Episode Pertama
Agustus 21st, 2007 by Stebby Julionatan
Hari-hari berlalau meninggalkan jubahnya
yang keunguan menempel di sudut-sudut zaman
Diiringi hembusan angin yang menjatuhkan
sehelai daun yang menguning
menyentuh akar-akar putih tak jauh dari sisinya.
Dari patahan tangkai itu
Terasa ada getaran aneh melayang
menuntun tatapan ke arah langit
menengadahkan pandangannya.
Mereka mulai berimajinasi
tentang dunia yang maha luas
di negeri-negeri para bidadari
Di antara bayang-bayang bumi
yang menyelimuti dari kejauhan.
Daun-daun angsoka yang ramah
Bersemi, menyampaikan tetesan-tetesan embun
pada akar-akar putih itu
agar berubah warna, makin kuat dan
menghujam dengan erat.
Sementara kehidupan berlangsung terus,
terpaan angin dan badai
menyelidik sepanjang waktu
menghempas dan menderah darah
kekuatannya untuk berbicara lebih dekat.
“Tahukah kau, apa arti semua itu?”
Pelajaran kehidupan sedang membisikkan
hikmah pada tempat-tempat sunyi di benaknya
melebihi kesunyian yang senyap.
Mengajak merpati-merpati cantik
mengarungi samudera yang maha luas dan penuh derita
Seraya mengusik ke dalam setiap benua.
Sayap-sayap merpati mengepak-ngepak,
mengibas-ngibaskan saripati udara
terarah padanya dan menjelma keheningan.
Sungguh kesunyian mulai menjadi
ucapan pilu yang tak bernyawa
Kedamaian tampak menguasai diriku
dan menyingkap celah-celah kepahitan.
Mereka sapukan pandangan matanya ke sekitar
Dunia yang maha luas dan fana ini
menunjukkan garis-garis teka-teki
antara awan hitam dan bintang fajar.
Masing-masing bergerak melewati dirinya
Awan-awan itu menunjukkan jati diri
yang rapuh dari panggal ke ujung
dan bintang fajar berkelip tak berapa jauh.
Ia memberikan pada kehidupan
hal-hal yang selalu sama
Masa-masa penuh tanda tanya
dan harapan menjadi satu-satunya yang istimewa.
Probolinggo, 21 November 2003