Melihat Lewat Kacamata Budaya Kita
Agustus 19th, 2007 by Stebby Julionatan
Kembali pada “kisah cinta” Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan yang cantik jelita, kisah cinta mereka berdua sebenarnya layaknya Siti Nurbaya. Mengapa demikian? Pasti kita akan mencari-cari di mana letak benang merahnya.
Coba kita refleksi kembali di kolam pemandian bidadari. Saat itu Jaka Tarub terpesona akan kecantikan salah satu dari tujuh bidadari yang cantik itu. Dari semak belukar di tepi kolam, dengan sengaja ia mengintip ketujuh bidadari yang mandi itu. Hingga dia memutuskan mencintai salah satunya yang bernama Nawang Wulan. Singkat cerita, cerita ini menuntun dia untuk menjadi pencuri selendang.
Nah, citra laki-laki yang diemban oleh Jaka Tarub dalam legenda ini membukakan mata kita bahwa budaya kita lebih “mengampuni” seorang lelaki licik yang menjerat wanita daripada seorang wanita yang menjerat laki-laki tanpa ada sangsi sosial dari masyarakat. Dan ironisnya, wanita sendiri tidak merasa. Wanita sangat tolol dalam mengampuni perbuatan itu padahal lelaki atau perempuan jika berbuat kesalahan itu sama nilainya.
Dalam Jaka Tarub ini, pembaca atau pendengar legenda dininabobokkan oleh perilaku Jaka Tarub yang seolah-olah baik. Lelaki yang punya istri cantik, setia, penurut serta sayang kepada anaknya. Seharusnya kita lebih simpati kepada Nawang Wulan yang cantik itu, bidadari yang tidak punya pilihan lagi untuk meneruskan kehidupannya di masa depan seandainya seumur hidup tidak menemukan kembali selendang kebidadariannya. Sebagai manusia tidak, sebagai bidadari juga tidak. Jati dirinya tidak jelas. Hal itu terjadi karena Jaka Tarub tidak memahami siapa dan dimana Nawang Wulan harus berada. Ia telah mengacaukan aturan kosmos dan menciptakan chaos.
Dari sini tampak jelas siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab pada kechaosan ini sehingga budaya kita yang patrialistik itu hanya dalih untuk membuat sekat-sekat yang tidak beralasan.
Kalau banyak orang yang mengatakan untuk kembali kepada tradisi atau budaya masa lalu kitabukanlah pernyataan yang tepat karena tidak ada jaminan bahwa tradisi kita bersifat mutlak baik dan universal.
Lalu apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini? Kita seperti Tom and Jerry. Kejar-kejaran antara masa lalu dan masa depan. Sedangkan masa depan yang telah mengalami Aufklaung pada abad 17 sebagai peletak dasar paradigma dunia baru juga mulai goyah. Tidak yang konsekuen dengan dasar-dasarnya. Contohnya invasi militer Amerika bersama sekutunya –Inggris, Perancis dan Jepang ke Irak mencerminkan bahwa moral mereka telah kembali ke jaman Barbar, yang kuat berhak mengalahkan yang lemah. Belum lagi skandal yang terjadi di Penjara Abu Gharib adalah potret penyimpangan dasar-dasar moral dan HAM.
Dari kedua hal tersebut kita dapat menyimak dan memahami betapa apa yang telah dideklarasikan oleh dunia barat yang sudah lama dikedepankan oleh negara-negara berkembang sebagai kiblat untuk mengambil kebijaksanakan, yurisprodensi untuk menentukan arah masa depan masyarakatnya ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah budaya.
Akhrinya…. kita akan kejar-kejaran juga seperti Tom and Jerry. Tidak ttahu mana yang harus diperbuat. Dan pada saatnya nanti kita juga sulit untuk membawa kemanusiaan kita. Manusia sebagai manusia.
Bagaimana sikap kita dalam menghadapi dilema ini? Jawabannya adalah agama. Menelaah lebih dalam lagi sikap religius kita sebenar-benarnya. Dari mana asalnya? Mendiskusikan sikap toleransi di manapun kita berada –tidak harus di gedung DPR atau forum komunikasi resmi untuk menata kembali humaniora kita. Lantas…. Siapkah kita terdoktrinasi lagi dan menghentikan dilema Tom and Jerry dalam kehidupan kita? (selesai)
WOW… incredible…
kok bisa ya sejarah dihubung-hubungkan ama Tom n Jerry. Hehehehe
Wow…hati yg dalam …
aku suka dengan apa yang kamu ungkapkan…
“hati yang dalam”. maksudnya?
makasih… makasih… Ga n Aries bwt komennya.