Syair-syair yang Terjaga
Agustus 21st, 2007 by Ceko
Aku selalu ingin berposisi
Melawan sang surya dengan sembunyi
Berkenalan dengan sunyi
Berteman dengan keredupan ini
Dan berbincang dengan rasa-rasa hati
Andai lelah bukan pengantuk mata
Tak ada sedetik waktu percuma
Tapi betapa Keadilan-Nya sesempurna-Nya
Ia membagi kasih tanpa pilih-pilih
Dengan tak mendiamkan galaksi
Dan memutarnya bak komidi judi
Tapi Saat ini jagaku seperti abadi
Ingin tak hanya sebagian yang sedang tak mati
Dan memang seperti itu
Hanya saja jarak sekejam waktu
Untuk tak membuat kita bertemu
Kenapa saat ini aku belum bermain
Di taman kebebasan tanpa aturan?
Padahal Kebebasan yang tadi membelengguku
Dan semangat hidup mengkerangkengku
Apa gundah telah menjadi pencambuk indera?
Cemeti kelopak mata seperih perpisahan
Bodohkah menghitung titik-titik cahaya langit
Atau kerlap-kerlip mahluk bumi yang beterbangan?
Salahkah berdiam jasad bersama dengan bagian diri yang sedang liar?
Hinakah mencaci diri dengan memaki kejenuhan?
Percumakah bertanya dengan jawaban pertanyaan tak berakhir?
Kenapa hanya saat ini semua berjalan lamban?
Bisakah benda angkasa sedikit mengerti
Untuk berhenti saat kami sedang bersama kekasih?
Kawan, berdosalah demi cinta!
Langgar perintahNya sekali saja!
Dengarlah sang waktu bicara;
“Kuharap semua mahluk bisa mengerti
apa yang telah syair-syair utarakan
jadi jangan ada yang menceritakan pagi lagi
karena ia pengakkhir keindahan gundah ini!”
18 Februari 2007
liatin lagi dong syair2nya
Di kolomkita ini ada yang judulnya ‘Syair Cinta Seorang Pengamen’. Itu salah satunya. Kalo masih mo liat syair-syairku yang sederhana, biasa dan enggak nyastra, klik aja www.cekospy.multiply.com, cari tag ‘puisi’. Oke? Salam kenal, Nikita…