Kenangan 1
Agustus 21st, 2007 by Imron Rosidi
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap. Aku hendak pulang ke pulau kijang, tanah kelahiranku. Biasanya antara Jakarta - Jambi kutempuh perjalanan selama tiga hari dua malam di dalam kendaraan roda empat. Tapi kini aku kira dua jam sudah terlalu lama. Karena aku kali ini naik pesawat. Walaupun mahal tak apa yang penting cepat sampai, lumayan uang 400 ribu lenyap. Benar perkiraanku, tak kurang dari dua jam pesawat mendarat di kota Jambi. Selanjutnya aku harus menempuh perjalanan dari jambi ke kuala tungkal dengan mobil. Di jambi banyak sekali biro travel tapi terkadang banyak calo. Beberapa kali aku pulang, aku sering menemui wajah yang sama.Nawarin jasa buat nganterin ke Kuala Tungkal. Kalo mujur dapat murah, tapi mentok-mentoknya duit 35 ribu lenyap juga…Akhirnya selama tiga jam aku ngendon di mobil menempuh perjalanan ke kuala tungkal.
Sampai disitu? belum. Aku harus naik speed boat untuk sampai ke pulau kijang karena antara kuala tungkal-pulau kijang di pisahkan dengan sungai dan sedikit selat. Aku tak kenal nama sungai dan selatnya. Kau tengoklah sendiri di peta. Di sini lumayan aku harus keluarkan duit 50 ribu hanya untuk perjalanan sejauh lebak bulus -pamulang atau lebak bulus -ciputat. Aku tak tahu kenapa perjalanan laut begitu mahalnya. Kadang aku sewot tapi mau apa…Dan di dalam speed boat inilah terkadang aku membayangkan ajalku akan sampai. Betapa tidak, ditengah arus gelombang yang menakutkan itu speed boat ini seperti mau terjungkal saja. Tak heran jika pikiranku sudah menerawang ke alam kubur. Makanya aku sering baca ayat-ayat suci biar kalaupun ajalku tiba aku bisa masuk surga. Kalau kau tak pernah naik speed boat di tengah gelombang, jangan menghina! Kau pun pasti ketakutan kalau kau naik benar-benar, ku jamin itu!
Sampai di pelabuhan pulau kijang aku sudah disambut puluhan pengojek. “Kemana, mas?” sapaan yang bagaikan kentut membuatku mual. Sudah sering aku jumpai tingkah laku seperti itu. Pengojek-pengojek itu nguntitin aku hingga sepuluh meter bahkan lebih ! hanya untuk memaksa aku naik motornya. Akhirnya aku mengalah, karena hari sudah mau malam. …..Aku lalu naik motor tukang ojek itu untuk menempuh perjalanan lagi ke pelosok pulau kijang, menuju rumah orang tuaku yang berada di parit tujuh. Kenapa parit? konon, parit itu untuk mengaliri perkebunan kelapa. Karena kalau tidak di aliri air, kelapa-kelapa itu akan mati. Dan di pulau kijang ada sekitar delapan parit memanjang yang muaranya tembus ke sungai. Orang tuaku tinggal di parit yang ke tujuh. Di pinggir parit-parit itu terdapat jalan utama perkampungan dan rumah-rumah penduduk berada di kanan kiri parit itu. Dulu waktu kecil aku sering ‘lumban’ atau bermain air di parit . Tapi di parit itu juga aku dan teman-temanku bisa mendapatkan ikan yang lumayan banyak.
Dulu aku dan teman-temanku setiap habis sholat jum’at, ‘ngubek’ parit. ‘Ngubek’ itu istilah nyari ikan dengan cara diubek-ubek, biar lumpurnya ke atas dan ikan-ikannya pada mabok. Waktu ‘ngubek’ ditentukan setelah air parit surut sekitar seukuran sedengkul. Beda dengan kali yang tidak mengenal pasang surut. Aku dan sekitar dua puluhan orang mencebur ke parit dan mengubek airnya. Setelah airnya keruh, ikan-ikan akan menempel di pinggiran parit. yang paling banyak udang. Kalau beruntung aku bisa dapatkan satu bungkus plastik udang dengan satu dua udang galah-udang sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Sampai juga aku di rumah orang tuaku. Hari sudah sudah gelap waktu itu. Jalan-jalan sudah hitam semua. Tak ada listrik di parit tujuh. Aku sampai sekarang berani bilang tiga turunan belum tentu kampungku ini akan dialiri listrik. Ku bayar ongkos ojek. Tukang ojek sialan, dia ‘ngentol’ minta 50 ribu. Bujuk buneng kalo di jakarta sejauh lebak bulus-kampung utan atau lebak bulus -pondok indah masak minta lima puluh ribu. Dasar kutu kupret! Tapi aku kasih juga. Biarlah mengalah saja. Kakiku menginjak tanah, becek! Lumpur seperti lem mengikat sepatuku. Tak apa sudah biasa…Dalam hati aku membatin, pantesan tukang ojek minta mahal, jalannya aja kayak gini. Mulus sih mulus tapi mulusnya mulus keblangsak. Dari jalan ke rumahku ada jarak tiga puluh meter. Semua rumah di sini memang seperti itu. Tak ada aturan baku memang tapi semua rumah di sini pasti menjorok dari jalan, masuk kedalam. Di sini tidak sepeti kota besar, jarak rumahnya jauh-jauh. 90% area di sini untuk perkebunan. Sisanya buat rumah dan lain sebagainya.
Sebelum naik ke rumah, aku buka sandalku yang kotor. Lalu aku menuju kolam tempat khusus untuk mencuci kaki. Kolam itu sengaja dibuat oleh orang tuaku untuk membersihkan kaki-kaki yang kotor. Semua rumah di kampungku pasti memiliki kolam seperti ini. Sudah menjadi adat dan kewajiban! Setelah kuanggap bersih, aku menaiki tangga rumah. Pintu kubuka sambil memberi salam. Dua raut muka milik ayah dan ibuku menyambutku. O, wajah-wajah yang mewakili kebesaran Tuhan….
Aku mengamati seisi rumah yang tidak banyak berubah. Inilah rumahku yang selama bertahun-tahun aku tinggal di dalamnya dan akhirnya telah kukunjungi tanggal 23 Januari 2007 sebelum aku berangkat ke Belanda tanggal 11 Februari 2007.
ass……
hai aku nelly sisra, keturunan sulawesi tapi anak pulau kijang juga….
sekarang lagi ambil pendidikan dokter di padang
kemarin aku iseng cari informasi tentang pulau kijang, eh ketemu komentarmu,,,,
ASLI JUJUUUUUURRRRR buanget he he he
tapi listrik sekarang sudah masuk koq di kampung kita,,,, hanya hari ini hidup… eh besok mati….. kayak puasa nabi musa, selang hari gituch.. he he hhhhhh
ayoooo bangun kampung…
semangat…..
wsl
Terima Kasih Nelly atas komentarnya. Ya, begitulah faktanya. Bagiku menulis cerita harus jujur, setidaknya untuk melatih kepribadian kita untuk jujur.
Pulau Kijang memang harus dibangun. Biar generasi kita kelak kenal yg namanya peradaban ‘listrik’.
sekai lagi thanks atas commentnya.
nelly sisra wrote.. hanya hari ini hidup… eh besok mati….. kayak puasa nabi musa –> puasa nabi daud kale…. V(”,)V
ya betul,puasa nabi daud.tpi gak tau juga ya klo nabi musa juga puasanya selang hari…he..he..
~Gara2 ada tamu aku yang mau terbang ke Tj.Pinang, aku baru tau deh kalau Airport
yang nama aslinya APO H.FISABILILLAH itu ternyata juga punya nama APO PULAU
KIJANG. & karena itu juga akhirnya aku bisa sampai ada disini.
~Salut,,salut,, & TOP bgt dah wat daerah2 yang masih punya nature yang natural.
~ Tapi… sebenar’a yang d’omongin ini ttg pulau kijang’a atau ttg puasa nabi seh,,???
www.yahoo.com
huaaaaa…seneng deh akhirnya da juga yg crita2 about kijang island:)
aQ jg nak sana loh, teptnya mah di “lorong ampera”
tapi dah 2 taon Aq tak pulang, biss Aq lah kerja:(
kunjungin aQ di moslem_mah@yahoo.com (tu Friendster awak:)
bagus juga pengalamnya, biar lama tinggal dsana aQ baru tau kalo da 7 ‘parit’ yg ngalirin kampong kite…
gabung donk…
ass….
salam kenal
aku emang bukan anak pulau kijang, tapi aku selalu tertarik dengan pulau kijang.
sekarang aku lagi kumpulin info about pulau kijang. akhirnya nyasar di forum kalian ini.
kalo ada kesempatan kapan2 aku pengeeeen banget main kesana.
ada yang bisa tolongin aku, buat kasih info tentang pulau kijang…’
makasih sebelumnya =)
ohya sapa aja yang punya info tentang pulau kijang dan bersedia membaginya denganku kalian bisa kirim aja di emailku (cichahapsari@yahoo.com)
makasih sekali lagi ya….