Akal Bulus
Agustus 17th, 2007 by haryobagushandoko
Suhu udara hari ini begitu panas. Matahari bersinar terik memancarkan sinarnya yang demikian menyilaukan mata. Penumpang bis antar kota berdesak-desakan di dalam bis yang sudah penuh sesak oleh penumpang. Bau keringat dan bau apak menyerang hidung-hidung yang gelagapan mencari udara segar untuk mengisi paru-paru yang sudah demikian kotor terpolusi oleh buruknya udara kota. Di sana-sini tampak beberapa manusia kota yang dengan angkuhnya menghembuskan asap-asap rokok, seakan tak peduli dengan kondisi sekeliling yang sudah demikian pengap.
Penumpang bis kembali terhuyung-huyung untuk yang kesekian kalinya, saat bis tiba-tiba mendecit mengerem tiba-tiba. Rupanya ada serombongan anak sekolah yang menyeberang jalan dengan seenaknya. Untunglah mereka tidak tertabrak. Sopir bis pun mengeluarkan serangkaian kata-kata mutiara sumpah serapah yang seakan sudah biasa terdengar bagaikan iklan radio bagi telinga-telinga manusia kota besar. Orang tak lagi kaget saat mendengar kata-kata indah yang terucap dari mulut yang sudah terdidik untuk mengucapkan kata-kata kotor. Mulut dengan gigi-gigi yang menghitam akibat terlalu sering mengisap nikotin dari beratus-ratus rokok yang diisap sepanjang tahun ini.
Beberapa pengamen jalanan tampak buru-buru meloncat naik ke dalam bus saat melihat kendaraan besar ini memperlambat jalannya akibat ruas jalan yang mulai macet di sana-sini. Suara-suara sumbang kaleng rombeng kembali membahana. Beberapa penumpang menutup telinga atau sekedar berpaling risih mendengar suara-suara yang tak tentu nada itu. Suasana benar-benar membosankan. Sesekali terdengar umpatan atau pun teriakan marah akibat kaki-kaki yang demikian sering terinjak dan tergencet di sana-sini. Beberapa penumpang lain tampak terkantuk-kantuk sambil berdiri bergelayutan di sepanjang tiang yang tertambat di bagian atap bis antar kota ini. Senyum-senyum penuh kepalsuan terlihat di mana-mana tatkala para penumpang yang begitu bosan berusaha membunuh kejenuhan dengan mengajak ngobrol penumpang lain yang kebetulan sedang duduk di sebelah mereka. Celoteh-celoteh palsu sekedar pemanis bibir terdengar di mana-mana.
Tiba-tiba terdengar teriakan marah dari beberapa penumpang yang berdiri di bagian belakang bis. Umpatan-umpatan dan makian meluncur deras dari mulut-mulut mereka yang menghitam. Rupanya ada yang baru saja membaca berita di koran bahwa tim sepak bola kesayangan mereka kalah telak oleh kesebelasan musuh bebuyutan yang menang dengan siasat licik. Terdengar lagi ucapan-ucapan mencela tim kesebelasan musuh. Tanpa pernah diduga rupanya ungkapan marah itu menyinggung beberapa orang yang berdiri bergelayutan di bagian depan bis dekat tempat duduk pak sopir. Mereka itu ternyata adalah suporter fanatik kesebelasan musuh yang tadi sempat dicaci maki dan dinistakan. Merasa tidak terima, terdengar umpatan-umpatan kemarahan untuk membalas komentar orang-orang yang berasal bagian belakang bis antar kota ini. Walhasil, suasana semakin memanas dan memicu keributan. Adu mulut dan serangkaian kata-kata kotor kembali membahana. Akhirnya beberapa orang berperangai kasar yang tadinya berdiri di bagian belakang bis bergerak dengan tiba-tiba menuju bagian depan bis hendak melabrak para suporter fanatik kesebelasan musuh. Kembali terdengar jerit kesakitan para penumpang yang kakinya kembali terinjak-injak oleh serombongan manusia-manusia kasar itu.
Tangisan anak-anak kecil yang masih berada dalam gendongan ibu-ibu muda kembali terdengar. Tangisan itu adalah pertanda ketakutan anak-anak yang mungkin nuraninya belum terbiasa mendengar kata-kata jahat yang sepertinya sudah demikian lumrah terdengar. Beberapa orang tua berusaha menenangkan tangis anak-anaknya. Dua kubu yang sedang berseteru itu seakan tak peduli dengan kekacauan yang semakin menjadi-jadi di dalam bis yang sudah semakin tidak nyaman ini. Hingga tibalah suasana yang demikian memuncak saat terjadi baku hantam antara rombongan orang yang berasal dari bagian belakang bis dengan rombongan suporter fanatik kesebelasan musuh. Pak sopir yang ketakutan bisnya mengalami kecelakaan buru-buru menepikan kendaraan besar ini menuju tepi jalan.
Gerakan bis yang tiba-tiba ini kontan saja menyebabkan kendaraan besar ini oleng dan kembali menimbulkan jeritan dari para penumpang yang ketakutan. Akhirnya bis berhenti di tepi jalan. Sang sopir yang marah serta ketakutan itu akhirnya berusaha bersikap tegas dengan menyuruh dua kubu yang berseteru itu berhenti bersengketa atau terpaksa harus turun menyelesaikan masalah mereka sendiri. Rupanya rasa marah dan dendam yang sudah membuncah di dada mereka membuat mereka memilih alternatif kedua, yaitu turun dari bis antar kota ini. Beberapa penumpang bernapas lega. Bau keringat kecut yang tadinya memancar demikian menyengat dari ketiak-ketiak busuk para suporter fanatik sekaligus manusia-manusia kasar itu tidak lagi semerbak memenuhi atmosfer udara bis yang sudah demikian pengap ini. Bis pun kembali melaju menuju tempat tujuan. Kelegaan hati di dada para penumpang tidak lagi berlangsung lama saat beberapa dari mereka menjerit histeris ketika menyadari bahwa dompet-dompet yang tadinya menghuni saku belakang celana tiba-tiba raib tak tentu rimbanya.
Ternyata dua kubu yang tadi berseteru tak lebih hanyalah sekumpulan copet yang pandai berakting mengalihkan perhatian para penumpang. Ada-ada saja akal bulus manusia sekarang dalam memanfaatkan segala kesempatan. Komunitas penumpang bis ini hanyalah salah satu contoh kecil dari sedemikian banyak akal bulus dan tipu muslihat berkedok huru-hara yang semakin marak terjadi di negeri ini. Manusia-manusia yang demikian mudah terintimidasi dan terprovokasi tak lebih hanyalah sasaran empuk dari para pembuat skenario kekacauan yang berusaha memetik keuntungan bagi diri mereka atau kelompok mereka sendiri tanpa peduli pada hati nurani dan belas kasih terhadap sesama. Selamat datang di dunia nyata, dunia yang penuh kekacauan dan miskin rasa cinta.
thanks banget atas cerpen “akal bulus” yang sungguh menggugah hati saya. cerpen ini benar-benar menyadarkan saya bahwa memang terlalu mudah kita terprovokasi oleh lingkngan sekitar. untuk itu saya akan lebih waspada pada lingkungan sekitar.