KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Toni duduk termenung dalam ruang berdinding kaca di tempat kerjanya.  Di depannya terpampang jelas sederet angka-angka di layar monitor komputer.  Ia harus mengubah seluruh angka itu demi memperoleh keringanan pembayaran pajak.  Bos tempat ia bekerja telah memerintahkan untuk membuat pembukuan ganda demi menghindari pembayaran pajak.  Ia juga harus memalsukan data yang tercantum dalam dokumen ekspor setiap pengiriman peti kemas yang dikirim ke luar negeri oleh perusahaan tempatnya bekerja.  Itulah pekerjaan sehari-harinya.  Sebagai seorang staf keuangan yang sekaligus mengurusi kelengkapan dokumen ekspor di perusahaan manufaktur tempat ia bekerja, ia harus dapat menekan pengeluaran seminimal mungkin demi memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.  Ia bahkan telah mendapat perintah resmi dari bos pemilik perusahaan tempat ia bekerja, untuk menghapus seluruh tunjangan kesejahteraan karyawan.  Tidak ada lagi uang lembur, tidak ada lagi uang makan, tidak ada lagi tunjangan transport bagi karyawan, tidak ada lagi tunjangan kesehatan ataupun asuransi perlindungan kecelakaan kerja bagi karyawan, dan yang terpenting tidak akan ada pesangon bagi karyawan yang terkena PHK.  Total pengeluaran uang untuk penggajian karyawan dan buruh pabrik tidak boleh lebih dari 9% dari total omzet perusahaan yang dihitung dalam rupiah.  Semua itu dilakukan demi sehatnya  rasio perputaran modal perusahaan.  Perusahaan ini membutuhkan banyak uang untuk mengembangkan dan memperluas investasi.  Walaupun nilai ekspornya demikian besar, karena produk yang dihasilkan bakal diekspor ke seluruh Eropa, Amerika, Afrika dan Australia, namun si bos masih belum juga merasa puas.  Ekspansi perusahaan harus selalu dilakukan, karena pesaing yang semakin bertambah memperebutkan segmen pasar yang sudah ada, sementara angka pertumbuhan konsumen tidak banyak mengalami perubahan.
Lama juga ia berpikir.  Akhirnya ia pun mengutak atik nilai jual per item jenis barang yang akan dituliskan dalam dokumen ekspor, juga kuantitas barang per satuan peti kemas.  Kalau seharusnya setiap peti kemas yang berukuran 40 feet, idealnya bisa mengangkut 400 buah barang dengan jenis item yang sama, kini ia harus mencantumkan nilai fiktif yang akan tertera di dokumen ekspor.  Jumlah yang ditulisnya tidak tanggung-tanggung, hanya 150 buah barang.  Jadi bisa dibayangkan berapa nilai selisih keuntungan dari penggelapan pajak yang akan didapat.  Sungguh jumlah fantastis yang tidak sedikit.  Belum lagi nilai nominal jual per item yang selalu dipalsukannya.  Kalau harga per item barang di pasaran ekspor dunia bisa mencapai US $ 150, nilai nominal yang dituliskan dalam dokumen ekspor cukup hanya US $ 25 untuk menghindari beban pembayaran pajak.  Si bos bahkan kabarnya begitu lihai dalam menangani dokumen letter of credit fiktif dan bill of lading yang asli tapi palsu.  Tak heran si bos bisa membeli sebuah mobil mercedes benz warna hitam, sementara para karyawan dan buruh yang bekerja di perusahaan itu kebanyakan bertubuh kurus kering, bermata cekung dan sering sakit-sakitan.  Bagaimanapun, buruh hanyalah sebagai alat produksi, target keuntungan jauh lebih penting daripada kesejahteraan para buruh, demikianlah kebijaksanaan yang berlaku di perusahaan itu selama bertahun-tahun lamanya.  Kalau pun ada inspeksi pajak, semua itu selalu bisa diakali, cukup dengan berkolusi dengan petugas audit maka semua urusan akan beres.
Semua staf karyawan tidak perlu tahu bagaimana sebenarnya kondisi keuangan perusahaan.  Walaupun untung besar, namun karyawan hanya perlu tahu bahwa perusahaan sedang dalam kesulitan ekonomi karena nilai penjualan tidak sebagus yang diperkirakan.  Semua drama dan sandiwara itu begitu cemerlang dimainkan sehingga hampir seluruh karyawan dan buruh percaya saja akan kondisi keuangan perusahaan yang tidak begitu bagus.  Seluruh pembayaran dan transaksi ekspor yang menyangkut sejumlah uang langsung ditangani oleh si bos.  Walau pun sebagai staf keuangan dan pengurusan dokumen ekspor, Toni tidak pernah tahu berapa sebenarnya nilai nominal transaksi yang sebenarnya.  Ia hanya dapat membayangkan jumlah nominal yang sangat besar.  Demikian banyak jumlah angka nol yang menghiasi digit nilai nominal keuntungan keuangan perusahaan.  Keuntungan yang diperoleh dari memeras keringat dan darah orang lain, keringat dan darah para pekerja buruh yang bekerja di perusahaan itu.
Konon kabarnya si bos mempunyai begitu banyak rekening di luar negeri.  Mulai dari rekening rahasia di sebuah bank di kepulauan Cayman, hingga rekening rahasia di sebuah bank di Swiss dan Monaco, surganya para jutawan yang ingin menghindar dari kewajiban membayar pajak.  Bahkan si bos rela menjadi warga negara negeri ini demi mendapatkan kemudahan bisnis dan kemudahan penggelapan pajak yang sudah bukan rahasia lagi terjadi di negeri ini.
“Persetan ! Peduli amat aku dengan status kewarganegaraan si bos !”
“Yang penting aku bisa bertahan dengan posisiku sebagai staf keuangan di perusahaan ini,” demikian gerutu Toni kepada dirinya sendiri.
Percuma saja aku membongkar seluruh konspirasi busuk ini !  Toh, si bos mempunyai begitu banyak koneksi dan perlindungan dari banyak pihak.  Konon bahkan si bos mempunyai banyak relasi staf kedutaan besar negeri ini di luar negeri.  Ia demikian mudah memperoleh ijin dan kemudahan melakukan pameran produk di luar negeri.  Bahkan beberapa oknum staf kedutaan negeri ini mati-matian berusaha mendapatkan kesempatan untuk mempromosikan produk perusahaan ini melalui beberapa pameran di luar negeri atas nama kantor kedutaan, tentunya demi mendapatkan sejumlah komisi dari si bos yang terkenal royal kepada para kolega dan rekan bisnis, namun sangat pelit dan cenderung berlaku kejam terhadap staf dan karyawan yang telah lama mengabdi di perusahaan ini sejak bertahun-tahun yang lalu.
Masih kurang beberapa lembar arsip dan dokumen serta laporan keuangan yang harus dipalsukannya.  Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan ia masih harus mengawasi pemuatan barang ke dalam kontainer peti kemas sebelum diberangkatkan malam ini.
“Aku harus cepat-cepat, bisa-bisa aku menginap semalaman di kantor seperti yang sudah-sudah,” gerutu Toni dalam hati.
Akhirnya semua pekerjaan terkutuk itu selesai juga dikerjakan.  Toni pun pulang dalam keadaan capek dan tampang kuyu seperti biasanya.  Matanya semakin cekung karena terlalu banyak berpikir mengutak-atik angka-angka dan memikirkan alibi yang masuk akal.
“Sudah bertahun-tahun ini segala konspirasi busuk ini berjalan mulus tanpa seorang pun berusaha membongkarnya.  Jadi paling tidak aku aman-aman saja,“ demikian pikir Toni dalam hati.  Ia bergegas menuju pelataran parkir menghampiri mobil sedan warna putih yang diperolehnya sebagai hadiah dari bos atas segala jasanya membungkus rapi segala rahasia terkelam perusahaan berskala internasional ini.
Toni begitu lelah hari ini.  Begitu banyak kegiatan yang harus dilakukannya seharian ini, mulai dari menghubungi pihak jasa ekspedisi, perusahaan peti kemas, importir di luar negeri hingga begitu banyak kongsi leveransir yang bekerja sama dengan perusahaan ini.  Sungguh sebuah kebusukan yang terbungkus secara rapi dan profesional.  Semuanya berbalut profil perusahaan yang menyandang nama bonafid seakan tanpa cacat.  Setiap orang yang berada dekat dengan si bos selalu bersumpah setia untuk membungkus dan menutup setiap celah rahasia perusahaan rapat-rapat.  Tentunya dengan imbalan sumpalan uang bergebok-gebok ke mulut setiap orang yang terlibat.

* * *

Keesokan paginya begitu banyak polisi datang ke lokasi kantor dan pabrik di perusahaan tempat Toni bekerja.  Saat ia baru saja turun dari mobil, dua orang polisi langsung menghampirinya dan membacakan surat penahanan atas dirinya.  Di kejauhan tampak beberapa polisi lain sedang memborgol rekan-rekan kerjanya.  Mereka semua didakwa terlibat atas kejahatan persekongkolan penggelapan pajak yang telah merugikan negara, pembalakan liar, dan penyelundupan furnitur ke luar negeri.  Namun dari sekian banyak orang yang terlibat dan ditangkap, tidak satu pun yang melihat keberadaan si bos yang mendalangi semua ini.   Mungkin pria bermata sipit itu sudah lari ke luar negeri.  Bukankah orang seperti dia selalu saja mempunyai begitu banyak mata dan telinga serta begitu banyak pihak yang akan dengan setia melindungi dan menyembunyikan keberadaannya demi segepok uang rupiah ?  Memang hanya orang-orang pribumi bodoh seperti Toni yang selalu dikorbankan menjadi kambing hitam sebagai tumpuan atas semua tuduhan dan kesalahan.  Orang-orang ini hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak orang yang berada di bagian terluar cincin konspirasi yang sesungguhnya.  Tak ada seorang pun yang bisa menyentuh cincin terdalam dan  otak dari konspirasi, karena sesungguhnya mereka-mereka itu seakan tidak akan pernah tersentuh oleh jerat hukum di negara mana pun.  Itulah kekuatan uang, bisa membungkus rahasia yang paling busuk sekalipun !

Tokoh-tokoh dan kisah cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata.  Bilamana ada kemiripan nama dan kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan saja !

Tinggalkan Komentar