Senandung Kasih yang Menyelamatkan
Agustus 17th, 2007 by Stebby Julionatan
Dipentaskan pertama kali pada tanggal 28 Desember 2005 di Gereja GPIB “Immanuel” Probolinggo untuk mengisi acara Perayaan Natal (Renungan Natal).
Pengemis berada di halaman Gereja dan meminta-minta di hadapan Jemaat yang hadir pada Perayaan Natal. Dan karena dia dianggap dapat mengganggu jalannya Perayaan tersebut, dia diusir. Tetapi dia tidak pernah patah semangat untuk kembali, berada di halaman Gereja dan meminta-minta.
Ketika acara Drama, semua lampu mati. Dan tinggal sebuah lilin yang hampir habis yang menyala di panggung. Semua pemain membawa sebatang lilin di tangannya.
Orang Kaya. Sebagaimana terang tidak dapat bercampur dengan gelap, seperti itulah seorang pecundang tidak layak berbaur dengan seorang pemenang.
(Jeda. Sambil memegang lilin lebih erat dan memandang ke arah pengemis dengan pandangan menghina. Seolah-olah berkata: “Aku tidak akan pernah mau berbagi kepada seorang pemalas.”}
Seorang pemenang tidak layak mengotori dirinya untuk berkubang bersama mereka –orang-orang yang menyia-nyiakan karsaMu, ya Tuhan; membagi peluhnya kepada tangan-tangan yang selalu menengadah; menagisi kemalasan mereka dan berdoa bagi ratapan mereka.
Lagipula, bukankah itu sudah menjadi tugas bagi dia. (Matanya memandang ke arah Pendeta). Orang-orang yang berdiri di atas nama pelayanan, dan bukan aku.
Tetapi… (matanya melirik ke kanan dan ke kiri seakan ia takut seseorang nantinya akan mengetahui rahasianya) perlu juga bagiku untuk mengisi kotak-kotak persembahan dengan pundi-pundi yang bertera. Karena apa yang aku harapkan, jauh melebihi berkat dan doa. PRESTISE.
(Jeda. Kali ini ia memandang ke atas.)
Tuhan…. Tuhan….. bukankah aku masih lebih baik di mataMu, daripada mereka yuang senantiasa berlindung di bawah namaMu namun senantiasa kikir dan berhitung dalam pelayanan?
Setidaknya aku tidak pernah menggunakan namaMu untuk kepentinganku sendiri.
Pendeta (Seakan-akan berdoa dan meratap)
Tuhan… aku melihat seseorang yang bukan berasal dari jemaatku, layakkah aku berbagi lilin ini bersamanya? Sedangkan di lain sisi ada orang yang lebih mampu daripadaku; seseorang yang tidak akan banyak merugi bila sebatang lilin di tangannya meleleh tercium api.
Tuhan… sebenarnya ini bukan masalah kelayakan, tetapi nafas pelayananMu.
Aagghh…. Tuhan, mengapa kau selalu memperhadapkanku kepada dilema seperti ini? Memasang lilin dan membagi nyalanya adalah sebuah peruntungan; sebuah pertaruhan mendapatkan manisnya madu pujian atau malah getirnya hinaan dan cemoohan.
Orang itu, pengemis itu, adalah seseorang yang dianggap sampah oleh jemaat; dibuang bukan dipungut, dihindari bukan didekati; yang hanya oleh baunya dapat mengosongkan rumahMu dan memenghentikan aliran-aliran persembahan.
(Jeda.)
Maka dengan apakah susu sebelanga dapat diselamatkan dari setitik nila? Jadi, bukankah lebih baik memotong sebelah tangan, karena kaki masih bisa berjalan. Lebih baik menolaknya sehingga pelayanan masih dapat berjalan.
(Jeda.)
Tuhan… sebenarnya apa yang mereka inginkan? (Memandang ke arah orang kaya) Membeli tubuhMu dengan persembahan? mengatur pelayanMu dengan kekuasaan? Membongkar titahMu dengan neraca laba-rugi mereka?
Mereka memberi ketika mereka dilayani; mereka hanya meminta pelayanan tanpa pernah mau turut serta di dalamnya, sementara kalau Gereja tidak mampu memenuhinya mereka lari ke seberang.
(Jeda.)
Di manakah ada di muka bumi ini, seekor domba yang mengatur pengembalanya?
Tuhan…. bukankah aku masih lebih baik daripada mereka yang senantiasa menghitung berkatMu dengan apa yang mereka miliki.
Setidaknya akulah yang setia melayanimu.
Pengemis Penderitaan dunia yang Kau bebankan kepadaku melebihi kemampuan pundakku. SalibMu telah mememarkan dagingku dan meremukkan tulangku. Punggungku telah bungkuk karenanya.
Mana bisa menjadi cantik tanpa bersolek? Mana bisa diterima kalau tidak berharta? (Menarik nafas panjang dan menghembus-kannya. Sekarang berkata dengan lebih lirih) Mana bisa berharta kalu tidak bekerja? Mana bisa bekerja kalau tidak berpendidikan? Mana bisa berpendidikan kalau tidak punya uang?
Uang…. (Berpikir. Mencoba mencari ayat Alkitab yang berkaitan.) Akar segala kejahatan adalah uang. Tetapi seseorang tidak akan pernah menjadi jahat hanya karena dia seorang pengemis.
Pengemis bukanlah simbol kemalasan. Dia adalah simbol tingginya tembok-tembok kesempatan.
Mereka… (Memandang ke arah Orang Kaya dan Pendeta.) adalah koin bermata ganda. Yang satu memandang rendah kemiskinan sedang yang lain bersikap tak acuh terhadap ketidakadilan.
Tuhan… dari kami bertiga, bukankah Kau lebih memilih untuk duduk di dekatku? Karena ada tertulis “Tuhan bersama orang yang miskin dan terhina.
CUKUP! Cukup sampai di sini penderitaan dan hinaan yang mereka lakukan kepadaku! (Ia mendekap lilinnya. Dan tidak mau berbagi lilin itu dengan yang lain.) Lilin ini, adalah satu-satunya benda berharga yang aku miliki. Kalau aku berbagi lilin ini sekarang bersama mereka, dengan apa aku akan menerangi rumahku?
Avatar Karena terang adalah nyata bagi setiap orang; seperti matahari pagi yang tidak pernah memilih di mana ia bersinar, maka demikian halnya dengan kasih, ia tidak pernah memilih dan menegakkan diri, ia tidak berhitung dan tidak pula ia mencari keuntungan.
(Berjalan sambil menghampiri dan memegang pundak Orang Kaya.)
Tuhan membuatmu menjadi kaya bukan untuk berbangga diri, melainkan sebagai sarana penyaluran berkat. Pantaskah seorang penyalur berkat mencari keuntungan sendiri?
(Berjalan sambil menghampiri dan memegang pundak Pendeta.)
Tuhan membuatmu menjadi pelayanNya di dunia ini, bukan untuk memutilasi tubuhNya melainkan untuk memwartakan kasih-setiaNya. Pantaskah seorang pewarta menutup rapat-rapat pintu rumahNya?
(Berjalan sambil menghampiri dan memegang pundak Orang Miskin.)
Tuhan membuatmu menjadi miskin agar kamu setia dan sabar. Karena itu, jauh sebelum Ia menempatkan beban di pundakmu, Ia telah menyiapkan pundak yang kuat. Pantaskah orang yang diberi pundak yang kuat mengeluh akan beratnya salib penderitaan?
Lilin Padam. Semua Pengemis, Orang Kaya, Pendeta dan Avatar tetap di tempatnya masing-masing. Penyanyi masuk ke panggung dan menyanyikan lagu “Kasih Tak Sekedar Kata-kata Semata”:
Kasih tak sekedar kata-kata semata
Ia nyata dalam perbuatan sehari-hari;
Kasih bagaikan mata air yang jernih
Menyegarkan mereka yang penat dan tak berdaya
Walau seluruh dunia engkau miliki
Tanpa kasih tiada berarti;
Walau seluruh ilmu engkau miliki
Tanpa kasih tiada berarti.
Ketika lagu diulangi untuk kedua kalinya, seluruh pemain berkumpul, merapat di tengah panggung.
naskahnya bagus. saya berencana untuk mementaskannya kembali. boleh? saya harus ijin kemana ini?
boleh saja. ya tentunya harus ijin ke saya dong bang indra, hubungi saya dulu ya sebelum mementaskannya kembali.
hubungi saya di 0852 3041 3398. ditunggu