KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aku tak tau sudah kali keberapa kuhembuskan nafasku pada hari ini. Entah mengapa, aku merasakan kehampaan yang membuat hidup ini seakan tidak bermakna. Kutatap langit dengan harapan aku dapat berbincang-bincang dengannya. Namun sayangnya, ia tetap diam serius dalam perjalanannya. Kulangkahkan kakiku menuju musholla, mungkin aku akan mendapatkan ketenangan di sana.

Desiran angin berpadu sengan tarian matahari masih setia menemaniku. Mungkin mereka menganggapku bagian dari mereka, mengajakku untuk terbang dan melayang bersama bagaikan sebuah layang-layang.

Wahai jiwa yang berada di dalam rasa dan diriku, apakah aku terlalu banyak berdialog dengan dirimu sehingga aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku ? Apakah aku adalah orang yang selalu berpikir picik dalam kehidupan ini? Apakah aku terlalu egois terhadap diriku sendiri?

“ Raaaaay …….”

Aku terhentak dari lamunanku. Ternyata yang berani mengangguku adalah Bara, temanku yang selalu mempesona dengan diamnya walau diamnya tetap tak akan berarti jika dia ada di hadapanku.

“ Ya Bar, ada apa? “

“ Ada kabar buruk buat kamu. “

Apakah kau tidak tau kalau tidak ada sesuatu yang buruk bagiku. Aku adalah aku dan aku tak pernah menganggap ada keburukan yang berani datang padaku.

“Emangnya, kabar apa yang hendak engkau sampaikan padaku?”

“ Jangan sok gitu deh. Mendingan kamu siap-siap aja menghadapi tantangan dari para jilbaber mushalla. Mereka ingin mendengarkan pertanggungjawaban kamu atas perbuatan yang telah kamu lakukan. Kira-kira begitu. “

“Emangnya apa yang sudah kulakukan ?”

“Eh, ini orang lagaknya innocent. Apalagi kalo bukan tentang  your love’s letter.”

“Oh ………,”

Dasar jilbaber brengsek, berani-beraninya ikut campur urusan orang lain. Apa kalian nggak tau dengan siapa kalian berhadapan ? dasar orang-orang orientalis, coba lihatlah diri kalian sendiri, baru lihat diri orang lain. Aku adalah aku, dan aku bukanlah seorang pengecut..

“Ray, kok diam. What’s wrong with you?

“Ah, enggak ada apa-apa kok. “

“Eh Ray, aku mau ke perpus dulu yach. Mau ikut nggak ?”

“Enggak, makasih ya, kamu aja deh. Pergi sana.”

Bara pun berlalu meninggalkanku. Kembali kutatap langit yang luas, “Wahai langit, apakah aku salah? Bukankah seluruh makhluk diciptakan untuk memaknai segala peristiwa yang berlalu di hadapannya? Kau pun begitu. Aku tau bahwa di balik keluasaanmu itu kau memaknai segala peristiwa yang berlalu di hadapanmu, entah itu sebuah perkembangan individualitas ataupun sebuah kemolorotan yang tiada henti. Bukankah kau tersenyum dengan kecerahanmu, marah dengan gemuruhmu, dan menangis dengan hujanmu? Benar kan?”

“Raaay ………,”

Lamunanku kembali buyar. Firdy dan Gito lah yang membuyarkannya. Merka berdua selalu menggangguku. Akan tetapi, entah mengapa, aku merasa gangguan mereka tidak terlalu mengusikku, mungkin karena mereka selalu bisa menghibur diriku yang selalu kesepian ini, membuatku tersenyum cerah tanpa beban.

“Ray, kok siang-siang gini kamu duduk sendirian di mushalla. Ngapain aja? Emang ga ada guru ya? Terus, tadi kaya’nya kamu lagi ngelamun. Ngelamunin dia ya?”

“Ah kalian ini, emang aku ngelamunin siapa sih”

“Udahlah Ray…, ngaku aja, kaya’ kita ga kenal dengan kamu aja. Udah dua tahun Ray kita bersama, kita tau apa yang sedang kamu pikirkan.

“Ah kalian ini bisa aja…,”

Tiba-tiba saja dia melintas di depan mushalla. Setengah terpesona aku menatapnya. Manis, santun, dan anggun. Aura mukanya yang menunjukkan inner beauty-nya membuatnya begitu berkesan di hatiku. Ia selalu muncul dalam wilayah imajiku, mengajak jiwaku untuk bercengkrama untuk menuntaskan segala rasa yang membelenggu hatiku. Walau ia masih misteri bagiku, aku merasa bahwa dia adalah orang yang akan menuntaskan rasa dahagaku. Akan tetapi aku sadar kalau dia itu terlalu baik bagiku. Bahkan aku tak berani berbicara padanya apalagi sampai menatap matanya. Aku hanya bisa mengirimkan untaian kata yang mewakili sebagian isi hatiku.

“Ray, jaga pandangan ya.”

“Jaga pandangan apaan? Emangnya aku lagi memandang siapa?”

“Wkzzzz, munafik kamu. Jelas-jelas tadi kamu lagi melototin dia. Masih nggak ngaku.” Balas Gito

“Sepertinya tuduhan kalian tidak mempunyai bukti yang konkrit, bisa aja kan aku lagi memandang yang lain. Kalaupun benar aku memandang ke arahnya, bukan berarti pula pandangan mata hatiku tertuju kepadanya. Bisa saja sesuatu yang jauh di luar sana. Mungkin cuma kebetulan aja pandanganku tertuju ke arahnya.“
        “Sudahlah Ray, kamu tuh ga bakat banget buat ngebohongin kami berdua. Kami bisa lihat kok kalau di matamu cuma ada bayangannya.“
“Suit … suit … yang lagi mabuk asmara . Git, mendingan kita pergi aja yuk, takut ngeganggu yang lagi kasmaran.”

            “Woi, siapa yang lagi mabuk asmara. Awas kalian, entar aku cekek.

         Akhirnya mereka pergi juga. Aku kembali merasa kesepian. Namun, aku lebih tenang jika aku berada dalam rasa sepi di balik kesendirianku itu. Walaupun hanya ditemani desiran angin dan teriknya matahari, sembari menatap luasnya langit yang tiada bertepi, aku sudah merasakan indahnya kehidupan ini. Kadang aku berpikir, sebenarnya apa tujuan hidup ini. Apakah hidup ini hanya untuk kehidupan yang lain yang akan datang setelahnya? Lalu, benarkah hidup yang lain itu abadi? Bukankah tidak ada keabadian yang benar-benar abadi kecuali Ia yang menciptakan keabadian itu sendiri? Entahlah. Begitu sulitnya menebak arah retorika yang Ia ciptakan, menebak segala misteri yang ditebarkan-Nya agar manusia senantiasa berpikir tentang hakikat hidup ini. Sayangnya, manusia cenderung tidak mau mencoba untuk berpikir dan meresapi detik demi detik yang berlalu di hadapannya.

Kembali aku berjalan dalam realita wilayah imajiner yang begitu sulit untuk diterka. Kutatap langit, ehmm, kurasakan udara sejuk menyelimuti raga, masuk, dan mengalir melalui pembuluh darahku, mengisi ruang-ruang kosong di dalam lubuk rasaku.

Keluar aku dari wilyah imajiner yang sejak tadi menyelimutiku. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan itu, untuk memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah aku lakukan. Sejenak … perasaan nervous menghampiriku, namun segera kuusir perasaan itu. Aku adalah aku, dan aku tak akan pernah takut terhadap makhluk-Nya, apapun itu, kecuali …….. Sesampainya di ruangan itu, kurasakan sepi menyeruak ke dalam diri. Tak ada siapapun di bilik ikhwan, namun entah ada berapa jilbaber brengsek yang menungguku di balik hijab ini.

Lalu terdengarlah seuntai salam dari balik hijab itu,

“Assalamualaikum“

“Wa’alaikumussalam warahmatullah“

“Akhi Ray nya ada?“

“Ya, saya sendiri“

“Begini akhi, ada yang harus kita bicarakan. Ini tentang masalah yang ana rasa antum sudah mengerti tentangnya“

“Iya, ana sudah tahu.“

“Ana rasa sebaiknya bila ukhti Vielda sendiri yang langsung bicara dengan antum. Silahkan ukhti ,……“

“ ……..“

            Hatiku bergetar, keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Mengapa harus dia yang berbicara kepadaku? Sungguh, selama ini aku tak berani menatapnya secara langsung bahkan sampai saat ini aku belum pernah mendengar suaranya. Aku hanya mengagumi sosoknya …, sosok yang penuh kedamaian. Ini adalah pertama kalinya aku akan berbicara langsung dengannya.

            “Assalamualaikum, Akhi.“

            “Ehh……, iya …, wa’alaikumussalam warahmatullah“

“Langsung saja ke pokok permasalahan. Begini akhi, kita kan tahu bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam. Ana rasa antum sudah tahu alasannya. Jadi, ana mohon, sebaiknya lupakan perasaan antum terhadap ana.“

Ah, begitu lembut suaranya, membuai jiwa-jiwa di dalam lubuk rasaku.

“Ehmm…. Ya, ana tahu itu. Tapi ana rasa kita punya persepsi yang berbeda tentang masalah ini. Ana memang punya perasaan cinta pada anti. Tapi, bukankah cinta itu adalah anugerah yang terberi dam sudah semestinya sebagai seorang makhluk, kita harus mencintai makhluk yang lainnya. Apabila perasaan ana terhadap anti ini adalah sesuatu yang berlebihan, itu baru yang disebut penyimpangan. Dan bukankah ana hanya menginginkan untuk berteman dengan anti, dan bukankah wajar jika antara teman saling mencintai satu sama lain.”

“Memang benar apa yang antum katakan. Cinta adalah fitrah manusia dan ini tidak boleh dinodai oleh noktah hasrat manusia. Biarlah semua mengalir apa adanya, bagaikan air yang mengalir. Jika cinta yang antum rasakan memang benar-benar murni, InsyaAllah suatu saat akan ada jawabannya. Sayangnya, ana rasa cinta yang dirasakan oleh antum bukanlah cinta yang murni. Itu hanyalah sebuah fatamorgana, sebuah refleksi dari jiwa antum yang ingin mempunyai seseorang yang bisa diajak berdiskusi, atau apapun itu. Ingat akhi, setan itu sangat licik. Ia mampu melalaikan manusia-manusia yang mengharapkan kesemuan belaka. Saat ini, antum ingin ana jadi teman antum. Kemudian, bisa saja definisi cinta itu akan segera tergeser. Lebih lama lagi lebih pula permintaan antum. Pada awalnya, mungkin antum berharap ana mengatakan cinta pada antum. Lain waktu, antum ingin ana menemani antum mengobrol. Lain kali lagi, minta ditemani makan. Lain kali lagi, you will expext the unexpectable. Bagaimana akhi?

“ ………”

“Kok antum diam? Apa antum merasa bahwa apa yang ana katakan ini benar? Kalau begitu baguslah. Semoga saja hal ini dapat dijadikan suatu pelajaran bagi ana dan antum. Ana percaya bahwa antum adalah seseorang yang cerdas dan mengerti apa yang ana telah katakan.“

“Ehmm …. ya, baiklah“

Aku benar-benar ternganga, tak ada kata dalam suara yang mampu meluncur dari bibirku. Akan tetapi bukan berarti diamku ini adalah kekalahanku. Vielda …, kau telah menylut bara yang ada di dalam hatiku. Walaupun aku sangat mengagumimu, itu bukan berari aku selalu ’respect’ terhadapmu.

“Akhi …, mungkin hanya itu yang dapat ana sampaikan dengan antum. Ana minta maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung perasaan antum. Namun, ini adalah sebuah kebenaran dan sesama muslim, ana merasa harus menyampaikannya sama antum. Terima kasih.“

“Oh …, Ya, terima kasih. Ana juga minta maaf“

Setelah itu pikiranku benar-benar hampa. Aku benar-benar hampir tak bisa merasa. Kepalaku benar-benar terasa berat dan dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang tidak jelas. Ku langkahkan kakiku keluar dari ruangan itu dengan segala kepenatan dan amarah yang menyatu dengan benci dan cinta. Aku benar-benar tak menyangka hasilnya akan seperti ini. Kuhembuskan nafasku lagi, kupejamkan mataku, dan kurasakan kesejukan kembali masuk kembali ke dalam hatiku, lalu menghilangkan kepenatan dan memadamkan seluruh api yang membara di dalam dada.

Kutatap langit untuk kesetiaan kalinya. Aku yakin kalau dia tahu tentang misteri kehidupan ini. Namun, ia menyembunyikannya di balik keluasannya itu. Suatu saat aku yang akan membelah keluasannya untuk melihat apa yang ia sembunyikan. Kurasa, dialah yang paling mengerti tentang cinta. Kalau tidak, mana mungkin ia mau menjalankan tugasnya siang dan malam untuk menaungi kehidupan di muka bumi ini. Wahai langit, aku ingin tahu siapakah yang kaui cintai? Apakah kau mencintaiku sebagai orang yang selalu setia padamu? Ataukah kau mencintai desiran angin dan matahari? Ah, ternyata memang percuma mengajaknya bicara, ia tetap tak mau menjawabku.

Ingin segera aku menyudahi perbincangan dengannya. Tiba-tiba kurasakan desiran angin berhembus ke arahku, lalu ia membelaiku dan membawaku ke alam yang berbeda yang penuh dengan kegelapan pekat. Apakah ini sebuah kenyataan ataukah hanya sebuah refleksi dari alam bawah sadarku, aku tak tahu. Samar-samar kudengar suara itu, suara yang sama dengan suaraku. “Ray …, jawaban yang kau cari itu ada di dalam dirimu sendiri. Saat kau hilangkan segala keangkuhanmu itu, maka ia sendiri yang akan memberitahumu. Saat kau hilangkan seluruh amarah dan pikiran-pikiran yang buruk ada di dalam hatimu, ia akan datang dengan sendirinya.“ Entah apa yang ada dalam pikiranku sekarang, aku benar-benar tak tahu. Kosong …, hampa …, sampai ku kembali pada rasionalitas yang kumiliki. Apa yang sebenarnya terjadi barusan, aku benar-benar tak mengerti.

Apakah itu suara hatiku?

Entahlah, tapi apakah ini jawaban dari semua hal yang terjadi padaku?

Ya, kurasa aku sedikit mengerti bahwa semua jawaban dari seluruh pertanyaan yang hadir di dunia ini adalah awal mula dari seluruh kejadian itu sendiri. Dan akhir dari sebuah awal itu adalah awal itu sendiri. Walau bagaimanapun juga, kehidupan ini akan tetap bermuara pada Yang Tak Berawal dan Yang Tak Berakhir. Jadi, hidup ini bukanlah untuk mati, juga bukan untuk hidup, apalagi untuk seseorang atau sekelompok orang, tapi hidup ini untuk Yang Maha Hidup. Cinta yang ditebarkan-Nya adalah keindahan sejati yang tersembunyi, karena tidak ada yang lebih nikmat dari cinta-Nya yang menyesaki semesta hingga tidak ada lagi orang untuk kesakitan. Kurasa benar, bahwa cinta yang kurasakan pada Vielda adalah kesemuan belaka. Kalaupun benar itu adalah kesejatian, pasti Allah akan mempertemukan kami kembali dalam keadaan yang lebih baik. Vielda, aku tak akan melupakanmu. Kau akan tetap hidup di dalam kenanganku dan biarlah ini menjadi pengalaman bagi yang berharga bagi seorang insan dalam pencarian jati dirinya yang ternyata tidak terletak pada lukisan langit Sang Bidadari.

        Kuhembuskan nafasku untuk kesekian kalinya. Kemudian, seakan ada angin segar yang masuk ke dalam jiwaku. Kucari angin itu dalam relung-relung tersembunyi, kutemukan ia di sana, dan memanggilku. Ya, aku tahu bahwa aku tak sendiri, masih banyak hal yang menyertaiku sampai ujung perjalanan ini. Masih ada Bara, Firdy, Gito dan juga kalian yang selalu ada di sisiku.

One Response to “Lukisan Langit Sang Bidadari”

  1. on 14 Sep 2007 at 08:49ayumi

    gak berani bacanya, ntar gw nangis, teringat kesalahan dan kecerobohan masa lalu… hiks…

    seandainya ku adl sekerat hati, maka ia tak retak atau patah. aku yang memegang pisaunya, aku sendiri yang menyayatnya… tapi kenapa kebodohan kadang-kadang membuatku menjadi bingung dan melakukan kesalahan yang kadang berulang, aku musti bisa mengatasinya… karena kuyakin, tapi kadang-kadang aku juga ragu apakah aku bisa…

    kemudian aku melangkah… melangkah kerikil menembus kehidupan. di tengah jalan aku terpaku dan ragu dalam kehidupan ini. namun kudapat sebuah senyuman yang menoleh akan langkah kakiku yang sedang berjalan ibarat musafir kelana.wahai jiwa-jiwa yang tenang, kan kau susuri kehidupanmu atas ilmu, iman, amal dan perbuatan…

    ini bukan cerpen…

    teringat sebuah untaian kata dari my brother yang membuatku tersadar…

    “dalam melakukan penyikapan terhadap sesuatu, ada manusia yang sering membesar-besarkan, ada yang meremehkan, dan ada yang mencoba proporsional. pertanyaannya,sekarang kita termasuk yang mana?”

Tinggalkan Komentar