Menjadi Kehendak
Agustus 16th, 2007 by Kunyit
Aku adalah kehendak. Aku terlahir bersamaan dengan saat nyawa dihembuskan pada bulan ke-4 seorang janin di dalam perut. Seperti fitrah kemanusiaan yang melekatiku, aku selalu ingin bertahan hidup. Aku hidup saat ia membuka mata untuk memulai hari, saat ia menyeruput kopi susu kesukaannya, saat ia menstruasi, saat ia hanya bengong melamun di dalam kelas,dan bahkan saat ia sedang begitu fokus di depan kaca, mencermati perubahan bentuk tubuhnya dari hari ke hari. Hanya pada saat tidurlah aku menjadi mati. Mati suri lebih tepatnya. Karena meski dalam tidur, aku masih bisa mengekspresikan diriku , mencari celah-celah asa yang tertinggal, mencoba bertahan hidup, yaitu lewat satu-satunya jalan yang kuketahui, mimpi. Dan besoknya, saat mentari terbit, saat perbedaan antara mimpi dan realita begitu nyata, aku kembali hidup. Dalam arti yang sebenarnya.
Seperti halnya makna ketauhidan pada sebuah titik di dalam huruf ba dalam kalimat bismillahhirrahmannirrahim, aku hanya diberi satu tugas dan sifat, yaitu jujur. Sejak saat ia belajar berjalan, itulah yang diajarkannya padaku. Jika ia lapar, aku akan meminta makan, jika mainannya direbut, aku akan menjadi kesal. Dan ia akan tergelak panjang setiap melihat atau mendengar sesuatu yang lucu. Dan ia akan tidur segera setelah merasa mengantuk.
Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai enggan berjujur diri. Ia tidak akan berteriak kesal jika marah, tapi malah diam mengurung dan menangis di dalam kamar menyembunyikan rasa terlukanya dan jika ditanya, selalu menjawab dengan kalimat yang sama “tidak ada apa-apa”. Beberapa hari yang lalu saat ia sedang sujud dalam sholatnya, ia tiba-tiba merasakan nyeri yang luar biasa di dada kirinya. Aku berusaha mengatakan sakit, tapi ia dengan keteguhan hati menyelesaikan sholatnya hingga rakaat terakhir. Dan aku memilih untuk diam.
Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap melihat lelaki itu, ia membuatku menjadi sangat sibuk, sekaligus kebingungan. Selalu begitu. Seperti pagi ini, saat tanpa sengaja ia melihat lelaki itu lagi berjalan ke arahnya. Beberapa detik lagi mereka akan berpapasan. Dan mulailah kebingungan itu menjeratku.
Aku ingin menyapanya, sekedar mengatakan “halo”, tapi ia tidak juga mau membuka mulut. Aku ingin memberikan senyuman terbaikku, tapi ia justru menunduk dalam-dalam. Dan setelah itu semua di luar kendaliku. Kurasakan degup jantungnya yang semakin kencang, tangannya berkeringat dingin, dan wajahnya merona malu kemerahan. Barulah setelah lelaki itu telah agak jauh rasa itu mau meredam. Dan aku bisa melaksanakan tugasku dengan normal kembali.
Sejak itu ia jadi rajin menulis diary. Sebuah buku mungil dengan kertas-kertas indah warna biru muda yang wangi. Sesungguhnya aku tidak tega untuk menodainya dengan tulisan-tulisan curahan hatinya.
Kejadian seperti itu semakin sering terjadi akhir-akhir ini. Begitu pula dengan rasa sakitnya yang makin hebat. Tapi masih saja ia bersikukuh meyakinkanku bahwa ia baik-baik saja. Lalu suatu hari menjelang kelulusannya, ia membuat keputusan termudah untukku. Bicara jujur.
Aku ikut merasakan kegugupannya. Jadi kubiarkan ia menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah. Lalu saat lelaki itu datang, tugasku dimulai. Mereka sudah berhadapan sekarang. Tapi menjadi jujur ternyata tidak semudah saat ia balita dulu. Aku ingin mengungkapkan isi hatinya, tapi sedetik kemudian dia ragu dan membuatku mundur.Tapi aku memberontak dan berjuang untuk hidup. Jadi setelah menang dari pergulatan dengan rasa takut dan dentuman jantungnya yang memekakkan telinga, ia membuatku hidup seutuhnya.
“Aku… suka sekali… padamu….”
Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Padahal aku sudah menyiapkan redaksi panjang untuknya. Lelaki itu tertegun sesaat lalu tersenyum lembut.
“Maaf… aku tidak bisa….”
Seketika itu aku ingin menangis, tapi dia malah tersenyum dengan luka yang menyisakan sebuah rongga menganga di perutku. Apakah kau pernah berjalan di sebuah gang, lalu tiba-tiba lampu sekitarmu padam begitu saja? Begitulah yang kurasakan untuknya. Dan ketakutanku semakin bertambah saat ia melangkah gontai tanpa kehendak yang jelas. Kali ini, ia benar-benar melemparkanku ke segala arah tanpa pijakan yang pasti.
Lalu ketika sampai di dalam kamar, ia membaringkan dirinya ke tempat tidur dengan mata terpejam. Lalu rasa sakit itu datang lagi menghantamnya. Dapat kulihat air matanya yang mengalir perlahan membasahi kedua pipinya. Entah menangis karena rasa sakit di dada kirinya ataukah di dalam hatinya karena penolakan tadi. Tak ada isak tangis, sedu sedan atau tubuh ynag terguncang menahan tangis. Dia benar-benar menyimpan rapat suara tangisnya bersamaku. Rasa pedih yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Dan perlahan aku menyadari tugasku bersamanya sebentar lagi akan selesai. Selamanya.