Wati Waiting Romi
Agustus 17th, 2007 by muhzen_den
Hujan sore itu belum juga reda. Wati sejak tadi masih terpaku menatap keluar jendela. Tampak tetes air berjatuhan dari langit yang sesekali pecah menyentuh tanah dan membentuk genangan air yang mengalir. Wati hanya bisa diam dengan sejuta perasaan gundah, sekaligus hujan sore ini seakan meluluhkan semangatnya untuk keluar rumah.
“Wati….”
“Ya, Ma.” Jawab Wati pelan.
“Kamu, ngapain di situ?” Tanya mamanya yang diam-diam mengamati gerak-gerik Wati dari ruang tengah. “Ayo, tutup gordennya. Nggak baik, hujan-hujan berdiri di dekat jendela. Takut ada petir nyasar,” lanjutnya.
“Iya, Ma. Nanti, Wati lagi pengin lihat air hujan yang mengalir lewat saluran air itu. Sepertinya hujan kali ini akan banjir lagi.” Kata Wati beralasan. Padahal ia sedang menunggu hujan sore ini agar cepat reda. Agar cepat ketemu dengan seseorang yang membuatnya rindu.
Tak lama sekitar satu jam hujan pun reda. Meskipun masih tampak rintik-rintik kecil air berjatuhan. Tapi, itu sudah membuat Wati merasa lega. Wati seketika itu langsung mengambil tas punggungnya yang berada di bangku sofa ruang tamu. Tiba-tiba suara dering Hp-nya berbunyi.
“Ya, halo? Ada apa Rom?”
“Wati sayang.”
“Iya, Romi.’
”Sepertinya ketemuan sore ini batal deh.”
“Kenapa? Ada yang nggak beres.”
“Iya, nih. Tiba-tiba saja mobil Romi ngadat. Nggak mau jalan, tahu tuh kenapa. Jadi, terpaksa deh, Romi bawa ke bengkel. Nggak apa-apa kan?” Terang Romi dengan suaranya yang khas membuat jantung Wati berdebar.
“O…jadi begitu. Ya, nggak apa-apa sih. Tapi, bagaimana dengan Romi. Hujan nggak di sana?” Wati balik tanya takut kenapa-napa dengan sang pujaan hati.
“Di sini hujan. Tapi, Romi nggak apa-apa. Cuma kehujanan dikit.”
“Aduh, kasiaan Romi. Dingin ya?”
“Nggak kok. Tadi sih dingin. Tapi sekarang sudah hangat. Kan dengar suara Wati…” Gombal Romi mulai. Sedang Wati hanya senyam-senyum sendiri. Mendengar ocehan Romi yang menurutnya lucu dan terkadang bikin kangen.
“Iya sudah. Hati-hati ya. Awas! Jangan sampai masuk angin. Nanti Wati jadi sedih.”
“Iya, Wati sayang. Romi akan baik-baik saja. Selama Wati masih sayang sama Romi.”
“Ah, Romi bisa saja.”
Lagi-lagi Wati hanya bisa tersenyum sipu.
“Dah dulu ya, muaaah!”
Pembicaraan celuler itupun selesai. Dari raut wajah Wati tampak bahagia. Meski, nggak jadi ketemuan sore ini. Tetapi, pembicaraan lewat Hp itu telah memudarkan rasa gundah dan sekaligus rasa curiga di hati Wati.
* * *
Sejak peristiwa sore yang dilandai hujan itu. Wati jarang ketemu dengan Romi. Ia bisa berhubungan dengan Romi hanya lewat media celuler saja. Sesekali kirim SMS, telepon hanya sebatas itu. Nggak tahu kenapa? Romi jarang muncul dan susah untuk di ajak ketemuan. Perasaan Wati jadi tak enak. Berbagai rasa bercampur jadi satu. Hingga menimbulkan rasa was-was.
Siswa-siswa berlarian, ada yang masuk kelas ada juga yang diluar sambil duduk di bangku halaman sekolah. Yang hobi nongkrong atau ngrumpi, kumpul di kantin sekolah. Maklumlah anak sekolah, waktu isitirahat begini digunakan untuk hal-hal yang macam-macam. Ya makan, baca buku diperpustakaan, main basket dilapangan dan lainnya. Sehingga perbedaan itu tampak lebih indah bila dinikmati tanpa harus merugikan orang lain.
“Eh, Mon. Kamu lihat Romi nggak?” Tanya Wati sesampainya di kantin.
“Nggak tuh. Emang kenapa?” Ucap Mona singkat.
“Nggak ada apa-apa. Cuma nanya doang. Siapa tahu kamu lihat.” Jawab Wati agak jutek, karena merasa kesal cari-cari Romi nggak ada yang tahu.
Mona langsung pesan makanan ke penjual kantin, sedangkan Wati hanya diam saja. Wajahnya ditekuk, tak ada rona bahagia di diri Wati. Tampak rona sedih menyelimuti. Mona sebagai teman agak tersentuh juga rasa keceweannya.
“Wati, katanya mau makan. Kok, diam saja. Ada apa sih?”
Wati masih diam. Ia hanya bisa balas dengan tatapan mata kearah Mona. Teman Wati yang paling setia bila ia sedang dalam down.
“Wat, ayo dong. Kasih tahu aku. Please…?” Mona memohon agar Wati memberitahu masalahnya.
Wati masih tak mau peduli. Ia tetap diam. Matanya berkaca-kaca sepertinya ia menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi apa daya semua itu hanya klise. Seberat apapun masalah yang Wati sembunyikan tetapi saja. Mata tak bisa dibohongi. Padahal Wati sudah lama jadian sama Romi. Tapi, apa buktinya, ia sekarang dalam keadaan dilema cinta Romi.
“Nggak ada Mona.”
Mona hanya menatap Wati dengan pandangan curiga. Seperti ada sesuatu yang dirahasiakan Wati. Sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
“Boleh tanya nggak?” Mona seperti menemukan titik permasalahannya.
Wati hanya mengangguk kepala. Menandakan bawah ia mengizinkan.
“Kamu, lagi ada masalah.”
Wati hanya diam. Mona bingung harus berbuat apa. Sebab masalahnya nggak jelas.
Tiba-tiba Wati berubah, ia buru-buru menghapus air mata yang sempat menetes dengan jarinya. Mona sempat kaget melihat perubahan Wati secara tiba-tiba.
“Mona, kok diam saja. Nggak di makan, makanannya.”
“Eh, iya Wati. Aku lupa. Kamu nggak apa-apa kan?” Mona salting deh, di tegur seperti itu. Awalnya prihatin eh jadi lelucon.
“Nggak, Mon. Aku tadi cuma lagi acting saja.”
Dung! Mona jadi serba salah menilai temannya ini. Tadi bukannya mau nangis? Gumam Mona dalam hati.
Bel sekolah berbunyi nyaring. Siswa-siswa pun mulai gusar dan mereka beranjak meninggalkan kantin sekolah. Wati dan Mona juga. Mendengar bel sekolah berarti waktu istirahat sudah habis dan sekarang dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya. Wati dan Mona pergi meninggalkan kantin setelah membayar makanan.
* * *
Benar-benar diluar dugaan. Romi tidak diketahui batang hidungnya. Teman-teman di sekolahnya juga nggak tahu. Dimana Romi berada. Sudah seminggu ini Romi nggak masuk sekolah. Bahkan kasih kabarpun nggak. Wati jadi takut dan khawatir akan keberadaan Romi. Ia bingung harus bagaimana lagi. Wati sudah berusaha untuk mencari Romi dengan cara bertanya-tanya pada teman-temannya. Tapi, apa hasilnya nihil.
Hari demi hari terasa hambar bagi Wati. Tanpa Romi di sisi, Wati merasa hidup ini hanyalah bias. Setiap apa yang ia lakukan jadi tak berarti. Padahal sejak ada Romi di sisinya. Wati, merasa hidup ini lebih bermakna dan bersemangat. Wajahnya selalu ceriah dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya. Namun, untuk saat ini Wati berubah. Wajah itu tak lagi ceriah. Senyum itu tak nampak. Sehingga tampak jelas kemurungan yang ada di diri Wati.
“Wati, kamu kenapa?”
Tanpa di sangka mamanya bertanya. Mamanya khawatir melihat perubahan pada anaknya ini. Wati hanya bisa membalas dengan senyum terpaksa untuk memudarkan rasa gundah di benak mamanya. Tapi itu semua tak bisa menutupi kebohongan di matanya.
“Kamu, ada masalah nak?’ Lagi mamanya.
Wati masih diam. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban.
“Mama, lihat. Kamu murung saja, nak. Ada apa sayang?”
Wati tetap diam. Entah kenapa sikap Wati jadi misterius begini. Biasanya ia cepat tanggap kalau mamanya bertanya tentang keadaannya. Tapi, sekarang seperti ada perubahan di sikap Wati yang ramah jadi pendiam.
Tuuut, tuuut, tuut….
Dering Hp-nya berdering berulang kali. Wati jadi tersentak untuk meraihnya dan membuka isi pesan itu.
Dari: Mona
Salam, Wati. Eh, da kbr burk nih. Kmarin gw dpt bocoran dr tman skuul qtu. Ktnya si Romi sakit. Dia di opname di RSUD. Qta jenguk yuk!
Seet….
Terasa menyayat hati Wati yang terluka. Setelah ia tahu ternyata Romi….? Buru-buru ia membalas pesan itu. Takut ini hanya gosip murahan saja. Tetapi, perasaan Wati jadi nggak enak. Masa ia, Romi sakit nggak bilang-bilang sama dia. Masa Romi setega itu sih, padanya. Berbagai pertanyaaan menyelimuti hati dan pikiran Wati. Ia semakin tak percaya dengan semua ini. Ini seperti mengigau.
Tiba-tiba bunyi dering telepon rumah. Wati tambah was-was. Ia segera menuju ke suara itu. Diangkatnya telepon tersebut.
“Halo…?” suara di sana.
“Ya, halo. Dengan siapa ini?” balas Wati.
“Ini dengan mamanya Romi. Bisa bicara dengan Wati?”
”Ya, saya sendiri. Ada apa Bu?”
“Begini nak Wati. Romi sekarang…?” suara Mamanya Romi agak tersendat. Hingga suara tak terdengar penuh di telinga Wati.
“ Ada apa dengan Romi, Tante?”
Seakan berat untuk diungkapkan. Kata-kata itu seketika terhenti dari mulut mamanya Romi. Sedangkan Wati hanya bisa pasrah menunggu sebuah jawaban itu. Meskipun sebenarnya Wati tidak ingin menerima kabar itu dalam keadaan dirinya yang sedang dilemma cinta Romi.
“Romi, masuk rumah sakit.”
Terdengar jelas ditelinga Wati. Kabar itu benar-benar terjadi. Dan Wati tak bisa mengelak lagi dari kenyataan yang harus ia rasakan. Romi kekasihnya yang beberapa hari ini tak kunjung datang untuk menemuinya. Ternyata dalam keadaan kritis.
* * *
Ruangan itu tampak sunyi dengan penerangan yang cukup terang. Dipintunya terpampang Ruang VIP No.23. Dengan pewangi ruang yang mungkin sudah khas yaitu bau obat. Meskipun di sana sudah tergantung pewangi ruangan yang sering ada dipasaran seperti Byfresh. Namun percuma itu tak berlaku.
Wati terduduk dalam genggaman dingin tangan Romi yang masih terkulai lemah. Hanya buraian air mata yang bisa Wati ungkapkan untuk menanyakan semua ini kepada Romi. Romi yang masih terkulai diantara hidup dan matinya. Menerima cobaan hidup dengan penyakit yang datang tak di sangka-sangka. DBD, ya singkatan kata itu menjadi momok yang banyak ditakuti orang. Romi terkena penyakit Demam Berdarah stadium kritis. Karena musim penghujan yang datang di awal Februari telah menimbukan banyak bencana. Salah satunya adala bencana banjir melanda ibu kota.
Wati masih berlinang air mata. Gengaman tangannya semakin erat. Memberi kehangatan dan doa harapan. Agar Romi lekas bangun dari pembaringannya.
* * * * *
Serang, 15 Maret 2007