Huh…Annie..Annie…bukannya cari kerja, malah sibuk nulis novel di komputer. Pantes saja nganggur terus. Lha wong kerjanya cuma tidur dan bikin novel terus. Gerutu sang mama sembari berjalan meninggalkan Annie yang tengah sibuk menulis cerpen di komputer.
Deg…sakit rasanya hati Annie mendengar gerutu sang mama. Ingin rasanya ia membalas balik perkataan sang mama dan mengatakan bahwa ucapan sang mama itu tidak benar.
Huh…Annie menghela nafas panjang. Di hentikannya jari-jemari yang sedari tadi sibuk mengetik novel di komputer. Untuk sesaat ia terdiam dan melamun. Pikirannya melayang jauh, memikirkan perkataan sang mama.
Salahkah aku bila ingin menghibur diri dengan menulis cerpen? Mama…kalau saja mama tahu penderitaan dan pengorbanan Annie selama ini, pastilah mama tidak akan mengucapkan hal seperti itu. Gumam Annie dalam hati. Perlahan air matanya jatuh, membasahi pipi. Untuk sesaat gadis manis ini tenggelam dalam kesedihan.
Tak butuh lama bagi Annie tuk mengembalikan semangatnya. Segera ia menghapus air mata dan kembali mengerjakan novel ciptaannya.
Annie alias Anisa Ramdani, adalah seorang gadis manis nan cerdas yang bernasib malang. Betapa tidak, sarjana sosial yang memiliki IPK lebih dari 3 ini, harus menghadapi kenyataan pahit akan kehidupan sebagai seorang yang selalu di underestimate ( di anggap rendah) oleh setiap orang.
Pendiam, lugu, namun santun dan sangat cerdas. Begitulah sifat yang di miliki oleh gadis manis bertubuh mungil ini. berbeda dengan kedua adiknya perempuannya, Annie terkesan lebih berhati-hati dalam berbicara. Ia bukanlah tipe gadis yang sok akrab dan sok ceria, namun lebih pantas di sebut sebagai sosok wanita yang cerdas, anggun serta memiliki kepribadian tinggi. Tak heran kala masih duduk di bangku kuliah dulu, Annie sering di undang oleh para dekan dan rektor untuk ikut dalam seminar.
Sebagai seorang anak, Annie pun bisa di katakan sebagai anak baik yang berusaha meringankan beban kedua orang tua. Tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Annie bersama dengan 2 sahabatnya, Jessy dan Shania melakukan kerja partime sebagai pelayan butik. Semua itu ia lakukan hanya untuk meringankan beban kedua orang tuanya dalam membiayai kebutuhan kuliah. Berkat usahanya itulah ia berhasil menabung untuk membiayai tahun-tahun terakhir dalam kuliahnya.
Namun sifat Annie yang agak sedikit tertutup, di tambah lagi sikap orang tua Annie yang selalu menganggap putri sulungnya sebagai gadis kecil yang belum dewasa, membuat Annie enggan tuk menceritakan kesuksesan serta pengorbanannya selama ini. Ia lebih memilih berdiam diri dan menyimpan semua itu di dalam hati.
Mungkin karena sifatnya pendiam dan lugu inilah yang menyebabkan Annie menjadi bulan-bulanan dan di rendahkan banyak orang. Sifatnya yang pendiam dan tidak pernah menceritakan usaha, pengorbanan serta kesedihan yang ia alami, membuat sikap orang-orang yang tidak menyukainya semakin menjadi-jadi. Adik-adiknya yang semula bersikap baik padanya, kini telah berubah. Mereka tidak segan-segan mengumpat di depan Annie, dengan perkataan yang menyakitkan.
Bagaikan mawar merah yang layu di tengah taman bunga, begitulah perasaan Annie saat itu.
*****
Terima kasih atas kedatangan anda, Nona Annie. Kami akan menghubungi anda nanti. Ujar sang pewawancara.
Mendengar perkataan sang pewawancara, Annie menyadari sekali lagi, bahwa dirinya gagal tuk mendapatkan pekerjaan. dengan senyum pahit yang di paksakan, Annie segera bergegas meninggalkan ruangan kantor tempat ia melamar pekerjaan.
Oh Tuhan…mengapa nasibku begitu buruk. Sudah hampir 1 tahun aku berusaha melamar pekerjaan ke sana-kemari, namun mengapa tidak satu pun dari mereka yang sudi menerimaku. Tak bisa kubayangkan betapa besar kekecewaan keluargaku, saat mereka tahu aku gagal di terima di perusahaan ini. Gumam Annie dalam hati sembari memandang jauh ke arah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta. Perasaan sedih, marah dan kecewa menggelayuti hati gadis manis ini. Ingin rasanya ia menumpahkan isi hati ini kepada seseorang. Seseorang yang bisa ia percaya. seseorang yang dapat menjaga rahasia serta kesedihan yang di alaminya selama ini.
Kalau saja aku memiliki seorang teman untuk berbagi….Gumam Annie dalam hati.
Bagaikan mendapat jawaban dari keinginan hatinya, di tengah-tengah kesedihan, datanglah seorang pria yang akan segera menjadi pelipur hati.
Nona…Apakah anda butuh payung? Sang pria menepuk bahu Annie dengan lembut. Tepukan pria itu membuat Annie tersadar dari lamunannya.
Ah..tidak terima kasih…saya akan menunggu sampai hujan reda. Tolak Annie dengan halus. Ia takut kalau-kalau pria itu bermaksud buruk terhadapnya.
Bagaikan mengerti sikap halus Annie, pria muda nan tampan tersebut tersenyum manis. Dengan ramah ia kembali menawarkan bantuannya untuk memayungi Annie sampai ke halte yang berjarak agak jauh dari kantor tempat ia melamar kerja.
Jangan takut nona, saya tidak bermaksud buruk. Saya hanya ingin membantu nona sampai ke depan halte. Itu saja. Ujar sang pria.
Baiklah. Ujar Annie pelan.
Tanpa membuang waktu pria muda tadi, segera membuka payungnya dan memayungi Annie sampai ke depan halte. Ukuran payung yang tidak terlalu besar, membuat sang pria tersebut harus rela memberi tempatnya pada Annie, hingga basah kuyuplah setelan jas mahal yang di kenakannya.
Melihat sang penolong telah basah kuyup, Annie merasa tidak enak. Setelah mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena sudah merepotkan sang pria, dengan sopan Annie menawarkan untuk mengganti jas tersebut.
Sang pria tertawa lepas ketika mendengar tawaran Annie. Dengan tenang ia mengatakan kepada Annie bahwa yang ia inginkan adalah sebuah perkenalan, bukan penggantian atas jas mahalnya itu. Suasana halte yang tidak begitu ramai, di tambah bis tujuan Annie yang datang agak lama membuat kedua orang yang baru saja bertemu itu terlibat dalam pebincangan seru yang mengasyikkan.
Dino Farells, begitulah nama pria muda tersebut, adalah seorang pengusaha muda yang memiliki event organizer. Kebetulan juga ia lulus dari universitas yang sama dengan Annie. Sifat Dino yang periang serta persamaan yang di miliki oleh kedua orang tersebut, membuat keakraban di antara Annie dan Dino segera terjalin. Di akhir pembicaraan mereka ( karena bis tujuan Annie sudah datang) Dino meminta nomer HP Annie dan berjanji akan menghubunginya.
Terima kasih atas bantuannya. Semoga kita bisa bertemu lagi. Ujar Annie.
Jangan khawatir. Aku akan sering menghubungi kamu. Kita kan teman seangkatan. Nanti aku hubungi kamu ya. selamat jalan and becarefull, ok. See you.
*****
Enam bulan berlalu sejak pertemuan Annie dan Dino tempo hari. Sejak saat itulah hubungan persahabatan mereka menjadi semakin erat. Merasa lelah dengan sikap keluarga yang selalu mengunderestimate dirinya, Annie memilih untuk menghabiskan waktu luangnya bersama Dino. Jalan-jalan ke mall, saling bertelepon ria atau saling curhat menjadi kebiasaan baru bagi gadis malang ini.
Bagaikan cerita dongeng Cinderella modern, masuknya Dino ke dalam kehidupan Annie, telah merubah kehidupan gadis malang yang semula bersifat pemalu dan suka berdiam diri, menjadi gadis ceria yang memiliki tekad untuk terus maju.
Aduh Annie, kata-katanya kok kaku begini sih. Mestinya tuh ” wajahnya bagaikan bunga bakung putih yang mekar di pagi hari” kan terdengar lebih romantis gitu. Aku ganti ya. Ujar Dino ketika mengoreksi novel karangan Annie yang berjudul “Imagine Of you”. Sejurus kemudian Dino asyik membaca novel, hingga ia tidak memperdulikan Annie yang tengah memandangi dirinya.
Dino…Din…
Ya Annie, whats up..Aku sedang asyik baca novel-mu nih…Jawab Dino dengan acuh tak acuh.
Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku. Annie berkata pelan.
Mendengar ucapan sahabatnya. Dino segera tersentak. Di letakkannya kumpulan kertas tebal yang merupakan novel karya Annie, lalu di pandanglah wajah gadis yang tengah tertunduk lesu itu.
Annie…kita ini kan sahabat dalam suka dan duka. Jadi, buat apa juga kamu berterima kasih sama aku.
Aku berterima kasih atas semua hal yang sudah kamu lakukan untuk aku. Terima kasih karena sudah bersedia menghiburku kala sedih serta membantuku dalam pembuatan novel ini. Terima kasih juga karena sudah bersedia menjadi sahabat dari seorang gadis bodoh.
Annie berkata dengan mata berkaca-kaca karena menahan haru.
Sudahlah…sampai kapan pun, kau tetap sahabatku. Ujar Dino sembari mengelus kepala Annie.
Oh ya Nie, gimana kalau kamu kirimkan saja novel ini ke Gravit publisher. Siapa tahu mereka tertarik dan bersedia menerbitkan novel kamu ini. Dino mengalihkan pembicaraan.
Hmm…bagaimana ya? Takutnya di tolak. Habis baru kali ini aku berhasil menulis sebuah novel.
Aduh… kamu ini….selalu kalah sebelum berperang…coba dulu..kalau gak di terima, ya tidak masalah…iya kan…
Annie terdiam sesaat dan memikirkan perkataan sahabatnya, lalu setelah menimbang-nimbang beberapa lama, ia pun mengiyakan.
Ya sudah, akan ku coba. Iseng-iseng berhadiah.
Nah gitu dong…itu baru Annie namanya….
Siapa sangka bahwa pertemuan di taman kota itu adalah pertemuan yang terakhir kalinya di antara mereka berdua. Sejak saat itu Dino hilang bak di telan bumi.
****
Sebulan berlalu sudah semenjak pertemuan terakhir mereka di taman kota. Novel garapan Annie telah di kirimkan ke Gravit publisher, namun Dino tidak pernah lagi menghubungi atau pun menemuinya. Keadaan yang seperti ini membuat Annie merasa kehilangan. Puluhan bahkan ratusan kali, jari jemari Annie memencet tombol HP untuk menghubungi nomer HP, kantor bahkan rumah Dino, namun jawaban yang di dapatkan selalu ” nomer telepon yang anda tuju tidak terdaftar”. Kegelisahan serta kecemasan mulai menggelayuti relung hatinya.
Dino sahabatku, di manakah kau sekarang? Apakah yang terjadi padamu? Apakah kau sengaja menjauhiku, karena tidak ingin berteman denganku lagi?
Perasaan sedih dan kehilangan akan sahabat tercinta membuat kondisi kesehatan Annie menurun drastis dan jatuh sakit.
Hampir 3 minggu ia di rawat di ruang khusus. Penyakit yang di deritanya begitu parah. Berhari-hari Annie menolak untuk makan maupun minum. Untuk bisa memasukkan makanan ke dalam tubuhnya, dokter terpaksa memerintahkan perawat untuk menginfus tubuh Annie. Di tengah-tengah kesakitannya, Annie mengalami halusinasi berat.
Berkali-kali ia berteriak dan mengigau memanggil nama Dino Farells, sahabatnya. Dalam pikirannya, ia melihat Dino berdiri di pinggir pintu dengan wajah tertunduk sendu, sesaat kemudian ia berjalan meninggalkan Annie, tanpa memperdulikan panggilan gadis itu.
Dinoooo…jangan pergi….jangan tinggalkan aku…. Pekik Annie histeris.
Kondisi Annie yang semakin hari semakin memburuk, membuat para dokter yang menanganinya angkat tangan. Mereka menyarankan agar keluarga Annie mencari pemuda yang bernama Dino Farells itu. Usaha pencarian pun di lakukan.
****
Seminggu berlalu sudah, namun keluarga Ramdani ( Keluarga Annie) tetap tidak bisa menemukan pria misterius yang bernama Dino Farells itu.
Siapa sebenarnya Dino Farells itu? Mengapa dia begitu misterius? Pusing aku jadinya. Keluh sang ayah sambil memandang ke arah putrinya yang tengah tertidur lelap. Dokter telah menyuntikkan obat penenang agar Annie bisa tidur dengan tenang.
Sang mama yang duduk tak jauh dari tempat sang ayah berdiri, hanya bisa menghela nafas panjang. Wanita separuh baya ini kemudian berdiri dan merengkuh sang suami.
Mungkin kita telah salah menilai Annie selama ini Pa.
Maksud mama? Tanya sang papa tidak mengerti.
Tadi pagi, sewaktu papa dan anak-anak pergi mencari Dino Farells, mama kedatangan tamu dari Gravit Publisher. Mereka mau bertemu dengan Annie, untuk membicarakan kemungkinan penerbitan novel karangannya.
Annie? Maksud kamu Annie anak kita? Apa kamu tidak salah dengar? Sang papa tidak percaya.
Tidak pa. Awalnya mama sempat kaget, ketika mereka bilang mau bertemu dengan Anisa Ramdani. Mama tidak menyangka bahwa putri kita memiliki kemampuan menulis sebaik itu. Ternyata…
Pa, mungkin semua ini adalah ujian dari Tuhan. Bukankah selama ini kita selalu menyianyiakan dirinya?. Sang mama tidak mampu meneruskan kata-katanya, hanya suara isak tangis sajalah yang terdengar.
*****
Waktu terus berjalan, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sudah waktunya bagi sang ayah untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Hari itu adalah hari sabtu, jadi sang papa dapat beristirahat dengan tenang di rumah. Sementara itu, Rufy, adik pertama Annie sudah siap menggantikan sang ayah untuk menjaga sang kakak.
Tak lama berselang setelah kepulangan sang ayah, Annie terjaga dari tidurnya. Rufy yang saat itu bertugas menjaga Annie sedang keluar untuk membeli cemilan. Ia berpikir bahwa suntikan obat penenang yang di berikan oleh sang dokter akan membuat sang kakak tertidur dalam jangka waktu yang lama. Karena itu ia berani meninggalkan sang kakak untuk sesaat.
Mendapati dirinya tengah berada sendiri di kamar, Annie menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Kesedihan serta kesabarannya telah mencapai batas terakhir.
Di pengaruhi oleh perasaan sedih, marah serta pikiran akan kehilangan sahabat tercinta, Annie bertekad untuk kabur dan menyusul Dino. Di dalam pikirannya, ia mendengar suara-suara bisikan yang mengatakan bahwa Dino tengah menunggunya di tepi atap rumah sakit.
Dino tunggu aku….Gumam Annie dalam hati. Dengan langkah tertatih-tatih Annie pun berjalan menuju ke arah atap.
Sementara itu Rufy yang baru saja pulang dari membeli cemilan, berteriak histeris ketika mendapati kakaknya sudah tidak berada di kamar. Dengan sigap ia melaporkan hal ini kepada perawat dan menelpon sang papa.
Papa cepat kembali. Kak Annie kabur dari rumah sakit. Ujar Rufy.
Tanpa membuang waktu sang papa yang saat itu baru saja tiba di rumah, segera mengajak sang mama ikut serta dan secepatnya mengemudikan mobil kembali ke rumah sakit.
*****
30 menit berlalu sejak berita kaburnya Annie tersebar di rumah sakit. Para perawat dan petugas pun dengan sigap mencari ke segala penjuru ruangan. Para satpam dan petugas Ambulance pun di minta bersiaga di depan pintu masuk dan mobil masing-masing. Mereka khawatir Annie akan kabur dengan menyelinap di Ambulance.
Di lain tempat, usaha Annie untuk menuju ke arah atap rumah sakit tercapai sudah. Kini ia berada di tengah-tengah atap yang luas. Hembusan angin kencang pun mulai terasa menusuk tubuhnya yang kering kerontang.
Sesaat Annie terdiam dan memandang ke segala penjuru atap. Tak tampak olehnya sosok Dino. Perlahan kekesalannya pun memuncak. Dengan sekuat tenaga ia berteriak keras memanggil nama Dino.
Dinoooo……..
Teriakan keras Annie terdengar oleh petugas yang saat itu sedang berada di lantai 3. Dengan sigap petugas tersebut mengambil walkie talkie untuk mengabari petugas lain yang tengah berada di ruangan tempat Annie di rawat.
Annie sudah di temukan, ia berada di lantai 4, tepatnya di atap rumah sakit. Petugas kami akan segera kesana untuk membawanya turun. Ujar sang petugas kepada keluarga Ramdani. Mendengar kabar baik tersebut, keluarga Ramdani segera menuju ke arah atap. Meskipun sudah di halangi oleh pihak rumah sakit, keluarga Ramdani tetap bersikukuh ingin menemui Annie. Mereka sangat khawatir akan keselamatan sang putri sulung.
Sesampainya di sana, terkejutlah mereka dengan apa yang tampak di hadapan. Annie, tengah berdiri di tepi atap dan bersiap untuk meloncat. Sementara itu para petugas rumah sakit tengah berusaha membujuk Annie agar mau kembali.
Annie ayo turun….Di situ sangat berbahaya….Mari ikut dengan kami…. Bujuk salah seorang petugas.
Annie hanya terdiam dan memandang sendu. Wajahnya menunjukkan keputusasaan yang begitu dalam.
Tidaaaaak…..aku tidak mau kembali…..aku mau bertemu dengan Dino. Suara itu menyuruhku untuk menyembrangi jembatan tak terlihat. Hanya dengan cara ini Dino dapat kembali padaku. Pekik Annie histeris. Sejurus kemudian ia bersiap untuk lompat, namun hal ini urung di lakukannya ketika dirinya melihat Dino tengah berdiri di samping keluarganya.
Annie hentikan semua ini, aku dan juga keluargamu sangat sayang padamu. Ujar Dino.
Tidak…cuma kau..cuma kau yang sayang padaku. Mereka sama sekali tidak perduli denganku. Bagi mereka, aku ini hanyalah sebuah beban. Beban yang selalu menyusahkan. Annie memekik semakin histeris.
Kau salah sayang, kami selalu mencintaimu, kami tidak pernah melupakanku. Ujar sang mama.
Boooohoooong…..semua itu tidak benar. Tidak ada yang menyayangiku selain kamu. Hanya kamulah satu-satunya orang yang bisa mengerti aku, Dino, cuma kamu.
Dino tertunduk lesu. Sejurus kemudian ia berjalan mendekati Annie. Di ulurkanlah tangannya dan di mintanya Annie untuk turun. Mendapati orang yang di sayangi telah kembali bersamanya, Annie segera mengikuti keinginan Dino yang membawanya ke tengah-tengah atap. Sebuah tempat yang jauh lebih aman.
Annie sayang….ada sesuatu yang harus kukatakan padamu. Tapi aku tidak tahu apakah kau bisa menerimanya atau tidak. Ujar Dino ragu-ragu.
Apa itu Dino, katakanlah. Aku akan siap mendengarnya. Jawab Annie cepat.
Annie, tidakkah kau sayang padaku? Jika seandainya terjadi sesuatu padaku, maukah kau mengingatku dalam kenangan untuk selamanya?. Tanya Dino lesu.
Tentu saja. Kau adalah sahabat terbaikku. Satu-satunya orang yang paling mengerti diriku. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apakah kau sakit? Annie bertanya dengan penuh kegusaran.
Annie…Dino Farell tidak pernah ada. Dia tidak pernah lahir maupun hidup di dunia ini.
Jdeeer…Bagaikan di sambar petir hati Annie ketika mendengar jawaban tersebut. Seketika itu juga dirinya bergerak, menjauh sedikit dari tempat Dino berpijak.
Ap..apa maksudmu…? Apakah kau sudah gila? Ataukah kau ini hantu? Tanya Annie dengan tubuh gemetar.
Dino kembali memandang Annie dengan tatapan sendu.
Annie…Dino Farells atau aku, adalah sebuah tokoh khayalan yang kau ciptakan sendiri. Ingatkah kau pada novel imagine of you, yang merupakan hasil karyamu?
Imagine of you.. .Dino Farells…Annie bergumam. Ya Tuhan…..tidak mungkin. Kau pasti bohong. Kau adalah sahabatku, bukan ilusi belaka. Dino aku mohon, tidakkah kau ingat ketika kau membaca novelku dulu. Lalu ketika kita berjalan ke mall dan berfoto bersama. Itu semua kenyataan Dino…semua itu nyata….aku mohon jangan bohongi aku lagi….kau ini manusia…….Pekik Annie semakin histeris. Ia masih tidak mau percaya dengan kenyataan yang tampak dihadapan.
Dino hanya menggeleng, sejurus kemudian ia kembali berjalan mendekati Annie dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.
Semua ini hanya mimpi sahabatku…hanya ilusi belaka….aku hadir di sini karena keinginanmu…semua yang pernah aku lakukan termasuk membantumu dalam menyelesaikan novel, semua itu adalah usahamu sendiri….
Sekarang semuanya sudah berakhir. Semua mimpimu telah tercapai. Kini kau sudah menjadi seorang calon novelis terkenal. Tidak ada lagi yang perlu kau risaukan. Kamu sudah menjadi gadis yang kuat sayang. Karena itu kita harus berpisah. Selamat tinggal ……Perlahan sosok Dino berubah menjadi bayangan yang kemudian hilang di terpa sinar matahari yang semakin cerah.
Dinooooo…Tidaaaak…jangan tinggalkan aku……Annie berteriak histeris hingga akhirnya jatuh pingsan.
*****
Beberapa Bulan kemudian……
Tiga bulan berlalu sudah sejak kejadian itu. Kejadian yang hampir merengut nyawa Annie tersebut telah membuka mata dan hati keluarganya, terutama kedua orang tua Annie. Mereka tidak lagi mengumpat atau pun merendahkan kemampuan putri sulung mereka. Sebaliknya, keluarga Ramdani kini giat memberikan dorongan serta dukungan moral, agar Annie dapat mencapai cita-citanya sebagai penulis terkenal.
Setelah menjalani terapi dan berkonsultasi dengan psikiater, serta dengan adanya dukungan dari pihak keluarga, akhirnya Annie dapat sembuh dari penyakit halusinasi yang selama ini di deritanya. Ia pun siap tuk melanjutkan impiannya sebagai penulis novel terkenal.
Novel Annie yang berjudul Imagine of you, konon telah menjadi best seller of the year. Begitu hebatnya penjualan novel karangan Annie tersebut, hingga para penerbit dari beberapa negara Eropa tertarik tuk memasarkannya di negara mereka. Kini Annie telah berhasil meraih semua impian dan cita-citanya untuk menjadi seorang penulis internasional yang menjadi kebanggaan negara.
Ketika matamu terpejam, bermimpilah setinggi langit.
Namun ketika matamu terbuka, lihatlah kenyataan di sekelilingmu.
Bermimpilah walau hanya setitik, karena mimpi dapat menjadi kenyataan.
Namun janganlah engkau berada di dalam mimpi, karena kelak hal itu akan menjadi penghancurmu.
TAMAT
very good
very excellent