KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Semoga Sukses, Sahabat

‘‘Kisah singkat ini aku dedikasikan untuk seorang teman, sahabat, yang akan meninggalkan Bali untuk melanjutkan studi menggapai cita-citanya di Surabaya, Dani…’’

Pertengahan Maret 2007, aku ga tahan lagi dengan masalahku. Sikap Vish makin dingin, padahal awal tahun kami sudah janji memulai semuanya sebagai teman. Tapi janji tinggal janji, hubungan kami tetap renggang. Aku jadi merasa bersalah atas perasaanku yang menyebabkan semua ini. Ditambah lagi aku sadar teman-teman sudah capek mendengan curhatku soal Vish. Jadi aku harus mencari orang lain yang bisa membantuku.

Teman setia lain yang aku miliki adalah Phoenix Radio Bali. Phoenix selalu ada saat aku sendiri, sedih, meratapi semua yang aku alami. Dan aku tahu setiap Sabtu malam ada program Passion of Love. Jadi aku memutuskan menulis surat yang akan aku sampaikan pada mereka. 14 Maret 2007, sekitar jam 8, aku janjian sama Yuna untuk pergi ke Phoenix Radio. Awalnya sempat nyasar dikit, tapi akhirnya ketemu juga.

Pertama lumayan gugup waktu masuk ke dalam, soalnya udah agak malam, jadi cukup sepi, apalagi itu pertama kali kami datang dan ga kenal siapa-siapa. Di studio di lantai 2 kami lihat Meta sedang siaran, dia sempat menyapa di balik kaca dan mempersilahkan kami duduk. Kemudian datang seorang cowok tinggi, putih, berwajah oriental datang menyapa.

“Hai… malam”, sapanya

Kami pun langsung berjabat tangan, “Dani… Violet…Yuna…”

Begitulah kami akhirnya kenalan. Ternyata dialah Dani yang sering aku dengar selama ini. Kesan pertama cukup baik, ramah, hanya agak berbeda dengan yang aku bayangkan. Begitu juga saat Dani mengenalkan Oktav. Kami pun lebih banyak ngobrol dengn Oktav. Aku memberikan surat yang kubawa pada Oktav dan menjelaskan tujuan kedatangan kami. Beberapa saat kemudian Meta keluar dan tiba giliran Oktav yang siaran. Kami pikir akan ditinggal sendirian di luar, ternyata dia mengizinkan aku dan Yuna masuk ke Studio melihat-lihat segala perlengkapan siaran dan menemaninya. Waktu berjalan, Dani pun masuk bersiap pulang. Sebelum dia pergi aku sempat menanyakan nomor handphonenya, siapa tahu nanti ada perlu atau mungkln kami bisa berteman lebih dekat. Aku juga sempat meminta nomor hp Oktav dan Meta.

Sejam kemudian setelah lagu yang aku dan Yuna request diputar, kami memutuskan pulang karena malam makin larut. Hari itu aku cukup senang bisa ke Phoenix dan lega telah menyerahkan suratku. Tapi rasa penasaranku terhadap penyiar lain membuatku mengajak Yuna ke sana lagi keesokan siangnya usai dari kampus. Akhirnya di sana kami bisa kenalan sama Regina, Wibi, Aldi, Lia, Fia, Cika, dan Ayu. Mereka semua cukup seru, friendly, dan lumayan cerewet sih, tapi memang pekerjaan mereka menuntut untuk bisa banyak bicara. Dan Phoenix pun menjadi tempat yang asyik untuk santai menghabiskan waktu.

Tak perlu menunggu lama, Sabtu di minggu itu tanggal 17 Maret 2007, surat Siwi dibacakan di Passion of Love. Dan ternyata yang membacakannya adalah Dani.

Dear Phoenix,

Hai Finers, aku Violet di Panjer. Sekarang aku 19 tahun, masih kuliah di Fakultas Teknik di Denpasar. Aku mau minta tolong sama kalian semua buat ngasi solusi atas masalahku ini.

Ini tentang aku dan Vish. Perasaan sayangku sama dia aku sadari sekitar setahun lalu. Vish terkesan sebagai orang yang dingin, pendiam, dan cuek. Tapi aku sayang banget sama dia. Buat aku dia adalah sosok yang penuh ketenangan, bisa bersikap netral dan ga cepat panik dalam situasi apapun. Karena kami sekelas, aku jadi semangat kalo kuliah, betah di kampus, dan bisa tenang walaupun sibuk ato banyak tugas. Meski kadang, makan ati juga sih kalo lihat dia sama cewek lain di kelas. Tapi biarpun begitu, dia benar-benar jadi motivator dan bisa buat aku kuat bertahan.

Awalnya aku memutuskan diam dan menyimpan perasaan ini sendiri. Tapi akhir tahun lalu aku nekat untuk jujur kalo aku sayang dia. Dan ternyata dia hanya bisa menganggap aku sebagai teman. Sebenarnya itu udah aku duga, karena pasti dia mengharapkan gadis yang lebih baik dan kalau bisa setara dengan ‘kastanya’. Sempat sedih juga sih, tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan berharap dia selalu dapat yang terbaik.

Sampai akhirnya aku bisa terima kalau kami cuma bisa berteman. Walau begitu, sampai saat ini aku masih sayang sama dia. Yang agak menyakitkan, hubungan kami jadi agak renggang. Aku jadi canggung di hadapannya, dia pun sulit untuk mulai bicara duluan. Padahal yang aku harapkan ga seperti itu. Biarpun ga bisa milikin hatinya, asal bisa tetap temenan dan ada di dekat dia aku udah bersyukur.

Teman-temanku mendukung perasaanku, tapi mereka sempat bilang karena aku terlalu sayang sama dia, aku jadi seolah merendahkan diri di hadapan Vish dan rela berbuat apa aja demi dia. Aku jadi berpikir, salahkah aku tetap sayang dia biarpun ga ada harapan untuk bersama, apa aku ga tahu diri??? Trus gimana caranya biar aku bisa bersikap biasa, ga canggung dan benar-benar jadi temannya ?

Tolong aku ya Finers, aku harap aku bisa menjalin hubungan yang baik dengan Vish. Sebab, bukan maksudku untuk menghancurkan hubungan pertemanan karena perasaan sayangku ini….

Thanks banget ya. God Bless You All.

VIOLET

Kurang lebih demikisn isi suratku. Hingga aku pun mendapat banyak masukan yang menyatakan aku ga salah kalau tetap sayang sama Vish, tapi juga harus menerima kenyataan bahwa kami hanya bisa sebagai teman. Dan akulah yang harus mulai bersikap biasa agar tidak canggung lagi dan memperbaiki hubungan kami. Kata-kata Dani sempat membuat aku terharu, dan mungkin dari sana aku pikir dia orang yang tepat untuk bisa dijadikan teman dan aku merasa sudah akrab dengannya.

Hari Kamis minggu berikutnya, aku dan Yuna berniat ke Phoenix mengambil hadiah dari Passion of Love. Tapi ternyata udah sore dan kantor tutup. Yang mengecewakan rupanya bukan hanya itu, tapi juga sikap Dani. Entah aku yang terlalu sensitif atau memang dia lagi sibuk, sikapnya tidak seramah biasa, agak cuek, tidak ceria, dan seperti tidak mengenal kami. Tapi sudahlah, tidak terlalu aku pikirkan, mungkin dia lagi BT. Biarpun kali itu aku merasa dia agak dingin, aku masih bisa menanyakan alamat emailnya untuk dijadikan teman di friendster. Dan keesokannya kami ke Phoenix lagi. Senang juga akhirnya aku dapat hadiah itu berupa kaset TATU.

Masa-masa itu aku juga sepertinya ketagihan ke warnet. Padahal malamnya udah, keesokannya aku ke warnet dekat kos sendiri. Mau coba-coba chating, eh, ternyata dapat chating sama Dani. Cuma sebentar sih soalnya dia sepertinya sibuk, trus aku dianggap wawancarain dia. Terus terang aja itu memang pertama kalinya buat aku, dan aku bingung mau ngobrol apa, jadinya kebanyakan tanya-tanya. Emang sih mungkin aku bukan teman ngobrol yang baik, karena kadang aku lebih suka diam dan ga terlalu cerewet. Tapi ga salah kan kalau aku mau tahu tentang teman baru lebih jauh, meski caranya memang agak salah.

Bulan berganti, awal April Dani ke Yogya. Dan aku sering sms dia, entah kenapa aku jadi perhatian begitu. Bahkan sampai dia Ujian Nasional, kelulusannya, dan rencananya kuliah di Surabaya, aku masih sms dia buat kasi support. Mudah-mudahan Dani ga salah paham, karena dia kan tahu pasti di hatiku masih ada Vish. Hanya saja yang kadang menyebalkan, dia pernah ga balas smsku atau balasnya lama, mungkin dia memang sibuk atau apa. Lagi pula Vish juga pernah melakukan hal yang sama, jadi udah biasa buatku. Aku maklum, memang Dani banyak penggemarnya entah karena dia cakep, humoris gaul, seru, dan bisa juga bijaksana atau apapun yang lain, tapi semoga dia masih menganggap aku teman.

Pertemanan kami tidak hanya terjalin lewat bertemu langsung atau sms, via internet pun bisa lewat friendster, chating, dan sekarang juga di multiply. Sebenarnya waktu itu ga sengaja. Aku maunya download lagu, dan lagunya ketemu di Site-nya Dani. Aku cukup kaget kok bisa, dan langsung aja aku add dia sebagai contact. Sekarang aku harap biarpun dia nanti di Surabaya, kami masih bisa berteman dan komunikasi.

Semalam waktu dengerin Phoenix, aku tahu kalau Dani akan berangkat ke Surabaya. Dan waktu closing Nite Time dia sempat pamitan. Mendengar kata-kata terakhirnya aku jadi terharu, sedih karena akan kehilangan keceriaannya di Phoenix. Aku dan Finers yang lain pasti akan kangen banget sama dia. Bagaimanapun juga walau dia kadang menyebalkan, dia udah banyak bantu aku, jadi teman curhat yang baik, dan bisa memberi solusi bijaksana. Suaranya udah menemani aku dalam berbagai situasi, waktu buat tugas, menjelang tidur, lagi santai, sedih, marah, senang, dan lainnya. Bahkan aku merasa dia sudah menjadi lebih dari temanku, dia seorang sahabat atau mungkin saudara.

Tadi malam aku juga sms dia, dan baru dibalas jam 3 pagi, katanya Rabu pagi besok baru dia berangkat ke Srabaya. Mungkin aku memang ga punya kesempatan ketemu dia lagi, tapi kurang lebih aku mengerti perasaannya yang akan pergi, karena hari ini, Selasa 3 Juli 2007 adalah tepat 2 tahun aku pergi meninggalkan ibu dan saudaraku di Kupang untuk kuliah di sini. Kadang perpisahan memang menyakitkan, tapi mungkin memang itu yang terbaik, entah bagi diri kita sendiri atau yang kita tinggalkan. Tapi semoga perpisahan ini tak selamanya, aku bisa berkumpul dengan keluargaku, dan suatu saat Dani juga akan kembali.

“Tak ada kata yang bisa terucap selain selamat jalan Dani, semoga sukses meraih cita-cita. Jangan lupakan Bali, jangan lupakan kami, dan tetaplah jadi sahabatku. Terima kasih untuk semuanya. Bali akan meridukanmu. Semoga senantiasa dalam lindunganNya. GBU”

Selasa, 3 Juli 2007

V I O L E T

(‘Siwi’ Sawitri)

Tinggalkan Komentar