Perihal Diri
Agustus 17th, 2007 by Reizha Rahmitha S.
Yang dimiliki hanya kiniBukan lalu atau nanti
Selama duka terbawa dengan resah diri bumiB
iar mengetuk gundam terbentuk
Atau malam ini membawa mu mengelus sunyiKembali…
Dan tentang hati
Aku menyusurinya, berkacau pengaburan resolusi
Begini lagi…
Disini dingin, seperti tak pernah ku singgahi
Serupa yang dulu, akrab terlupa hun
iAmbang syair menggauli denting dormansi
Kau sekuat itu kah berbatas proteksi
Atau rindu bebekal air racun rupa
Mungkinkah diam itu serupa aku ?
Tepi tak mungkin fasih mengorek puncak
Dan kanan tak akan menjadi kiri
Namun lagi-lagi
Cuma aku tersudut sendiri
Engkau bersama siapa ?
Padahal aku disini mengelusmu sedalam hati
Ternyata yang diterima hanya dangkal dari respati
Aku menggenggam sunyi
Aku menanti
Bilik tak terbagi, hasrat meletup mimpi
Engkau dimana ?
Selayaknya aku emosi menepi
Suram dan terlupakan janji
Bilamana aku pergi ?
Seperti sangit debu melebur bersama ilusi
Dan aku terlupakan…
Bolehkan ku ungkap dan ucapkan benci ?
Aku ingin hitam itu mengaburkan dirimu yang mencerahkanku
Mungkin karena dahagaku yang segumpal portal
Hehehe… inilah tawaku yang pecah
Apa kau tau makna ungkapan mata panah ?
Mana mungkin !!!
Karena kau tak benar-benar menatapku kasmaran
Ijinkan cukup disini, biar kabur semua yang suram
Selami saja peninggalan puing karang
Selama pohon-pohon tetap berdiri karena akar
Semoga ada aku yang terkenang
Hingga muncul seroja saat surya tenggelam
Lalu ucapkan selamat tinggal