KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Karena Aku Manusia

Bukan yang Lain
aku mengais diantara tumpukan
hati yang beku
berharap kutemukan satu hati itu
bukan yang lain
berseraknya hati,
berkepingnya patahan ini,
kuingin kau yang perbaiki,
bukan yang lain

***

 

Aku ingin menikah. Keinginan manusiawi dari seorang perempuan biasa. Atau biasa kusebut “panggilan alam”. Tapi… Ah, memang akan selalu ada kata “tapi”!

Hampir bersamaan dengan anganku, aku bertemu seorang lelaki. Fathir Al-Kazim namanya. Imigran asal Iran yang gagah, agamis, tampan dan berwibawa. Kulitnya putih bersih. Ayahnya Jerman, dan ibunya asli Damaskus, Syria. Hanya saja.. ia terlahir dan besar di Teheran, Iran.

Bahasa Indonesianya cukup lancar. Walau kadang masih ada kata dari bahasa Arab yang keluar dari bibir lembutnya. Sudah tiga tahun ia tinggal di Indonesia. Kesehariannya hanya mengecek keadaan perusahaan milik ayahnya yang dipegang oleh orang kepercayaan.

Setiap kali dingin meraba malam dalam dinding-dinding bisu rumah sakit ini merasuki tubuh kesepianku, susunan huruf F. A. T. H. I. R. itu kembali menggetarkan tubuh seperti tersengat aliran listrik beberapa watt. Antara benci dan cinta. Terlalu tipis batasnya.

***

Sejak kedua orang tuaku–yang tinggal di desa–meninggal, kuputuskan untuk berhenti menjadi PSK. Hidup ini dinamis. Maka, aku juga harus berubah!

Aku mendaftarkan diri pada sebuah agen penyalur Penatalaksana Rumah Tangga (PRT) beberapa tahun lalu. Mudah, murah, dan tanpa syarat yang terlalu rumit seperti lamaran untuk pabrik. Cukup dengan ijazah Sekolah Dasar dan kartu kuning, aku bisa mendaftar. Tak ada legalitas formal lainnya yang terlalu memberatkan.

Nilai ijazahku tak menjadi kriteria pasti. Yang terpenting, aku bisa melakukan pekerjaan ibu rumah tangga. Tak terlalu soal. Aku memang tipe perempuan yang suka mengerjakan apa-apa sendiri.

Baru satu bulan aku mendaftarkan diri pada agen tersebut, ada request pekerja dari sebuah rumah. Mas Fathir itulah yang jadi majikanku.

***

Dalam rumah besar itu, aku adalah satu-satunya pekerja perempuan. Empat pekerja lainnya laki-laki. Mas Heri sebagai supir, mas Supri yang tukang kebun, mas Darman yang tukang bersih-bersih rumah, terakhir mas Malik sebagai asisten pribadi mas Fathir. Sedangkan aku, tugasku memasak dan mencuci baju-baju milik mas Fathir.

Entah nasib baik atau buruk, dua tahun sebelum izin tinggalnya di Indonesia habis, tiba-tiba mas Fathir meminta aku untuk menikah dengannya.

Aku? Kenapa? Pertanyaan itu tak henti mengudara. Lalu hilang. Tak pernah ada jawaban. Padahal mas Fathir pernah kuceritakan masa laluku yang kelam.

Aku tak menolak. Walau ada kesepakatan diawal: menikah dalam masa dua tahun. Dengan kata lain, kami kawin kontrak. Ritual yang menjadi kebiasaan warga pendatang, khususnya Timur Tengah.

Keinginan untuk merasakan menjadi seorang istri yang syah walau dua tahun saja, berkelebatan dihati. Itu sebabnya aku mau. Selain nilai kontrak yang amat menggiurkan: tiga ratus juta. Ah, taubatku masih setengah hati!

Dari namanya, tentu saja mas Fathir Islam. Penganut Islam seperti di negara kelahirannya. Aku pernah mendengar cerita dari Bapakku dulu sekali, ketika aku masih kecil.. katanya, sejak kemenangan Ayatullah Ruhullah Khomeini–yang posternya terpajang di dinding kamar Bapak–, Ulama Syi’ah Iran berhasil menumbangkan kekuasaan syah Iran yang dinilai kurang baik saat itu. Banyak pemuda-pemudi Islam pada jaman itu, simpati atas kemenangannya, dan menjurus menjadi simpati terhadap ajaran mereka. Nikah mut’ah atau lebih dikenal dengan kawin kontrak dihalalkan. Itu lebih baik daripada berzina. Begitu salah satu alasannya.

Awalnya aku heran.. kenapa mas Fathir memilihku? Padahal, aku sangatlah yakin kalau diluaran sana banyak perempuan metropolitan lainnya yang tergiur tawaran itu. Bahkan aku juga sangat yakin, banyak perempuan yang rela tak dibayar sepeserpun demi tinggal dengan mas Fathir sang Miliarder yang tampan itu.

Kutandatangani surat perjanjian kontrak.

***

Rumah yang terdiri dari dua lantai, enam kamar utama, dan kolam renang berukuran 5×10 meter itu jarang ditempati Abi dan Ummi-nya (begitulah mas Fathir menyebut orangtuanya saat kutanyakan perihal keberadaan mereka). Mereka sering keluar negeri untuk urusan bisnis. Aku juga belum pernah bertemu mereka. Tak ada satupun foto di dinding rumah itu. Aneh. Aku melihat foto mereka dalam album keluarga yang pernah mas Fathir tunjukkan padaku.

Masalah do’a restu dari kedua orangtuanya, tak jadi soal. Restu didapat lewat telepon. Mereka setuju saja. Ketika ditanya siapa calonnya, tentu saja mas Fathir tak memberitahukan bahwa sebenarnya aku ini khadimah.

Salah satu ruangan yang menjadi tempat favorit mas Fathir adalah perpustakaan pribadi. Ia punya waktu-waktu khusus untuk membaca di ruang tersebut.

Suatu hari aku pernah masuk ke sana. Dua lemari setinggi pintu dengan panjang dua meter lebih, padat dengan buku-buku. Kebanyakan buku-buku tebal dengan tulisan Arab.

Di dindingnya juga ada beberapa poster berbingkai indah. Nampak terawat. Tulisan Arab dengan sakel tertulis: Al-Husain Asy-Syahid, Muhammad Al-Baqir, Ja’far As-Shadiq, dan lainnya.

Poster yang paling menyeramkan,–dengan tulisan Al-Husain Asy-Syahid–adalah gambar seorang bocah lelaki tanpa kepala yang dipangku seorang lelaki, sedangkan puluhan orang lainnya menangis. Ada kesedihan mendalam di mata orang-orang itu. Seolah aku dapat merasakan mereka menjerit, meraung, meratap, dan beberapa orang berdarah-darah melukai diri mereka dengan mencambuki dirinya sendiri.

Aku pernah bertanya pada mas Fathir perihal gambar itu. Ia lalu menceritakan sejarah singkat perang Karbala yang menewaskan cucu kesayangan baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, Husein. Saat bercerita, air matanya berurai. Seolah ia baru mengalami peristiwa itu. Jubah putihnya tertetesi air mata. Aku terharu.

Sejak itu, aku sangat tertarik untuk memperdalam ilmu agamaku padanya. Ia selalu mengajariku dengan caranya yang paling kusukai: tidak terkesan menggurui. Kadang sambil makan di meja makan, kadang sambil bercanda sebelum tidur, dan saat-saat kami berdua lainnya, tanpa mengurangi tingkat kemesraan.

“Perempuan itu tiang agama. Ummul madrasah. Jadilah kau Fatimahku..” begitu katanya suatu hari. Lalu kubaca sirah Fathimah radiallahu anha.

Begitu banyak pencerahan bathin. Tiba-tiba memberiku inspirasi untuk berkerudung.

Mas Fathir bilang, “Alhamdulillah, kau dapat hidayah!!”

***

Tahun pertama pernikahanku.. aku masih dan selalu menganggap nasibku beruntung. Sangat beruntung, malah. Bagaimana mungkin seorang pembantu bisa menjadi istri dari majikannya sendiri?

Aku tak pernah mendapati sedikitpun kejanggalan dalam diri mas Fathirku ini. Shalatnya rajin sekali. Beberapa malam ia mengajakku qiyamul lail. Akhlaknya sebagai seorang muslim cukup terjaga. Ia selalu memperlakukan semua pekerjanya dengan baik. Bahkan menurut pengakuan mas Darman, mas Supri, mas Malik, dan mas Heri.. ia tak pernah terlihat marah pada mereka. Mereka malah merasa dimuliakan. Mas Malik pernah cerita, katanya, saat belum menikahiku, ia tak pernah terlihat membawa seorangpun perempuan ke dalam rumah.

***

Mendekati tahun kedua, aku mengandung.

Di masa kehamilanku, mas Fathir selalu menjagaku dengan baik. Ia tak pernah mengizinkanku untuk bekerja sedikitpun. Bila biasanya setiap pagi aku buatkan susu cokelat kesukaannya, maka dialah yang mengerjakan hal kecil itu.

Saat hari kelahiran tinggal menghitung hari, mas Fathir selalu di rumah. Menjaga dan merawatku. Ah, aku bahagia sekali. Apalagi bayi perempuan yang kulahirkan ternyata lucu dan menggemaskan. Mas Fathir sangat berterimakasih padaku. Katanya, ia memang menginginkan bayi perempuan.

“Aku akan menjadikanmu akhwat sejati.. seperti ibumu!” kata-kata riang mas Fathir sambil menimang Shameela, anak kami.

***

Dua hari lagi masa kontrakku habis.

Dulu aku tak berfikir panjang tentang kelanjutan hidupku setelah dua tahun. Awalnya, logikaku hanyut dalam tiga ratus juta yang mas Fathir janjikan. Namun kemudian.. perhatian, kasih sayang dan segala kebaikannya yang ia berikan padaku dengan tulus, membuatku benar-benar menenggelamkan logikaku. Tiba-tiba, kepalaku dipenuhi rasa takut!

Mas Fathir mengajakku membuat rekening. Dia menyerahkan buku tabungannya padaku. “Ini, tiga ratus lima puluh juta. Sengaja kutambahkan. Afwan, bila selama ini aku ada salah. Shameela akan kubawa ke Damaskus. Sesuai perjanjian kontrak, aku yang bawa anak kita, kan?” ia berkata seolah tanpa rasa bersalah sedikitpun.

DEG.

Bukannya tak ingat. Tapi perasaanku merasa berat. Bayi sembilan bulan yang telah kukandung ini akan dibawa pergi begitu saja? Aku tak rela! Aku yang melahirkan! Mempertaruhkan hidup dan matiku! Ingin sekali rasanya aku protes padanya. Tapi setiap kali kata-kata itu ingin kuucap, bibirku beku. Entahlah!

Perasaan rapuhku terus berkelebat. Menyakiti hatiku dengan hebat. Tiga ratus lima puluh juta yang kupegang tak mampu menenangkan bathinku yang berkarat. Nyanyian cinta yang cengeng selalu membuatku berurai air mata. Kututup kedua telinga, atau teriak juga berontak: “KEMBALIKAN KEBAHAGIAANKU!!” lalu tiga orang dengan pakaian serba putih di rumah sakit jiwa ini akan mengikatku, kemudian menyuntikkan cairan ke tubuhku hingga aku tak sadarkan diri.

***

Tahun kelima, terapi pesantren yang sedikitnya memulihkan kejiwaanku. Aku juga baru menyadari kalau Mas Darman ternyata mencintaiku diam-diam. Ia baru berani mengungkapkannya belakangan. Setelah perhatiannya padaku selama setahun terakhir.

Entahlah, aku menyimpan perasaan apa pada mas Fathir? Orang yang telah merubah hidupku. Yang memberi pemahaman tentang makna kebahagiaan yang sebenarnya.

Aku kembali menata diri. Kembali memperbaiki dan melanjutkan taubatku yang setengah hati. Aku terus berdo’a, menahan pandangan untuk menentramkan jiwa, menyibukkan diri dengan ta’lim, mencari cela agar ada alasanku untuk membenci mas Fathir.. tapi semua nihil! Entah kenapa? Pertanyaan itu tak berhenti.

Akhirnya.. di musim hujan tahun keenam, aku bersua dengan jawaban. Apakah itu? Karena aku adalah manusia. Makhluk berhati.

***

One Response to “Karena Aku Manusia”

  1. on 09 Oct 2007 at 13:16albanna

    Salam!

    Tulisan yang bagus…

Tinggalkan Komentar