KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juli 2007

Aku Tak Bisa Meraba

Aku tak bisa meraba
Saat harapan adalah kenyataan
Puisi bukanlah mimpi
Karena kata-kata adalah kehidupan

Di ujung pena tergores syair indah
Sedang ujung pedang mengalirkan darah
Aku kan diam dan kembali menyendiri
Akan kucari prestasi
Dalam kesendirian

Jika hiruk pikuk menawarkan pesta
Dan kensunyian menawarkan rendah diri
Aku memilih diam
Untuk bisa bicara
Tentang indahnya tengah malam

Kun Fayakun

Ya Mutakabbir…,
Jangan biarkan aku dibesarkan oleh makhluq-Mu
Terlalu banyak hutang budiku pada mereka
Sedang diri tak yakin mampu membalasnya
Selain bersandar pada kebesaran-Mu

Bebaskan aku dari menyakiti hamba-Mu
Agar tak kenal dendam dan kejahatan
Jika kedunguanku karena tak terbatasnya ‘ilmu-Mu
Jadikan saudara-saudaraku pintar dan tinggi derajatnya
Hingga tak perlu iri dengan kenistaanku

Jadikan bahasa dan perbuatanku syair firman-Mu
Tanamkan bunga-bunga kehidupan
Tumbuhkan gairah mencumbu dalam pot percintaan
Buat harmoni dalam gerak dan nada melodiWalau telah jelas thariqat yang harus kulalui
Adakah syaraf yang hilang dari indraku
Eter yang terlalu lembut saat kucium

Bibit Penerus Bangsa

Ingin sekali aku membantu

Membantu anak-anak yang tidak mampu

Anak-anak yang sekolahnya terbeban

Tetapi tersangkut masalah biaya

Tapi kemampuanku terbatas

Aku juga kurang mampu

Semoga harapan anak-anak tersebut

Bisa terpenuhi dengan cepat

Bukan saja cita-citaku untuk membantu mereka

Harapan

Aku sadar, hidup tak selalu indah

Aku sadar, tak semua harapan bisa terwujud

Dan aku tahu pasti, saat berharap harus siap kecewa

Tapi aku tak bisa lepas dari harapan itu

Ya…manusia memang selalu dibayangi harapan

Harapan untuk hidup, bahagia, dan disayangi

Bagian utara Californio terdapat sebuah kota yang sangat padat penduduknya. Pemerintahan disana menganut paham Demokrasi. San Ricardo adalah nama kota itu. Termasuk kota industri karena sebagian besar penduduknya adalah buruh dan sisanya kaum bangsawan.

kau bilang yang mengantung itu awan

kau bilang yang mengawang kelam

hitam itu yang awan, hitam itu selalu

jeritan teredam.

Tapi selalu yang di baliknya elang…

ya, elang , tapi bukan hitam

dengan hatinya, yang kau tahu,

yang tak pernah kau jumpa

‘‘Kisah singkat ini aku dedikasikan untuk seorang teman, sahabat, yang akan meninggalkan Bali untuk melanjutkan studi menggapai cita-citanya di Surabaya, Dani…’’

Realita

Terkadang harapan melayang begitu tinggi

Terkadang impian mengalir begitu deras

Terkadang cita-cita melesat begitu jauh

Hingga akhirnya kenyataan seolah semu

Namun saat kesadaran kembali

Di depan mata hanyalah realita

Yang jauh dari harapan, impian, atau cita-cita

Dan kecewa pun hampir sirnakan asa

Kotak Kuno

Potret eksotik jingga remang-remang surya perlahan pergi. Siluet dua insan diantara desiran ombak yang menyapu pantai. Adalah Ning yang sedang terpaku diam di sudut Taman Menteng sore itu. Memasuki masa lalunya kembali diantara hiruk pikuk orang lalu lalang, seakan mengacuhkannya dan merasa dunianya hanya ada dia dan secarik potret yang sedang dipandanginya. Ketika dirinya berada dalam topografi alam bawah sadar, semua seperti nyata kembali.

« Prev - Next »