KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cinta Putih Bersayap Kematian

Pada musim panas daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan berserakan di halaman. Albert terkejut saat memasuki halaman rumahnya dan melihat pohon itu meranggas di senja hari. Ia terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan berserakan begitu sempurna di bawahnya.

Albert berharap Nadine berada di dalam rumah. Tapi kenapa senja itu begitu sunyi. Tidak seperti tahun-tahun lalu ketika ia pulang dari berlayar, halaman rumahnya selalu bersih, rapi, dan indah. Pintu rumah dan jendela-jendela terbuka lebar seakan tersenyum melihat kedatangannya di suatu senja. Ya, tidak seperti tahun lalu ketika ia pulang, Nadine akan berlari-lari kecil dari dalam rumah sembari berseru: suamiku! Lantas merengkuh tubuhnya dalam pelukan hangat penuh kerinduan. Suatu penyambutan yang diharapkan dan akan membuat laki-laki mana pun bangga sebagai seorang suami. Satu sambutan yang layak dilakukan oleh setiap istri dikala suaminya pulang mencari nafkah.

Albert mengedarkan pandangannya ke pintu rumah serta jendela-jendela yang tertutup rapat. Matanya menyusur pada setiap sisi rumahnya yang dirayapi lumut dan di sekitarnya ditumbuhi rumput-rumput liar. Suasana senja itu membuat ia dirundung pertanyaan-pertanyaan yang terus berkelindan dalam pikirannya: Benarkah kabar-kabar tentang Nadine yang berseliweran itu? Benarkah Nadine telah merajut cinta bersama seorang pemuda kaya lantas melenggang pergi entah kemana? Benarkah Nadine tega menghianati cintaku? Mungkinkah aku akan bernasib sama dengan temanku, saat di tengah lautan ganas atas nama cinta, istri yang ditinggalkan sementara waktu justru berselingkuh dengan laki-laki lain? Alam seperti ingin menjawab dengan isyarat angin yang berhembus kencang.

Akhirnya, setelah memastikan Nadine tidak berada di rumah ia memutuskan segera kembali ke dermaga di mana kapalnya berlabuh. Albert membalikkan tubuhnya sambil menjinjing kopernya dan mengucapkan selamat tinggal pada pohon delima itu yang tampak kesepian dan terlupakan. Ia melangkah dan merasakan ada sesuatu menelusup dalam, sebuah kehampaan yang mendera dan membuatnya merasa terpuruk. Bayangan Albert hilang di kelokan. Sebutir buah delima yang ranum berkilau-kilau di bawah matahari senja tertinggal di pohon.

***

Nadine sedang membersihkan dedaunan pohon delima yang terserak di halaman rumahnya. Ia membereskan segala sesuatu yang membuat rumahnya tampak kotor. Rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai dan diusik angin. Sengaja ia tak memotong rambutnya sebab ia tahu Albert sangat menyukai rambut yang panjang. Karena rambutnya itu, ia selalu mendapat pujian dari suaminya yang membuatnya merasa tersanjung dan bahagia. Nadine telah berjanji tak akan memotong sehelai pun sebelum suami yang dicintainya itu pulang. Nadine menunjukkan bagian lain kesetiaannya yang pantas dikagumi. Bukankah kesetiaan sangat sulit ditemukan di zaman edan seperti saat ini.

Di balik geraian rambutnya, masih tersisa rasa berkabung di wajahnya yang cantik. Memang, selama beberapa bulan terakhir ini ia terpaksa tinggal di Malabis, puluhan mil dari Albies daerah tempat tinggalnya itu. Di sana ia menghabiskan waktu untuk merawat ibunya yang jatuh sakit sampai pada akhirnya orangtuanya itu meninggal dunia.

Nadine membuka pintu rumah dan jendela lebar-lebar. Membiarkan cahaya senja menerobos masuk ke dalam rumahnya. Supaya ia bisa melihat Albert di kejauhan kalau saja suaminya itu berjalan pulang dari berlayar. Nadine didera perasaan rindu yang setiap saat dantang mengelus lembut hatinya. Betapa Nadine mendamba kecupan mesra suaminya itu. Nedine ingin merasakan lagi hangat pelukan suaminya dengan napas yang memburu. Cukup lama ia tak pernah menikmati rasa serupa itu. Sungguh Nadine tidak tahu, bahwa Albert pernah datang pada senja yang lain. Dan barangkali ia tidak akan pernah tahu. Ya, bukankah hidup penuh dengan kebetulan-kebetulan?

***

Suatu hari, satu tahun kemudian, Nadine mengantar ayahnya ke stasiun kereta tujuan Malabis, setelah bebarapa hari terakhir ini ia merawat ayahnya pada seorang dokter untuk mengobati penyakit paru-paru yang diderita ayahnya akibat kecanduan rokok. Setelah itu Nadine menyempatkan diri mampir di sebuah kedai minuman membeli beberapa botol Wisky untuk menyambut hari Natal. Seperti tahun-tahun lalu, ia memastikan Albert akan datang untuk merayakan Natal bersama. Kali ini ia ingin menyambut kedatangan suaminya dalam suasana romantis. Tentu Albert akan bahagia dan memuji kesetiaan cintanya yang tak tergerus apa pun. Ya, Nadine adalah perempuan kebanyakan yang menyukai pujian dari seseorang yang dicintai.

Sementara itu, Albert telah berdiri di depan pintu rumahnya. Ia melangkah tenang masuk ke dalamnya. Sepi. Tak ditemuinya Nadine. Dan betapa terkejutnya ia ketika matanya tertuju pada asbak di atas meja yang sisinya ditenggeri satu puntung rokok. Begitupun ketika ia melangkah masuk ke kamar, Albert menemukan lagi sisa rokok di pojok ruang. Seketika perasaan cemburu menusuk. Jantungnya bertalu-talu. Tubuh Albert bergetar hebat oleh emosi tak terkendali. Bayangan Nadine bersama seorang pemuda terlintas di benaknya. Kini Albert betul-betul percaya pada cerita-cerita buruk tentang istrinya yang sengaja disebarkan oleh orang-orang yang iri hati melihat kesetiaan mereka.

Albert menuju ruang tamu dan duduk bersandar di sofa. Matanya awas menatap puntung rokok yang terselip di asbak itu dengan wajah merah dan kaku. Tangan Albert bergerak merogoh sepucuk pistol dari dalam kopernya. Sampai terdengar derap sepatu melangkah semakin mendekat, yang ritme langkahnya sudah sangat akrab di telinga Albert. Lalu, pelan ia arahkan pistol itu ke pintu. Kini Nadine telah berdiri di depan pintu bersamaan dengan letupan pistol:

Dor!

Semuanya bergema bersama musik: And when you leave me…

One Response to “Cinta Putih Bersayap Kematian”

  1. on 27 Jun 2008 at 13:47Blankzoul

    KOK GA LANJUT SEH…………………………..

Tinggalkan Komentar