KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Imagine

Bagian utara Californio terdapat sebuah kota yang sangat padat penduduknya. Pemerintahan disana menganut paham Demokrasi. San Ricardo adalah nama kota itu. Termasuk kota industri karena sebagian besar penduduknya adalah buruh dan sisanya kaum bangsawan.

Angka kriminalitas di San Ricardo cukup tinggi karena banyak buruh yang terkena PHK, alhasil angka pengangguran juga meningkat pesat. Angka kemiskinannya juga tinggi, karea sempitnya lapangan pekerjaan yang mengakibatkan banyaknya penduduk yang menjadi tenaga kerja asing dinegara bagian barat Californio.

Syarat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, masyarakat San Ricardo harus menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi minimal dengan lulusan sarjana D3. Syarat tersebut terlalu berat bagi masyarakat golongan bawah dengan gaji pas-pasan akibatnya banyak remaja putus sekolah yang menjadi pekerja kasar demi melanjutkan hidup mereka daripada menjadi tenaga kerja asing yang rumornya sering terjadi penyelewengan Hak Asasi Manusia. Banyak pabrik pengolah biji besi yang menjadi incaran masyarakat golongan bawah sebagai mata pencaharian yang tidak membutuhkan skill tinggi. Saking banyaknya pekerja baru yang dipekerjakan, anggaran pendapatan pabrik menurun drastis dan akibatnya banyak pabrik-pabrik dengan terpaksa memecat para buruh-buruhnya.

Lain hal dengan Henry Jhonson, dibandingkan dengan kehidupan remaja lain dia seorang remaja yang beruntung. Henry tidak harus bekerja keras karena dia mendapatkan pendidikan yang baik dan pendidikan tinggi merupakan tolak ukur suatu keluarga mapan dikota San Ricardo. Ted Jhonson, ayah Henry adalah pensiunan perusahaan asing dan Mathilda ibunya seorang ibu rumah tangga yang aktif dilingkungan tempat tinggalnya di St.Nothilham, San Ricardo. Lingkungan tempat tinggal keluarga Jhonson merupakan lingkungan perumahan kelas elite, banyak investor asing yang tinggal disana.

Henry adalah anak tunggal di keluarganya, sebenarnya dahulu ibunya melahirkan anak kedua pada saat Henry berumur delapan tahun, tetapi janinnya keguguran dan nyawa sang ibu hampir saja terenggut karena terlalu banyak pendarahan. Semenjak kejadian itu orang tua Henry menjadi over protected dalam mendidik, Ayah dan ibu Henry hanya tidak ingin kehilangan anak satu-satunya. Henry menjadi seorang yang tertutup oleh sebab sikap orang tuanya itu, masalahnya kemana Henry bermain atau pergi kesekolah harus selalu ada ayah dan ibu disampingnya. Hal tersebut berlangsung hingga Henry mengenyam pendidikan di SMU Rotterburg, San Ricardo. SMU Rotterburg adalah sekolah menengah yang memiliki status terakreditasi A, kedisiplinan dan tata tertib yang ketat menjadi ciri khas sekolah tersebut. Pada saat itu Henry berumur enam belas tahun, dia mulai merasa risih setiap kali ayahnya mengantar Henry ke sekolah karena teman-temannya selalu memperolok Henry dengan sebutan “Hey anak manja!” ,begitu sebutan Henry dihadapan teman-teman sekelasnya. Henry mulai muak dengan teman-temannya yang selalu memperolok dia, kemarahannya memuncak saat itu juga, didalam kelasnya salah satu dari lima temannya yang memperoloknya dipukul habis-habisan, akibat perbuatanya itu pihak sekolah segera mengambil tindakan untuk memanggil kedua orang tua Henry saat itu juga kesekolah, dan sebagai sangsi pelanggaran tata tertib sekolahnya Henry diskorsing selama seminggu.

Setelah rapat dengan orang tua Henry mengenai perkelahiannya diruang Bimbingan Konseling yang berada tepat disebelah kelas Henry selesai, kemudian Henry pulang bersama orang tuanya dengan mobil Corvair. Corvair adalah mobil pertama buatan Amerika yang sukses dengan mesin dibelakang. Suasana didalam mobil itu terasa keruh. Wajah Ted yang kusut melihat Henry dengan kesal sambil mengendarai mobil kebanggaannya. Dengan geram Ted berkata “Mau jadi apa kamu!” bentak Ted sambil mendorong bahu Henry dengan tangan kirinya. Tertuduk diam Henry menghadapi kemarahan ayahnya itu. “Sudahlah Ted jangan terlalu kasar kepada anakmu sendiri” pinta Mathilda kepada suaminya sambil menangis melihat anaknya diperlakukan kasar. “Anak ini harus diberi pelajaran, mau jadi apa kelak dia besar nanti?!” bentak Ted kepada Mathilda. “Ayah kalau mau marah, marahi saja aku saja tetapi jangan bentak ibu seperti itu!” bentak Henry kepada ayahnya. “Lihat anakmu itu, dia sudah pintar mengajari ayahnya sendiri!” bentak Ted kepada istrinya. “Sudahlah, aku tidak mau mendengar hal ini lagi. Henry segeralah minta maaf kepada ayahmu dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Jangan buat malu kedua orangtuamu ini” “Baik bu. Ayah aku minta maaf masalah perkara perkelahian tadi, aku berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi” “Ya sudah tetapi setelah kita sampai dirumah nanti, ceritakan yang sebenarnya terjadi kepada ayah” “Baiklah yah” ucap Henry dengan mata berbinar melihat ayahnya.

Sesampainya dirumah, Henry mengikuti ayahnya keruangan kerjanya. Disana mereka berdua berbincang-bincang selama kurang lebih satu jam. Ibu Mathilda tampak resah dan bingung tentang apa yang dibicarakan Ted dan anaknya. Saking penasarannya Mathilda sengaja mendengar percakapan mereka didepan pintu ruangan kerja Ted yang tidak tertutup rapat. “Aku merasa kalau ayah terlalu mengekangku. Teman-temanku menyebutku dengan sebutan Anak manja dan ayah tahu, usiaku sekarang sudah enam belas tahun. Itu sesuatu yang memalukan yah, mereka menganggapku tidak mandiri. Aku malu!” kata Henry kepada Ayahnya. “Maaf nak, bukan maksud ayah seperti itu, coba lihat ibumu apa kau tidak ada rasa kasihan sedikitpun kepadanya. Setelah keguguran itu ibumu mengalami shock yang cukup berat dan ayah hampir saja kehilangan ibumu” “Ya, tetapi sekarang ayah juga hampir kehilangan anak kesayangan ayah karena sikap ayah” ucap Henry sambil memalingkan wajahnya lalu berlari menuju pintu. Melihat kejadian itu Mathilda segera menghalangi Henry. “Mau kemana kamu ?” “Maafkan aku bu, mulai sekarang aku akan hidup mandiri” Henry lalu pergi meninggalkan rumah. “Sabar ya bu, kita berdoa saja kepada Tuhan mudah-mudahan Tuhan membuka mata hatinya. Aku yakin dia pasti kembali kepada kita, sudah saatnya kita melepaskan ketakutan yang selama ini menghantui keluarga ini” ucap Ted sambil memeluk erat Mathilda yang sedang menangis.

Semenjak kepergian Henry dari rumahnya, namanya dicoret dari SMU Rotterburg dan dinyatakan keluar. Setelah setahun berlalu Henry berjuang keras demi harga dirinya yang terasa hilang, dia mulai berkerja sebagai buruh di pelabuhan sampai bekerja di sebuah Media massa sebagai paperboy sudah pernah dijalaninya dan sekarang Henry bekerja sebagai buruh pabrik. Selama ini Henry tinggal dirumah kawan lamanya, Ralph Morgan tepatnya di Polter Bridge, West Canyon. Ralph hanya tinggal dengan mobil tuanya yang sering mengalami kerusakan pada rem, mobil itu dibiarkannya teronggok disebelah gudang rumahnya terkadang mobil itu digunakan unuk menjemput Henryapabila Ralph sedang libur. Kedua orang tua Ralph meninggal karena menderita penyakit asma yang cukup parah, penyebabnya karena zat kimia yang terhisap setiap kali mereka bekerja dipabrik Harved.

Pabrik Harved, Polterdam, West Canyon adalah sebuah pabrik tekstil tempat dimana Henry dan Ralph bekerja. Didirikan sejak tahun 1960 sampai 1980, dan cukup terkenal dengan kualitas barangnya. Selama tiga bulan Henry trainee disana. Jam 6.00 dia pergi bekerja, dan diakhiri jam 15.00. Dengan gaji yang pas-pasan, dia masih terbilang beruntung dibandingkan kawan-kawannya yang pengangguran. Tetapi dengan adanya pekerjaan itu dia tetap kurang puas. Henry mulai merasa bosan dan menyesali perbuatannya, kehidupan Henry yang seharusnya dijalani di perguruan tinggi dipaksakan untuk bekerja keras. Herny merasa dirinya adalah seorang anak yang jahat terhadap kedua orang tuanya karena membuat perasaan mereka berdua menjadi putus asa dan melepas Henry begitu saja.

Pikiran yang kalut dan rasa bersalah terus menghantui Henry. Malam itu jam 19.00, biasanya Henry menelepon ayah dan ibunya selepas jam kerjanya kali ini tidak dilakukannya. Henry berjalan menyusuri jalanan kota dengan memikul rasa lelah dan menahan sesak didadanya. “Jam berapa sekarang, kenapa gelap sekali?” Kenapa aku tidak melihat ada orang disekitar sini. Ralph? Kemana pula dia, seharusnya dia menjemputku sekarang” ucap Henry sambil celingak-celinguk seperti orang yang hilang kesadaran. Tampak dari kejauhan sebuah mobil mendekat menuju arah Henry. “Ralph? Hey! Ah…sepertinya itu mobil ayah dan ada sebuah…peti mati?! Iya itu tampak seperti mobil ayah” mobil itu semakin mendekat, “Mungkinkah itu engkau ayah, aku rindu sekali denganmu. Tetapi siapa yang ada diatas mobil itu, apakah itu sebuah peti mati?” tanya Henry dengan heran. Peti mati itu hilang bentuk terlihat transparan sehingga Henry dapat melihat dari jauh secara jelas bahwa tubuhnya terbaring pucat. “Apa maksudnya dengan ini semua. Ini tidak mungkin terjadi” ucap Henry keheranan. Kemudian Henry berlari tergopoh-gopoh ketengah jalan dengan kepala yang berat dan pandangan yang kabur dia mendekati mobil yang sedang melaju kencang. Bunyi decitan rem yang keras tidak dapat menghentika laju mobil itu. Akhirnya mobil misterius itu menghantam tubuh Henry dengan keras, tubuh Henry terpental sejauh lima meter. “Henry! Ambulan panggil ambulan segera! Suara itu terdengar tidak asing bagi Henry. “Bertahanlah Henry, kau akan baik baik saja” “Ah…ayah, ibu maafkan aku” “Cepat bantu aku membawa dia kedalam mobil. Menunggu ambulan hanya membuang kesempatan hidupnya” Tubuh Henry yang terkulai lemas digotong empat orang buruh pabrik dan membaringkan tubuh Henry dikursi belakang. “Dua orang ikut bersama ku ke rumah sakit” Kemudian Henry dibawa ke Rumah Sakit St.Luna, di San Ricardo.

Rumah sakit St.Luna adalah rumah sakit yang letaknya paling strategis, berada di tengah-tengah kota San Ricardo, ditempuh dari rute manapun hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat menit. Setibanya dirumah sakit, Henry langsung ditangani oleh pihak rumah sakit. “Dokter, tolong dokter. Kepalanya mengalami pendarahan cukup parah” “Baik, apakah anda keluarganya?” Tanya dokter “Saya temannya” kemudian Henry dibawa keruang unit gawat darurat untuk menerima perawatan intensif. “Ralph kau mau kemana?” Tanya seorang buruh “Aku akan keruangan persalinan kau tunggu saja sampai ada kabar tentang Henry” jawab Ralph dengan tergesa-gesa berlari menuju lorong rumah sakit.

Dua jam yang dipenuhi dengan ketakutan itu pun telah berlalu. Didalam ruangan berwarna biru muda yang dipenuhi peralatan kedokteran, terlihat oleh beberapa orang disekelilingnya tubuh Henry yang penuh dengan balutan kain perban itu terbaring kaku. Kelopak mata Henry mulai terbuka secara perlahan-lahan, dalam balutan kain perban yang menutupi wajahnya. Henry hanya bisa melihat dengan samar sosok kecil berparas kemerahan. Dia terdengar berisik sekali dengan ucapannya yang belum lancar. “Henry bangun nak, lihatlah ini kami keluargamu” Henry kembali mencoba membuka kelopak matanya lebar-lebar. Dengan terbata-bata dan suara yang parau Henry mencoba megatakan sesuatu “A…a…dik..a..a..yah,a…apa itu a…dikku?” “Ya, Henry itu adikmu. Selamat ya” “Ralph, terima kasih telah menolong ku” “Ayah maafkan kesalahan anakmu ini. Aku ini memang anak yang tidak berbakti” “Sudahlah, sudah ayah maafkan anakku” “Ayah apa ibu baik-baik saja?” “Dia baik-baik saja. Kamu istirahat yang cukup agar cepat sembuh” ucap ayah sembari meneteskan airmata.

Tiga bulan lamanya semenjak kejadian itu Keluarga Jhonson menjadi keluarga yang sangat bahagia ditambah lagi Henry menjadi seorang kakak untuk saudara barunya. “Henry, apa kau ingat janji pada hari ini anakku?” Tanya ayah “Ya, apakah boleh aku mengajak adikku Ralph Jhonson kesana?” “Hati-hati anakku. Apa kau sudah memeriksa keadaan rem mobil dengan baik?” “Sudah yah” jawab Henry. “Bu jangan terlalu lama berdandan kita hanya pergi ke pengadilan sebentar saja” tegur Ted. “ “Iya, tenang saja aku sudah selesai” jawab Mathilda.

Kemudian mereka bersama-sama berangkat menuju pengadilan Ferto, San Ricardo untuk mengikuti sidang perkara pemakaian zat kimia pada bahan tekstil yang terlalu membahayakan bagi kesehatan para buruh tekstil. Lima belas menit lamanya waktu yang ditempuh untuk menuju pengadilan Ferto, sesampainya disana Henry beserta keluarganya segera memasuki ruang sidang. “Sang pembela sepertinya sudah dating ke dalam ruangan sidang. Sidang dimulai” “Knock..knock” Ketika bunyi palu jaksa sudah dibunyikan para peserta persidangan segera menempati tempat duduk masing-masing.

Setelah kurang lebih tiga jam sidang itu berlangsung, perkara akhirnya dimenangkan oleh Henry dan Ralph. Keputusan akhir jaksa adalah benar karena pabrik tekstil tempat Henry dan Ralph bekerja menggunakan zat perekat yang merugikan kesehatan, begitu juga yang dialami kedua orang tua Ralph dulu. Akhirnya perusahaan itu ditutup dan pabriknya dibeli oleh ayah Henry dan diberikan kepada Ralph untuk mengelolanya bersama Henry sebagai tanda terima kasih kepada Ralph karena telah menolong Henry anaknya.

Sembari menekuni usaha perpustakaan pribadi milik Henry dan Ralph yang sebelumnya adalah pabrik tekstil Henry juga sudah meneruskan kembali sekolahnya dan dia juga mengabadikan kejadian yang dialaminya dengan menulis pengalamannya dalam bentuk novel.

Tinggalkan Komentar