KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Juli 2007

Awan hitam menggantung di langit pada pertengahan bulan desember ini. Angin dingin menelusup ke seragam sekolah yang aku pakai. Aku berjalan menelusuri kelas – kelas yang hiruk pikuk dipenuhi oleh ocehan anak – anak SMA. Beberapa anak tersenyum mengusik kebisuan hati tatkala aku melewati kelas mereka. “Hai, selamat pagi”,kataku pada mereka sambil terus melangkahkan kaki. Tujuanku ialah kelas paling sudut yang pada pintunya tertulis Kelas III A.

Quo Vadis Hukum Terhadap IPDN?

Bak kedelai yang terantuk batu lagi, IPDN seakan tak jera terjerat di lubang yang sama. Setelah kasus penganiayaan yang berakhir dengan terenggutnya nyawa Eri Rahman dan Wahyu Hidayat, kini muncul lagi korban baru. Tewasnya salah seorang praja di IPDN kembali menjadi sorotan publik dan media. Untuk kesekian kalinya barak para calon birokrat itu merenggut nyawa parajanya. Cliff Muntu, praja asal Sulawesi Utara menjadi korban terakhirnya. Seakan tak tersentuh hukum, STPDN akan terus merenggut nyawa prajanya.

Huh…Annie..Annie…bukannya cari kerja, malah sibuk nulis novel di komputer. Pantes saja nganggur terus. Lha wong kerjanya cuma tidur dan bikin novel terus. Gerutu sang mama sembari berjalan meninggalkan Annie yang tengah sibuk menulis cerpen di komputer.

Deg…sakit rasanya hati Annie mendengar gerutu sang mama. Ingin rasanya ia membalas balik perkataan sang mama dan mengatakan bahwa ucapan sang mama itu tidak benar.

aku pikir dia dewa untukku

dewa yang akan selalu membuatku bahagia

tersenyum

dan menyayangiku

hingga saat itu aku berdo’a padamu Tuhan

agar Kau beri ia kehidupan yang indah

yang bahagia

dan dapat membuatnya bangga

tapi Kau terlalu kejam Tuhan

Kau ambil ia dari sisiku

Katakan Pada Musim Ini

Bisik angin menghembus bagai bisik jiwa

katakan pada musim ini :

” Hari ini akan ada semi yang memekarkan kuncup

Ada tunas yang menumbuhkan senyum”

Andaikan Kau Tahu

Biarlah Kau anggap aku ini musuhmu
Yang sanggup membukakan aib dan kesalahanmu
Bertarung dan merobek baju dekilmu

Andaikan kau tahu
Di tubuhku juga sebenarnya penuh noda
Bekas luka petualangan masa lalu

Haruskah aku keluarkan butiran bening ini
Untuk menunjukkan kasih sayang seorang ayah

Bisikan Roh Pagi

Tak sepantasnya menggeliat meratapi awal hari yang cerah
Biarkan guyuran dingin pagi merasuki sukma
Sirami hati yang malas ini
Ubah dengan kesejukan
Ganti dengan gelora jiwa yang tak terbatas bagi petualangan baruAkan kulayani siapapun yang mengajakku bertarung
Datanglah sebelum aku menolehkan kepala
Tak kan kubiarkan mulut ini memuntahkan buih-buih
Sebelum kuda-kudaku terpancang dengan sempurna

Janjinya kita akan berbulan madu di Marioboro, beli manik-manik dan ukiran batik wong sono, makan lesehan sambil memberi uang recehan, sebelum menikmati lukisan seniman jalanan yang meminta uang gobananKarena aku tunjukkan rel kereta api ke Yogyakarta, engkau memintaku beli karcis di st Hall

Kawan, Sopanlah Sedikit

Kawan
Sopanlah sedikit
Bukan hanya dirimu yang merasakan sakit
Semut Sulaeman juga sakitKawan dimana kegelisahanmu bersandar
Di awal impian
Atau di penghujung harapan

Satu, dua tiga
Engkau berkelit dan cari jalan
Untuk lari dan menutup muka
Menyakiti kawan sendiri
Korkom, 15 Juli 2001

Hai Sang Perintih

Hai sang perintih
Dimana kegembiraanmu kau simpan
Kapan langit biru kau singkapkan
Dan air kehangatan kau sibakkan
Dengan telapak tanganmu

Kau celupkan ujung jarimu
Sekedar mendapatkan kepastian
Dari jiwa yang kau puja
Dari hati yang kau cari

« Prev - Next »