KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hamburger Tanpa Label

Dia berjalan menghampiri anak kecil berbaju dekil yang tengah memegang kericik sambil menggayut tiang lampu merah, tubuhnya kurus namun wajahnya penuh kelicikan, sesekali anak kecil itu terlihat bersenda gurau dengan teman-temannya yang lebih besar sambil mengisakan ingus nya yang sudah belepotan di bawah hidungnya, Diapun memberikan sebungkus Hamburger berlabel perusahaan fastfood ternama sambil tersenyum, si anak sempat menatap Dia dan dengan ragu-ragu mengambil hamburger yg disodorkan Dia setelah Dia meyakinkannya, dan sedetik kemudian si anakpun berlari menuju seorang ibu dengan gembolan lusuh di pelukannya dan memberikan hamburger itu pada sang ibu, Dia pun terheran, bukankah anak kecil itu lebih terlihat lapar ketimbang ibunya yang kemudian terlihat memerintahkan sang anak untuk kembali pada Dia, sang anakpun menghampiri Dia, namun kali ini sang anak tak berani menatap Dia, Diapun bertanya ” mau lagi ?” si anak menggeleng “tidak, saya hanya mau berterima kasih” “oooh…baiklah, terima kasih kembali, yakin kamu gak mau hamburgernya lagi ?” si anakpun menggeleng, tak lama sebuah mobil van menghampiri Dia dan Diapun meninggalkan sang anak yang kemudian terlihat di hampiri sang ibu yang kemudian memukul kepalanya sambil memaki “dasar anak goblok ! bukan minta duit ! malah ngomong yang enggak - enggak, keburu pergi kan dia !” Dia sempat menatap tak percaya pada sang anak yang hanya tertunduk diam, namun Dia terlanjur telah duduk di dalam van yang tak menunggu lama begitu lampu hijau menyala.

Dia tersungkur sambil terbatuk di pojok koridor Rumah Sakit dan mendapati sapu tangan yang menutup mulutnya terbercak darah segar, darah itu keluar dari mulutnya sendiri ” yah…Tuhan…ini semakin memburuk…”gumamnya dan tiba - tiba saja pandangannya terasa gelap gak karuan…beberapa saat kemudian Diapun tak sadarkan diri. Dia membuka mata dalam keheningan, hanya suara pendeteksi jantung di sebelahnya yang menyapanya, seorang suster menghampiri tempat Dia berbaring seraya berkata ” mba Dia, lama-lama kok yang jenguk pada sibuk ? mba Dia kan ngga bisa di jenguk sama uang saja…sabar yah mba…nanti kita carikan orang yang bisa menjaga mba Dia sepanjang waktu disini” Dia tersenyum tabah, gadis cantik yang selalu dieluk- elukan dalam hidupnya itu kini sebatang kara, hidupnya yang nyaris sempurna hanya berkawan dusta, kawan yang ikut tertawa saat Dia berada di puncak kegemilangan serta - merta menghilang entah kemana

tiba-tiba seorang anak kecil terlihat memasuki ruang vipnya tsb sambil mengepal sebuah hamburger murahan tanpa label “mba…makasih untuk hamburgernya…kata emak hamburgernya enak, dagingnya tebel, sayang saya gak nyobain, jadi saya cuma bisa ngamen aja depan toko hamburgernya, tapi saya nabung dari hasil ngamen saya yang berhasil saya umpetin dari para preman itu mba, akhirnya saya bisa beliin mba hamburger deh…nih buat mba…kata si Udin temen saya kalau mau jenguk orang sakit kan harus bawa oleh - oleh, jadi saya bawa ini buat mba…nih mba…”ujar sang anak polos membuat Dia terharu dan berlinang airmata ” kamu kok tahu mba di sini ?” ” Waktu saya jadi korban tabrak lari, ada seorang dokter yang kebetulan lewat dan jadi saksi membawa saya kesini untuk dirawat, untung luka saya ngga parah dan waktu itulah saya lihat mba tersungkur di koridor Rumah Sakit, jadi saya tahu mba disini ” Dia kembali tersenyum, sambil menahan sesaknya Dia berusaha bangkit dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya sambil kembali bertanya “ kamu sudah sembuh ?” si anakpun hanya tersenyum tak menjawab “kamu tahu…? kamu terlihat lebih besar dari sewaktu mba liat kamu di lampu merah, sekarang kamu udah tahu rasanya hamburger kaya apa ?” si anak menggeleng “kalau gitu kamu makan saja hamburger yang kamu bawa itu” “tapi kan ini buat mba…”"kata dokter mba gak boleh makan hamburger…nanti mba sakit lagi…jadi hamburgernya buat kamu aja” si anakpun menatap Dia ragu “ok, mba temenin deh makan hamburgernya, tapi jangan bilang sama dokter yah….” kini si anak tersenyum sambil membuka bungkus hamburgernya dengan tak sabar, Diapun di beri kehormatan unutk gigitan pertama, Dia memakan hamburger dingin itu dengan lahap dan si anakpun akhirnya berebut ikut memakan bagiannya dengan lahap sambil menggelakkan tawa bersama Dia Dia membuka matanya, masih di ruang serba putih yang hening, kali ini terlihat seorang dokter di sampingnya ” Dia…kita harus merayakannya…kamu selamat, seseorang telah mendonorkan sebuah jantung baru untukmu ” “Dok…saya harus merayakannya dengan siapa ? satu-satunya orang yang ingin saya ajak untuk merayakannya adalah seorang anak kecil korban tabrak lari yang sering menjenguk saya” si dokter terlihat mengerutkan dahinya ” Dia…tapi kamu baru siuman dari semenjak operasi pencangkokan jantung…belum ada satupun yang menjenguk kamu, bahkan keputusan mengoperasi kamu di terima orang tuamu melalui e-mail ” “tapi dok, saya kenal sama anak kecil yang sering menjenguk saya itu, terakhir dia bawa hamburger buat saya kok !” sang dokter kembali mengerutkan dahinya ” memang ada anak kecil yang jadi korban tabrak lari di depan rumah sakit ini, dan jiwanya tidak tertolong, dan karena tidak ada sanak family yang mengakuinya maka kami mengambil jantungnya untukmu, dan memang waktu pertama kali ditemukan ia memang tengah memegang hamburger, dan kami sempat kewalahan melepaskan hamburger itu dari genggamannya begitu mayatnya kaku karena tewas di tempat, tapi bukan berarti yang kamu maksud itu dia kan ? anak itu cuma anak jalanan kok !, perempuan se level mba Dia mana mungkin bisa kenal anak itu” jelas sang dokter sambil merapikan alat tensinya “mba Dia istirahat yang cukup yah…nanti saya coba hubungi lagi keluarga mba agar bisa segera menjenguk mba dan mengetahui kabar gembira ini “ ujar sang dokter sambil berlalu meninggalkan kamar rawat Dia dan menyisakan setitik air bening di sudut mata Dia yang mulai meleleh”mereka ngga akan perduli dok…ngga ada yang perduli…cuma anak dengan hamburgernya itu yang perduli”gumam Dia dalam hati    

3 Responses to “Hamburger Tanpa Label”

  1. on 18 Sep 2007 at 14:13zitha

    ceritanya sangat menyentuh hati

  2. on 19 Nov 2007 at 16:39ratri

    ceritanya nyenth banget.aku sampe ingin sekali menangis.andai saja banyak orang di dunia ini yang seperti “DIA”.

  3. on 23 Mar 2008 at 19:10Blankzoul

    sediH banget!!!!
    jadi Pengen NanGis Neh…….

    Good Job….
    selamet yah…

Tinggalkan Komentar