KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Obrolan di Halte Bis

Aku lelaki yang lagi termangu. Ditemani sebatang rokok yang sedang kuhisap. Di tempat biasanya orang-orang asyik nunggu bis. Saat ini tak ada satupun orang yang nongkrong di sini. Angin tak begitu besar menyejukkan hatiku, cukup memberi sedikit kenyamanan disaat kondisi hatiku lagi tak menentu.

***

“Punya korek?”.Hah. Kirain malaikat menegurku, ternyata bukan. Malaikat pastinya tak begitu. Dari rambut dan kerutan wajah, Ia mungkin sudah punya cucu, namun bila dilihat dari penampilannya, Ia masih bisa dapatkan wanita untuk dijadikan istrinya yang ke empat, perawan lagi.“Ini Pak”, jawabku.“Seger ya Nak?”, beliau duduk di sampingku.Aku tak bisa mengusirnya, akupun tak mau pergi dari tempat ini. Padahal aku ingin sendiri.“Punya masalah?”, katanya lagi.“Enggak”, jawabku sendu.“Kabur dari rumah?”, katanya. Mungkin karena Ia lihat di sampingku ada tas ransel.“Enggak”.Ia berhenti bertanya. Hening, hanya angin yang bicara, membuat rambut panjang ikalku seperti dahan pohon di pantai.“Nak, kau liat itu?”, nanya lagi, pecahkan keheningan sambil menepuk bahuku.Aku melihat area di depanku, di seberang jalan, “Kekasih yang lagi bertengkar”, jawabku.“Menurut kau apa yang mereka ributkan?”.“Lelakinya selingkuh kali”, jawabku ngasal.“Bukan selingkuh. Tapi lelakinya gak mau tanggung jawab”.“Wah!”.“Iya, kau liat tangisan wanitanya, dugaan saya dari sana”.“Bisa jadi”.“Pasti”.“Heh… Bapak dukun ya?”.“Apa kau liat ada kemenyan di sini?, emangnya dukun selalu benar gitu”.

“Heh… Bapak suka becanda juga ya?”.

“Ya… gitu deh”, jawabnya sok jadi ABG.

***

Emosiku sudah kena kayaknya sama si Bapak, “Bapak udah punya istri?”, tanyaku.

“Saya udah punya cucu”, jawabnya sesuai dengan dugaanku, tapi perawakannya masih gagah, mungkin dulunya mantan binaraga, jadi sampai menyandang gelar kakek, masih tetap kokoh.

“Berarti aku panggil kakek dong?”.

“Terserah kau lah”.

Hening kembali, hanya angin yang bicara, kali ini angin tidak hanya menyapa rambutku, tapi juga rambut kakek yang sudah tampak uban.

“Di tinggal pacar?”, tanyanya pecahkan keheningan.

“Bukan”, aku kayaknya mulai membuka diri.

“Ninggalin pacar, setelah kau dapatkan apa yang kau inginkan?”.

“Maksudnya?”.

“Lelaki inginkan wanita, apa lagi?”.

“Nggak deh kayaknya”.

“Kalo gitu kau harus ngawinin dia”.“Wah!, kayaknya kakek salah sangka nih”.

“Hah!, saya cuman becanda lagi”.

“Heh…”.

Hening lagi. Kali ini selain angin yang bicara, hati kecilku juga bicara. Kalau dipikir-pikir wajah si kakek mirip bintang film James Bond, Piere Brosnan. Tapi tuaan si kakek 19 tahun kayaknya.

“Trus apa dong?”, katanya pecahkan keheningan.

“Gadis”.

“Siapa Gadis?”.

“Dia mirip Kate Winslet dalam film Romeo & Juliet, trus mirip Tia Ivanka dalam sinetron Terra & Jana, Dia seperti air bagi diriku untuk lepaskan dahaga, dia seperti udara untuk bernafas, dia seperti tanah untuk berpijak”.

“Hah, kayaknya kau lagi jatuh cinta”.

“Heh… ”.“Kau katakan dong, isi hati kau itu”.“Heh… aku malu kek”, hatiku mulai terbuka.“Hah, udah tumbuh jenggot gitu”, respon si kakek sambil buang rokok yang bakalan jadi puntung.Selepasnya kami geleng-geleng kepala, tak percaya.“Kau liat itu?”, kembali si kakek menunjukkan sesuatu kepadaku, masih di seberang jalan.“Lelaki menggoda wanita”, jawabku.“Merayu!, lelaki harus jago merayu, karena itu dia harus pandai ngomong”.“Heh… ”.“Gak usah ketawalah, emang itu takdirnya”.“Aghhh… ada kok wanita yang ngerayu lelaki”.“Wanita penggoda, dan kau suka cewe seperti itu?”.“Heh… ”, sambil malu-malu tapi kecenderunganku kayaknya malu-malu dan tak mau. Rokok kami sama-sama sudah jadi puntung, aku mengeluarkan bungkusan rokok mild dari saku jaketku. Lalu kutawari si kakek, Ia sempat menolak, bukannya tidak mau merokok, hanya saja rokok yang dia inginkan rokok kretek. Tapi karena tak ada akhirnya si kakek mau merokok mild.“Tapi kek, bukannya kita ada di dunia ini gara-gara Hawa ngerayu Adam?”, tanyaku selepasnya.

“Siapa bilang?”.

“Heh… ada deh”.

“Iblis yang merayu mereka”.

“Oooh… iblis ya?”.

“Iya, iblis”.

Kulihat si kakek mulai menikmati rokok mild yang kuberi, dan akupun mulai menikmati suasana.

“Kakek pernah mendem emosi kakek gak?, kayaknya aku sudah menganggap si kakek sebagai ayah dari bapakku sendiri.

“Maksudnya?”.

“Mendem perasaan kakek, seperti cinta, benci jadi pingin marah, ya… yang gitu-gituan lah”.

“Oooh… sering”.“Sama siapa?”.“Sama keadaan”.“Maksudnya?”.“Saat harga BBM naik, saat harga sembako naik, saat anak kakek putus sekolah, saat cucu kakek harus rela tak jadi polisi gara-gara tak punya duit, saat penyakit kakek tak kunjung sembuh gara-gara tak bisa berobat, saat-saat itulah kakek mendem semua perasaan kakek”.“Sama pemerintah”.“Semuanya”.“Termasuk Tuhan?”.“Hah, jangan bawa-bawa Tuhan lah. Dia udah kasih kita anugerah terindah tuk menikmati hidup dengan segala problema yang ada”.“Heh… ”.Hisapan rokok si kakek kulihat seperti tulisan-tulisan yang dibuat Kahlil Gibran, penuh arti. “Dia gak tau ya?, kau suka bahkan cinta mati sama dia?”.“Heh… iya”, jawabku malu-malu tapi mau sama gadis.

“Kemurungan kau gara-gara itu?”.

“Heh… iya”.

“Kenapa?, kau tak pantas memilikinya, rendah diri”.

“Heh… iya”.

“Wah!, kau parah nih. Jadi pingin liat kamar kau, boleh?”.“Maksudnya?”.“Hah, pasti dinding kamar kau penuh dengan foto-foto dia, puisi-puisi tentang dia, dan catatan harian kau menceritakan tentang segimananya kau cinta dia”.“Bisa aja si kakek”, jawabku malu-malu, sedikit tersinggung.“Tapi benerkan?”.“Heh… iya juga sih”, jawabku malu-malu, dan aku lega kayaknya mengatakan itu.Kali ini hisapan rokok si kakek mulai masuk di jiwa para pengagum Gibran, “Kau tau?”.“Apa?”, jawabku standard.“Iya, tentang kau, sulitnya kau ngungkap semua isi hati kau pada dia”.

“Gak tau”.

“Ya, gara-gara itu”.

“Apa?”, aku masih belum mengerti.

“Kau terlalu memujinya, mungkin Tuhanpun telah dikalahkan oleh dia. Wah bahaya tuh. Nak, itu musyrik!”, si kakek menaruh tangan kanannya di pundakku, tapi yang tersentuh olehnya rambutku yang cukup panjang untuk ukuran laki-laki, sebahu. Aku rasakan sentuhan penuh kasih saat itu.Kali ini aku yang melakukan hisapan rokok seperti tulisan Kahlil Gibran, “Mungkin”, kataku.“Bukan mungkin, tapi pasti. Gara-gara itu”.Kembali hisapan rokok seperti tadi kulakukan, bedanya yang ini mulai masuk di jiwa, “Aghhh… tapi beneran emang dia layak nyandang gelar itu, semua orangpun bilang begitu”.“Hah… dia cantik ya?”.“Cantik…. banget”.“Saya liat kau… ”, terhenti beberapa detik sambil matanya memperhatikan diriku layaknya pelukis lagi memperhatikan objek yang akan dituangkan dalam kanvas, “Pantas dapetin wanita cantik”.“Heh… bisa aja. Tapi dia… huh… terlalu cantik buatku kek”.

“Kate Winslet emang cantik, Tia Ivanka emang cantik, dan kau…?”.

“Apa?”, jawabku nantang.

Si kakek tersenyum kemudian bilang, “Pernah ada yang nawarin kau jadi foto model gak?”.

Kayaknya si kakek serius, “Heh… ”.

“Nak, kau gak jauh-jauh amat sama Leonardo De Caprio kok, beda-beda tipis lah, tentunya wanita kayak Kate Winslet yang harus ada di hati kau”, kata si kakek sambil menepuk beberapa kali bahuku, mencoba mengangkat harga diriku yang telah kurendahkan oleh pikiranku sendiri, “Dan kau tau?”, lanjutnya lagi.

“Apa?”, kali ini nadaku gak tinggi.

“Namanya lelaki identik dengan kejantanan, keberanian. Memang gak begitu juga, buktinya kan ada gitu lelaki yang tak jantan, tak berani”, kata si kakek sembari memandangku.

“Maksudnya?”, aku kayaknya sembari sinis ngucapinnya.

“Karena tak ada yang namanya wanita perkasa, jadi wanita identik dengan kebalikannya keidentikan lelaki. Keanggunan, biasanya yang seperti itu indah-indah, setuju kan kau bahwa wanita itu keindahan?, dan sesuatu yang indah itu hanya diam di tempat, kita-kita para lelaki yang butuh keindahan harus berani mendatanginya, atau bahkan sampai mengeluarkan kocek. Berkorbanlah”.

“Maksudnya?”, aku beneran ingin tahu karena aku tak mengerti.

“Yang terlintas di benak kau tentang keindahan apa?, tentunya selain si gadis”.

“Pantai… gunung… lukisan… ya… banyaklah”.

“Nah, itu semua bila kau ingin liat gak bisa kan kau suruh untuk datang pada kau”.

Mendengar itu aku kayaknya langsung berpikir, “Bener juga ya!”.

“Dan perlu duit juga kan?”.

“Heh… si kakek ada-ada aja”.“Udahlah, kau harus percaya bahwa kau bisa dan kau layak buat dia”.

“Tapi kakek kan belum tau dia. Gimana bisa berkesimpulan seperti itu”.

“Hah, susah juga nih anak. Gini aja… kau suka sama dia kan?, dan kau ingin hidup selamanya bersama dia kan?”, si kakek bilang serius banget kayaknya.

“Iya”, jawabku pasti.“Coba kau katakan pada kakek, ibaratkan aja kakek si gadis. Yo coba”, gaya si kakek mirip sutradara yang lagi kasih masukan buat aktris.Semua mendadak diam, tanpa kecuali angin. Anginpun diam. “Gadis… Aku… aku… aku”, mataku dan mata si kakek bertatapan, “Suka sama kamu”, kataku.

“Aku juga”, jawab si kakek spontan.

Selepasnya kami berdua tertawa, “He heh…”.

***

Tinggalkan Komentar