Berbagi Ginjal
Agustus 17th, 2007 by Arief Kurniawan
Sepulang kuliah, Rana langsung merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk. Matanya menerawang jauh menembus atap kamar. Pikirannya berlarian dengan liarnya, dalam benaknya masih teringat kejadian di kampus.
Siang itu, Luna, sahabat Rana, bercerita tentang masalah keluarga yang tengah ia hadapi. Luna bercerita, “ Ran, tau ga? Ibuku menyuruhku untuk membenci Bapak, padahal setauku Bapak ga punya salah! Sori, sudah agak lama aku menyimpan masalah ini dan tidak ‘ku ceritakan ke kamu. Sekarang, saat aku ngerasa sudah tak bisa lagi untuk bangkit sendiri, aku beranikan untuk cerita…”
Aku cuman terbengong. Selama ini setauku keluarga Luna baik-baik saja. Sikap Ibu terhadap Bapaknya pun wajar, kadang malah kelewat hormat! Luna pun sangat membanggakan kedua orang tuanya. Bagaimana tidak bangga kalau bapaknya aja dosen UGM dan ibunya seorang guru piano yang terkenal di kota ini? “Maksud kamu apa, Na..” tanyaku kebingungan. Sambil terisak pelan dan suara tertahan Luna menjawab, “Aku belum yakin dengan apa yang mau aku ceritakan. Kamu mau ga nunggu aku siap? Sekarang yang aku butuhkan dari kamu cuman satu… Tolong, jangan tinggalin aku ya!!” Aku makin kebingungan mendengar jawaban itu. “Na, aku ga akan ninggalin kamu. Apapun yang terjadi, kita tetap sahabatan, dan ga ada yang bisa misahin kita!!” tegasku.*** Ada apa dengan keluarga Luna, terlebih antara Pak Sujarwo dan Bu Tanti? Apakah Pak Sujarwo terlibat perselingkuhan seperti yang sekarang kerap terdengar berita semacam itu di mana-mana? Apakah Bu Tanti yang selingkuh? Ah, enggak mungkin, mereka itu kan orang-orang terpandang dan punya tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Atau ternyata Mas Wira, kakak Luna itu bukan kakak kandung Luna? Atau Luna yang bukan anak kandung mereka? Atau jangan-jangan… Ah, enggak ah. Aku ga boleh berpikiran macam-macam! Mendingan ngobrol dengan ibu saja daripada bingung sendirian gini, pikirku dalam hati.*** “Ibu…..Ibu, Ibu di mana??” panggilku mencari Ibu. “Ada apa, Mbak Ran? Ibu baru ke warung sebelah beli kecap. Ibu kan mau bikin kupat tahu kesukaanku…” teriak Dani, adikku yang super bandel. “Oo…. Lagi ngapain, Dan?” tanyaku singkat. “Ini, Dani ada tugas membuat motor-motoran dari sekolah. Terserah sih mau pake bahan apa. Dani milih bahan kertas, tapi ternyata susah Mbak. Gimana bikin rodanya ya?” tanya Dani setengah putus asa. “Ayo, kamu bisa…. Kalau usil aja bisa beraneka cara, berarti bikin motor-motoran harusnya bisa bikin lima model….Hehe..Ayo semangat!!!” kataku. Aku sengaja tidak menanggapi keluhannya, biar Dani tergugah sendiri dan ga patah semangat. Cara itulah yang dipakai ortuku kalo aku mulai terlihat putus asa! “Ran, adik bingung kok malah diledek… Mending kalo dibantuin apa dibuatin minum! Ya kan, Dan?” bela ibu tiba-tiba. Si Dani hanya tersenyum penuh kemenangan. “Ibu datang kok ga ada suaranya ya? Coba Rana liat kaki ibu napak apa enggak? Hehehe… Bu, Dani itu kalo ga digitukan, nanti keterusan manjanya.. Anak laki-laki harus kuat dan bisa berdiri di kaki sendiri……” jawabku tegas. “Kamu ini dibilangin orang tua malah mbantah. Udah, sekarang bantu Ibu bikin kupat tahu untuk makan malam nanti. Dani biar nglanjutin kerjaannya. Ayo….!!” ajak ibu.*** Kupat tahu. Sebenarnya aku tidak begitu suka tahu. Bapakku itu yang paling doyan tahu, apalagi kupat tahu! Wah, itu makanan kesukaannya.. Gara-gara kupat tahu pula Bapak ketemu Ibu, trus jadian deh, trus Ibu dilamar dan akhirnya menikah. Dulu Ibu dan Eyang Putri mempunyai warung kupat tahu yang lumayan laris karena bumbu yang khas dan tambahan emping gorengnya. Seingatku, aku baru 4 kali makan kupat tahu buatan Eyang Putri sebelum akhirnya meninggal karena Pneumonia. *** Jam bebek kuningku sudah menunjukkan jam 19.55 …. Perut kenyang, Bapak dan Ibu sudah masuk kamar untuk istirahat, Dani masih sibuk dengan motor-motorannya. Aku ga tau mau ngapain di kamarku ini. Tanganku mencari-cari hp siemens-ku. Eh, ada message received…. “Ran, q binun.Bpk&Ibu btengkar.Q sndiri,m’Wira blm plg.Q dgr kt2 CERAI. Q tkut,Ran..Skr q ada dikmr,nangis,g tau mesti ngapain?Mrk mkin keras btengkarnya,q takut……”Jantungku berdegup sangat kencang. Aku segera melihat jam berapa Luna mengirim sms. Ternyata sudah 10 menitan! Lalu aku coba telpon ke hp-nya. Jawaban yang terdengar adalah ‘Maaf, nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif…” Aku makin kuatir. Sekarang jam 20.13, ehm, masih ada waktu untuk melihat keadaan Luna, pikirku. Aku langsung mengambil kunci Mio-ku dan pamit ke Bapak Ibu. Tadinya tidak diperbolehkan karena sudah malam, tapi aku menegaskan kalo bisa saja Luna dalam keadaan bahaya kalo aku ga ke rumahnya segera. Untunglah mereka mengerti! Lima belas kemudian aku sampai di depan rumah Luna. Sepi, gelap, lampu depan rumah yang biasanya terang benderang pun malam ini memilih untuk tidak melakukan tugasnya menerangi jalan. Pikiranku makin tidak karuan. Sempat juga aku urungkan niat, tapi aku ingat Luna. Aku beranikan diri untuk melangkah masuk ke halaman rumah dan membunyikan bel rumahnya. Sekali, dua kali tidak terdengar jawaban! Akhirnya setelah yang ketigakalinya tetap tak ada jawaban, aku memilih untuk pulang dan meyakinkan diriku bahwa Luna ga pa-pa. Namun baru saja aku meraih helm merahku, ada suara mengagetkan, “Ya, mencari siapa malam-malam begini? Maaf, kami sudah tidur karena seharian kegiatan sangat penuh…. Ohh, Rani to? Ada apa malam-malam kok tumben ke sini? Mau cari Luna? Luna ada kok…. Sebentar saya panggilkan…” Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis. Begitu pintarnya Bu Tanti menyembunyikan perasaan dan kondisi yang sebenarnya, gumamku perlahan. “Rana, ini buku Kuliah Matematika I-nya. Aku sudah nunggu kamu dari sore tadi kok baru nongol sekarang, bukannya besok Matematika I jam pertama? Untung aku sudah belajar. Besok ujian lho…Nanti kamu pelajari di rumah ya.. Tenang aja, aku sudah bikin ringkasannya kok, jadi aku bisa belajar dari ringkasan. Buku itu kamu pake aja dulu. Oh iya, besok pagi kamu jemput aku ya! Mas Wira ada ujian pagi, jadi ga bisa nganter aku besok..” kata Luna. Busyet, panjang banget!! “Thanks, Na… Besok ‘ku jemput jam 07.00 aja biar kita ga terburu-buru di jalannya. Ya udah, sekarang aku pamit dulu… Bu, saya pamit dulu, maaf sudah mengganggu istirahat Bapak dan Ibu. Sampaikan pamit saya kepada Bapak dan Mas Wira…. Mari, Bu… Sampai besok ya, Na….” pamitku sambil menahan tangis. Aku pulang dengan menangis. Luna tidak pernah bohong seperti ini apalagi bersandiwara. Bukannya kemarin baru aja ujian Matematika? Lagian mas Wira sangat sayang dan ga mungkin cuman gara-gara ujian lalu ga bisa nganter adik tersayangnya. Aneh, pikirku. “Kenapa, Na… Ada apa?” tanyaku dalam hati. Sampai kamar, pikiranku masih terbayang Luna yang berusaha ceria di depanku, Bu Tanti yang berusaha bersikap wajar di depanku, padahal aku tau ada yang tidak beres. Dengan lesu aku mengambil buku Matematika I. Uhh, besok kan ga ujian Matematika, Na, jeritku dalam hati sambil melempar buku itu ke meja belajar. Tiba-tiba ada sesuatu yang terjatuh dan ada selembar kertas dengan tulisan, “Maafkan aku, Ran, telah melibatkanmu sejauh ini..” Detik kemudian aku terlupa akan tangisku. Melibatkan apa maksudnya, Na? Dengan malas aku membaca buku Matematika. Siapa tau ada surat tersembunyi di situ, harapku. Sepuluh detik kemudian aku kecewa karena surat yang aku harapkan ternyata tidak ada. Aku menangis dan merasa putus asa. Aku hanya memandang lembaran buku itu dengan mata berlinang, dan tiba-tiba aku berpikir, “Mungkin ga ya Luna memberiku petunjuk lewat rumus-rumus yang ada dalam buku Matematika itu?” Lalu dengan semangat aku melihat tiap rumus. Memang ada coretan dengan pensil, ada yang digaris bawahi, tapi hiks, tetap aja bingung! Aduhh, Na, aku kan ga sehebat kamu dalam bermain misteius kayak gini, batinku. Detik kemudian aku kelelahan dan akhirnya tertidur…. Jam 02.30 aku terbangun karena siemens-ku berbunyi. Ada sms masuk..Eh, dari Luna!!!! Bergegas aku membukanya… “Ran,kmu liat bk mtmtka.Ngka : abjad,tanda g usah dibaca!!Oia,sms-q g prlu dibls.” Singkat tapi penuh makna. Aku segera membuka buku Matematika dan lupa akan kantukku. 9 berari i, 13 berarti m……… Dua puluh kemudian terbentuklah satu kalimat. Ah, sebentar, aku bikin kopi dulu, kataku dalam hati. Aku keluar dengan perlahan, membuat secangkir kopi panas, lalu kembali ke kamar dan melanjutkan perburuan tiap abjadku. Lima menit, sepuluh menit, akhirnya setelah empat belas menit selesai sudah dan aku sudah sampai di lembar terakhir di buku itu. Aku menyeruput kopiku yang sudah hangat sambil membacanya, lalu mengedit dan menambahkan beberapa tanda baca. Jam 03.45 jadilah sepotong surat. Isinya begini…. “I’m fine. Ran, thx ya. I bangga punya tmn kya u. I sdih, rasanya ptus asa bgt. I tak knal ortu lg. Mrk btengkar terus. M’Wira terlibat, skt gnjl n bth gnjl sgr. Doktr blg gnjl 1 rumh bs dipake smua krn gol drh kmi sama. Bpk-Ibu btengkar soal itu,msg2 g mo ngasi gnjl buat M’Wira. U tau M’Wira gmn, kul g slesai2 n srg bkin ortu kcw. I binun, i g mo kehlgan M’Wira, Ran….. Ktm bsok y! Jangan lp jemput I…. “ Glek!!! Aku hanya bisa menelan ludah berkali-kali dengan rasa penuh ketidakpercayaan. Baru kali ini aku denger ada orang tua yang enggak care dengan kesehatan anaknya, sekalipun itu anak kandungnya! Bukankah kalo mau ngasi ginjal, bisa aja satu, bukan kedua-duanya. Ya kan? Kenapa Pak Sujarwo dan Bu Tanti bisa setega itu ya?*** “Pak, Bu, Rana berangkat dulu ya, mau jemput Luna terus ke kampus. Ada kuliah pagi…” pamitku pagi harinya. Dani sudah berangkat lebih pagi. “Iya… hati-hati ya…” jawab Bapak dan Ibu. “Pulangnya jangan sore-sore, nanti bantu Ibu nyiapin pesanan kupat tahu buat acara rapat besok..” tambah Bapak mengingatkan. “Inggih, Pak…..” jawabku sambil tersenyum.*** “Pagi, Luna… Ayo berangkat. Udah pergi semua ya?” sapaku begitu ketemu Luna. “Pagi juga, iya nihh.. Yuk berangkat!!!” jawabnya singkat. Sepanjang perjalanan kami banyak diam. Aku pun tengah asyik dengan pikiranku sendiri. Sesampainya di kampus aku mengajak Luna makan bubur ayam karena ternyata kami datang kepagian. Luna hanya mengangguk sambil tersenyum. “Bang, bubur ayam 2, teh manis hangat 2. Cepet ya, Bang…lapar nih!” pesanku. “Iya, mbak Ran….” jawab Bang Udin. “Ran….” tiba-tiba Luna manggil namaku tapi kok suaranya lemah. “Iya, Na, kenapa? Udah ga tahan ya laparnya? Sabar, kita di urutan pertama kok…” “Uhh, kamu itu, orang diajak bicara serius kok malah gitu…. Aku lagi bingung banget nih. Kamu udah baca pesanku di buku Matematika kan?” “Iya..iya, maaf deh…habis baru kali ini aku ngliat kamu kebingungan banget. Dulu waktu putus dari Wisnu aja ga sebingung ini, hehe. Udah ta’baca kok. Kok bisa ya?” “Aku aja heran. Aku ga mau nyalahin salah satu dari mereka. Ini semua pasti udah diatur ama Tuhan.. Aku sayang Mas Wira. Di rumah cuman dia yang ngasi aku kebebasan untuk nglakuin apa aja yang aku mau. Ga kayak Bapak atau Ibu yang hanya mikirin kehormatan dan nama baik. Ran, kalo kita hidup dengan satu ginjal resikonya apa sih?” “Mbak Rana, Mbak Luna… ini pesanannya….” sela Bang Udin. “Iya, Bang, terima kasih..” jawab kami bersamaan. “Apa maksud pertanyaanmu? Jangan bilang kalo kamu pengen ngasi ginjalmu buat Mas Wira. Kamu ga harus berkorban, Mas Wira juga pasti ga mau cara itu..” “Trus gimana dong? Buatku ga pa-pa kok, hidup dengan satu ginjal, walo nanti aku harus benar-benar bisa jaga diri, yang penting Mas Wira dapat ginjal segera. Kita ga usah mempermasalahkan ortuku lagi. Biarkan aja! Barusan aku dapat sms dari Mas Wira. Dia bilang kalo lagi di Rumah Sakit sekarang dan butuh ginjal segera. Gimana dong?” “Na, kita sudah sahabatan dari dulu. Kamu pasti tau jawabanku kan? Aku dukung kamu sepenuh hati! Habis ini kita langsung ke rumah sakit dan ngurusin itu. Kita pamit lewat sms aja ke Pak Purnomo, dosen Matematika kita.” “Thanks ya, Ran….. Oh iya, aku yang bayar bubur ayamnya ya?! “*** “Dok, gimana keadaan Mas saya?” tanya Luna setelah sampai di Rumah Sakit. “Sangat rawan. Dia butuh ginjal segera, kalau tidak, entahlah…..” jawab Dr. Renaldi. “Bisa kita bicara sebentar, Dok?” pinta Luna. “Begini Dok, langsung saja, saya berniat untuk berbagi ginjal dengan Mas Wira. Masalah uang ga perlu dipikir, mungkin tabungan saya selama ini cukup untuk biaya perawatannya. Tolong, Dok… Ga usah mikirin kedua orang tua saya. Dokter pastinya sudah bisa melihat gimana sikap mereka terhadap Mas Wira…” “Duhh, gimana ya? Masalahnya kamu itu masih dalam pengawasan kedua orang tuamu. Kecuali kalo kamu mau menandatangani surat pernyataan supaya di lain hari tidak dipermasalahkan… Kalo kamu serius dengan niat ini, saya ikut memperjuangkannya….” “Iya, Dok, saya sangat serius. Biar nanti saya yang ngasih tau Mas Wira. Kalo tanya, bilang aja dapat donor dari luar… Makasih banyak ya, Dok.” “Sama-sama, Luna….”*** Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Hari demi hari Luna menunggui Mas Wira. Empat bulan kemudian Mas Wira sudah boleh beraktifitas lagi. Ketakutan Luna tidak beralasan karena Mas Wira mau menerima ginjalnya dengan suka cita, walo hubungan mereka dengan Pak Sujarwo dan Bu Tanti agak renggang. Serenggang apapun itu, tidak menjadi suatu masalah. Mereka kuliah sambil bekerja paruh waktu. Setahun setelah pendonoran itu, mereka sepakat untuk tinggal terpisah dari orang tua. Mereka membeli sebuah rumah tidak jauh dari rumahku dan aku sering menginap di sana. Sering aku bertanya, “Na, apa kamu pernah menyesal berbagi ginjal dengan Mas Wira?” Jawabnya sungguh membuatku tergugah, “Ran, kalo kamu sayang sama orang lain, pasti kamu pengen berbagi dengannya dan jangan pernah berpikir separuh-separuh kalo mau berbagi apapun dengan orang yang kamu sayangi….” Pernah juga aku bertanya, “Na, apa kamu membenci Pak Sujarwo seperti yang Bu Tanti mau atau kamu membenci keduanya?” Luna tersenyum, lalu menjawab sambil memegang bahuku, “ Ran, seburuk apapun, toh mereka tetap orang tuaku. Buat apa membenci kalo masih ada pilihan yang lebih baik yaitu menyayangi. Kalopun tinggal terpisah, tapi aku tau mereka tetap sayang kami. Biarlah begini dulu….. Mungkin dengan cara ini, kami masing-masing belajar mandiri dan lebih dewasa lagi……” “Na…..” panggilku perlahan. “Ya? Ada apa, Ran?” tanya Luna sambil menoleh ke arahku. “Kita tetap bersahabat sampai kapanpun dan bagaimanapun!!! Ga ada yang bisa misahin kita…. Ok?!” jawabku tegas. “Ok…!!!!!” jawab Luna tak kalah tegasnya. Lalu kami tertawa bersama-sama ……….