Senadung Sunyi Alengka
Agustus 17th, 2007 by Stebby Julionatan
-untuk Andrien yang berharap akan kebebasan-
Suruh dia kerahkan monyet-monyet itu untuk mencakar
wajahku tumpah api di lumbung Alengka
dan bulan congkak menanam dirimu
di antara helai-helai rumput.
Kenapa dia begitu abu?
Seakan sabda adalah luruh angin lewati ngarai
sedang bulu Jatayu masih ada di genggamanmu.
Paduka,
tubuhku kanjal seperti ketakutan Trijata melihat mata
junjungannya merah junjungannya ketika berpindah cincin
dari ujung ekor ke jari manismu.
Kantar nafsuku bukan beroleh dirimu.
Tak perlu kehilangan kedua kaki laut saat bersentuh karang
seandainya dia tahu bahwa Paduka adalah lautan gelora
yang tenggelamkan kapal-kapal cintaku.
Maret 2007.