KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Agustus 2007

Merah Putih

Kibar hentakan kharismamu…
Di ujung tombak kemerdekaan
Pada hakikatnya kini…
Engkau masih terjajah…
Campur aduk ideology
Hedonisme
Kapitalisme
Liberalisme
Nepotisme
Baratisme
Atheisme
Dan segala cengkram belenggu
Atas nama
HAK ASASI MANUSIA!

 Tunjukkan jayamu
Bila sekarang makna tujuh belas delapan empat lima
Telah berkobar
Hari ini dunia mengagungkanmu
Hari ini negeri memujimu
Hari ini rakyat menjagamu

Imajinasi

Kudengar pelangi bernyanyi
Kudengar awan berdendang
Hanya bagiku seorang

Kudengar denting kecapi
Mengusir rasa sepi
Yang mengganjal di hati

Ku berdiri terpaku
Mengamati ombak berkejaran di tepi laut
Ku sendiri lagi
Hanya aku dan imajinasi

Selamat Tinggal

Tolong!
Jiwaku terjebak di bawah kolong
Terkekang kelam malam
Terhalang bayangan gelap masa silam

Ketika murai bernyanyi
aku hanya bisa mendengarkan
dalam diam
Saat kupu - kupu bermetamorfosa
Aku hanya bisa memperhatikan
Dan tercengang

Haruskah kuakui diriku kesepian
Tak ada teman maupun hiburan
Tak ada ilmu dan pendidikan
Aku terkurung dan terkekang
merindukan pengalaman

Rindu 2

Kubentangkan dua tangan

hati turut pula berlari

meraup cahaya yang memancar

dari mata indahmu

Semakin hari kian terasa

waktu dan ruangku tak kuasa menahan

karena kasmaran telah merasuk urat nadi

Desah nafasku pun dalam detak jantungmu

Derai tawamu menjadi fajar jiwaku

Yang Mana Cinta

cinta aku tak mengerti cinta
sebuah rasa berkesan indah
tapi tak mengenal isinya

setiap hari ku bertemu cinta
setiap hari ku bertemu cinta
tapi ku tak tau yang mana rasa cinta?

aku bingung,aku resah,aku bimbang,ku galau
ku senang,diri bahagia ,apa ini cinta?

bila benar ini cinta
berikanlah ku terus cinta
jangan pernah hentikan

Kemarau Hati

tiada ranting yang rimbun
daunpun berguguran
airmatapun kering
tiada tetes embun turun

saat itu kemarau yang datang
hati berdebu dan gersang
curah hujan tiada turun

tiada pohon yang rindang
tempat berteduh diri
air matapun kering
suara hatipun bisu

saat itu kemarau yang datang
bila hati terasa sendu
cahaya mentari terasa semu
menyinari jiwa ini

Malaikat Satu Sayap

di malam bertabur cahaya

tak tahu bagaimana entah kenapa

 ku seakan mati beku penuh suka

saat pertama ku melihatmu

satu-satunya wanita yang kukenal

yang dapat berikan rasa yang begitu pekat

menyentuh dasar lubang di hati

meraba kesunyian kalbu yang tak kunjung mengabu

Kalau Kamu Adalah Aku

Kalau kamu adalah akuapakah kira-kira yang akan kamu lakukan?

Kalau kamu adalah aku

apakah kamu akan mengambil langkah yang berbeda dari jalanku?

Kalau kamu adalah aku

apakah kamu dapat melihatnya dari ujung matamu?

Kalau kamu adalah aku

Mungkin tak perlu dipertanyakan lagi pertanyaan yang tak berarti

Kaca dan Tembakau

Hujan turun dengan derasnya ,tak peduli apa yang dilaluinya ,apapun yang menghalanginya ,airnya yang jatuh ke tanah terpencar seakan berlari untuk bergabung dengan genangn air lainnya ,aku menarik napas panjang,bertahun-tahun aku selalu menatap hujan dibalik kaca ditemani tembakau berasap yang selalu setia dihisap,aku memalingkan wajah menatap pintu besar yang tak kunjung terbuka ,perutku sudah memanggil-manggil minta diisi ,kemana si bos ?pikirku mulai tak sabar ,kembali kuhisap rokok ditanganku,apinya bergemericik terhisap melibas tembakau-tembakau kecil yang tak berdosa. aku kembali terbawa suasana,pikiranku menerawang ke waktu lalu, ku tersenyum kecut, selama kurang lebih 35 tahun aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang kualami ,teringat kembali akan seorang wanita cantik berambut ikal yang dulu pernah singgah di hatiku,diam-diam kutulis ribuan puisi untuknya,bertumpuk bersama debu dan sarang laba-laba ,aku menghela napas panjang , sebuah kenangan yang pertama sekaligus yang terakhir bagiku,aku terusik oleh suara gaduh di depan kamarku,beberapa remaja mendorong sebuah mobil yang mogok ,bodoh!pikirku buat apa mereka susah-susah membantu orang yang tak dikenal,para pemuda itu saling bercanda, dibelakangnya sepasang muda-mudi saling bercumbu,aku kembali meringis ,entah apa?perasaanku berkecamuk rusuh .tolol !pikirku ,apa mereka tak liat ini tempat umum bukan rumah kakeknya.

Kepada Seorang Wanita

aku diam dalam malam

terduduk menatap kelam

yang dulu hitam suram

memudar perlahan-lahan

hujan dihati mulai mereda

jiwa yang kosong mulai bernada

rasa yang dulu pernah ada

yang kurasakan penuh kata

karna seorang wanita

kini kembali dan kurasakan

Next »