Sore itu Marsya datang ke rumahku dengan tergesa. di tangannya tergenggam secarik kertas yang ternyata sebuah tiket makan malam untuk sepasang kekasih. aku masih bingung saat dia mengangsurkannya kepadaku. Dahiku berkernyit tanda meminta penjelasan lebih lanjut.
“Hadiah dari ayah untuk ulang tahunku.”Marsya menghela napas kemudian melanjutkan.
“Kamu tahu berapa umur tiket ini?”aku menggeleng.
“Hampir sama dengan umurku saat ini. Ini adalah tiket ayah ibuku saat mereka baru setahun menikah dan tidak ada kadaluarsanya. Tapi….
“Sudahlah,aku tahu. Ibumu lebih memilih menjadi wanita yang sempurna dibanding nyawanya. Kehamilan dan nyawa tak bisa ia raih dua-duanya. Dia harus memilih. Dan itulah pilihan ibumu. Sedang ayahmu tak bisa berbuat apa-apa.”
Marsya menunduk.Matanya mengembun.
“Hei, terus apa masalahnya?” aku nyeletuk. Mencoba menghidupkan suasana.
“Aku tak punya calon Tar. Tapi aku bilang sama ayah kalau aku sudah punya. Demi kebehagiaannya.” Wajahnya kembali menegang. Kulihat air matanya mulai meleleh di pipinya yang putih bersih. Bulu matanya yang lentik mengerjap untuk menyembunyikan kabut di matanya. Tapi terlambat, air matanya sudah menganak sungai.
“Sudah, aku pasti bantu kamu.” Kupeluk Marsya untuk menenangkannya.
“Benarkah?” Kedua matanya langsung berbinar.
“Aku percaya padamu. Siapa pun dia. Tolong minta dia untuk ke restoran di jalan Gajah mada seminggu dari hari ini pukul tujuh malam.”
Setelah Marsya berpamitan aku terpekur sendiri. Siapa orang yang akan aku mintai bantuan? Ah, entahlah. Aku tahu banyak tentang Marsya. Walaupun kita baru setahun bersahabat setelah bekerja pada perusahaan yang sama. Aku tahu tentang ayah ibunya. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Juga kisah asmaranya yang unik. Marsya, gadis manis itu berjanji untuk tidak berpacaran. Dia akan langsung menikah. Dia begitu terobsesi dengan seorang dokter yang berhasil meyakinkannya pada saat dia akan melakukan operasi. Dokter itu hanya butuh beberapa menit untuk mengubah ketakutannya menjadi sebuah keberanian. sang dokter mengatakan bahwa dia akan melakukan operasi itu dengan sangat hati-hati dan dia juga menjamin tidak akan terjadi apa-apa setelah operasi. Operasi ginjalnya berjalan lancar hingga dia tak harus menjalani cuci darah seumur hidup. Pertemuan yang hanya sesaat itu telah menyisakan cinta di hati Marsya. Tapi dia tidak tahu apakah sang dokter juga mempunyai perasaan yang sama. Yang dia tahu dia selalu menyebut namanya di setiap sujud-sujud panjangnya.
Aku bingung. Kuraih HP, segera kupencet tombol phonebook. Anton, sudah punya anak dua. Andi, baru saja tunangan. Doni…… Ah, dia baru kemarin memintanya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Shanty. Lama aku mengotak-atik HP tak juga menemukan sebuah nama.
“Tek,…YUDI”
“Ah, mungkin dia orang yang paling tepat. Yudi, kakakku satu-atunya. Dia seorang arsitek yang handal. Sebenernya mereka cocok. Marsya pendiam, manis, baik, dan berpendidikan. Begitu juga dengan kakakku. Bukannya sombong, kakakku lumayan ganteng. Hanya dia selalu fokus pada kerjaan.Mana pernah dia membawa seorang gadis ke rumah.
“Aduh, gimana ya. Apa Marsya mau? Tak ada pilihan lain.
Segera kutelpon kakakku dan kuceritakan semua. Dia bersedia walaupun kedengaran kurang antusias.
Hari yang dijanjikan pun tiba. Kuantar kakak ke restoran yang dimaksud Marsya. Kakak belum kenal dengan Marsya begitu juga sebaliknya. Kakakku kelihatan sedikit gugup. Aku tersenyum untuk meyakinkannya. Restoran begitu sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk terpencar. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mataku menangkap sosok Marsya dan seorang laki-laki yang tak lain adalah ayahnya. Wajahnya terlihat tegang. Aku tahu dia pasti sangat penasaran. Begitu juga dengan ayahnya. dia tetap tertunduk walaupun langkah kamu hampir menjangkau mejanya.
“Selamat malam.”aku dan kakakku mengucap salam hampir bersamaan.
“Sela…………mat malam.” Marsya menjawab dengan terbata. Kulihat matanya berkaca-kaca. tiba-tiba air matanya meleleh dari kedua sudut mata indahnya. Aku seakan tak percaya saat dia mengucapkan sebuah kata,
“Dokter……..! kakakku pun tak kalah terkejutnya. Aku hanya diam terpaku. Kepalaku didera beribu pertanyaan. Ayah Marsya pun tak kalah bingungnya. Jadi, dokter yang Marsya maksud adalah Ka Yudi? Tapi …………sebelum aku jadi gila dibuatnya, Marsya mengajak kami duduk.
Marsya pun menceritakan panjang lebar. Kami kemudian mengetahui bahwa kakakku disangka Marsya sebagai dokter yang mengoperasinya. Padahal kakakku datang ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya. Saat itu di begitu tersentuh melihat Marsya sendirian menangis di dalam kamarnya yang bersebelahan dengan sahabatnya. Marsya menceritakan tentang ketakutannya menjelang operasi. Kemudian kakakku mencoba menenangkannya. Kakak berpura-pura menjadi dokter dan berusaha meyakinkan Marsya bahwa operasi yang akan dilakukannya akan berjalan lancar dan dia berjanji tidak akan terjadi apa-apa. Pertemuan yang tak disangka dan perpisahan selama lima tahun tak memadamkan cinta Marsya. Kakak begitu beruntung dicintai oleh gadis sebaik dan semanis Marsya. Aku yakin dari sorot matanya, kakak juga jatuh cinta pada gadis itu. Mungkin sejak di rumah sakit lima tahun lalu. Takdir memang penuh misteri. Doa-doa Marsya di sujud-sujud panjangnya telah didengar dan dikabulkanNya.
* * *