Dialog Sore Hari di Atas Kursi Taman
Agustus 18th, 2007 by Arki Atsema
Di sebuah taman yang sembunyi dari kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, tempat di mana pohon yang rindang sekaligus menyejukkan berdiri berdampingan dengan lapangan pasir tempat para kuman berkembang biak dan anak-anak kecil bermain sepak bola, duduk manis tiga orang anak yang terdiri dari remaja, separuh remaja, dan beranjak remaja. Beralaskan kursi penuh dengan corat-coret tak bertanggung jawab, mereka menikmati segala sesuatu yang mereka lihat sore itu. Kursi itu telah menjadi “tempat pertemuan tidak resmi” mereka sejak mereka pertama berkenalan. Kursi yang tidak pernah lelah mendengarkan mereka bertiga berbicara sesukanya, tanpa aturan, tanpa interupsi dari guru bahasa, dan bahkan tanpa etika tetapi murni dari hati mereka yang masih hijau.
Bono, yang tertua dan yang terkritis diantara mereka, disegani dan dihormati oleh kedua temannya itu, dianggap sebagai guru rock n roll dan disebut sebagai gitaris terhebat kedua setelah Jimi Hendrix. Tinggal di sebuah rumah yang jarang ia singgahi, bersama ibu kandung dan ayah tiri yang ia sebut banci. Perawakannya kurus dan tinggi dengan rambut gondrong menyentuh bahu ditemani kacamata menutupi kedua matanya. Mirip John Lennon versi gondrong.
Pop, yang paling muda, polos, dan culun dari mereka. Kehidupannya tampak selalu bahagia dan mengagumi banyak hal. Penggemar rock n roll termuda di tempat ia tinggal. Tidak ada yang ia benci di dunia ini, selalu tersenyum, penuh keingintahuan, juga sebagai rem bagi Bono dan Markie dalam bertindak bodoh.
Satu lagi Markie. Abdi setia rock n roll dan pemuja rock n roll serta budak rock n roll sekaligus dayang-dayang rock n roll. Rambutnya cepak plus pitak sana-sini. Giginya hilang satu, bangga dengan luka memar di sekitar tubuh ceking kerontangnya yang didapat dari ritualnya menjatuhkan diri dari kasur ke lantai sambil mendengarkan musik, mukanya mulai disesaki jerawat yang terus ia pencet tiap kali bercermin, dan tetap banyak disukai gadis seumurnya walau sekeras apapun ia mencoba menghancurkan wajahnya.
Bertiga mereka berkumpul menyia-nyiakan waktu di tengah cahaya sore yang hampir tenggelam. Setelah melewati sejumlah tahap keheningan, akhirnya mulut Markie memecahkan suasana, “Sial! Ayahku lagi-lagi membatalkan janjinya membelikanku sepatu baru. Sialnya lagi, ini bukan yang pertama, kedua, atau yang ketiga dia melakukannya. Dan lebih sial lagi, ia selalu punya alasan yang bagus.” Tidak ada tanggapan dari kedua temannya itu yang malah menikmati tatapan kosong ke setiap penjuru taman. Beberapa detik kemudian Markie menyenggol tubuh Bono yang duduk di sebelahnya, “Oh, aku? Maaf tadinya kukira kamu bicara sendiri. Lalu, apa alasan dia kali ini?”“Dia bilang ‘kalau kelakuanmu masih seperti itu, percuma saja aku belikan sepatu baru. Paling-paling cuma bertahan sebulan, setelah itu rusak, dan kamu merengek-rengek minta sepatu yang baru lagi’. Alasan seperti itu selalu membuatku diam”“Jangan tersinggung, tapi aku sependapat dengan ayahmu. Hidupmu perlu sedikit atau mungkin banyak, banyak sekali reparasi. Aku berani taruhan, semua barang yang kamu pakai sekarang ini tidak akan bertahan sampai 2 minggu.Tulisan Led Zeppelin di kaosmu pasti akan berakhir menjadi kain tambal di kasurmu lagi. Ya ’ kan?””Tidak ada yang salah dengan eksperimen, kau bilang itu proses kreatifitas ’kan. Ayahku menghiasi rumahku lewat proses-proses kreatif.””Maksudmu dengan barang-barang rongsokan yang sudah semestinya ada di tempat sampah? Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran ayahmu dengan mengorek-ngorek tempat, kemudian memindahkan sebagian isinya ke dalam rumah. Bungkus susu, boks sabun, sikat gigi bekas, anehnya lagi bungkus pembalut semuanya di bingkai jadi asesoris rumah. Dan handuk mosaik kain bekas yang pernah kau pinjamkan padaku waktu itu, salah satu bahannya berasal dari celana dalam. Aku mengenali baunya. Ayahmu memang tak waras.””Hey, ayahku adalah orang yang hebat. Ingat ’kan, dia pernah menangkap pencuri dua kali. Salah satu pencuri itu mencoba masuk rumahmu. Kalau ayahku tidak ada, siapa yang akan menyelamatkan rumahmu, hah?””Tentu saja masih banyak orang yang akan menangkap pencuri itu. Ayahmu tidak sendirian menangkapnya, dia ikut ronda dengan lima atau empat orang lainnya saat itu. Atau mungkin ayahmu bilang padamu kalau dia melakukannya sendirian? Lagipula aku juga tidak keberatan dengan pencuri malang itu, toh dia ingin mengambil mobil si banci kampung yang telah lama merusak pemandangan rumahku.””Wow, kau masih memanggil ayah tirimu banci?””Banci, keparat, dungu, idiot, atau apapunlah yang pantas buatnya, sepertinya dia juga tidak keberatan. Aku mendengarkan lagu Zeppelin di kamarku dan tiba-tiba suara bodoh itu bilang ’Bono, kecilkan suara musiknya, aku tidak bisa konsentrasi membaca koran’. Sial, tiba-tiba saja dia merubah rumahku jadi penjara dengan ocehan-ocehan cengeng dan selera musik kelas kambing yang dia anut selama hidupnya yang menyedihkan. Bahkan, sepertinya penjara lebih baik daripada serumah dengan keledai yang terus berharap suatu saat nanti aku memanggilnya ayah . Cih!””Tapi bagaimanapun juga, ibumu yang memilihkannya untukmu. Kau sendiri tampak ceria di hari pernikahan kedua ibumu. Aku masih menyimpan fotomu waktu di altar dengan tampang paling mengerikan yang pernah ada di mukamu, tersenyum lebar seperti seekor sapi.”“Itu karena baru pertama kalinya aku bisa makan makanan yang lezat sepuasnya sampai perutku mau meledak. Aku sampai muntah-muntah semalaman sesudah pesta tersebut. Muntahanku berhasil mengenai baju si kampret itu, waktu dia berusaha menjadi pahlawan di depan ibu dengan mengusap-usap punggungku. Si bodoh itu pikir punggungku yang sakit, padahal ini karena kehadirannya telah berkali-kali membuat perutku mual.” Pop, si kecil yang dari tadi diam dan mendengarkan kedua temannya berceloteh ria, angkat bicara : ”Kau seharusnya bersyukur karena punya ayah, Bono. Aku tidak sempat menikmati sosok ayah selama hidup. Dia keburu meninggal waktu aku belajar berjalan…” sebelum Pop menyelesaikan kalimatnya, Bono menyelanya, ”Pop, aku bersyukur punya ayah. Kau tahu ayahku ’kan? Yang sekarang sedang tidur di bawah batu nisannya. Untuk dialah aku bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan yang terbaik. Percayalah Pop, ayah tiriku alias si banci itu tidak memberikan sosok ayah yang kamu harapkan” Pop kembali terdiam seakan memberi isyarat bahwa ia paham atas keadaan temannya. ”Hey kalian ingat ’kan waktu aku menembak dia dari atas pohon dengan senapan angin? Kau juga ada waktu itu, Pop.” Bono membuka forum baru. ”O ya kita menembaki rumahmu dengan senapan itu. Aku ingat ayah tirimu lari kesetanan setelah bokongnya kena, hahaha…lucu sekali waktu itu.” sahut Markie.”Itu belum seberapa. Waktu aku sampai di rumah aku melihatnya dengan raut muka gelisah. Dia ketakutan dan menyangka yang melakukannya adalah suruhan pegawainya yang ia pecat sehari sebelumnya. Dia terus merunduk dan berkata ’Awas, hati-hati, seseorang mencoba mencelakai kita’ Aku bolak-balik ke kamar mandi tidak kuat menahan tawa, hahahahaha…!!” Tawa Bono disambut oleh ketiga temannya dengan keras dan mengganggu anak-anak yang sedang bermain bola di sebelahnya.”Jadi, jadi…dia menyangka dia…dia bakalan mati hanya karena bokongnya tertembak senapan angin…” Markie berkata dengan terengah-engah sehabis dia tertawa. ”Dia membongkar lemari obat-obatan. Menutup bokong jeleknya dengan plester berlapis-lapis, hahhaha…dia terus memegangi bokongnya sambil berjalan kesana-kemari. Dia mirip bebek waktu melakukannya, kalian seharusnya melihat si banci itu, hahahaha..””Aku juga mengenai bokongnya, soalnya bokongnya besar sekali, hanya itu yang kulihat waktu membidiknya dari atas pohon.” ucap Pop. Mendengar perkataan polos Pop, sontak Markie dan Bono kembali tertawa ngakak seedan-edannya. Markie bahkan sempat terjatuh dari kursinya. ”Bukankah dia memang manusia bokong. Kepalanya, badannya, kakinya, semuanya bokong…HAHHAHAHAHAH..!!! Gelak tawa mereka bertiga semakin mirip kesurupan, diikuti dengan tingkah Markie menendang-nendang kursi saking gilanya ia tertawa.”Oke..” Bono melanjutkan cerita ”Oke, kalian ingin tahu lebih banyak lagi’kan? Setelah itu ia berjalan bebek menuju meja makan dan mengambil semangkuk makanan apalah itu namanya, kemudian kepalanya celingak-celinguk mengawasi keadaan sekitar, aku terus menahan tawa, ia mengambil sebotol sambal dan menuangkannya gila-gilaan di mangkuk itu. Si bodoh itu mengira ia memasukkan kecap atau bumbu lainnya. Dan, hahaha…” Bono kembali tidak bisa menahan dirinya ”Dan dia memakan semangkuk makanan pedas itu tanpa merasa apapun.””Hah..! Dia memakannya? Tanpa merasa pedas atau apapun? Sialan, mahluk apa itu namanya.””Tidak, tidak, ini belum selesai. Dia sempat memasukkan sekitar tiga atau dua sendok sambal itu ke mulut baunya. Kemudian,….” Bono memegang perutnya dan napasnya tidak teratur. Ia terus tertawa sampai-sampai warna mukanya berubah merah cabai. ”Kalian tahu, setelah ia memasukkan sambal ke mulutnya, ia menatap mukaku. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Sepertinya sistem sarafnya baru menyadari makanan apa yang masuk ke badannya. Ia membuka mulutnya dan mencoba bicara, tapi ia malah komat-kamit seperti seorang bayi. Dan mukanya….bayangkan saja raut mukamu seandainya alat kelaminmu terjepit, seperti itulah mukanya…” Suara ”hahaha” dari ketiga bocah itu kembali membahana ke seluruh penjuru taman bagaikan speaker dengan volume tinggi, mengganggu populasi di sekelilingnya yang lebih menghormati suasana damai. Anak-anak yang dari tadi bermain bola pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Salah satu dari mereka bilang, ”Ayo, cepat kita pulang, sebelum mereka jadi benar-benar gila. Mereka akan buat masalah kalau seperti demikian.” Ketiga anak itu seperti sedang menikmati surga dari dunia mereka sendiri, dengan tertawa lepas, sangat lepas, mereka menaklukkan segala tetek-bengek kehidupan duniawi yang mereka hadapi sebelumnya. ”Ayahku sampai datang ke rumahmu gara-gara masalah ini.” Markie melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terhenti oleh gelak tawa. ”Ya, kakekku juga.” sambung Pop. ”Tentu saja dia akan meminta pertolongan warga sekampung. Seorang banci seperti dia pasti sangat ketakutan saat itu.” lanjut Bono ”Aku ingat kakek Pop memeluk sambil berusaha menenangkannya. Seharusnya aku beritahu kakekmu untuk menyanyikan nina bobo agar membuat dia tenang.” ”Aku ingat kakek cerita ayah tirimu ketakutan sekali. Ia memeluk kakek sambil bergumam tidak jelas. Kakek bilang ayah tirimu menangis di pelukannya.” ”Apa? Sialan, memalukan sekali. Sekarang kau tahu’kan mengapa aku menyebutnya banci.” tegas Bono ”lalu apa yang dilakukan kakekmu?” ”Aku tidak tahu selanjutnya. Yang jelas, kakek bilang ’Anak muda itu ketakutan sekali sampai ketiak-nya basah dan aromanya sangat menusuk. Aromanya seperti parfum nenekmu.’ Seperti itu.” Markie dan Bono terdiam setelah mendengar cerita Pop. Mereka mencoba menahan gelak tawanya yang akan luar biasa di balik mulutnya. Bono menutup mulutnya, ia mencoba untuk tidak terlalu berlebihan dalam tertawanya. Dan beberapa detik kemudian, “HUUAHHAHAHAHA…!!!” hegemoni kegilaan tanpa henti itu kembali terulang. Cahaya sore itu mulai memudar perlahan-lahan. Binatang malam sudah mulai memantapkan niatnya untuk keluar. Angin berhembus mendayu-dayu mengisyaratkan hari mulai akan berganti. Kesenangan dan canda yang tertangkap jelas dari ketiga anak itu masih bertahan, mengacuhkan waktu yang datang menghampirinya, meneruskan lembar baru masa remaja mereka yang suatu saat bisa mereka nikmati bersama lagi kala uban menjadi teman mereka sewaktu berkaca nanti. Bono melangkah ke rumahnya. Ia menuju ruang tamu dan melihat ayah tirinya duduk sambil mendengarkan lagu dari seleranya yang murahan dengan santai. “Sialan.” Pikir Bono. Ia lari ke kamarnya. Dengan senyum manis di bibirnya ia menyiapkan sesuatu yang akan ia ceritakan kepada kedua temannya esok hari dan berpotensi menimbulkan kegilaan yang sama yang ia lalui barusan. “Rasakan ini, dasar banci!”
aduhhhh,buanyak bgt sichhhhhh.malesssss bacanyua