KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Budaya sekolah yang terjadi dewasa ini, sebenarnya telah membudaya beberapa puluh tahun yang lalu. Sehingga dampaknya, adalah siswa-siswa yang pada zaman dulu, yang sekarang telah duduk di pemerintahan tidak peka terhadap masalah, lebih senang tutup mulut, senang korupsi, senang mengurus hal-hal yang kecil.

            Contohnya adalah budaya sekolah dewasa ini yang lebih menekankan hal-hal yang terlihat daripada peningkatan mutu sekolah. Seperti peraturan harus memakai sepatu hitam, harus memakai ikat pinggang, dan aturan-aturan tetek bengek yang tidak penting lainnnya. Di sisi lain, pihak sekolah sangat teramat sulit untuk diminta bantuan dananya ketika ada siswa yang berniat mengembangkan kreativitasnya. Misalnya berniat membuat film, atau mengadakan pameran robotik. Alasan pihak sekolah bermacam-macam, dari yang tidak ada dana, sampai dananya sudah habis terpakai untuk hal-hal lainnya. Dari sinilah siswa-siswa mencontoh perilaku pihak sekolah, pada saatnya nanti, siswa-siswa yang telah dewasa yang telah menduduki kursi pemerintahan akan bersikap sama seperti apa yang telah dilihatnya di sekolah dulu.

            Mengurusi hal-hal kecil juga adalah kesenangan pemerintah akhir-akhir ini. Seolah itu adalah pelarian dari masalah-masalah yang besar yang melanda negeri ini. Simaklah ketika Bush datang ke Indonesia tanggal 20 November 2006, pemerintah menyiapkan uang sebanyak 6 milyar untuk membuat landasan pacu baru, lalu kasus skandal seks anggota DPR yang terlalu dibesar-besarkan, juga masalah poligami seorang uztads ternama yang terlalu dipusingkan. Masalah-masalah korban lumpur Porong, gempa bumi Yogya, tsunami Aceh, kesejahteraan masayarakat, pelayanan kesehatan yang masih minim dan pelaksanaan pendidikan yang simpang siur menjadi terlupakan. Ini benar-benar kesalahan yang nyata. Mereka, para wakil rakyat kita tentunya mencontoh sikap-sikap yang berlaku saat mereka masih menjadi siswa.

            Budaya mensontek yang dilakukan para siswa juga mempengaruhi untuk pribadi mereka ke depannya. Misalnya saat siswa mensontek, teman-teman yang tidak mensontek tidak melaporkannya pada pihak pengawas. Juga, pihak-pihak pengawas yang menulis berkar berita acara dengan catatan bahwa ujian berjalan lancar dan baik-baik saja. Seolah pura-pura tidak melihat jika ada siswa-siswa yang mensontek. Seharusnya pihak pengawas menulis mereka yang mensontek tanpa memperingatkan mereka. Tetapi, yang terjadi adalah karena alasan hati nurani, mereka tidak melaporkan pihak-pihak yang mensontek atau bisa juga malah memperingatkan para siswa agar tidak mensontek. Hal itu malah membuat siswa yang mensontek merasa grogi dan tidak konsentrasi lagi mengerjakan soal. Tindakan yang benar adalah mencatat siswa yang mensontek tanpa memperingatkannya.

            Yang berlaku selama ini adalah yang salah. Banyak pengawas dengan alasan hati nurani membiarkan siswa mensontek atau memperingatkan mereka. Padahal itu sangat tidak manusiawi karena menyamakan nilai orang-orang yang curang dengan orang-orang yang jujur. Kalau dibiarkan mensontek, para siswa itu akan merasa nyaman dan aman-aman saja karena nilai-nilai mereka tidak dikurangi. Sehingga pada akhirnya, setelah mereka dewasa nanti juga akan merasa nyaman melakukan hal-hal yang salah dan tidak manusiawi. Contohnya budaya korupsi yang merajalela saat ini. budaya ini dibentuk sejak mereka, para wakil rakyat masih menjadi siswa dan dibiarkan melakukan perbuatan salah. Atau, meskipun sudah diketahui pihak lain tentang perbuatannya yang menyimpang itu, tetapi tidak ada tindak lanjut, orang tersebut pun akan merasa tenang-tenang saja.

            Begitu juga dengan siswa-siswa lain yang tidak mensontek yang tidak melaporkan perbuatan siswa lainnya yang mensontek. Hal ini akan membudaya di masyarakat, saat ada sesuatu yang salah, masyarakat tidak mau melaporkan pada pihak-pihak yang berwajib dan lebih memilih diam. Akibatnya, kejahatan merajalela hingga akhirnya jatuh korban, barulah masyarakat berbicara.

            Pihak-pihak sekolah yang selalu berkelit saat dimintai pertanggungjawaban dana sekolah juga mencerminkan budaya yang sejak kecil berlaku di lingkungan mereka. Padahal para siswa sudah membayar mahal tetapi tidak mendapatkan fasilitas yang memadai, minimal untuk pengembangan kreativitas. Siswa-siswa yang melihat hal itu akan mencontoh perilaku mereka saat para siswa itu dewasa nanti. Sama halnya seperti pemerintah saat ini yang tidak memberi pelayanan memadai pada masyarakat padahal masayarakat sudah membayar mahal untuk itu. Pemerintah juga enggan mendanai para ilmuwan, para atlet agar dapat berprestasi untuk menghasilkan karya-karya yang berguna bagi nusa dan bangsa.

            Inilah sebuah kesalahan fatal yang telah membudaya hingga saat ini. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa keberadaan sekolah bukanlah hanya sebagai ladang bisnis semata atau hanya ladang mencari ilmu atau mencari nilai atau bahkan hanya tempat mencari ijazah. Tetapi, sekolah juga merupakan contoh sebuah masayarakat kecil dan sebagai tempat pembentukan mental para peserta didik yang kelak akan mengemban tugas bangsa ini.

2 Responses to “Budaya Sekolah Mendasari Budaya Masyarakat”

  1. on 12 Sep 2007 at 14:13Dedeh Sariah

    tulisan yang cerdik, mengingatkan kita pada situasi sekarang

  2. on 29 Oct 2007 at 07:38Ray Vantuhesa Hakim

    sekolah pada dasarnya basarnya baik, hanya saja sekolah tidak bisa membentuk karakter personality dari seseorang, dalam sekolah kebanyakan yang diajarkan hanya berupa teory yang kurang praktis.

Tinggalkan Komentar