikannya tawanan

terpenjara pada birahi

Ketika sepi penuh angan

mimpi mencumbu putri Firaun

yang menari gairah

diiringi dendang rebana

yang memabukkan jiwa

siapa saja memandangnya

Sadar hanya sepi mencumbunya

dan mulailah kepala

« Prev - Next »