Claire
Agustus 17th, 2007 by caerisch_c1
“Claire…ada yang ingin aku katakan padamu”, kata Sam.
“Aku juga…”, kata Claire.
“Kau dulu”, kata Sam.
“Kau dulu saja”, kata Claire.
“Claire, mungkin terlalu tiba-tiba aku mengatakan seperti ini. Tapi selama aku berpikir, aku tahu aku harus membuat keputusan ini. Claire, lebih baik kita sudahi saja hubungan kita ini…”, kata Sam.
“Kenapa, apa karena Angel?”, tanya Claire.
“Bukan. Bukan karena Angel. Tapi karenamu….Kadangkala aku lelah…lelah melihatmu melakukan perbuatan jahat”, kata Sam.
“Ha ha ha”, Claire tertawa.
“Itu tidak lucu, Claire”, kata Sam.
“Sam, apa kamu sungguh menganggapku sejahat itu? Aku memang benci pada Angel. Karena dia, ibuku meninggal. Dan karena dia, kau pun sekarang meninggalkanku…”, kata Claire.
“Ini tak ada hubungannya dengan Angel, Claire!”, seru Sam.
“Benarkah tidak ada, Sam? Tapi kenapa, kau selalu membelanya?! Kenapa, kau selalu melindunginya?!”, tanya Claire yang memiliki rasa tidak terima di dalam hatinya.
“Claire, manusia bisa bertobat, itulah yang kulihat dari diri Angel saat ini”, kata Sam.
“Kau memang mudah mengatakannya, karena kau tak pernah merasakannya!!!”, seru Claire.
“Aku tahu…dia dulu jahat padamu…walaupun begitu dia adalah saudara tirimu, Claire”, kata Sam.
“Aku tidak punya saudara seperti dia! Aku benci! Aku benci dia!”, seru Claire keras.
“Claire…”
“Pergi! Aku tak ingin kau disini! Aku benci kamu!”, ucap Claire.
Mendengar itu, Sam pun pergi. Claire terdiam dan menangis. 15 menit kemudian, Tasya menelpon Claire.
“Claire, kau ada dimana?”, tanya Tasya.
“Aku sedang mau pulang, Tasya. Ada apa?”, tanya Claire.
“Ngga, rencananya kami mengajakmu nonton malam ini. Bagaimana malam ini bisa?”, tanya Tasya.
“Ya, aku bisa”
“Ok kalau gitu ntar ketemuan jam 7 malam di Starbuck Anggrek”, kata Tasya.
Tasya pun mematikan teleponnya.
Jam 7 malam, mereka pun bertemu di Starbuck Anggrek.
“What’s wrong? Mukamu seperti lesu gitu….”, kata Tasya.
“Ngga apa-apa. Hanya tidak tahu kenapa, belakangan ini kepalaku sering sakit”, kata Claire.
“Sudah cek ke dokter?”, tanya Tasya.
“Belum…”, jawab Claire.
“Ceklah Claire, besok bagaimana, kutemani?”, tanya Tasya.
“Tak usahlah. Bukan penyakit yang harus dibesar-besarkan. Kupikir ini penyakit ringan. Memangnya kamu tidak pernah sakit kepala?”, tanya Claire.
“Ya sudah itu terserah kamu…”, kata Tasya.
“Sekarang kita tunggu siapa lagi nih…?”, tanya Claire.
“Tinggal tunggu…biasanya dua orang yang suka telat, Jody dan Michael”, kata Tasya.
30 menit kemudian, Jody dan Michael datang.
“Sorry Tasya, macet…”, kata Jody.
“Ah alasan…”, kata Tasya.
“Lho ada Claire juga disini. Halo Claire! Sam-mu tidak diajak?”, tanya Michael.
“Tidak, dia sedang sibuk”, jawab Claire yang sebenarnya berbohong.
“Oooo…Yuk, tunggu apa lagi disini”, kata Jody.
Mereka pun pergi nonton sebagai acara refreshing. Malam pun semakin malam, mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah Claire, terlihat Ibu Angel, Rini, sedang menunggu di ruang tamu.
“Darimana kamu!?”, seru Ibu Angel, Rini.
“Itu bukan urusan, tante!”, jawab Claire ketus.
“Sepertinya kamu terlalu berlagak di rumah ini. Besok, tak ada uang jajan untuk kamu! Dan jika kamu pulang malam lagi, aku tak segan-segan menutup pintu ini hingga kamu tidak boleh masuk!”, kata Rini.Claire pun pergi menghiraukan kata-kata ibu tirinya. Ia pun membuka pintu kamar dan kemudian berbaring di tempat tidurnya.
“Aku benci keluarga ini…benci! Sam, apakah kamu tahu apa yang kurasakan?”, tanya Claire dalam hati.
Setelah ini Claire pun memutuskan tidur.
Paginya, memang tak ada uang jajan untuk Claire. Claire hanya mengandalkan uang sisa-sisa kemarin dan jikapun kurang, ia pun akan membuka uang tabungannya selama ini.
Claire pun pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Hanya dibutuhkan 15 menit dari rumah untuk sampai ke kampus.
Sesampainya di kampus, Angel pun menghampiri Claire.
“Claire, aku tahu…kau benci sekali dengan diriku…Aku tahu, akulah yang menyebabkan kematian ibumu…Bisakah kau mengampuniku? Aku memang tidak minta diampuni tapi setidaknya aku bukan seperti Angel yang dulu”, kata Angel.
“Kau minta sebuah pengampunan? Mintalah pada ibuku!”, seru Claire menatap Angel dengan penuh benci.
“Harus dengan apa, kamu bisa mengampuniku?”, tanya Angel.
Claire tertawa.
“Ibuku sudah meninggal, bisakah kamu mengembalikannya? Jika tidak bisa, kamu tidak perlu banyak bicara!”, seru Claire.
“Claire…”
Claire pun pergi.
Di kampus, Claire bertemu dengan Sam. Namun Sam tidak berbicara apa-apa terhadap Claire dan pergi meninggalkan Claire. Tasya yang dari kejauhan melihat itu, merasakan keanehan dan bertanya pada Claire.
“Kau sedang ada masalah dengan Sam?”, tanya Tasya.
“Tidak! Aku….Tasya, kepalaku sakit sekali. Aku mau duduk sebentar”, kata Claire.
“Claire, kau tidak apa-apa? Lebih baik hari ini cek ke dokter. Aku akan suruh Jody untuk mengantar kita”, kata Tasya.
Tiba-tiba Claire pun pingsan tak sadarkan diri. Melihat ini Tasya panik dan kemudian memanggil Jody, untuk membawanya ke rumah sakit.
Di rumah sakit, dokterpun mengatakan kabar buruk.
“Bagaimana, dokter?”, tanya Tasya.
“Aku belum bisa memastikan…tapi dari gejalanya dia terkena kanker otak”, kata Dokter.
“Kanker otak!?”, tanya Jody tak percaya.
“Untuk lebih jelasnya perlu diadakan rontgen…”, kata dokter.
Claire pun yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Baginya dunia ini kejam tapi itu mungkin adalah hukuman baginya karena selama ini dia selalu merancang kejahatan kepada saudara tirinya, Angel. Apa yang ditabur itulah yang dituai.
“Claire….kamu sudah baikan…?”, tanya Tasya.
“Ya…”, jawab Claire sambil tersenyum, yang tak ingin mencemaskan teman-temannya.
“Claire, kata dokter..kamu mungkin terkena….”, kata Jody.
Namun belum sempat Jody meneruskan kata-katanya, Tasya menyuruh Jody untuk diam.
“Aku sudah dengar…kanker otak, bukan?”, tanya Claire.
“Ya…Claire, aku tahu ini adalah masa-masa sulit. Besok kutemani kamu untuk rontgen”, kata Tasya.
Tasya tahu selain dirinya tak ada lagi teman yang mengerti Claire.
“Tidak! Aku tidak mau…aku ingin…”, kata Claire. Namun belum sempat Claire meneruskan kata-katanya.
“Jangan bodoh, Claire! Bagaimanapun juga kamu harus menghadapi kenyataan ini”, kata Tasya.
Clairepun terdiam.
“Perlu kutelepon ayahmu dan Sam untuk mengabari hal ini?”, tanya Tasya.
“Jangan! Aku ingin kalian merahasiakannya kepada Sam. Untuk ayah, aku hanya ingin dia tahu sendiri”, kata Claire.
“Ok…”, kata Tasya yang sebenarnya sedih melihat keadaan Claire yang sejak dulu kekurangan kasih sayang.
“Tasya…Jody…terima kasih…”, kata Claire.
“Ah jangan begitu Claire. Aku maunya bukan ucapan terima kasih saja tapi traktiran…hehe”, kata Jody menghibur.
Setelah ini Jody pun mengantar Claire pulang ke rumah. Keesokkan harinya, Claire pun ditemani Tasya dan Jody melakukan rontgen otak. Dan didapatinya 2 hari kemudian hasil rontgen, bahwa Claire terkena kanker otak stadium 3. Syok dan tidak bisa berkata apa-apa itulah yang dirasakan oleh Claire. Dan dokter menvonis hidupnya hanyalah tinggal 2 tahun.
“Claire, kamu harus mengatakan ini kepada ayahmu…”, kata Tasya.
“Tidak…aku tidak mau mengatakannya sampai dia tahu sendiri. Sebab selama ini ayah tak pernah menyayangiku. Baginya, aku hanyalah anak yang menyusahkan saja. Hmmm kau tak perlu khawatir Tasya. Mungkin ini adalah hukuman yang Tuhan berikan untuk aku”
“Claire….”, kata Tasya yang tidak bisa berkata apa-apa.
3 bulan kemudian, masih sama, Sam tidak berbicara apapun dengan Claire. Namun terlihat Sam semakin dekat dengan Angel.
Melihat itu, sejujurnya Claire cemburu. Hingga suatu hari, Claire mendatangi Sam.
“Sam….”, kata Claire.
“Ada apa?”, tanya Sam.
“Tidak. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja”, kata Claire.
“Baik. Kamu?”, tanya Sam.
“Baik. Sam, sepertinya kita sudah lama tidak berbicara seperti ini”, kata Claire.
“Ya, kamu benar…Sudah 3 bulan kita tidak pernah berbicara apa-apa…”, kata Sam.
“Sam, kamu percaya manusia bisa bertobat?”, tanya Claire.
“Aku percaya, itulah yang kulihat pada Angel”, jawab Sam.
“Sepertinya sekarang kamu dekat sekali dengan Angel. Sam, kalau aku bilang aku sudah bertobat, apa kamu percaya?”, tanya Claire.
“Perlu waktu untuk melihat dari perbuatanmu…”, kata Sam.
“Sam, seandainya…aku tidak ada di dunia ini, apakah kamu akan kehilangan aku? Dan apabila ini adalah waktu terakhirku, apakah kamu akan menemaniku?”, tanya Claire.
“Jangan berkata yang bukan-bukan, Claire”, kata Sam.
“Jawab Sam…”, kata Claire.
“Aku tak tahu…”, kata Sam.
“Oh…begitu…”, kata Claire yang sejujurnya sedih mendengar kata-kata dari Sam.
“Claire, seminggu yang lalu, Angel kecelakaan. Katanya, ada orang yang dengan sengaja menabraknya ketika dia sedang jalan. Apakah itu perbuatanmu?”, tanya Sam.
“Kenapa, Sam? Kenapa, kau selalu menganggapku orang jahat. Kalau kubilang bukan, akankah kamu percaya?”, tanya Claire.
Sam terdiam.
“Sam, aku tahu aku jahat. Tapi sejahat-jahatnya aku, aku tak akan pernah melukai orang sampai masuk rumah sakit”, kata Claire.
Sam pun terdiam.
“Jawab, Sam! Apa dimatamu akulah yang mencelakakan dia?”, tanya Claire.
Melihat respon dari Sam. Clairepun akhirnya berbalik meninggalkan Sam.
Haripun berganti hari. Bulan pun berganti bulan. Tak terasa hari-hari menjelang tiba waktu Claire harus pergi semakin mendekat.
“Claire, benar tidak apa-apa seperti ini?”, tanya Tasya.
“Tak apa-apa”, jawab Claire.
“Claire…”
“Tasya, bisakah belikan aku minuman….?”, tanya Claire pucat.
“Ok, akan kubelikan es teh manis. Kamu tunggu disini”, kata Tasya.
Tasya pun membelikan Claire es teh manis di kantin. Sepulang dari kantin, terdengar kabar bahwa Sam sudah jadian dengan Angel. Mendengar itu, Tasya marah dan mendatangi Sam.
“Kudengar kau sudah jadian dengan Angel. Benarkah begitu, Sam?”, tanya Tasya.
“Ya…”, jawab Sam.
Tasyapun menampar Sam.
“Sam, aku tak menyangka kamu seperti ini orangnya. Disaat Claire membutuhkan kamu disisinya, kamu lari ke sisi orang lain. Apakah kamu tahu, sekarang Claire bagaimana? Dia setiap kali menangis dan tak ada semangat untuk hidup”, kata Tasya.
“Bukankah Angel juga seperti itu….? Sejak kecelakaan setahun yang lalu, yang mencelakakan tangan kirinya, dunianya yang ceria telah menghilang”, kata Sam.
“Aku tidak membahas Angel, Sam. Aku membahas perasaanmu terhadap Claire. Mengapa kamu tidak pernah mengerti perasaan dia? Mengapa, kamu selalu menyalahkan dia? Walaupun aku tahu, terkadang tindakan Claire salah terhadap Angel, tapi dia tidak seburuk yang kau bayangkan. Apakah kamu menganggap, dialah yang mencelakakan Angel, hah Sam?”, tanya Tasya.
Tiba-tiba Jody datang.
“Tasya, Claire pingsan. Kita harus membawanya ke rumah sakit”, kata Jody panik.
“Tahukah kamu, selama ini dia bagaimana? Apakah kamu tahu Claire menderita kanker otak? Kau hanya bisa menyalahkan dia tanpa kau sama sekali mengerti dia…”, kata Tasya yang setelah berkata-kata seperti itu pergi.
Mendengar kata-kata terakhir dari Tasya, Sam terdiam, syok.
Dan tak lama setelah ini, Sam pun mengikuti Tasya kemana dia membawa Claire pergi.
Claire masuk ke ruang UGD. Dokter yang memeriksanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Dokter tahu hidupnya tak akan lewat hari ini.
“Claire…”, kata Sam.
“Apa ini mimpi? Sam bisa datang kemari…”, kata Claire.
“Bukan. Ini bukan mimpi….Ini aku, Claire”, kata Sam yang sedih melihat keadaan Claire.
“Benarkah? Sam, sudah lama…aku pikir kamu telah melupakan aku…”, kata Claire.
“Claire, kenapa kamu tak pernah menceritakan hal ini?”, tanya Sam.
“Kau bukan siapa-siapaku. Untuk apa aku menceritakannya kepadamu….”, kata Claire.
Sam terdiam.
“Sam, aku tahu hidupku tak akan lewat hari ini. Aku hanya ingin mengucapkan maaf karena selama ini aku telah menyusahkanmu. Dan untuk Angel, aku sungguh tak membencinya sekarang. Sam, selamat…aku dengar kalian telah jadian. Selamat…”, kata Claire.
Sampun menangis sedih.
“Tasya, Jody, terima kasih kalian telah menemaniku selama ini…dan terima kasih atas biaya perawatannya. Aku hanya bisa mendoakan kalian semoga sukses dan cepat kaya”
“Kau ada-ada saja, Claire”, kata Jody yang sebenarnya ikut sedih.
“Kalian bisa tinggalkan aku sendiri…”
“Claire…”, kata Sam.
“Aku ingin berdoa sampai ajal menjemputku”, kata Claire.
Mereka pun meninggalkan Claire.
“Tuhan, jangan pandang hina aku, ya Allah. Saat ini, aku akui setiap dosaku…Jika Kau ingin ambil nyawaku sekarang, ambillah. Setidaknya terima kasih sampai saat ini, Kau telah menjagaku…lindungi teman-temanku…lindungi Sam, lindungi Angel, lindungi papa, lindungi tante rini…”
Setelah ini Claire pun meninggal dan dimakamkan keesokkannya.
Sang ayah mendengar itu terkejut dan menyesali sikapnya selama ini yang tidak tahu apa-apa tentang anaknya. Begitupula dengan Sam. Singkat cerita, Sam pun memutuskan hubungan dengan Angel, karena dia tahu, selama ini Sam bersalah kepada Claire.
Inilah kisah hidup tentang gadis berusia 21 tahun bernama Claire. Sekian.
Critany bnr2 mHrukan… Q jd kInget ma tmn cwo sklsq yg ankny plg baek skligus mantan q tu mninggal… Gr2 kanker otak stadium 4…