Jaka Tarub
Agustus 19th, 2007 by Stebby Julionatan
Apakah pelangi kembali turun di telaga;
menjemput bidadari yang tertinggal di sana?
Sementara bayi-bayi awan terus meluncur dari rahimnya
terperangkap oleh tangan-tangan yang tengadah
orang-orang berlari, menari bertelanjang dada
menyambut jejaka yang kental tipu daya
Di langit yang masih pekat oleh coretan tinta seorang bocah
asap mengalir tipis
hambur percik api kayu bakar; memenjara
hangat nafsu mereka
“Di mana ibu?” Ia terisak, mencari perempuan itu.
“Pulanglah, Nak.” Usung lelaki tua “kau akan menemukannya di kamar”
Bulan tak lagi purnama malam itu
perempuan bergelanyut manja di bahu suaminya
“Aku ingin tidur.” Ujarnya
Mei, 2006.
HALLO….
boleh tau kenapa anda menulis ide seperti ini?
saya ingin tau karena saat ini di Jogja, seorng seniman lukis kaca sedang melukis mural kisah Jaka Tarub di salah satu pilar jembatan Layang Lempuyangan Jogja.
makasih dan salam
S.M.L
Kalau saya ditanya seperti ini (menulis ide Joko Tarub), maka jawabannya adalah “keisengan”.
Ya, keisengan untuk menertawakan cerita dongeng2 masyarakat Indonesia yang ternyata hanya berisi pembodohan. Contohnya ya cerita Joko Tarub ini,, masa orang yang secara kita semua tahu bahwa dia mencuri selendang,, bukanya dapet sangsi sosial dari masyarakat, malah dipuja-puja dan menjadi tokoh besar.
Trus,, tahu cerita kancil kan??!! kancil kan juga mencuri timun di ladang pak tani,, tapi dia ga pernah dapet sangsi apa2… malah yang licik seperti itu yang selalu menang dan mendapatkan apa yang dia inginkan!!!
Mangkannya,, kalau sekarang ini kita bandingin sama moral bangsa kita,, pantas saja bangsa kita bobrok seperti ini… suka mencuri (korupsi, man) tapi tetep aja bisa lolos dan menikmati uang hasil rajahannya. Dilematis kan??!!! (wow… wow… wow…,,, sorry kalo tiba2 jiwa nasionalismeku meletup-letup seperti ini)
koq aneh seeh
kalo ga aneh….
dan datar-datar saja….
ngapain juga cerita, buuu???!!!