KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Alas Meja Hijau Zamrud

“Selamat pagi, Suster! Dokter Rio ada?” tanyaku pada seorang suster.

Suster itu cantik. Tingginya sekitar 160cm. Ia memandangku dengan tatapan sebal. Mungkin dia sedang ada masalah karena biasanya dia selalu ceria dan ramah pada semua orang terutama pasiennya. Namanya suster Theresa.

Hari ini hari Rabu. Jadwalku untuk konsultasi dengan psikiater kepercayaanku. Ia seorang psikiater muda. Lebih tua lima tahun dariku. Aku berumur 16 tahun bulan depan. Ia lulusan Oxford, UK. Benar – benar psikiater handal yang sukses. Dia cerdas dan mampu memahami bagaimana kekalutan seseorang.

“Ada. Silahkan masuk,” kata suster cantik tadi.

“Terima kasih.”

Aku membuka pintu. Nuansa biru laut menari – nari dalam bola mataku. Ruangan itu tidak terlalu besar. Dicat biru laut dan ber-AC. Di salah satu sudutnya terdapat lemari cokelat tua kehitaman dari jati berisi buku – buku kejiwaan. Tak jauh dari sana ada sebuah tempat duduk bersandar atau lebih mirip kasur berwarna biru tua. Biasanya pasien berbaring di sana sambil berkonsultasi. Di tengah ruang ada meja kerja psikiater muda itu. Di depannya ada dua pasang tempat duduk berbusa dengan meja oval dari kayu yang dipernis mengkilap. Di bawahnya dilapisi karpet wol bundar warna cokelat muda dan kelabu di bagian tengahnya.

“Selamat pagi, Yuri!”, sapanya lembut.

“Selamat pagi, Dokter!”

“Ah, ayo silahkan duduk! Kenapa masih berdiri di depan pintu saja.”

“Maafkan saya. Entah mengapa sudah berkali – kali saya memasuki ruangan ini dan berkali – kali itu pula saya terkesima dengan ruangan ini.”

“Kamu memang bisa saja memuji.”

“Tidak. Tapi itu memang benar. Tempat ini tidak seperti ruang konsultasi lainnya. Biasanya catnya berwarna putih. Kasurnya juga berwarna hitam.”

“Memang benar. Kalau aku mengenakan warna – warna itu dalam ruangan ini maka tak akan ada perbedaan antara ruangan ini dengan ruangan konsultasi lainnya. Warna putih dengan kasur hitam tidak akan membuat seseorang merasa nyaman. Ketika pasien berbaring di kasur yang hitam pekat sedang sekelilingnya penuh warna putih maka ia akan merasa dia berbeda. Seolah – olah ia merasa dari lubang hitam yang jauh dan melihat orang lain putih. Tak sama seperti dirinya. Ia benar – benar akan merasa berbeda. Kurasa kau tahu bagaimana rasanya berbeda dari keadaan normal?”

“Ya, Dok! Aku tahu rasa itu. Benar – benar menyesakkan dan memuakkan., tapi rasa itulah yang bertahun – tahun dan sampai sekarang masih aku hadapi. Aku mengerti maksud Anda. Warna hitam itu akan membuat seseorang merasa semakin bersalah dan berbeda sehingga susah baginya lepas dari perasaan asing itu.”

“Kau memang gadis yang cerdas, Yuri. Aku mengubah cat menjadi warna biru karena biru melambangkan kedamaian. Saat perasaanmu damai kau akan dengan mudah menyampaikan masalah – masalahmu.”

“Jadi intinya warna berpengaruh pula pada perasaan seseorang? Bagaimana dengan alas meja Anda yang berwarna hijau zamrud dengan corak bunga putih kekuningan sedangkan kelopaknya berwarna jingga? Saya rasa itu tidak terlalu cocok di antara gemerlapnya biru – biru di ruangan ini.”

“Hijau warna ketentraman. Lagi pula aku suka warna hijau. Hijau itu sejuk. Corak bunga – bunga dipadu dengan warna hijau akan menimbulkan sugesti tentang kebun. Kau lihat corak bunga – bunga ini?”

“Itu lebih mirip bunga Matahari. Bunga yang melambangkan “aku selalu melihatmu”. Benarkan?Apa itu pemberian kekasihmu?”

“Pengetahuanmu luas juga. Bukan dari siapa – siapa, tapi alas meja ini untuk mengingatkan seseorang, Gadis Kecil.” “Untuk siapa?”

“Baiklah kita mulai saja konsultasinya. Aku tidak ingin membuat orang tuamu menunggu terlalu lama.”

“Tapi Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi.”

Psikiater muda itu berdiri dan mengambil pulpennya. Kemudian aku berbaring di atas kasur biru tua itu. Dia mulai bertanya tentang masalahku dan bagaiman perasaanku saat ini. Sepanjang konsultasi yang menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam ini kami tidak membahas tentang dari siapa alas meja hijau itu. Setelah konsultasi aku berpamitan seperti biasanya.

“Terima kasih atas konsultasinya hari ini, Dokter! Saya akan kembali lagi dua minggu lagi. Selamat siang.”

“Sama – sama. Silahkan kembali kapan saja. Selamat siang.”

Aku menatapnya sebelum melangkah pergi berharap ia mengatakan padaku mengenai alas meja tadi. Alih – alih berkata, memandangku saja tidak. Aku menutup pintu dengan lesu. Di halaman parkir rumah sakit kulihat mobil ayah sudah menanti. Aku berlari menghampiri dan masuk ke dalamnya.

Aku mencium tangan keriput ayah. Ia memandangku lembut dan tersenyum.Matanya yang hitam tampak bahagia. Tak terpancar kesedihan sedikit pun meski sesungguhnya aku tahu di sana terpendam sakit dan kekecewaan yang mendarah daging. Kulitnya yang cokelat bergelambir. Benar – benar tanda ketuaan. Meski begitu masih tampak di gurat – gurat wajahnya bahwa ia seorang yang tegas, keras, dan kuat di masa mudanya. Mesin ia nyalakan dan kami berkendara pulang.

“Bagaimana konsultasinya? Apakah kau suka konsultasi di sini?”

“Ya, Ayah! Aku suka. Psikiaternya berbeda dari psikiater – psikiater lain. Ruangannya juga.”

“Sudah genap sepuluh kali kamu berkonsultasi di rumah sakit itu. Aku melihat perkembanganmu semakin pesat saja.”

“Tentu, Ayah. Dokter Rio adalah seorang psikiater handal. Ia baik sehingga aku lebih mudah terbuka kepadanya. Saran – saran yang ia berikan juga lumayan jitu tidak seperti psikiater lain.”

“Kau tampak girang sekali tiap membicarakan psikiater barumu itu? Aku harap kau cepat sembuh, Putriku.”

“Aku juga berharap begitu, Ayah. Sudah lama aku menantikan masa – masa bebas dari bayangan keberbedaanku. Ayah, kelak aku ingin menjadi seorang psikiater handal juga seperti Dokter Rio. Aku ingin membantu orang lain lepas dari belenggu – belenggu hitam yang bisa membuat mereka gila. Aku akan belajar rajin agar cerdas seperti dia.”

“Aku senang kau memiliki semangat tinggi seperti itu. Semoga keinginanmu terkabul. Ayah hanya bisa mendoakan. Namun, kau harus ingat kesukesan seseorang bukan hanya ditentukan dari semangatnya yang tinggi, tapi ia juga harus memiliki ketekunan, rendah hati, dan kejujuran. Bila kau pegang ketiga nilai itu kau akan sukses dan kesuksesan itu akan abadi bagimu. ”

Suasana menjadi hening. Aku menatap ke jalanan yang digenangi air hujan. Di kanan dan kiri jalan pepohonan tumbuh besar dan rindang. Burung – burung pipit terbang dalam kawanan kecil ke arah selatan. Kubiarkan anganku berterbangan seperti burung – burung itu.

Ayah menikung di jalanan yang banyak lubangnya. Ia berhenti di sebuah rumah bercat jingga dengan pagar cokelat tua dan putih yang membatasi halaman rumah itu dengan jalanan. Seorang wanita berbaju lusuh membukakan pagar. Ia membawa serbet yang disampirkan di pundaknya begitu saja. Mobil memasuki halaman rumah jingga itu.

“Selamat sore, Tuan dan Nona,” sapanya ramah sambil menutup pintu pagar.

“Selamat sore, Mbok Ni,” sapa ayah dan aku hampir bersamaan.

Namanya Mbok Ni. Dia bekerja di rumahku sejak sepuluh tahun yang lalu. Meski tua ia masih saja cekatan dan bawelnya tidak pernah hilang. Kami memasuki rumah jingga itu. Ibuku sudah menantikan kehadiran kami. Setelah mencium tangan ibu, kami pergi makan malam bersama.

Aku anak tunggal dalam keluargaku. Anak tunggal harusnya membawa kebahagiaan, tapi berbeda bagiku. Aku bisa dibilang membawa malu keluarga. Bagaimana tidak, aku terlahir cacat. Aku mengalami kelainan jantung dari kecil. Katup serambi kananku tidak berfungsi dengan baik sehingga terkadang darah yang kaya oksigen bercampur dengan darah yang kaya karbondioksida. Kalau sudah begitu ayah dan ibu harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk merawatku di rumah sakit.

Itu masih belum cukup. Karena kecacatan fisikku sejak kecil, sejak tujuh tahun lalu aku mengalami sedikit cacat mental. Jiwaku labil. Aku menjadi seperti autis. Lebih suka menyendiri. Entah mengapa aku merasa begitu berbeda. Begitu tak berdaya. Tak ada seorang pun yang memperhatikanku selain keluargaku. Teman untuk berbagi aku tak punya, maka dari itu aku merasa senang sekali ketika ayah bertemu Dokter Rio yang ramah dan mau mengerti perasaanku.

Setelah makan malam aku masuk ke kamarku dan tidur. Aku capek sekali hari ini jadi aku tidak belajar. Lagipula besok aku libur. Ayah dan ibu ada di ruang depan. Mereka duduk di atas sofa merah sambil menonton televisi.

“Kapan?”, tanya ibu.

“Tak lama lagi.”

Masih sempat aku dengar sepintas percakapan mereka. Sebelum jari – jari tajam yang hitam dan mematikan itu mencengkeramku dan menarikku dalam jurang yang begitu dalam dan gelap. Semakin dalam semakin cepat dan semakin gelap. Aku berteriak, tapi tak keluar sedikit pun suara dari kerongkonganku yang kering. Kepalaku pusing. Jantungku berdegup kencang. Nafasku sesak. Pembuluh darahku berdenyut – denyut cepat. Aku mual. Satu tusukan di tanganku membangunkan aku.

Aku membuka mata. Kulihat ruangan putih. Aku sedang berbaring di atas kasur putih. Semua serba putih. Aku mencoba untuk bangun, tapi kepalaku berdenyut – denyut. Terpaksa aku tetap berbaring. Di sebelah kananku bergelantungan cairan dalam kantong plastik. Di dekatnya ada sebuah peralatan besar mirip pemanggang barberque. Itu alat pencuci darah.

“Aku ada di rumah sakit. Apa yang terjadi denganku? Tanganku sakit sekali,” pikirku.

Tiba – tiba pintu terbuka dan aku melihat kedua orang tuaku berdiri di ambang pintu. Mata ibuku sembab dan kemerahan. Kurasa ia habis menangis. Wajah ayah meski dingin seperti biasa, tapi aku masih bisa melihat bercak – bercak kekhawatiran di sudut – sudut matanya.

“Ibu, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku ada di sini? Kupikir aku masih sehat – sehat saja kemarin?”

“Ibu sendiri juga tidak tahu, Nak! Kau tiba – tiba seperti orang sekarat. Hidungmu mengeluarkan darah dan kau sesak nafas. Seandainya kau tidak memecahkan guci kesayanganmu itu, kami tidak akan tahu kondisimu yang seperti itu. Kami langsung memanggil ambulan. Kau tahu sudah berapa hari kau koma?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan lemah.

“Tiga hari.”“Tiga hari, Bu? Selama itu aku tidak sadarkan diri?”

“Ya dan kau harus menjalani rawat inap selama dua minggu karena kondisimu yang lemah itu.”

“Kalau aku rawat inap selama itu bagaimana dengan sekolahku? Lagipula biayanya akan banyak sekali, Ayah!”

“Bagi kami semua tidak penting. Yang penting kau segera sembuh. Dua minggu lagi kau akan operasi.”

“Operasi apa?”

“Operasi pencangkokan jantung.”

“Pencangkokan jantung? Kenapa ayah dan ibu tidak pernah cerita kepadaku? Jantung siapa? Aku tidak mau!”

“Maaf, Nak tapi kamu harus operasi. Operasi ini bisa memberikan perubahan terhadap nasibmu. Kau tidak akan berbeda lagi dengan gadis lain. Kau akan hidup normal seperti mereka. Kau akan bisa menikmati indahnya hidup. Menemukan cinta sejati, menikah, berkarir, memiliki keturunan. Kau akan hidup normal, Nak! Percayalah,” kata ibu.

“Aku percaya, Bu! Tapi uang dari mana untuk membiayai semua itu? Ayah dan ibu tidak bisa membohongi aku. Demi aku kalian rela hutang sana – sini. Selama ini ayah dan ibu sudah terlalu banyak membayar mahal demi kesembuhanku. Aku anak yang tak berguna. Seharusnya aku tidak dilahirkan di keluarga ayah dana ibu karena aku hanya membawa malapetaka.”

“Tidak, Nak! Kamu anugerah bagi ayah dan ibu. Kamu anak yang baik dan manis. Ini semua hanya ujian dari Tuhan. Kita semua harus tabah dalam menjalaninya. Tuhan akan memberikan rezeki untuk menebus hutang – hutang itu. Kamu tenang saja. Ayah dan ibu masih mampu untuk bekerja,” ibuku menjawab sambil membelaiku sayang.

“Sekarang kau istirahatlah! Kami berdua mau pergi makan siang dulu. Kau dengar, perut ayah sudah berkonser minta diisi,” kata ayahku riang.

Kami semua tertawa mendengar lelucon ayah. Setelah itu, ayah dan ibu pergi untuk makan siang tinggal aku sendiri di kamar putih itu. Kesepian. Temanku tidak ada yang menjengukku.

“Aku kan tidak punya teman,”pikirku sambil tersenyum.

Aku membaringkan tubuh mungilku di atas ranjang. Sejenak bayangan Dokter Rio melintas di benakku. Aku merasakan sensasi sejuk menggoda. Aku merasa damai dan tenang. Tiba – tiba ada rasa sesak menusuk jantungku. Aku ingin bertemu dia. Aku mulai berpikir sebelum operasi nanti aku akan bertemu dengan dia dan aku pun terlelap dibuai semilir angin pagi.

Dua minggu sudah berlalu. Keadaanku sudah membaik kata dokter. Hari ini aku akan menjalani operasi pencangkokan jantung seperti yang dikabarkan kedua orang tuaku dua minggu lalu. Aku berjalan menuju ruang praktik Dokter Rio. Aku tidak melihat suster Theresa di loket ruang tunggu. Aku melangkah mendekati pintu ruang praktik Dokter Rio. Aku mengetuknya dan terdengar balasan dari dalam menyuruhku masuk. Aku buka pintu itu. Suster Theresa sedang sibuk membenahi meja kerja Dokter Rio. Dia memandangku keheranan.

“Ada apa kau kemari? Kurasa sekarang bukan jadwalmu untuk konsultasi dengan Dokter Rio?”

“Saya…. saya hanya mau bertemu dia sebentar.”“Memangnya ada masalah apa?”

“Saya ingin bertemu dengan dia. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan terakhir saya dengannya karena satu jam lagi saya akan menjalani operasi pencangkokan jantung.”

“Kau datang terlambat. Dokter Rio sudah tidak bekerja di sini lagi. Dia baru meninggal tiga hari yang lalu karena….”

“Karena apa, Suster?”

“Kanker. Ah, sudahlah kurasa kau harus bersiap – siap untuk operasi. Semoga operasinya sukses.”Ia meninggalkan aku sendiri di ruangan itu. Ia juga meninggalkan rasa penasaran bagiku. Mengapa Dokter Rio pergi di saat aku ingin melihatnya mungkin untuk terakhir kalinya? Aku termenung. Pikiranku acak – acakan. Aku menatap alas meja hijau zamrud itu sebelum kutinggalkan ruangan itu. Sejenak kemudian aku sudah memakai pakaian operasi dan aku telah terbaring di meja operasi. Koma, tak sadarkan diri.

Cahaya putih menyilaukan mata membangunkan aku. Gemericik air hujan menggema di lubang telingaku. Aku buka mataku perlahan – lahan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku begitu bahagia melihat wajah kedua orang tuaku lagi. Sudah lama tak kurasakan kebahagiaan. Mereka memelukku penuh kasih sayang.

“Kami senang kau masih diberi Tuhan umur panjang, Putriku. Dokter bilang peluang hidup dari operasi pencangkokan jantung hanya 30%,” kata ibuku sambil berurai air mata.

“Syukurlah, Bu! Tuhan memang baik. Oya, ngomong – ngomong jantung siapa yang sekarang bersemayam di dadaku ini?”“Itu jantung seorang manusia yang begitu baik hati yang mau mendonorkan jantungnya.”

“Ya, Bu! Aku tahu dia baik hati. Tapi siapa dia? Aku ingin tahu nama orang yang begitu baiknya mendonorkan jantungnya ini.”

“Itu…. milik seorang dokter. Seorang psikiater tepatnya. Ia meninggal karena penyakit kanker otak. Dua minggu yang lalu ia menawarkan diri untuk mendonorkan jantungnya padamu. Dokter malang. Ia begitu baik, tapi Tuhan telah menjemputnya terlebih dahulu,” kata ayahku sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Hatiku tertusuk beribu – ribu pisau. Kepalaku serasa dihantam oleh gada besi. Aku tak tahu haruskah senang atau sedih. Begitu sakit rasanya. Kubiarkan belenggu – belenggu gelap dan hitam itu menarikku. Kubiarkan karena tak akan ada lagi yang peduli dan mengerti. Namun, senyuman hangatnya melintas dalam siluet – siluet mentari. Aku kembali terbangun dari semua keterpurukan dan keputusasaan itu. Terdengar lirih tapi begitu jelas bisikan itu.

“Aku akan selalu ada bersamamu dalam tubuhmu.”

Ayah mengajakku pulang hari itu. Luka bekas operasiku sudah sembuh. Aku sudah bosan di rumah sakit hanya terbaring lesu tanpa keceriaan. Sudah seminggu lebih aku belum melihat ruangan Dokter Rio sejak operas. Hari ini aku berencana mampir ke sana sebelum aku pulang ke rumah.

Aku berjalan berjingkat – jingkat dengan riang. Aku sapa suster Theresa yang sedang marah – marah pada seorang pemuda yang berusaha menerobos antrian. Pintu ruang praktik itu terbuka dua puluh senti. Dalam ruangan itu kulihat seorang dokter cantik bertubuh semampai sedang sibuk menata buku di lemari. Mataku tertuju pada alas hijau zamrud dengan corak bunga matahari yang kini telah ditinggalkan oleh sang pemiliknya dan aku teringat arti bunga itu.

“Aku selalu melihatmu,” bisikku.Dan bunga kekuningan itu seolah – olah berkedip padaku. Aku pun melangkah pergi dan itu menjadi kunjungan terakhirku di sana.

One Response to “Alas Meja Hijau Zamrud”

  1. on 09 Feb 2009 at 20:56Fila

    Lumyan..

Tinggalkan Komentar