Jejak-jejaknya yang Telah Pergi
Agustus 17th, 2007 by Irwan Juanda
“Mimpi itu lagi…”, katanya setelah terbangun.
Mimpi yang sama…
Dan terus menerus…
Dimanakah logika?
Yang mampu menyadarkanku dari hal ini…
Dimanakah ketika?
Yang mampu mengingatkanku akan semua yang sudah kulewati…
Maka pemuda itu hanya bisa melanjutkan harinya. Tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu-satunya yang dia ketahui, hanyalah kemungkinan kalau dia akan bermimpi seperti yang sebelumnya lagi.
Dia membuka pintu rumahnya. Dan begitu melihat sosok yang berdiri di depannya itu, dia terhenti tanpa berani melangkah keluar.
Apakah aku masih di dalam mimpi?
Pasti ini mimpi!
Kalau tidak, mana mungkin dia ada di sini…
“Halo, pangeran saljuku…”, kata gadis itu sambil tersenyum manis.
Dialah Putri Langit Senja, yang datang bersama kelamnya malam. Dan tenggelam bersama runtuhnya siang hari.
“Bagaimana mungkin?”, pemuda itu tidak percaya.
“Percayalah. Ini bukan mimpi, ini nyata…”, kata gadis itu berusaha meyakinkan lelaki di depannya itu.
“Tapi-“, pemuda itu semakin mematung melihat gadis itu mendekat padanya.
“Kenapa? Apa yang kau takutkan?”, gadis itu mengusap pipi lelaki itu.
Dingin…
Seperti es tajam yang menghujam di hatinya…
“Kamu sudah meninggal…”, kata pemuda itu gemetar.
Dan meninggal berarti mati…
Dan mati berarti terpisah, lalu bagaimana mungkin kita bisa bertemu lagi…?
“Itu karena kamu juga sudah meninggal…”, jawab gadis itu datar, dan membeku. Mengerikan.
Pemuda itu terbangun. Dengan peluh membanjiri tubuhnya. Dan ketika dia menengok, dia menemukan ibunya di sisi kirinya. Ayahnya, adiknya, teman-temannya. Hanya gadis itu yang tidak datang. Hanya dia…
“Dimana dia?”, Tanya pemuda itu tidak sabaran. Dia melihat keluar jendela, dan menemukan langit sudah hampir senja. Seperti waktu itu, mimpinya yang itu.
“Tenang saja, dia akan datang sebentar lagi.”, kata salah seorang temannya.
“Jangan! Dia tidak boleh datang!”, hardik pemuda itu sambil mengambil telepon genggamnya dan mulai menelepon.
Jarinya bergetar hebat…
Seperti semua mimpi yang sekelebat itu muncul kembali dalam hatinya…
“Halo, ada apa?”, Tanya gadis itu di ujung telepon.
“Tolong! Tolong jangan datang ke sini! Tetap di rumah saja! Tidak usah menjengukku!”, perintah pemuda itu tegas.
“Memangnya kenapa, sayang?”, gadis itu bertanya kebingungan.
“Pokoknya jangan!”, bentak pemuda itu sambil menangis.
“Tapi, aku sudah mau sampai…”, balas gadis itu ragu-ragu.
Belum sempat pemuda itu berkata apa pun lagi. Terdengar suara teriakan melengking di ujung telepon. Dan suara dentuman keras, benturan antara kendaraan yang melaju kencang dengan tubuh manusia yang lemah. Dan kemudian yang terdengar hanyalah bising gemuruh.
Teriakan-teriakan dari dalam hati yang tak rela…
Membuat segalanya terasa tidak nyata…
Sampai akhirnya, mimpi dan kenyataan…
Tidak bersekat lagi, membaur dan saling menimpa…
Dan pemuda itu terbangun. Menemukan gadis itu duduk di sisi ranjangnya. Sedang mengupas sebuah apel yang merah segar. Untuk dirinya.
Buru-buru pemuda itu bangkit dan memeluk kekasihnya itu, “Maafkan aku! Tapi tolong jangan pernah pergi dariku! Tolong…”, pintanya memohon. Tidak memikirkan harga dirinya lagi.
“Hei, ada apa denganmu?”, gadis itu meletakkan apel itu dan balas merangkul pundak kekasihnya itu. Berusaha menenangkannya dengan cinta yang tulus.
Aku bermimpi…
Tentang mimpi, tentang hilangnya dirimu…
Dan aku terbangun lagi, tetapi masih bermimpi…
Dan mimpi itu tetap sama,
Aku kehilangan dirimu…
“Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja…”, gadis itu mengusap lembut rambut kekasihnya itu.
“Berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi dariku.”, tukas pemuda itu sungguh-sungguh.
Aku berjanji akan selalu berada di sisimu,
Tapi aku tidak berjanji kalau kau akan selalu bisa melihatku…
Dan pemuda itu tertidur kembali. Merasakan ciuman hangat di keningnya. Dan tidak lama kemudian, dia terbangun lagi…
Tergopoh-gopoh, dia berjalan menuju lemari kecil itu. Membuka isinya dan mengambilnya keluar, meletakkannya tegak dan gagah di atas meja. Agar seluruh dunia bisa melihatnya.
Sebuah bingkai tentang memori…
Sebuah kenangan yang hanya meninggalkan mimpi…
Dia memandang foto gadis itu sekian lamanya. Air matanya jatuh, menggenang, dan menguap, dan mengalir, dan bermuara, ke ujung hatinya yang sobek itu.
Akhirnya semuanya tinggal jejak belaka…
Yang harus bisa diterima, walaupun sulit dan durhaka…
“Aku berjanji, pasti bisa menerima kepergianmu…”, gumam pemuda itu pilu, “Supaya kau bisa bahagia…”
Aku berjanji,
Menerimamu apa adanya…
Bahkan janjiku sekuat itu,
Sampai bisa menerimamu yang pergi…
Menerimamu yang mengingkari janjimu…