KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Lembaran Baru

“Kupikir kita sudahi saja hubungan ini….”, kata Clara ketika mereka hanya berdua duduk di bianglala.

Pemuda itu, Dimas, tidak berkata apa-apa terhadap Clara. Sempat pemuda itu terdiam membatu seperti terkejut mendengar kata-kata Clara. Setelah ini mereka tidak berbicara satu sama lain sampai mereka pulang.

“Pulangnya, biar kuantar”, kata Dimas kepada Clara.

“Tidak usah, aku nginep di tempat Nadya, jadi aku pulang barenk ama dia”, jawab Clara.

“Besok kujemput…”, kata Dimas.

“Tidak usah Dimas, aku besok juga ada janji dengan Dennis”. Dimas tahu kalau Clara mau menghindarinya.

“Kamu ada janji dengan Dennis?”, tanya Dimas yang sebenarnya agak sedikit cemburu.

“Ya, aku sudah janji mau menemani dia untuk beli buku. Kamu besok bukannya juga ada janji dengan temanmu?”, tanya Clara.

Clara sebenarnya tahu, Dimas juga ada janji dengan mantan pacarnya dulu.

“Ya…itu”, kata Dimas. Dimas kemudian terdiam. Akhirnya mereka pulang sendiri-sendiri.

Di rumah Nadya, Nadya bertanya kepada Clara karena sempat merasa heran dengan kejadian sebelum mereka pulang.

“Kalian tidak apa-apa khan?”, tanya Nadya.

“Kami sudah putus”, jawab Clara.

“Clara, apa ini baik bagimu?”, tanya Nadya.

“Baik. Nadya, ada saatnya kita harus melepaskan orang yang kita sukai. Dia memang tidak pernah menyukai diriku.

Yang dia sukai adalah Tiara.

Mungkin aku terlalu bodoh bisa jadian dengannya. Kupikir dia jadian denganku, hanya untuk melupakan pacarnya yang dulu”

“Clara….”, kata Nadya menghibur.

“Tak pa pa”, jawab Clara yang menghadapi kejadian ini dengan tegar.

Mereka berduapun akhirnya ngobrol sampai jam 2 pagi, menceritakan kejadian yang lain.

Keesookan harinya, Dennis menjemput Clara di kampus.

“Sudah siap?”, tanya Dennis.

“Yup”, kata Clara.

“Benar tak apa-apa dengan Dimas?”, tanya Dennis.

“Tak apa-apa lagi kami sudah putus”, jawab Clara.

Dennis terdiam.

Mereka pun akhirnya pergi ke toko buku di Mall Anggrek. Disana, pandangan mata Clara terlihat kosong.

“Clara, kita pulang saja. Kulihat wajahmu tidak bergairah untuk jalan”, kata Dennis.

Dennis pun mengantar Clara pulang sampai ke rumahnya. Tak disangka, Dimas ada disana menunggu Clara pulang.

“Kamu untuk apa kesini?”, tanya Clara.

“Aku ingin bicara denganmu….”, kata Dimas.

“Tak ada yang perlu dibicarakan”, kata Clara.

“Aku…sepertinya kau salah menganggap, aku menyukai Tiara bukan?”, tanya Dimas.

“Bukankah begitu?”, tanya Clara.

Dennis yang melihat ini pun pergi, tidak mau mencampuri urusan mereka berdua.

“Tidak…aku…”, Dimas ingin berkata-kata tetapi susah untuk mengucapkan kata-kata.

“Bukankah waktu itu kamu membohongiku dengan pergi jalan dengan dia? Dan bukankah kamu pernah ucapkan kamu tak akan menyukai wanita lain selain dia?Bukankah kamu selalu merasa tak senang ketika pergi jalan denganku?”, tanya Clara.

“Maaf…aku sungguh minta maaf. Aku memang menyukai Tiara dan pernah sempat berpikir untuk meninggalkanmu…Aku tahu, aku juga pernah membohongimu…Tapi, ketika kamu memutuskan hubungan ini, aku sadar aku merasa kehilangan kamu. Disaat itu aku tahu, bahwa aku menyukai kamu. Jadi, bisakah kita kembali dari awal?”, tanya Dimas.

“Aku…”, kata Clara susah menjawab.

“Kamu tak perlu jawab sekarang. Jika kamu ingin memulai kembali dari awal, besok datang jem 2 ke tempat perjanjian kita seperti biasanya.

Tapi jika tidak, kamu tak perlu datang. Yang pasti aku akan menunggumu”, kata Dimas.

Keesokkan harinya, Clarapun memutuskan untuk datang ke tempat perjanjian mereka di taman yang bernama Eternal.

Disitulah cerita baru dimulai.

Tinggalkan Komentar