Indahnya Kepalsuan
Agustus 20th, 2007 by haryobagushandoko
“Iya, lho, Jeng, betul itu !” sahut Mirna menimpali komentar Bu Nadia yang sedang menceritakan uneg-unegnya seputar kehidupan sosial mereka sebagai keluarga terpandang di negeri ini. Mereka selalu saja tak pernah luput dari sorotan media dengan berita miring yang tak ada habisnya.
“Pernah lho Jeng, saat kita sedang di Senayan City, tiba-tiba ada reporter televisi nyelonong sambil menanyakan berbagai pertanyaan yang sama sekali tidak etis, kurang ajar banget lho, Jeng,” sambung Bu Nadia meneruskan ceritanya. Wanita narsis itu tak habis-habisnya menceritakan berbagai cerita seputar kehidupan keluarganya yang terhormat. Mirna hanya manggut-manggut mendengarkan semua cerita Bu Nadia. Mirna hanyalah seorang wanita OKB – Orang Kaya Baru. Suaminya tiba-tiba menjadi seorang jutawan karena harta warisan peninggalan pamannya yang memiliki ribuan hektar tanah perkebunan baik di Jawa maupun di Sumatra.
Mirna bergabung dengan klub para wanita jetset ini atas jasa baik temannya, Natasya, yang sudah lebih dulu bergabung dengan dengan klub ini beberapa tahun yang lalu saat ia menikah dengan seorang juragan eksportir kayu asal Kalimantan. Kini ia merasa sangat bahagia setelah bergabung dengan perkumpulan wanita kaya ini. Selalu saja ada kegiatan yang bisa dikerjakan setiap harinya. Entah itu berkunjung ke klub janapada sambil main golf dan melakukan konferensi pers dengan media massa setempat atau televisi nasional yang dengan setia meliput kegiatan mereka, atau menghadiri lelang barang-barang antik yang diselenggarakan oleh balai lelang Christies. Mirna merasa sangat terhormat, ia kini bukan lagi wanita pelayan bar seperti dulu. Dengan mengikuti perkumpulan wanita kelas atas inilah, satu-satunya cara untuk bisa meningkatkan derajat, martabat dan menunjukkan eksistensi dirinya sebagai wanita terhormat.
Semuanya kini telah jauh berbeda. Kini Mirna tidak perlu lagi bersusah payah naik bis kota ke mana pun ia pergi. Seorang sopir yang digaji oleh suaminya, selalu dengan setia mengantarkannya ke mana saja. Mobil sedan Alfa Romeo serial terbaru berwarna hitam itu sepenuhnya sudah menjadi hak milik Mirna, saat suami tercinta menghadiahkan mobil mewah itu saat Mirna berulang tahun. Ya, ia kini bukanlah Mirna yang dulu, wanita bertampang kusam dengan kosmetik murahan. Mirna kini adalah wanita terhormat yang hanya mau menggunakan kosmetik buatan Eropa. Perubahan gaya berdandan saja tidak cukup buat Mirna, seluruh pakaiannya pun harus buatan impor. Kutang dari Swedia, celana dalam dari Perancis, gaun panjang buatan Inggris, dan busana kasual sehari-hari harus buatan Australia. Sepatunya pun tidak mau kalau hanya sekedar buatan Cibaduyut, sepatunya harus buatan Italia. Itulah Mirna yang sekarang. Mirna bagaikan toko butik berjalan setiap ia pergi ke pertemuan wanita jetset yang tak pernah ketinggalan dihadirinya. Pertemuan itu tak lain adalah sekedar ajang pamer bagi para istri untuk menghabiskan uang suaminya dengan memakai pakaian dan perhiasan serba mahal.
“Jeng Safitri, ini lho, saya punya barang baru, kalung berlian bagus dari Afrika, tebel dan gede, lho Jeng, “ terdengar Bu Sofia tak mau kalah menarik perhatian ibu-ibu yang hadir. Lagaknya seperti mau menghampiri Bu Safitri demi menawarkan kalung indah dagangannya, tapi maksudnya tentu saja untuk mendapatkan perhatian dari seluruh undangan yang hadir. Suara cempreng wanita itu sengaja dikeras-keraskan biar semua mendengar perkataannya. Benar saja, semua perhatian langsung tertuju kepada Bu Sofia. Apalagi saat mendengar kata-kata kunci, “berlian”. Sebuah kata itu langsung bisa menyedot perhatian demikian besar dari siapa saja. Dalam sekejap, mereka pun mengerubungi Bu Sofia, bagaikan sekelompok lalat mengerubungi daging busuk.
“Mana Jeng, lihat berliannya.”
“Waduh, indahnya.”
“Iya, ya, besar lagi. Wah berapa harganya ini, Jeng ?
“Ah, nggak mahal koq ?!”
“Iya, nggak mahalnya itu berapa, Jeng ?”
“Cuma 150 juta rupiah, Jeng. Murah kan ? Ini asli buatan Afrika, lho !”
“Ya, ampun murahnya. Lihat dong. Wuih, iya, bagus bener, nih !”
“Bisa dicicil nggak ?”
“Ya nggak, to Jeng. Nanti orang Afrikanya nggak makan sebulan kalo harus dicicil !”
“Wah, sayang ya. Padahal aku mau beli lima biji yang kayak gini.”
“Begini aja Jeng. Kalau beli lebih dari satu, dapat diskon 25%. Gimana ?”
“Kalau harganya segitu, ya tetap kemahalan, Jeng.”
“Kalau cari yang murah, ya cari aja di pasar Senen.”
“Ya, ampun, Jeng. Jangan marah dong ! Kita kan cuma nawar, boleh syukur, kalo nggak boleh, yo wis !”
Semua pun dibikin ribut oleh berlian yang dibawa Bu Sofia. Kerumunan itu terus membicarakan berlian indah yang sempat memukau begitu banyak mata itu. Sampai acara selesai pun, masih saja pembicaraan berlanjut seputar perhiasan mewah itu. Tampaknya setiap orang begitu berambisi untuk memiliki perhiasan mahal itu walau pun mereka bersaing untuk mendapatkannya dengan cara yang murah. Tampaknya tidak seorang pun yang benar-benar berniat secara serius untuk membelinya secara tunai. Semuanya berpikiran untuk membeli perhiasan itu secara kredit, dan kalau bisa malah diusahakan untuk mengemplang (menunggak hutang/tidak membayar hutang) saat harus membayar. Maklum itu kan kebiasaan orang-orang berduit di negeri ini. Gayanya saja yang sok berduit, padahal bisanya cuma ngutang. Saat ditagih, sudah tidak heran lagi kalau mereka bakal berkelit, dan kalau perlu menghilang dari peredaran.
Mirna masih terbayang-bayang oleh kilauan cahaya berlian itu yang berpendar-pendar saat terkena sinar lampu. Akan menjadi sebuah kebanggaan besar, bila ia bisa memiliki berlian itu. Sebuah aset berharga yang bisa mengantarkannya kepada tangga kepopuleran sebagai seorang wanita jetset. Kalung itu akan menjadikannya sebagai seorang primadona pesta saat suaminya mengajaknya pergi ke pesta-pesta mewah pertemuan para pengusaha. Sebuah peluang yang tidak boleh dipandang remeh.
“Aku harus memiliki kalung itu,” pikir Mirna. Tapi bagaimana caranya ? Untuk memintanya secara langsung kepada suaminya, jelas ia merasa malu. Baru bulan kemarin, suami tercinta membelikan ia sebuah mobil mewah buatan Italia, masa sekarang harus minta lagi dibelikan kalung berlian. Tapi kalung berlian itu begitu menawan dan menggoda hatinya. Masa dilewatkan begitu saja. Cahaya putih dan kebiruan berlian itu masih teringat dalam benaknya. Bahkan bisa menjadi mimpi buruk bila ia gagal memiliki benda yang satu itu.
Akhirnya setelah melalui negosiasi yang ulet dengan suami tercinta, Mirna bisa juga mendapatkan keinginannya. Sang suami memberikan ijin untuk membeli kalung berlian itu melalui transfer bank. Mirna segera berjingkrak kesenangan sambil melompat dan menciumi suaminya. Sang suami hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah istrinya yang seperti anak kecil saat minta dibelikan permen.
Keesokan paginya, Mirna langsung menghubungi Bu Sofia melalui telepon. Ia berniat membeli 2 buah kalung sekaligus. Pembayarannya dilakukan secara transfer melalui bank. Bu Sofia tampak begitu gembira mendengar kesanggupan Mirna membeli barang dagangannya. Segera saja ia mengantar dua kalung berlian itu ke rumah Mirna saat transfer uang sudah masuk ke rekeningnya. Mereka berdua tertawa-tawa senang. Bu Sofia senang karena dagangannya laku, sementara Mirna merasa senang karena memiliki dua buah kalung berlian besar-besar yang semuanya bisa dipamerkannya nanti di pesta-pesta kaum jetset. Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya keduanya berpisah. Bu Sofia minta diri untuk pulang ke rumahnya. Mirna pun mengantar Bu Sofia sampai ke gerbang depan. Satpam rumahnya mengangguk dan tersenyum ramah melepas kepergian Bu Sofia.
Dua minggu berlalu sudah. Mirna merasa begitu bahagia dan tidak sabar. Malam ini adalah malam pertemuan bisnis suaminya dengan para kolega. Kesempatan inilah yang ia tunggu-tunggu demi memamerkan kalung berliannya yang indah. Mirna mematut-matut dirinya di depan walking closet yang ada di kamarnya. Sambil mencoba berbagai gaun yang ia padu padankan sendiri, Mirna memasang kalung berlian itu di lehernya. Tak lupa ia mencoba sepatu berhak tinggi yang baru dibelikan oleh suaminya saat pulang dari Italia beberapa hari yang lalu. “Wah, aku akan kelihatan semakin cantik,” demikian gumam Mirna mengagumi dirinya sendiri.
Malam yang ditunggu pun tiba sudah. Berdua berangkat dengan suaminya, dada Mirna naik turun berdebar-debar menunggu bagaimana reaksi para istri kolega suaminya saat melihat kalung berlian yang dipakainya. Dalam hati Mirna ingin mendapatkan banyak pujian, karena tampil cantik malam itu, lengkap dengan kalung berliannya. Mereka sampai di depan sebuah gedung pertemuan megah dengan pilar-pilar yang demikian tinggi. Tampak beberapa tukang parkir, membukakan pintu mobil para hadirin yang datang. Mereka berdua segera melangkah masuk menuju tempat pertemuan. Sopir pribadi Mirna dan suaminya segera berlalu membawa mobil mewah Aston Martin warna hitam itu menuju pelataran parkir.
Pesta malam itu begitu meriah. Sebuah jamuan makan malam yang diselingi pembicaraan bisnis oleh para suami. Para istri bergerombol saat makan malam diakhiri, mereka tampaknya ingin memamerkan kehebatan masing-masing. Para suami masih sibuk meneruskan pembicaraan bisnisnya dengan bergerombol di sudut yang lain. Mirna menebarkan senyuman dan pesonanya kepada para istri pengusaha lain yang hadir malam itu. Beberapa di antara mereka tampak berbisik dan tertawa kecil melihat penampilan Mirna. Mirna pun tak sabar menunggu komentar mereka. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, komentar pun keluar dari bibir para wanita kaya itu.
“Wah, Jeng, kalungnya bagus banget. Beli di mana ?”
“Iya butiran berliannya koq besar-besar banget, beli di mana ya, Jeng ?” tanya beberapa wanita yang ada sambil sesekali melirik sana-sini sambil tersenyum agak sinis. “Ah, ini aku beli langsung lho dari Afrika. Murah banget koq harganya,” sahut Mirna sambil menyombong di depan sekumpulan wanita yang mengajaknya bicara.
“Jauh bener, Jeng. Memangnya di Indonesia nggak ada, ya ? Koq, jauh-jauh harus beli dari Afrika ?” kata salah seorang wanita sambil mengedipkan matanya.
“Kalau dibilang jauh, ya memang jauh. Tapi itu lho Jeng. Kepuasannya kalau bisa beli langsung di Afrika, tidak tergantikan oleh apa pun. Lagi pula kan berlian asli Afrika terkenal paling bagus kualitasnya,” kata Mirna tak mau kalah.
“Kalau memang dari Afrika, tapi koq seperti itu ya ? Boleh lihat dari dekat nggak, Jeng ?” kata seorang wanita lain yang berpenampilan agak judes.
“Silahkan. Bagus kan kalung saya ?” kata Mirna menyombong lagi.
“Lho, ini sih bukan berlian, Jeng,” kata wanita itu lagi, “ini palsu !”
“Jeng Mirna, memang serius beli di Afrika sana ? Wah kalau begitu ini namanya celaka dua belas, Jeng. Sudah jauh-jauh beli di Afrika. Eh, berliannya ternyata palsu. Benar kan, Jeng Respati ? Lihat saja. Ayo ke sini, teman-teman. Tolong diperhatikan, apa benar kata saya ?”
Wanita-wanita itu pun berkerumun mengelilingi Mirna sambil melihat lebih dekat kalung berlian yang sedang dipakainya. Mereka berkomentar macam-macam sambil berdecak-decak. Beberapa bahkan berkomentar sinis dan bernada menghina. Mirna hanya bisa berdiri lemas mendengar semua komentar ibu-ibu kenalannya itu. Matanya berkunang-kunang. Wajahnya pucat pasi. Hilang semua impian indahnya untuk mendengarkan pujian dari semua tamu yang hadir malam itu. Yang ada hanyalah rasa malu akibat semua orang membicarakan kalung palsu yang dipakainya saat itu. Mirna menjadi bahan tertawaan dan gunjingan para wanita kaya itu. Para wanita yang hanya memikirkan penampilan palsu mereka sebatas pada perhiasan mahal yang mereka pakai. Tak seorang pun di antara mereka yang benar-benar memiliki kecantikan hati dan kemuliaan budi. Mereka tak pernah peduli bahwa masih banyak orang di negeri ini yang hidup dalam kemiskinan, kekurangan makan dan berselimut penderitaan. Saat Mirna mendatangi rumah Bu Sofia di kawasan perumahan mewah di kota itu, di depan rumah itu telah terpampang sebuah papan pengumuman besar bertuliskan, “Rumah ini disita oleh negara.” Pintu pagar rumah itu digembok dari luar dengan rantai besar, sementara tak kelihatan satu pun penghuni rumah itu yang tampak. Rumah itu sepertinya telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Mirna hanyalah korban akibat keserakahan dan angkara murkanya sendiri.
Orang-orang seperti Mirna dan kelompoknya itu begitu banyak bertebaran di negeri ini. Tiada lagi nurani dan kepedulian terhadap sesama. Hati mereka dipenuhi oleh ambisi dan angkara murka. Tak heran karunia dan berkah dari Tuhan tak pernah menghampiri mereka. Harta yang demikian melimpah ruah dengan mudahnya menguap begitu saja, karena kurangnya amal dan rasa solidaritas terhadap sesama manusia. Hidup mereka tidak akan pernah bahagia. Merekalah seharusnya yang disebut sebagai kaum miskin, karena tak pernah puas dengan harta yang mereka miliki, berapa pun banyaknya.
Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata. Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !
Jeng = panggilan akrab dalam bahasa Jawa terhadap sesama perempuan
Mengemplang = tidak mau membayar hutang