KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sebuah Cerita

“Setuk-setuk seblung blegedeg enyeng-enyeng,” demikian suara Tanteku (Bibi), Siska, menyanyikan sebuah lagu sebelum tidur dalam bahasa Jawa untuk kucingnya yang bernama Fioni.  Sebuah lagu tanpa arti yang sekedar asal bunyi.  Namun demikian Fioni merasa senang dengan lagu itu.  Kucing anggora itu merem melek kesenangan.  Dasar manja !
Fioni bertambah gendut saja.  Kucing pemakan sampah itu seharian kerjanya hanya makan, nonton tv dan tidur.  Huh, aku terkadang jengkel melihat sikap manja hewan berbulu tebal itu.  Tanteku Siska demikian menyayangi dan memperhatikan kucing manja itu.  Bahkan setiap seminggu sekali, tanteku itu selalu menelepon salon kucing keliling untuk datang ke rumahnya demi memandikan dan merawat tubuh kucing gendut itu.  Walau pun sudah diberi makan cukup, Fioni tetap saja suka mengorek-ngorek tempat sampah yang ada di dapur Tanteku.  Tak jarang ia menemukan begitu banyak kepala udang, jeroan atau kepala ikan dalam tempat sampah itu.  Tempat sampah bagaikan sebuah kuil suci bagi Fioni.  Hampir setiap saat ia selalu mengunjungi tempat sampah itu dan betah berlama-lama untuk meneliti apa saja isinya hari ini.
Kali ini Fioni membikin ribut seisi rumah tanteku.  Sudah seharian ini Fioni tidak pulang.  Bagaikan kehilangan anak yang dicintainya, tanteku bingung dan berjalan hilir mudik menuju ruang teras depan untuk melihat kalau-kalau kucing gendut itu sudah pulang.  Tapi tetap saja hewan berhidung pesek itu tak juga muncul.  Akibatnya bisa dibayangkan, tanteku bertambah bingung dan panik.  Hampir saja ia menelepon polisi untuk melaporkan kehilangan kucingnya, kalau saja aku tidak mengingatkan beliau bahwa Fioni hanyalah seekor kucing, bukan manusia !  Tiba-tiba entah dari mana datangnya, terdengar suara kucing mengeong.  Kontan saja tanteku terloncat kaget dari tempat duduknya.  Dengan sedikit panik, tanteku mencari-cari suara kucing yang tadi sempat terdengar.  Ternyata suara itu terdengar dari pintu halaman samping.  Daun pintu terdengar ditubruk-tubruk oleh sesuatu.  Mungkin itu Fioni !  Tanteku segera saja bergegas menuju pintu yang menghubungkan rumah ini dengan halaman samping.  Ternyata benar, itu suara Fioni. Kucing gendut itu tampak terduduk lemas dengan tubuh yang kotor dan luka-luka di sekujur tubuh.  Kucing itu mengeong dan mendengking dengan nada memelas. Tanteku menjerit histeris.  Apa yang telah terjadi pada kucing kesayangannya yang berharga jutaan itu ?!
Melihat keadaan Fioni saat itu aku sudah dapat menduga kalau kucing bandel itu baru saja berkelahi dengan sesama kucing lain.  Entahlah, mungkin ia berkelahi dan bergulat dengan kucing kampung sebelah di sebuah kubangan lumpur atau tanah yang kotor.  Buktinya terlihat tubuh Fioni demikian kotor, penuh oleh lumpur dan tanah yang sudah mengering.  Terlihat pula luka-luka dan darah yang sudah mengering di sekujur tubuhnya.  Mungkin kucing betina itu berkelahi dengan sesama kucing betina lain untuk memperebutkan cinta Si Brewok, kucing jantan milik tetangga sebelah, atau mungkin juga demi memperebutkan sesuatu yang kami tidak tahu.  Ah, sudahlah.  Yang penting, Fioni sudah kembali ke tengah-tengah keluarga kami, walau dalam kondisi yang mengenaskan.
Tanteku segera menggendong kucing malang itu dan memeluknya begitu lama.  Kemudian ia pun segera menaruh kucing itu di tempat tidur empuknya yang ada di sudut dapur.  Dapur memang wilayah kekuasaan Fioni.  Bisa dibilang ia adalah Sang Maharatu (bukan Maharaja) Dapur, Yang Mulia Fioni.  Tiba-tiba tanteku buru-buru memencet sederet nomor telepon. Wanita itu ternyata mendatangkan jasa salon kucing keliling, hingga dokter hewan secara bersamaan.  Petugas salon kucing keliling segera datang dan kemudian memandikan Fioni dengan begitu banyak busa dan shampo.  Kucing itu sedikit berontak karena luka-luka yang banyak terdapat di sekujur tubuhnya.  Rupanya rasa perih begitu terasa oleh kucing itu.  Tanteku menatap kucing malang itu dengan pandangan iba, dalam hati sebetulnya ia tidak tega melihat Fioni dimandikan dalam keadaan penuh luka, namun itu harus dilakukan agar tidak terjadi infeksi.
Tak lama kemudian Bu Agnes, dokter hewan yang sudah bertahun-tahun menjadi dokter pribadi Fioni datang dengan menjinjing tas dokternya seperti biasa.  Dokter hewan yang satu ini begitu telaten dan sabar menghadapi berbagai hewan bermasalah seperti halnya Fioni yang terkenal sebagai kucing pemberontak. Selama beberapa saat dengan penuh ketelatenan, diobatinya luka-luka Fioni dengan menggunakan kapas yang telah dibubuhi cairan antiseptik.  Ia juga menyuntikkan cairan antibiotik dan anti tetanus ke tubuh hewan gendut itu.  Fioni mengeong keras dengan nada berontak sekaligus ketakutan.  Namun tidak beberapa lama ia sudah tenang kembali.  Tanteku menggendong kucing gendut itu kembali ke singgasananya, tempat tidur kecil dengan begitu banyak bantal dan boneka kain di sudut dapur.  Betul-betul hewan manja yang sangat beruntung karena mempunyai juragan seperti tanteku ini.
Kejadian itu sudah terjadi tiga bulan yang lalu.  Kini Fioni sudah tidak lagi menghuni rumah tanteku.  Ia hilang dua minggu silam.  Entah diculik orang, atau minggat bersama kucing jantan yang lain.  Maklum, kucing betina yang satu ini terkenal genit, buktinya sering ia tidak pulang ke rumah sehingga menimbulkan kepanikan yang luar biasa bagi tanteku.  Ternyata ketidakpulangannya kali ini benar-benar untuk selamanya.  Mungkin ia sudah menemukan belahan hatinya di luar sana.  Mungkin pula ia sudah dijual di pasar hewan oleh para pencurinya.  Atau lebih gawat lagi, mungkin saja kucing gendut itu tewas tertabrak kendaraan entah di mana, karena kebiasaannya yang keluyuran ke mana saja.
Kini tanteku sudah mempunyai seekor kucing baru untuk menggantikan posisi Fioni.  Namun kucing itu bukanlah dari jenis kucing mahal seperti Fioni.  Kucing milik tante ini hanyalah dari jenis kucing kampung biasa.  Rupanya pedagang sayur keliling langganan tanteku merasa iba melihat kesedihan yang bersemayam di hati tante selama beberapa waktu.  Akhirnya ia membawakan tanteku seekor kucing kecil mungil yang cantik. Seekor kucing kampung yang walau terkesan murahan, namun bulunya bersih dan terawat baik.  Anak kucing itu ternyata dilahirkan oleh kucing milik wanita pedagang sayur keliling itu.  Si kucing mungil itu kini telah tumbuh sehat menjadi kucing gendut yang berbulu lebat dan cantik.  Semua ini karena tanteku begitu baik merawat anak kucing itu dengan memberikan vitamin, makanan dan perawatan terbaik yang bisa diperoleh oleh seekor kucing.  Kucing beruntung itu diberi nama Fiona, versi lain dari kenangan akan Fioni, kucing gendut yang pernah mengisi hari-hari indah keluarga kami.

Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata.  Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !

Tinggalkan Komentar