Kami Bukan Penjilat
Agustus 20th, 2007 by Dona Dwi Antika
“Sial! Bagaimana negara ini mau maju kalau orang-orang model si-Z masih saja berkeliaran di negeri ini. Lagak-nya bagaikan orang paling intelek tapi hatinya gak lebih dari sekadar tumpukan sampah! Jijik! Cih, seandainya masih ada Hitler di dunia ini, aku bakal berkolaborasi dengannya membantai sampah-sampah dunia!”
“Woy! Jelek amat tampangmu! Marah-marah di hari yang terik seperti ini? Kenapa pula, bah?” Suara Togar-si Batak-membuatku kaget. Sedang asyiknya aku berkeluh kesah tentang dosenku, dia datang dan langsung memukul pundakku.
“Gar! Bisa tidak kalau kamu itu tidak selalu mengagetkanku! Hari ini sudah dua kali kamu bikin aku kaget!” protesku. Togar melebarkan senyum di bibirnya. Beberapa saat kemudian ia tertawa.
“Ha.. ha.. ha..” “Ri, kau itu janganlah suka marah-marah. Nanti kau itu cepat tua! Umurmu itu masih cukup muda, sobat. Jadi apa pula isi kesahmu itu yang membuatmu semakin memanaskan siang yang sudah sangat terik ini? Mungkin kau bisa cerita padaku.” Togar menawarkan perhatiannya padaku. Sahabatku ini memang selalu ada di waktu yang tepat. Walau kami berbeda fakultas tapi kami sering bercerita. Ya, Togar memang satu-satunya teman yang paling dekat dengaku di kampus ini.
“Begini, Gar! Aku
kan baru saja menyelesaikan tugas laporan penelitianku di desa-X. Aku mengadakan penelitian dengan anak-anak pecinta alam yang ada di jurusanku. Semua sudah kami kerjakan dengan baik. Pure, tanpa campur tangan orang lain dalam penulisannya. Dan kau tahu apa?” tanyaku ditengah-tengah pembicaraan. Togar memicingkan matanya. Seperti mengisyaratkan kalau ia sudah tak sabar ingin mendengar kelanjutan ceritaku. Aku berjeda sesaat.
“Dan ternyata! Si-Z, dosen studiku menolak laporan kami. Katanya terlalu subjektif! Tidak ilmiah! Katanya isi yang kami sampaikan terlalu emosional. Tidak beralasan!” Aku diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berbicara lagi. “Dan yang lebih mengenaskan, laporan penelitian Ayuni dan teman-temannya yang penjilat itu justru diterima bahkan menjadi yang terbaik.”
“Apa?” Togar keheranan. Keningnya berkerut. “Ayuni yang model majalah itu?” tanyanya pelan.
“Iya. Kenapa? Kamu kenal?” tanyaku.
“Ya tentu saja! Siapa yang tak kenal wanita seperti itu. Tidak berbudi! Tidak punya hati!” Togar berbicara dengan intonasi yang meninggi.
“Apa masalahmu dengan dia, Gar?” tanyaku.
“Nanti saja! Kau lanjutkan saja ceritamu.” pintanya. Aku diam dan kemudian mengangguk.
“Ya, aku lanjut. Ketika aku dan teman-temanku datang menemui pak-Z, saat itu juga Ayuni sedang ada disana. Entah apa yang baru saja mereka lakukan. Mereka langsung gugup ketika melihat kami. Kemudian Ayuni permisi dan meninggalkan pak-Z. Sekilas kudengar ia mengumpat kehadiranku saat itu. Aku langsung mendekati pak-Z dan berbicara padanya. Kusampaikan maksudku dan kemudian menyerahkan makalahku. Wajahnya menjadi muram. Ia ambil makalahku, membacanya beberapa saat dan kemudian membantingnya!” “Shit!” bentakku kemudian. Aku tidak tahan menceritakan semua ini pada Togar.
“
Lanjutkan, Ri!” ucap Togar. Kukepalkan tanganku, menahan emosi yang mulai membuncah, dan kemudian berbicara lagi.
“Dia hanya membaca makalah kami beberapa saat dan kemudian mengatakan kalau makalah kami tidak beralasan, terlalu subjektif, emosional, tidak ilmiah, dan lain-lain. Aku langsung bertanya dimana letak kesalahannya dan ia menjawab kalau data yang kami sampaikan hanya sebagai data. Tidak dapat diambil kesimpulan. Kurang penelusuran yang lebih men-detail.”
“Memangnya permasalahan apa yang kau bahas dalam penelitianmu itu?” Tanya Togar di akhir kalimatku.
“Mengenai pengaruh perkembangan industri terhadap kehidupan perekonomian pedesaan. Dan kami menyimpulkan kalau industri tersebut hanya meningkatkan perekonomian
kota. Sedangkan pedesaan sebagai penyuplai material industri hanya mendapatkan keuntungan yang tidak sebanding dengan keuntungan para penguasa industri
kota. Mereka hanya dijadikan sebagai alat pemenuhan material industri. Mereka tidak diajarkan bagaimana meningkatkan taraf hidup mereka. Sehingga pemerataan ekonomi tidak berlangsung dengan mulus.”
“Aku setuju itu. Sama seperti kampungku. Kami bekerja siang malam dan hanya itu-itu saja yang kami lakukan. Di sawah atau di ladang. Kami jual hasil panen kami pada orang-orang
kota. Tak seberapa yang kami dapat. Paling hanya menutupi modal kami. Desangkan mereka penguasa industri meraup keuntungan yang berlipat-lipat dari yang kami dapatkan. Makanya aku mau sekolah sampai ke
kota ini untuk mengubah nasib kami.” Togar diam sesaat. Terpancar jelas semangat hidupnya. Seorang pemuda yang mempunyai banyak harapan untuk desanya.
“Lalu bagaimana dengan Ayuni?” tanyanya setelah itu.
“Huh!.” Lagi-lagi aku mengeluh. “Kamu tahu? Sejak dua hari yang lalu setelah kami menghadap pak-Z, kami bertanya pada beberapa teman kami yang juga melakukan penelitian. Mencoba membandingkan penelitian kami dengan mereka. Dan tidak jauh berbeda. Dari segi teknis dan penarikan kesimpulan hampir sama. Joko bilang kalau penelitian Ayuni yang berhak mendapatkan nilai tertinggi. Aku merasa penasaran dan menanyakan pada mereka mengenai penelitian Ayuni. Mereka bilang tidak tahu jelasnya. Yang mereka tahu, Ayuni mengadakan penelitian mengenai kondisi perkuliahan di kampus kita.”
“Lalu apa yang ia simpulkan dalam laporannya?” tanya Togar penuh selidik.
“Joko bilang kalau Ayuni menyimpulkan kondisi perkuliahan di kampus kita sudah sangat baik. Semua standar pola pembelajaran sudah diterapkan dengan baik. Indeks prestasi mahasiswa juga membuktikan kalau kondisi perkuliahan kita sangat kondusif.”
“Bah! Dasar penjilat! Jelas saja ia mendapatkan nilai terbaik. Ia tak menyertakan bukti-bukti penyelewengan hak di kampus kita. Aku berani taruhan, perempuan itu tidak menyertakan informasi mengenai mahasiswa yang bermasalah. Dan kalaupun ia sertakan pasti hanya yang benar-benar bobrok dan patut di-depak dari kampus kita. Kondusif apanya? Sogok sana-sini saja masih sering kutemukan. Apanya yang sangat baik?” Togar mulai kesal. Sepertinya ia ikut-ikutan emosi sepertiku.
“Ya, aku dan teman-teman juga menyimpulkan seperti itu. Kami berusaha mencari tahu mengenai isi makalah Ayuni dan teman-temannya. Dan benar, mereka hanya melakukan penelitian pada orang-orang berpengaruh di kampus kita. Tak ada nama siswa seperti Munir, Hambali, atau Lukman yang melaporkan tindakan kesewenang-wenangan beberapa staf dan pengajar kita. Nama mereka seolah-olah tidak pernah muncul di kampus kita.”
Kami diam, menarik nafas dalam-dalam. Kusenderkan tubuh ke tiang yang ada di sampingku. Sebatang rokok kretek kukeluarkan dari kotaknya yang sejak pagi bersarang di saku kemeja yang aku kenakan. Tak lupa kutawarkan pada Togar. Ia menarik satu batang. Kusulut api diujung batang rokokku. Togar menyulut dari ujung rokokku yang sudah terbakar.
“Gar, menurutmu apa yang salah dalam sistem hidup ini?” tanyaku pelan.
“
Banyak, Ri. Tak dapat kusebut satu per satu. Mungkin kita harus menantikan satu generasi yang bisa memutus mata rantai kesewenang-wenangan ini. Kita harus menantikan satu generasi yang berani berbicara. Bukan cuma protes seperti kita saat ini. Tapi juga yang mau menyuarakannya dan mencari solusinya.”
“Harus seperti itu, Gar?” tanyaku sambil mengebulkan asap dari rokokku.
“Ya, seperti itu, Ri. Orang-orang seperti Munir, Hambali, atau Lukman seharusnya masih bisa berada di tengah-tengah kita kalau saja mereka didukung. Kalau saja ada pejabat-pejabat yang mau mendengar mereka.” Kini Togar pun bersandar pada tiang di sampingnya. Kami saling menatap.
“Gar, apa hanya karena kesewenang-wenangan, kita tidak bisa hidup bahagia di dunia ini?”
“Bukan seperti itu, Ri. Kita juga perlu sadar kalau semua di dunia ini sudah diatur oleh pencipta kita. Hanya saja semua ini adalah liku yang harus kita jalani. Semua ini adalah proses pembelajaran bagaimana kita seharusnya bersikap dalam menghadapi kehidupan. Semua sudah ada bagiannya.”
“Termasuk bagian untuk bertindak sewenang-wenang, Gar?”
“Ari, kita memang bukan Tuhan. Yakinlah, semua ini ada hikmahnya. Tak akan ada surga-neraka kalau dunia ini putih-putih saja.” Aku terdiam. Mencermati setiap kata-kata sahabatku. Mencoba menerima apa yang ia ucapkan. Perlahan kuangkat wajahku yang sejak beberapa detik lalu menatap lantai kantin Bu Sumi.
“Ya, kamu benar. Memang aku terlalu emosi beberapa hari ini. Terlalu sulit berpikir.” ucapku.
“O iya, tadi kamu mau menceritakan mengenai masalahmu dengan Ayuni.” lanjutku. Togar tersenyum. Asap rokok mengepul di sekitar wajahnya. Sesaat kemudian asap itu terbang dan memudar, menyatu bersama bergiga-giga partikel di udara. Aroma khas kretek tercium kuat di hidung mancungku. Togar mendekat kesampingku. Ia merapatkan tubuhnya padaku. Aku sudah tak menyender lagi di tiang. Togar berbisik ke telingaku. “Ayuni, istri simpanan pak-Z.”
di setiap kampus emang rata2 ada permainan antara dosen dan mahasiswa.gak bisa dipungkirin,aku juga jadi korbann dari dosen yang mata keranjang….hanya karena aku ini gak menarik nilaiku langsung diksih D…system emang gak mendukung banget…