KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Hai Sang Perintih

Hai sang perintih
Dimana kegembiraanmu kau simpan
Kapan langit biru kau singkapkan
Dan air kehangatan kau sibakkan
Dengan telapak tanganmu

Kau celupkan ujung jarimu
Sekedar mendapatkan kepastian
Dari jiwa yang kau puja
Dari hati yang kau cari

Lusuh badanmu ketika tengadahkan tangan
Sayu matamu saat lirikkan
Kelu lidahmu saat kau gerakkan
Syahdu suaramu saat kau dendangkan
Getir senyummu saat kau sunggingkan

Dalam kecewa tiada tara
Mana bisa menghargai asa
Yang tinggal setitik di ujung pena

Lewat angin kau hembuskan
Lewat siang kau sebarkan
Lewat malam kau titipkan
Lewat mimpi kau gambarkan

Tuhan ciptakan cita dan asa
Lewat impian dan kenyataan
Kau ciptakan kesabaran
Lewat nyanyian dan urutan dada

Mungkin takdir tak pantas di pungkiri
Ataukah nasib tak mau disiasati
Hingga sebuah kekecewaan
Menjadi kenangan dalam sejarah

Satu hari, dua minggu, tiga bulan dan empat tahun
Tak cukup untuk kembali
Memulihkan sebuah harga diri
Lewat penghormatan sendiri

Tujuh puisi telah kubeli
Ribuan kata telah kusewa
Jutaan kehormatan coba kurengkuh
Dan bahkan tak sanggup lagi
tuk hilangkan duka lara

Hai
Aku tlah jadi pencengeng
Yang tak hanya coba bersyair
Dengan lagu dan puisi
Dengan diam dan bicara

Hai Sang Perintih
Kembalilah dan pulanglah
Tak patut berbuat aniaya
Pada siapapun
Dengan cara apapun

Tinggalkan Komentar