Khusus Untuk (Pria yang Malang) Nuh
Agustus 20th, 2007 by Stebby Julionatan
Bulan yang kedua; pada hari yang ketujuh belas.
Dan alampun berkecamuk. Terbelahlah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Hujan lebat turun menujam bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Segala yang ada di bumi pun akan mati binasa. Bahtera dari kayu gofir itupun turut terombang-ambing bersama keganasan alam. Nuh bersama para awaknya.
Sampai disini rencana penghapusan dosa-dosa manusia masih berjalan baik. Masih berjalan baik sebelum Setan turut campur di talamnya. Ia membebat Nuh dengan mimpi-mimpi indah. Nuh pun tertidur tanpa pernah bangun lagi. Tidur… tidur selamanya sampai *****. Dan Tuhan pun tidak dapat berbuat banyak sebab Ia pun telah memiliki perjanjian dengan Setan.
Burung merpati kembali ke kapal yang Nuh tumpangi. Ia membawa sehelai daun zaitun. Dua minggu setelahnya, Sem, Ham dan Yafet meninggalkan kapal bersama segala pasang makluk yang hidup. Heteroseksual. Halal ataupun haram. Mereka berkembang biak di tanah perjanjian mereka yang baru.
Nuh pun terlupakan. Ia telah ditinggalkan dalam kepulasan tidurnya. Ia terombang-ambing di segala lautan. Pasifik, Atlantik, Hindia dan Antartika. Hingga Setan membangunkannya setelah ia terdampar di ujung Banda (Aceh) pada hari Sabat, 26 Desember 2004.
Nuh kaget dan terjengkang: Apa ini? Di mana aku? Ketika tiba-tiba ia tersadar dari tidur panjangnya, Dan melihat di sekelilingnya telah porak poranda. Mayat –tua, muda, pria, wanita, besar, kecil, mengapung di sepanjang mata memandang.
Setan tertawa terbahak-bahak, besar sekali gelegarnya: Nuh, Nuh, ini semua umatmu yang kau selamatkan itu.
Apa yang terjadi? Bukankah Tuhan telah membuat perjanjian denganku?
Ahhhhh……. lupakan tuhanmu itu! Teriak setan ketus. Buktinya sekarang tuhanmu itu ingkar janji.
Namun Nuh adalah seorang yang taat dan tegar hati. Ia tidak terpengaruh tipu daya Setan. Ia lalu bersujud dan bersyukur karena masih ada penduduk yang selamat dari bencana ini. Setan, katakan dengan jelas di mana dan kapan aku berada saat ini? Nuh dengan lantang bertanya pada Setan.
Bukan pertanyaan yang sulit. Kau ada di Banda Aceh. 21 abad Sesudah Masehi.
Jadi Yesus sudah lahir?
Ya, bahkan Muhamad, Sidharta, Kong Hu-Cu, Lao Tze….
Cukup! Nuh menyela. Dan ia pun turun melalui pintu yang berada di lambung kapal. Salah seorang korban gempa dan tsunami yang sedang kebingungan mencari keluarganya sempat melihatnya. Orang aneh, pakaian aneh, stylist yang aneh. Namun dengan segera ia membuang rasa penasarannya. Baginya mencari sanak saudaranya yang hilang terseret arus laut itu lebih penting.
Empat jam setelah gelombang, Tim SAR dan aparat segera mengevakuasi para korban yang selamat. Termasuk Nuh. Mereka mengira Nuh adalah salah satu dari para korban yang selamat itu. Maka Nuh pun diangkut ke Medan. Meski dalam hati bingung, namun Nuh diam saja, pasrah dan berserah terhadap rencana Tuhan.
Sesampainya di Medan, para wartawan yang haus akan berita segera memberondong para korban yang selamat itu. Kamera, recorder, mike, semuanya tertuju pada mereka. Beberapa orang langsung menangis histeris. Beberapa lagi terlihat menahan air matanya yang sedang berdemo, tetapi tidak ingin kehilangan self image sebagai orang yang tabah dan tegar menghadapi cobaan. Sisanya pingsan di dalam truk karena tak mendapatkan udara yang cukup selama perjalanan Medan. Tapi Nuh diam saja, ia memandangi peralatan rekaman itu lekat-lekat. Tak pernah ada alat seperti ini di jamannya. Lagipula ia tidak tahu apa yang orang itu katakan atau tanyakan padanya.
Sementara itu wartawan yang mewawancarainya beranggapan lain. Ia mengira Nuh masih syok dengan peristiwa yang menimpa diri dan keluarganya itu. Maka wartawan yang mewawancarai Nuh itu pun membatalkan niatnya. Hatinya terketuk untuk berempati dan bersikap sosial. Ia segera membantu Nuh mencari pertolongan medis. Akhirnya Nuh mendapatkan pertolongan medis dan dilarikan di rumah sakit.
Mmmm… enak sekali makanan ini. Pikir Nuh. Sebab baru sekarang ia mendapatkan roti beragi yang bersalut mentega dan coklat meses di atasnya. Tempat tidurnya pun nyaman. Manusia… manusia…. Lalu ia pun bersyukur kembali kepada Tuhannya.
Tidak mungkin Tuhan memilih orang yang bodoh sebagai gembala bagi domba-dombanya, begitu pula Nuh dipilih diantara orang-orang di jamannya untuk mewartakan kebenaran. Rupanya Tuhan belum mencabut SK-nya. Nuh masih diberi kelebihan itu. Maka selama ia dirawat di rumah sakit, dengan cepat ia belajar bahasa Indonesia. Logat Acehnya sekaligus. Dan ketika wartawan yang dulu menanyainya datang kembali menjenguknya, ia telah siap berkomunikasi dengan baik.
Nama Bapak siapa?
Nuh
Pak Nuh, saya turut berbela sungkawa dengan tragedi yang Bapak alami.
Terima kasih, Nak. Tapi sesungguhnya saya tidak apa-apa kok. Wartawan itu terperanjat. Betul… Saya tidak apa-apa. Saya tidak kehilangan keluarga saya. Malah saya sangat bergembira sebab ternyata Tuhan telah menepati perjanjiannya. Sebab ternyata anak cucu saya telah memenuhi seluruh permukaan bumi.
Maaf Pak, mungkin saya telah salah orang.
Tidak. Saya ini Nuh utusan Tuhan. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan kita semua. Kamu ini anakku, cucuku, keturunanku. Tuhan… terima kasih Tuhan.
Sepertinya dia sudah gila. Ucap wartawan itu kepada salah satu perawat yang sedang bertugas.
*****
Lihatlah Nuh, tidak ada orang yang percaya padamu. Ucap Setan penuh tipu muslihat. Kau malah dinilai sebagai orang stress. Orang nggak waras. Dan dikirim di tempat ini. R.. S.. J.. Ruhan Sakit Jiwa. Ungkap Setan menggoda. Tempatnya orang-orang yang tidak sadar yang ditekan ketidaksadarannya dan kemudian dibelenggu di dalam wilayah sadar. Sesaat Setan berhenti mengoceh, tetapi ia tidak tahan untuk tidak menggoda Nuh. Coba kamu turuti perintahku. Lupakan tuhanmu, lupakan perjanjianmu…
DIAAAMMMM!!! Nuh berteriak marah.
Suster yang sedang memeriksa beberapa pasien jiwa di bangsal sebelah terperanjat mendengar teriakan Nuh. Ia bergegas melihatnya. Ah…, tidak apa-apa.
Ah takut! Kamu masih marah ya? Tanya Setan. Bailah kamu akan kutinggalkan, tapi sebaiknya pertimbangkan lagi usulku. Setan pun ngeloyor pergi.
Semalaman Nuh berpikir. Baiklah akan kucoba usulnya. Aku akan bersikap kooperatif terhadap dokter-dokter dan perawat di sini. Tidak sampai tiga hari Nuh telah dinyatakan sehat walafiat. Fisik dan psikis. Sehingga ia pun siap diwawancarai oleh wartawan yang menolongnya.
Syukur… syukur, puji syukur kepada Tuhan, Nak. Allahu akbar. Allahu akbar. Cuma saya yang selamat, Nak. Istri saya dan anak-anak saya semuanya telah meninggal. Rumah saya habis dihantam gelombang. Rata dengan tanah. Cuma saya yang selamat. Nuh pun berakting menangis terseduh-seduh. Saya sebatang kara, Nak. Itulah sebabnya beberapa hari ini saya sempat syok, bahkan saya sempat dikirim di rumah sakit jiwa. Hu…hu…hu…hu…. Nuh menangis histeris.
Pria yang malang. Pikir wartawan itu.
Tanpa membuang waktu wartawan tersebut meminta relay kepada stasiun televisi tempatnya bekerja. Live. Siaran langsung tanpa jedah iklan. Ia kemudian meminta kepada Nuh untuk mengulangi ceritanya. Dan Nuh pun berakting kembali dengan sangat meyakinkan. Perfeck. Sempurna tanpa cacat. Sekelas dengan acting Tora Sudiro dalam film Arisan. Sehingga orang yang melihatnya di seluruh Indonesia makin merasa terharu, trenyuh, kasihan, iba dan bersimpati. Segera saja mereka –orang di seluruh Indonesia, melipat gandakan bantuan mereka. Bahkan ada yang bermaterai: Khusus Untuk (Pria yang Malang) Nuh.
Wartawan itu pun menjadi kaya dengan beritanya. Nuh pun menjadi kaya dengan bantuan yang dikirimkan khusus dari para dermawan kepadanya. Nuh terbengong-bengong sendirian dalam tumpukan hartanya. Tuhan, macam apa pula ini? Ketika aku mengutarakan kebenaran, mereka menempatkanku ke rumah sakit jiwa. Tetapi ketika aku berbohong, aku menjadi kaya dan bergelimang harta.
Nuh…, kata Setan. Manusia modern tidak lagi percaya pada Tuhan yang kau ajarkan. Pada Tuhan yang kau sembah. Atau…pada persepsi tentang Tuhan yang digambarkan dalam kitab-kitab suci. Mereka cenderung memiliki nilainya masing-masing untuk menciptakan persepsi tentang Tuhan pada dirinya sendiri. Nuh pun ternganga.
Probolinggo, 6 Januari 2005.