KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kemiri

Hening malam dingin perlahan tersapu asap kotor dan gemuruh suara mesin. Suara ribut seolah berlomba mencari irama tanda kehidupan untuk mulai bangkit kembali dari tidur nyenyaknya. Derap langkah menjauh meninggalkan sarangnya, dengan sigap mencoba memetik sedikit nasib baik yang telah disebarkan di setiap sudut. Awal baru, lembar baru, dan halaman baru siap untuk dibuka dan dijelajahi. Pagi itu baru jam 8, dan matahari masih semangat melontarkan panasnya.

Namun, Edi sadar, bahwa jam 8 pagi adalah larut malam untuk waktu pasar. Ini yang ketiga kalinya dalam seminggu, Edi melewatkan berjalan di tengah-tengah becek dan bau amis ikan asin dengan keranjang belanja berayun di tangannya. Semenjak kaki neneknya sering mengalami sakit akhir-akhir ini, tugas bangun pagi, pergi ke pasar, dan menyiapkan sarapan pagi sekarang telah menjadi agenda tersendiri bagi Edi. Dia memang tidak ingin mengecewakan kakek-neneknya, tetapi kegiatan barunya itu memang terasa cukup berat, terutama untuk satu hal : bangun pagi.

Oke, kalau begitu pakai rencana B, swalayan. Edi mengambil celana jeans panjang dan langsung memakainya, bergegas ke kamar mandi mencipratkan segenggam air ke mukanya, membuka lemari pakaian dan mengambil jaket favoritnya, lalu berlari ke luar kamar menyabet catatan belanjaannya yang tergeletak sejak sehari yang lalu di atas meja makan. Ia lari kecil mengelilingi rumahnya untuk mencari sepatunya yang sudah 2 tahun belakangan selalu setia menyampul kedua kakinya. Kamar kakek-neneknya masih rapih dan kosong seperti kemarin. Sepertinya mereka memang belum kembali dari rumah pamannya yang seorang dokter. Suara detik jam semakin lama semakin keras. Edi siap menerjang pintu depan rumahnya seperti seekor kuda pacuan menunggu wasit menembakkan peluru ke angkasa. Oh, ada yang lupa. Edi masuk kembali ke kamar mandi. Sekalian mandi saja. Ia mencelupkan kepalanya ke dalam ember besar penuh air. Selang beberapa detik, ia mengambil handuk birunya, dan sekarang ia telah benar-benar siap bertemu dunia luar.

Swalayan itu terletak di ujung jalan rumahnya. Jaraknya sekitar 300 meter. Buka setiap jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Namun yang harus diwaspadai Edi adalah beberapa orang biasanya memiliki rencana B yang sama. Itulah mengapa saat ini ia berlari mengibas-ngibaskan rambut gondrongnya yang dibiarkan terurai. 300 meter saja tidak cukup untuk membuatnya capek, bahkan keringat pun rasanya sulit untuk keluar. Edi sampai di depan pintu swalayan tersebut. Dilihat dari luar, sepertinya keadaan di dalam tidak terlalu ramai. Ia perlahan mengatur napasnya dan mengeluarkan kertas catatan dari saku jaketnya.

“Halo Ed, pasarnya yang terlalu cepat tutup atau kami yang buka lebih awal ?”. Edi tersenyum dan berlalu tanpa mengindahkan sapaan salah seorang pegawai di sana. Ia tampak serius mencoba mengartikan kata demi kata yang ditulis neneknya di atas kertas catatan itu. “Telur…susu…mentega…mmm…” Ia terhenti sejenak. Menaruh telunjuknya di atas mulut, lalu memicingkan kedua matanya berusaha mengerti sesuatu. “Ah, lagi-lagi seperti ini.” Keluhnya, “Lagi-lagi susu atau sosis, tepung atau terong, bawang atau kacang…dan kali ini… satu kilo kenari atau satu kilo kemiri?” Tulisan neneknya memang selalu mempunyai dua makna yang berbeda. Namun, Edi selalu menyiapkan solusi yang sama, yaitu membeli barang-barang yang sesuai dengan penafsiran visualnya. Daripada memusingkan kenari atau kemiri, ya lebih baik beli saja dua-duanya. Toh, kedua benda itu juga memang sama persis. Baru dua minggu Edi menjalankan “tugas”-nya, dan kali ini ia sudah hafal beberapa jenis “perangkat” dapur rumah tangga.

Beberapa menit berlalu, Edi masih setia menggantungkan keranjang belanja di lengan kanannya. Keranjang itu sudah dipenuhi dengan beberapa botol susu, bungkus-bungkus mie instan, satu kerat telur, mentega, kecap, dan beberapa yang lainnya kecuali satu pesanan terakhir yaitu 1 kg kemiri atau kenari. Dengan santai ia lalu mengarahkan sepatu bot-nya menuju bagian khusus sayur-mayur. Ia berjalan sedikit membungkuk, memperhatikan dengan seksama apa saja yang tergeletak di etalase. Sesekali ia mengusapkan poni ke belakang telinganya. Penampilan Edi terlihat seperti seorang pengendara motor besar lengkap dengan jaket kulitnya yang selalu tampak tidak pernah mandi. Ia mendongak dan menunduk mencari-cari targetnya dengan teliti. Setelah beberapa saat, ia menyadari bahwa ia sudah terlalu lama mencari kemiri atau kenari. Ia menyerah dan membelokkan niatnya untuk menanyakan seorang pegawai.

“Kemiri, Bu? Ada di bagian bumbu makanan, tinggal lurus lalu belok kiri saja.” Ujar seorang pegawai toko. Baru saja Edi mengambil beberapa langkah, seperti mendapat durian runtuh, ada seorang pegawai di seberang etalase yang memberi tahu jalan yang bakal ia tuju, untung saja ada seorang ibu yang memiliki tujuan serupa dengannya. Tanpa basa-basi, ia langsung membalikkan badan menuju area bumbu makanan. Dalam hatinya ia bercanda, saya harus lebih cepat dari ibu itu.

Setelah melalui beberapa lika-liku, akhirnya Edi sampai di bagian bumbu makanan. Selang beberapa meter darinya, ia melihat seorang ibu sedang memilah-milih buah kemiri. Rupanya perempuan itulah yang tadi menanyakan lokasi kemiri. Edi maju perlahan-lahan, hingga sampai pada jarak ia melihat dengan jelas wajah wanita itu dari samping.

Zzzaapp….!! Sesuatu seperti menusuk hatinya. Waktu seakan berjalan melambat Tubuhnya terasa berguncang dan pikirannya melayang ke suatu tempat. Pegangannya seketika melemas dan otot-otot tubuh mulai mengendur. Ia ternganga mengalami perasaan aneh yang menutupi raganya. Seolah-olah tubuhnya tidak diisi oleh apa-apa lagi, kecuali satu hal : memori.

A-a-aku kenal wanita i-ini.. Pikiran Edi menggagap. Matanya tidak berkedip terus berusaha mengenali dengan benar sosok di depannya. Seolah-olah ia tengah berusaha mencari cahaya untuk menerangi wajah wanita itu sejelas-jelasnya. Mati rasa dan sulit bergerak, ia merasakan detak jantungnya menghentak tiada henti-hentinya menggetarkan seisi ruangan. Edi tidak mendengar apa-apa, perhatiannya tidak dapat diganggu gugat oleh apapun.

Segalanya telah berubah wanita itu telah berubah. Ia lebih tinggi beberapa senti dari yang Edi ingat. Badannya sedikit kurus, mukanya mulai mengerut, namun lesung pipit di senyumnya masih tersisa. Uban muncul di antara rambut hitamnya dan kini kacamata menghiasi wajahnya. Kecuali lipstik merahnya. Itu warna kesukaannya, gumam Edi dalam hati, Ia masih saja memakainya. Seiring dengannya, kenangan di dalam hati Edi mulai tumbuh merekah.

Wanita itu pergi menuju meja kasir. Tanpa aba-aba lagi, Edi mengikuti dari belakang. Sepertinya Edi sudah mulai tenggelam dalam kenangan masa lalunya. Pikirannya terus bergejolak mencari sisa-sisa memori di dalamnya. Setiap inchi gerak-geriknya memberi kesan lama bagi Edi. Wanita itu mengeluarkan popok bayi dari keranjang belanja, rupanya sekarang dia memiliki bayi gumam Edi.

Sekarang aku tahu bahwa kamu benar-benar dia. Aku merasakan nafasmu dari sini. Memori-memori ini dengan sendirinya bangkit kembali. Oh Tuhan, lama sekali aku tidak memikirkanmu apalagi untuk kembali ke sini, di depan mataku. Kamu mungkin tidak akan menyadari aku yang sekarang. Aku tidak berubah. Kehidupan ini punya tempatnya sendiri-sendiri, aku berharap kita ada di tempat yang sama ketika kita tumbuh dewasa, agar saat ini kita bisa saling mengenal seperti dulu lagi. Tapi kenyataannya tidak, ini sulit sekali karena kamu berada di luar jangkauanku. Hidup kita berbeda. Juga tempatnya. Kali ini aku merasa senang melihat lagi wajahmu, walaupun hanya itu yang bisa aku perbuat. Senyummu akan terus aku bawa. Kita masih terpisah jarak, sama seperti saat ini, walau hanya beberapa meter saja.

Wanita itu berbalik menuju pintu keluar sambil menenteng kantong plastik belanjaan. Ia pergi begitu saja dari hadapan Edi. Mobil taksi membawanya pergi jauh.

Edi berlari keluar dan berdiri melihat taksi itu hilang dari pandangannya perlahan-lahan. Ya, pulanglah ke tempatmu. Maafkan aku, karena hanya diam begitu saja. Kamu tahu sendiri ini berat buat kita berdua untuk memulainya lagi. Semoga saja suatu tempat akan mempertemukan kita lagi dan menebus dosaku hari ini. Suatu saat nanti, aku berjanji, aku akan datang dan menyapa ‘Halo, Ma.’

Tinggalkan Komentar