KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Penantianku

Oleh : Rahayu Mirasati

“uh……….sebel sepi lagi sepi lagi” gerutuku pada suatu malam yang sunyi. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahunpun berganti tahun tak terasa sudah dua tahun lamanya aku berpisah dengan dirinya  dan selalu merindukannya. Aku enggak tahu kapan penantianku akan berakhir seperti ini sendiri dan sendiri lagi. Terkadang aku mencoba menghibur diriku dengan memutar radio dan mendengarkan lagu-lagu nostalgia yang mengisahkan tentang curahan hatiku yang sedang dirundung kesedihan. Salah satu lagu yang rasanya sesuai dengan kisahku adalah lagunya Iis Sugianto yang berjudul Dalam Mimpi. Lagu tersebut benar-benar menyentuh perasaanku dan sesuai dengan apa yang aku rasakan saat ini, adapun bait lagunya sebagai berikut :

Tiap kali aku memandangmu
Ada sakit yang menusuk kalbu
Kau berikan aku mimpi yang indahDan berharap diri ini sayang….                         Dua tahun aku menantimu            Seorang diri aku tidur sayang….            Kupanjatkan doa hanya untukmu            Namun engkau tak pernah kembali… Reff :    Barangkali kau tak ingat lagi             Pada diriku ini…..             Atau mungkin kau tak cinta lagi             Aku sayang….             Barangkali sudah ada bunga             Pengganti diri ini….             Kau milikku….  kau untukku             Dalam mimpi Begitulah lantunan lagu  yang dinyanyikan oleh Iis Sugianto. Aku benar-benar terenyuh dan rasanya ingin menangis, sebab selama dua tahun ini aku tidak pernah tahu kabarnya dia, apakah dia masih ada ataupun tidak, apakah dia sudah berdua atau masih sendiri aku tidak tahu. Terkadang aku sering menanyakan ke teman-temannya tentang dirinya tapi tidak pernah kudapati informasi tentang dirinya. Akupun tambah sedih dan terus sedih. Dalam kesendirianku aku hanya bertemankan sebuah radio yang selalu aku dengarkan dan menjadi sahabat setiaku sampai-sampai aku tidak mengenal waktu,  jam berapakah aku tidak tahu bahkan akupun terkadang lupa akan hari kalo hari ini hari apa akupun tidak tahu. Mungkin hatiku teramat sedih jadi aku tidak dapat berkonsentrasi.

Aku teringat pada kisah laluku dimana pertama kali yaitu di bulan Agustus aku bertemu dan mengenal dirinya, pada suatu hari datang sesosok pria menghampiri diriku dia kelihatan amat tampan dan tampak berwibawa, dan diapun menegurku dengan basa-basi :

“Selamat pagi mbak.”Tegurnya

“Selamat pagi.” Jawabku sambil tersenyum

“Sedang sibuk nih menanam bunga”. Sapanya

“Enggak kok, biasa-biasa aja.” Sahutku


Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya

“Terimakasih, nanti takut merepotkan mas aja.” Jawabku

“Enggak kok, saya suka dengan tanam-tanaman sama seperti mbak.”Katanya

“Oh… ya enggak takut tuh tangannya kotor dengan tanah.” Kataku

“Enggak dong, karena saya sudah terbiasa kok.”Sahutnya

“Saya
kan anak petani jadi bagi saya bergelut dengan tanah tuh sudah terbiasa.” Lanjutnya

“Oh ya?” sahutku

“Benar kok.”Katanya

“eh… ngomong-ngomong kita sudah berbicara lama nih  tetapi kita belum tahu satu sama lain maksudnya nama mbak siapa, boleh enggak kenalan?” Tanyanya

“Oh… tentu saja boleh enggak yang ngelarang kok.” Sahutku

“Bolehkah saya tahu nama mbak siapa ?” tanyanya

“Namaku Ranti, panggil aja Anti.” Jawabku

“Nama saya Tono.” Katanya

“Nama yang cukup bagus, pasti mas asli orang jawa ya ?” tanyaku

“Iya, saya asli dari Magelang

“Oh..ya, pantasan dari namanya ketahuan kalo ma situ orang jawa asli.” Sahutku

“Kalo dik Anti sudah lama tinggal disini ?” Tanyanya

“Sudah semenjak aku lahir sampai sekarang.” Jawabku

“Lama juga dong, berarti dik Anti jadi orang asli sini dong?” Katanya

“Iyalah, ngomong-ngomong mas tinggalnya dimana ?” kayaknya bukan orang sini deh ?” Tanyaku dengan penuh heran

“Saya tinggal di
Bogor, disini saya sedang main ke rumah teman yang rumahnya bersebelahan dengan dik Anti.” Jawabnya

“Oh.. jadi mas Tono teman kerjanya mas Yata ya ?” Tanyaku kembali

“Iya, gitulah.” Katanya

“Mas Tono baru pertama kali ya ke rumah mas Yatanya ?” tanyaku

“Enggak tuh, saya sudah sering kok kesini dik Anti aja yang tidak pernah memperhatikan ?” Jawabnya

“Masa sih.” Sahutku dengan nada penasaran

“Saya bahkan sering memperhatikan adik apabila adik pulang kerja, oh ya… sebenarnya dik Anti kerja dimana ?” Tanyanya

“Aku kerja di sebuah instansi yang berhubungan dengan jasa.” Sahutku

“Kalo boleh tahu tempatnya dimana tuh ?” Tanyanya

“Tepatnya sih di daerah Jakarta Pusat, enggak jauh kok.”

“Enak dong kerja disana masuk pagi pulangnya sore.” Katanya

“Kalo saya enggak pasti, kadang berlayar kadang enggak dan jadwalnya pun enggak tahu bisa mendadak gitu.” Lanjutnya

“Enggak juga kok mas, biasa-biasa aja.” Kataku

“Menurutku semua pekerjaan sama aja, asalkan kita bisa menyenangi pekerjaan tersebut pasti kita mengerjakannya enak dan enjoy aja.” Lanjutku

“Apa yang kamu katakan memang ada benarnya kalo kita kerja tidak dengan perasaan senang maka rasanya kita mengerjakan pekerjaan kita dengan cara terpaksa.” Katanya

“Oh… iya, ngomong-ngomong dik Anti sudah punya teman dekat cowok belum maksud saya pacar gitu loh ?” Tanyanya

“Mana mungkin ada yang mau mas, orang seperti aku
kan jelek judes lagi.” Sahutku

“Kok dik Anti bilang begitu, mungkin adik saja yang kebanyakan memilih.” Katanya

“Siapa lagi yang kebanyakan memilih, tidak ada  seorang  priapun yang mau mendekati aku, orangnya tidak cantik hitam dan jelek pula.” Kataku

“Mungkin dik Anti saja yang sebenarnya tidak tahu kalo ada seorang pria yang benar-benar memperhatikan adik dan pria tersebut mengharapkan adik untuk jadi pendampingnya loh.” Katanya

“Masa sih, orang seperti aku ada yang mau ?” Tanyaku

“Tentu saja ada, asalkan adik berusaha untuk mencoba membuka pintu hati adik untuk pria tersebut.” Sahutnya

“Adik terlalu merendahkan diri  dengan rasa tidak percaya diri bahwa adik mempunyai suatu kelebihan yang mana belum tentu dimiliki olehsemua wanita.” Lanjutnya

“Benarkah apa yang mas katakan ?” tanyaku dengan penuh keraguan

“Setahu aku, baru pertama kali aku mendengarkan perkataan seperti itu.” Lanjutku

“Mas sungguh-sungguh berkata demikian, mungkin bukan mas saja yang mengatakan seperti itu tetapi banyak pria yang mengatakan hal serupa dengan mas dan adik Anti pun tidak mengetahuinya.” Ucapnya dengan penuh kesungguhan

“Dik, seandainya tiba-tiba ada pria yang ingin melamar adik apakah adik akan menerimanya ?” Tanyanya

“Tergantung, kalo memang pria tersebut bermaksud bersungguh-sungguh sama aku ya aku terima saja dan aku pun tidak memandang pria tersebut apakah orang kaya atau tidak yang penting dia setia, perhatian dan sholeh.” Kataku

“Oh ya dik, kalo seandainya pria tersebut sekarang berada di samping adik bagaimana?” Tanyanya sambil tersenyum dan menatapku dengan penuh harapan

 Aku terdiam tak berdaya dan rasanya hati ini bergetar mendengar perkataannya tadi. Bagaikan mimpi di siang hari bolong.

“Dik Anti, bersediakah kamu menjadi pendampingku ?” Tanyanya kembali

“Kalo seandainya aku bersedia apakah mas tidak menyesal memilih aku untuk menjadi pendamping mas ?”Tanyaku

“Tentu tidak dik, karena kamu adalah wanita yang aku idam-idamkan.” Jawabnya

“Dari pertama kali  saya melihat dirimu dik, saya sudah merasa tertarik dan saya selalu memperhatikan gerak-gerik adik pada saat pulang kerja serta hampir tiap hari saya main ke rumah mas Yata tanpa sepengetahuan adik.” Katanya

“Benarkah itu ? apakah aku tidak bermimpi ?”Tanyaku

“Benar kok dik, aku tidak main-main.” Katanya

“Sungguhkah mas tidak menyesal memilih aku ?’ Tanyaku

“Mas sungguh-sungguh kok tidak meragukan tentang dirimu lagi.” Sahutnya

“Apa tidak terlalu cepat mengungkapkan hal-hal tersebut mas.”Kataku

“Bagi saya sih tidak, sebab saya sudah tahu siapa adik.” Dan saya pun sudah lama memperhatikan diri adik.” Katanya

“Oh…. ya.” Sahutku

“Iya.”Katanya

“Kalo memang benar apa yang mas katakan itu aku pun bersedia menerima mas untuk menjadi pendamping hidupku.” Kataku

“Tetapi apakah adik bersedia menunggu saya beberapa saat, sebab dalam bulan Oktober ini saya akan berangkat berlayar ke seluruh Nusantara entah sampai kapan saya pun tidak tahu.” Katanya

“Aku akan tetap menunggu mas sampai kapan pun juga asalkan mas selalu memberikan kabar kepadaku tentang keberadaan diri mas.” Kataku dengan penuh rasa kesedihan dan seakan-akan aku enggak rela melepasnya.

“Ya sudahlah, kalo gitu mas pulang dulu nanti kalo mas ingin berangkat berlayar pasti   mas akan  kabarin ke dik Anti.” Katanya  

“Iya mas, hati-hati di perjalanan.” Kataku

“Terima  kasih.” Jawabnya sambil berlalu dan melangkah pergi dari hadapanku

Setelah dia pulang aku masuk dan mengurung diri di dalam kamar sambil berkhayal dan mengingatkan tentang perkataan dia tadi apakah aku tidak bermimpi kalo ada seorang pria yang ingin meminangku. Aku pun sangat heran tentang dirinya mengapa dia memilih aku yang jelas-jelas kita belum pernah saling kenal sebelumnya dan belum tahu tentang diri kita masing-masing. Terkadang aku pun tidak percaya dengan perkataan seorang pria yang begitu cepat mengutarakan maksud hatinya. Apakah memang dia sungguh-sungguh ataukah hanya sekedar mempermainkan saja ? “ah…………. aku tidak tahu.” Jawabku dalam hati

Pada keesokan harinya mas Tono berkunjung kembali  ke rumahku :

“Assalamualaikum” Sapanya

“Wa’alaikum salam”. Sahutku sambil membuka pintu

“Oh… mas Tono, silahkan masuk.” Lanjutku

“Terima kasih.” Sahutnya

“Bagaimana kabarnya hari ini mas ?” Tanyaku

“Baik-baik saja.”Sahutnya

“Mau minum apa mas, kopi atau teh ?”Tanyaku kembali

“Kalo bisa sih air putih saja, karena air putih bagus loh………….” Sahutnya

Aku lalu beranjak ke ruang dapur untuk mengambilkan segelas air putih seperti yang mas Tono pinta.

“Silahkan di minum mas   airnya, maaf ya cuma ada air putih saja nih.” Kataku

“Oh…. enggak apa-apa kok, saya
kan kesini hanya silaturrahmi sekaligus mau pamit berangkat berlayar.” Katanya

“Oh ya…., kapan mas berangkat belayarnya ?” Tanyaku

“Insya Allah sih minggu depan saya mau berangkat berlayar ke Aceh dulu kemudian ke Kalimantan,
Surabaya lalu kembali lagi ke Aceh dan saya tidak tahu sampai kapan lamanya.” Lanjutnya

“Kira-kira lama sekali ya mas.” Tanyaku

“Mungkin dik, mas juga sebenarnya tidak kepengin lama-lama meninggalkanmu

“Tidak apa-apa kok mas, demi tugas yang mas emban berangkatlah aku hanya dapat mendoakanmu semoga engkau selamat dan tidak kurang apapun.” Kataku

“Terima kasih ya dik.” Jawabnya

“Sampai kapanpun aku akan tetap menuggu mas sampai kembali dari berlayar, tapi jangan lupa ya mas kirimkan kabarnya.” Kataku sambil memohon

“Tentu saja , mas akan memberikan kabarnya bila sudah sampai di tempat tujuan  nanti.” Sahutnya

“Benar nih,  mas tidak bohong akan  memberikan kabar kepadaku ?” Tanyaku dengan penuh harapan

“Benar kok dik, jangan khawatir mas pasti akan  memberitahukan adik tentang kabar mas disana.” Ucapnya

“Benar ya mas.” Harapku sekali lagi

“ Benar sayang. Ya udah kalo begitu  mas pulang dulu ya dan jangan lupa adik menunggu mas   sampai pulang dari berlayar.” Pintanya

“Kumohon berhati-hatilah dengan angin laut, jaga kesehatan mas jangan sampai sakit dan doaku selalu menyertaimu.” Kataku

“Terima kasih ya dik, doakan mas biar cepat kembali dan mas pamit pulang. ” Katanya

“Sampai ketemu lagi.” Lanjutnya

“Ya, sama bertemu kembali di lain waktu.” Kataku

“Selamat tinggal ya sayang.” Katanya

“Selamat jalan ya mas dan berhati-hatilah dan ingat pesan aku.” Kataku

“Baiklah dik, terimakasih atas perhatianmu padaku.” Katanya

“Sama-sama.” Jawabku

Setelah itu diapun beranjak pulang dari rumahku. Semakin jauh dia berjalan semakin tidak tampak bayangannya lagi.  Dengan kepergiannya berlayar hatiku teramat sedih dan rasanya hampa. Hari-hari ku lalui dengan kesendirian dan penuh penantian yang berkepanjangan. Tak henti-hentinya aku berdoa kepada Allah agar mas Tono selamat dalam menjalankan tugasnya dalam mengarungi samudra yang luas. Oh……………….. mas Tono sampai kapankah kita akan bertemu lagi, ataukah kita tidak akan pernah bertemu  kembali. Mengingat hal itu hatiku terasa semakin pilu dan sedih tak terhingga. Hidupku terasa tak bergairah lagi dan terasa mati tanpa kehadirannya di sisiku. Aku tidak berdaya dan lemah. Aku tidak kuasa menjalankan hidup ini sendiri. Aku menunggu dan terus menunggu sampai dirimu kembali ke hadapanku. Ya Allah kepadaMu lah aku memohon satukanlah hatiku dan hatinya, berikanlah keselamatan kepada dirinya  yang sedang dalam menjalankan tugasnya yang penuh dengan rintangan dan tantangan.  Amiin….Amiin ….. Ya Robbul a’lamiin *

Tinggalkan Komentar