Teman Jauh Dari Sana
Agustus 7th, 2007 by Arki Atsema
Harri terkejut setengah mati. Ia hampir terjatuh dari motornya. Mukanya tampak dingin dan mulutnya membentuk huruf “o”. Perlahan ia pergi menjauhi motornya, dengan langkah terbata-bata ia berjalan mendekati mesin itu. Perlahan ia mulai mendekat, terus mendekat, terus, terus, hampir sampai, dan akhirnya, “Anjrit..!” ia terjerembab jatuh ke belakang. Jantungya berdetak tak beraturan. Matanya digosok, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat adalah apa yang ia pikirkan. Menggelengkan kepalanya, menampar-nampar pipinya, dan sekali lagi, menggosok matanya, sampai kemudian, “Brengsek! Gak salah lagi, ini adalah U…F…Oooo… !!!”, teriaknya penuh klimaks.
Seperti kesetanan ia berlari kesana-kemari, meloncat-loncat, berguling-guling, semuanya ia lakukan sambil terus berteriak,”UFO..UFO…U…F…Ooo!! whoooooww…!!!”. Tidak jelas apakah ia sedang ketakutan atau bahagia , yang pasti orang-orang akan mempertanyakan kejiwaannya bila melihat seorang remaja pria berjingkrak-jingkrak di taman, di tengah malam, dan di depannya adalah Unidentified Flying Object. “Oke..oke..tenang..tenang..”napasnya mulai terengah-engah, tangannya sibuk gerayangan di saku celana jeansnya, masuk ke jaketnya, lalu mengorek isi tasnya. “Goblok, goblok, goblok lupa bawa kameraaa..” Harri kembali histeris, kali ini ia membanting tasnya ke tanah dan menendang motornya sampai akhirnya jatuh juga ke tanah.
“Sialan, justru di saat-saat sekarang ini malah gak bawa kamera..” Harri bersungut menahan kecewa, sambil mengangkat motornya yang jatuh, ia membayangkan momen-momen yang bisa ia tangkap seandainya ia membawa kamera kesayangannya. Sesaat setelah ia membenarkan posisi motornya seperti semula, tiba-tiba sesuatu menerjang otaknya. Ekspresi terkejutnya kembali terulang, dengan muka yang dingin dan mulut membentuk “o”, hati nuraninya berbisik, “Setiap pesawat terbang pasti dikemudikan oleh seseorang, begitu juga UFO, kalau pesawat dijalankan oleh pilot, kalau UFO dijalankan oleh….” Dari kaca spion motornya yang kecil, dengan cepat sekelebat sosok hijau terpantul, Harri membalikkan wajahnya dan berbisik ”Alien.”
Keringat mulai membasahi wajah Hari yang merah padam. Bibirnya kini bergetar membentuk suara dari gemeretak giginya. Saraf-saraf otaknya bekerja membentuk semacam kekacauan di pikirannya. “Alien…alien…alien…” hatinya terus bergema menyuarakan kata yang sama. Harri menggigit jarinya, dan untuk kali kedua ia berjalan perlahan mendekati UFO itu lagi. Sepanjang perjalanan, ia mencoba untuk menguatkan dirinya, sesekali muncul gambaran alien seperti yang ia kenal dari film di dalam pikirannya, ia membayangkan alien hijau yang ceking, kulitnya lengket, bermata hitam besar, dan kepalanya yang besar melebihi ukuran tubuhnya, lalu leher yang bisa memanjang seperti dongkrak, jari-jari tangan yang panjang dan hanya tiga jumlahnya disertai dengan pistol laser yang bila ditembakkan pada suatu objek dapat menyebabkan objek tersebut mengecil seukuran semut atau yang lebih parah objek tersebut justru terbakar, tersisa menjadi abu dan asap. Tanpa disadari dirinya sudah begitu dekat dengan UFO yang terdampar itu. Ia menggerakkan kepala dan matanya ke sekeliling mencoba mencari tanda-tanda mahluk hijau yang ia lihat di spion motornya tadi.
Masih dalam keadaan gentar, ia mulai membuka mulutnya, mencoba mengucapkan salam, ”H-h-ha-allo”, katanya dengan gagap. Tidak ada yang merespon sapaan ramahnya itu. Harri semakin penasaran, ia lalu memukul badan pesawat tersebut, namun tetap saja tidak ada tanggapan apa-apa. Dengan setengah kesal, ia mengambil inisiatif menendang UFO itu, ”BRAAKK..!”. Tendangannya cukup keras, membuat burung-burung yang sedang tidur di pohon taman itu terbang ketakutan. Dari tempatnya kini, ia mendengar suara di kejauhan yang kian lama semakin mendekat menuju ke arahnya, dan tiba-tiba…saat yang dinanti itu muncul juga. Sesosok mahluk hijau meloncat tinggi sekali dari dalam pesawat menuju angkasa, dan kemudian turun menghujam tanah tepat di hadapan Harri. Harri kaget bukan kepayang, bukan hanya karena alien tersebut persis seperti yang ia bayangkan sebelumnya, tapi juga ada pistol laser berwarna merah sedang ditodongkan ke mukanya.
”Mxxzlptk djfg kskl…” Harri mundur selangkah demi selangkah sambil mengangkat kedua tangannya. ”Kllar ntyeyi wwi jdj.” Alien tersebut terus menondongkan senjatanya, dengan marah ia menaikkan nada suaranya dua oktaf ”Klqerty hajk!!!”. Harri kebingungan, mulutnya membentuk huruf ”o”, ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh alien hijau itu. ”H-h-hei..saya tidak bermaksud…saya datang dengan damai…sumpah.” Alien tersebut tetap mengarahkan senjatanya, kali ini ia mengokangnya untuk menunjukkan ia serius, ”Hkllop srrta dretr!”. Harri terus mundur mencoba menjauh dari jangkauan laser itu, ia semakin panik, keringatnya kian deras, detak jantungnya pun menggila, ”Tidak, tidak…maaf..saya..saya datang dengan…damaaaaii!” Harri mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya ke atas, menunjukkan simbol perdamaian.
Tanpa disangka alien itu terkejut, pupil matanya membesar, ia mulai menurunkan senjatanya, pandangannya tertuju pada jemari Harri yang membentuk angka dua tadi. Alien itu terbelalak, memandanginya dengan dalam, mulutnya menganga, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke tiga jari kanannya yang terdiri dari telunjuk, jari tengah, dan jempol. Lalu ia melipat jempolnya dan menegakkan telunjuk dan jari tengah, dengan sedikit vibrasi ia mengacungkannya ke atas menunjukkan simbol yang sama kepada Harri.
Alien itu mengendurkan pegangan pada pistol lasernya, ia menatap wajah Harri yang memerah, matanya memelas menunjukkan ungkapan penyesalan, maaf, dan persahabatan ”Kllxc pizx..”,ujarnya. Harri terkesima, ia tidak tahu apa yang terjadi yang jelas nyawanya diselamatkan berkat refleksnya sebagai seorang Slankers.
”Saya datang dengan damai.”
”Pizx, pizx, pizx.”
”Ya, dengan damai.”
”Pizx, pizx”
”Damai.”
”Pizx”
***
Suasana tegang mereda, burung-burung kembali ke sarangnya, dan napas Harri mulai teratur seperti sedia kala. Si Alien duduk termenung di bangku taman menempelkan dagu lancipnya ke lututnya yang juga tidak kalah lancip. Sesuatu menyentuh kalbu Harri ketika melihat mahluk asing tersebut, ia lalu berjalan mengelilingi UFO, mencoba menerka kerusakan yang dialami oleh mesin tersebut. Sebenarnya ia bukan orang yang mengerti mengenai masalah permesinan, ia adalah seorang pemalas, tak pernah sekalipun ia menyentuh mesin motornya atau sekedar memegang busi, yang jelas saat ini ia terkagum atas penemuannya. Setelah puas bolak-balik mengelilingi UFO tersebut, dan berlagak seolah mekanik handal, kemudian dengan segan ia mendekati alien hijau yang membisu itu. Harri duduk dengan manis di sebelahnya mengambil jarak radius sekitar 1 meter. Ia mencermati rupa alien itu dengan seksama, sesekali ia heran dan sesekali ia menahan tawa.
Setelah saling diam beberapa menit, suasana sunyi terasa semakin nyata, Harri mencoba mengambil inisiatif berkomunikasi dengannya. ”Tapi gimana? Dia gak ngerti bahasa saya, saya juga gak ngerti bahasa Alien.” keluhnya di dalam hati. ”Hei, mmm…mungkin kamu gak ngerti bahasa saya, saya juga sebaliknya, tapi saya ingin sekali bicara dengan alien seperti anda ini, siapa tahu kita bisa berteman. Pertama-tama, errr…terima kasih tidak jadi membunuh saya. Saya tidak tahu arti simbol dua jari tadi dalam dunia alien, tapi sepertinya itu punya makna yang sama dengan dunia manusia.”
Alien itu terus membatu tanpa reaksi. ”Dari dulu saya percaya dengan alien seperti yang di film ET, mungkin dia saudara dekat anda, hehehe…Kamu tahu, dalam dunia manusia saya juga disebut Alien. Mereka menganggap orang berkacamata tebal, rambut kumal, dan dekil seperti saya ini alien. Coba kalau mereka lihat apa yang saya temukan sekarang. Alien asli!”
”Kamu tersesat, saya prihatin, pasti berat rasanya jauh dari keluargamu. Maaf saya tidak bisa banyak membantu membetulkan UFO, saya bukan ahlinya, tapi satu hal yang harus saya utarakan, mungkin saja saya akan senang jika seandainya tersesat di planetmu. Bumi ini bukan lagi tempat yang menyenangkan, orang-orang menyebalkan, semua palsu. Suatu saat teman-temanmu di sana harus datang menginvasi planet ini, biar mereka tahu rasa.”
Detik demi detik terus berlari, percakapan dua insan ini semakin mengalir, kedua spesies itu menjadi semakin akrab. Harri menceritakan masa kecilnya yang indah, pengalamannya diasingkan di lingkungan sekolahnya, dan kecintaannya terhadap musik rock. ”…dan kemudian dia datang dengan penuh lumpur di badannya. Hahaha..itu hal terlucu yang pernah saya lihat! Hahaha..” Alien itupun membalas dengan caranya sendiri, ia menceritakan segala sesuatu dengan berapi-api, penuh penghayatan, dan bahasa yang tidak dimengerti, ”Lok jj eyf ndhj, pjsj djf qw xx sdff xd…”
Keduanya memepersatukan ikatan persahabatan intergalaksi dengan saling mengerti, memahami, dan perhatian. Walaupun mereka berbicara dengan bahasa yang berbeda, namun itu bukan halangan bagi mereka untuk saling mengenal.
***
Malam semakin larut, alien tersebut terus mengecoh sambil menunjuk-nunjuk ke arah UFO-nya. Dengan sabar Harri mendengarkan sahabat barunya itu. Kemudian si alien mengeluarkan sesuatu dari badannya. Ia memperlihatkan kepada Harri sebuah batu hijau yang bersinar kelap-kelip. Harri terkagum-kagum, matanya berbinar terbuai oleh keindahnnya. Alien tersebut menaruh batu itu ke dalam genggaman tangan Harri, ”Oplsx jdj minxk.”
”Buat saya?” Harri kebingungan. Alien itu mengangguk ”Wow, terima kasih.” Batu itu lalu dimasukkan dengan hati-hati ke dalam tasnya, lalu Harri membalas pemberian itu dengan memberikan CD The Rolling Stone kepada Alien. Ia memakaikan headphone ke kuping alien dan menyetel CD itu pada CD player yang selalu ia bawa kemana-mana. ”Musik mereka keras, seperti batu, tapi dalam bentuk berbeda.” Alien tersebut tampak terhanyut menikmati alunan musik di telinganya, ia mengangguk, menggoyang tangan dan kakinya penuh ekspresi.
Di tengah keasyikan si alien, tiba-tiba Harri mendapatkan ilham. Dengan segera ia berlari menuju motornya, mengambil selang dan tangki minyak di dalam bagasinya, ”Ini bisa saja berhasil!” teriaknya optimis. Perlahan ia menghisap bensin dari motornya kemudian mengalirkan lewat selang ke dalam tangki. Terus-menerus ia lakukan sampai bensin itu habis.
Setelahnya ia berlari menuju UFO yang terdampar itu. ”Hey berdoa saja semoga berhasil!” teriaknya pada si alien. Dengan sok tahu, ia membuka knop di badan UFO dan memasukkan bensin ke dalamnya. Sesudah itu ia menarik tangan alien tadi, dengan semangat Hari menunjukkan bahasa isyarat tanda bahwa pesawat itu bisa terbang lagi. Alien itu kemudian bergegas masuk ke ruang kemudi, ia menekan banyak tombol di dalamnya, dan beberapa saat kemudian, suara mesin menyala, lampu warna-warni menghiasi UFO, asap mengepul dari bawah mesin. ”Hahaha, lihat kan!”.Alien itupun meloncat girang.
Perpisahan ini harus terjadi, Harri tersenyum puas telah berhasil menolong temannya. Keduanya saling bertatapan, Harri mencoba menahan air matanya, ”Hey! Hati-hati di jalan.” Alien itu menjawab dengan mengacungkan kedua jarinya, ”Koop hayt”. Tak lama kemudian mesin itu berbunyi semakin kencang, Harri mundur menekati motornya, dan UFO itu pun melesat kencang dan menghilang di antara bintang-bintang. Harri mengangkat jarinya dan berteriak, ”Piiiiss!!”
Asap mesin perlahan hilang tersapu angin. Kini tinggal Harri dan motornya. Ia masih berdiri menatap taman dengan tidak percaya. Perasaannya lega, ia tersenyum sendirian di tengah dingin malam, kebahagian menyelimuti dirinya. Di tengah euforia, ia menatap jam tangan, ”Walah! Udah jam segini euy, pasti babeh marah nih.” Harri membalikkan badannya, ia melihat taman itu sekali lagi dan tersenyum lepas, dengan langkah gontai ia menuntun motornya menyusuri taman menuju rumahnya. ”Pizx, pizx, pizx!”