KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Epilog dari Laut

Aku melihatnya seperti sosok dalam perut ikan. Duduk menelungkup dengan air mata yang mengalir tiada henti. Entah bersembunyi dari apa, dari siapa. Sang ikan sendiri sepertinya nyaman-nyaman saja mengandung sosok sedih itu selama hidupnya. Walaupun ia tidak pernah tahu bentuk sosok itu, tapi ia merasakan kehadirannya, bahkan sejak ia keluar dari telur.

Mereka besar bersama. Tapi suatu kali, ikan itu merasakan perutnya sakit sekali. Sebenarnya ia sudah merasakan sakit itu sejak di dalam telur. Tapi, karena kecintaannya terhadap sosok itulah yang membuatnya bertahan. Ikan itu tidak lagi merasakan adanya kehidupan dalam perutnya. Tentu saja, karena sosok itu memang telah mati. Mati karena kesedihannya. Mati karena enggan keluar dari perut ikan. Mati karena berhenti untuk hidup. Dan si ikan karena kesedihannya yang teramat dalam karena kehilangan saudara satu perutnya, ikut mati. Air mata yang selama ini membanjiri ruang perutnya menenggelamkan sosok itu hingga tidak bisa bernafas. Dan air mata itu menyusup keluar lewat kedua mata sang ikan. Awalnya mengalir pelan, lalu beberapa detik kemudian, seperti tanggul yang jebol, air mata itu melemparkan mata si ikan keluar. Dan setelah mengalir habis, tubuh ikan itu berhenti bergerak. Diam. Mati.

Saat aku menemukannya seminggu kemudian, sang ikan sudah kering seperti gerih para nelayan dengan baunya yang menyengat. Dan begitulah ombak bercerita padaku. Perjalananku menyusuri pantai ini sungguh di luar dugaan. Sebuah cerita yang memilukan. Kalau suatu hari kau pergi ke pantai dan menemukan bangkai ikan, periksalah. Siapa tahu di dalamnya ada sosok yang tertinggal di dalamnya, dan kau akan menemukan cerita yang lain.

Jepang, 14 Juni 2004
one day in beginning of summer
pada sebuah pantai

Tinggalkan Komentar