Sial !
Agustus 20th, 2007 by haryobagushandoko
Malam sudah larut. Hujan turun dengan derasnya. Terdengar suara petir bersahut-sahutan. Suasana malam ini begitu mencekam. Bahkan tidak terdengar lagi suara kodok yang biasanya begitu ramai bersahut-sahutan. Alex berjalan menyusuri trotoar di sepanjang kompleks pertokoan yang ada di pusat kota itu. Sesekali ia melewati lorong gelap dan gang-gang sempit yang diapit oleh bangunan-bangunan perkantoran dan pertokoan. Ia menyaksikan sebuah kehidupan malam yang sama sekali belum pernah dilihatnya selama ini. Tampak beberapa orang bergerombol mengitari sebuah drum yang berisi kertas-kertas dan sampah yang dibakar. Rupanya orang-orang itu berkerumun sekedar untuk menghangatkan diri, sementara sebagian yang lain berusaha mengeringkan pakaian mereka yang basah kuyup terkena air hujan.
Lorong sempit itu begitu terlindungi. Letaknya hampir tidak terlihat dari jalan besar. Lorong itu terlindung dari basahnya air hujan karena diapit oleh dua buah bangunan tinggi yang terhubung satu sama lain. Lorong itu buntu. Alex tidak sengaja masuk ke lorong itu karena mengira itu adalah jalan tembus yang biasa ia lewati. Rupanya ia tersesat. Alex sama sekali tidak pernah melewati daerah ini. Kini ia tidak tahu lagi kemana harus mencari jalan menuju rumah. Menerobos hujan yang begitu deras sungguh sudah mengaburkan pandangannya. Apalagi ia berkacamata minus. Titik-titik air hujan yang melekat di kacamatanya telah demikian mengganggu pandangannya. Ah, lebih baik menunggu hujan reda di lorong gelap ini. Ia pun mendekat ke kerumunan orang yang sedang menghangatkan diri di sekitar drum tempat membakar sampah itu. Alex bermaksud menggabungkan diri. Ia ingin sedikit memperoleh kehangatan demi mengeringkan pakaiannya yang basah kuyup.
Saat ia bergerak mendekat, tiba-tiba orang-orang yang ada dalam kerumunan itu menoleh. Terlihat olehnya wajah-wajah beringas mereka. Rupanya mereka adalah para tunawisma dan manusia jalanan. Pakaian mereka compang-camping. Beberapa diantara mereka bahkan bertelanjang dada, dengan celana yang sudah robek di sana-sini. Gerombolan orang itu bergerak mengepung Alex. Tangan mereka terjulur berebut menangkap Alex. Tiba-tiba mereka begitu beringas tanpa adanya kata-kata peringatan lebih dulu. Alex sama sekali tidak mengira bahwa mereka adalah para manusia jalanan. Sudah sangat terlambat baginya untuk melarikan diri dari mereka. Kini tangan-tangan itu bergerak melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Alex. Tak satu lembar pun mereka sisakan demi menutupi tubuh Alex yang sekarang telanjang. Mereka sendiri saling memperebutkan pakaian basah yang tadi sempat menjadi milik Alex. Seseorang pria bertampang sangar memegang pergelangan tangan Alex dengan kasar. Tanpa permisi dan basa-basi ia langsung melepas jam tangan yang melekat di tangan Alex. Tawa pria itu sungguh mengerikan. Pria itu pun ngeloyor pergi bergabung dengan teman-temannya yang lain. Mereka semua kembali berkerumun mengelilingi drum yang berisi sampah yang dibakar itu.
Alex bergerak mendekat. Ia sangat marah dan geram pada orang-orang itu. Ia bertekad untuk melawan mereka dan merebut kembali seluruh pakaian dan jam tangannya. Ia berteriak marah menghampiri mereka. Kepalan tangannya tergenggam erat, siap untuk dihantamkan ke kepala-kepala manusia penjarah itu. Tiba-tiba kerumunan manusia jalanan itu menoleh menatapnya. Mereka tertawa-tawa melihat kemarahan yang terpancar di wajah Alex. Sungguh menjengkelkan ! Alex yang marah seakan hanya sebuah lelucon saja bagi mereka. Alex terus bergerak mendekat. Tiba-tiba ia melayangkan tinjunya ke salah satu dari sekian banyak orang yang berkerumun itu. Pukulan telak itu mendarat di hidung orang yang berwajah sangar tadi. Tampang orang itu sungguh menakutkan. Tubuhnya tinggi besar dengan tangan-tangan yang kuat. Rahang orang itu membentuk sebuah garis lurus yang demikian kaku, menampakkan kekejaman watak yang dimiliki si empunya wajah. Pria itu berdarah di bagian hidungnya. Seketika tawa mereka berhenti dan berganti dengan umpatan-umpatan geram yang keluar dari mulut kotor mereka.
Tiba-tiba kerumunan yang marah itu bergerak mendekati Alex. Sia-sia Alex melakukan perlawanan. Dengan kejam mereka beramai-ramai mengeroyok Alex dan memukulinya hingga babak belur. Alex yang sempoyongan roboh jatuh menelungkup. Mereka masih saja tak rela membiarkan Alex yang sudah jatuh itu. Kaki-kaki mereka berebut untuk menendang bagian tubuh Alex di mana pun mereka bisa. Dalam sekejap saja, tubuh telanjang Alex penuh dengan luka dan memar di sekujur tubuh. Pria sangar tadi tiba-tiba datang mendekat dan menjambak rambut Alex sambil menariknya agar Alex terpaksa berdiri. Alex yang sudah dalam keadaan lemas tak berdaya berontak.
Kini pria itu menariknya ke sebuah sudut gelap di lorong sempit itu. Teman-temannya terus tertawa melihat Alex yang sudah tidak berdaya apa-apa. Teman-teman pria itu memegangi tangan dan bahu Alex. Alex masih saja berusaha berontak, tapi apa daya tubuhnya yang lemas sudah kehabisan tenaga. Mereka membaringkan Alex di salah satu sudut gelap. Sekawanan orang itu memegang kedua kaki Alex dan mengangkatnya hingga kedua kaki itu sekarang terangkat ke atas, sementara tubuhnya tetap terlentang di jalanan aspal di sudut gelap lorong itu. Beberapa orang yang lain memegangi dengan erat kaki kanan dan kiri Alex. Pria berwajah sangar itu kembali datang mendekat. Ia terus tertawa-tawa seperti teman-temannya. Tiba-tiba pria berwajah sangar itu memelorotkan celana yang dipakainya. Ia terus berjalan mendekat sambil terus tertawa. Alex merasa sangat ketakutan. Ia menggigil ngeri bagaikan anak kecil yang takut bila didatangi hantu. Alex memejamkan matanya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu memasuki bagian belakang tubuhnya. Alex menjerit kesakitan. Sesuatu itu terus saja berulang kali memasuki bagian belakang tubuhnya, diiringi suara dengusan tertahan pria berwajah sangar tadi. Alex terus menjerit dan berusaha berontak. Tangan-tangan kuat kerumunan manusia kejam itu terus saja demikian kokohnya memegangi kedua tangan dan kakinya. Alex sama sekali tidak bisa berkutik. Ia terus saja menjerit dan berteriak kesakitan. Orang-orang itu seakan tidak peduli pada penderitaan yang ia rasakan. Mereka terus saja tertawa-tawa.
Beberapa saat kemudian terdengar suara lenguhan pria berwajah sangar tadi. Rupanya pria itu sudah merasa puas menuntaskan hasrat kebinatangannya. Mereka pun melepaskan tangan dan kaki Alex. Alex dibiarkan terlentang di atas jalanan aspal yang dingin dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh telanjangnya bermandikan keringat, dan darah terus mengalir di antara kedua kakinya. Siapa bilang hanya wanita saja yang rawan diperkosa ? Ternyata pria dewasa seperti dirinya juga tak luput dari bahaya pemerkosaan ! Alex berusaha bangkit dari tempat itu dengan merangkak. Orang-orang itu sudah kembali mengerumuni drum seakan tidak terjadi apa-apa. Beberapa diantara mereka tampak menenggak minuman keras. Entah dari mana mereka memperoleh berbotol-botol minuman itu. Alex tidak peduli lagi tentang dari mana asal botol-botol bir tersebut. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ia ingin segera pergi dari tempat jahanam itu. Alex terus saja merangkak menjauh. Ia hanya ingin segera sampai di rumah dan melupakan semua kejadian buruk yang telah menimpa dirinya malam ini. Dalam hati ia bersumpah tidak akan pernah lagi pulang malam-malam. Air mata meleleh dari kedua bola mata Alex. Seluruh rasa sakit akibat pukulan terasa tidak berarti bila dibanding dengan rasa sakit yang ia rasakan jauh di dalam hatinya. Seluruh ego dan harga dirinya sebagai seorang pria telah hancur berkeping-keping akibat kejadian yang dialaminya tadi. Kejadian itu serasa telah mengubah seluruh hidupnya yang selama ini bahagia.
Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata. Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !