Kotak Kuno
Juli 14th, 2007 by windi
Potret eksotik jingga remang-remang surya perlahan pergi. Siluet dua insan diantara desiran ombak yang menyapu pantai. Adalah Ning yang sedang terpaku diam di sudut Taman Menteng sore itu. Memasuki masa lalunya kembali diantara hiruk pikuk orang lalu lalang, seakan mengacuhkannya dan merasa dunianya hanya ada dia dan secarik potret yang sedang dipandanginya. Ketika dirinya berada dalam topografi alam bawah sadar, semua seperti nyata kembali.
Potret sore itu adalah kenangan terakhir bersama lelakinya, Moris. Ia menghabiskan delapan tahun masa hidupnya bersama Moris. Seperti layaknya kumbang yang mencintai kembang, begitulah cinta Ning kepada Moris. Sesekali Ning menghela nafas panjang layaknya seorang perenang yang sesekali menjulurkan kepalanya untuk menarik oksigen. Tak kuasa menahan kesedihan hingga air mata berhamburan satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, lalu meluap-luap sampai isakan terakhir yang membuatnya tersadar bahwa dia sedang berada ditengah-tengah keramaian. Lalu dengan segara ia memasukkan selembar potret itu kedalam post-bagnya, teman pelesirnya kemanapun.
Hampir magrib. Semakin larut kota ini semakin padat. Padat kendaraan. Padat gelandangan. Padat kriminil. Dan yang pasti padat kepulan timbal, salah satu faktor yang mempertinggi penyakit kronis saluran pernafasan. Ning berlari kecil untuk mendapatkan angkutan umum menuju rumahnya, sekitar empat puluh menit lamanya dari Taman Menteng, sudah termasuk hitungan kemacetan dan hentian angkutan menurunkan penumpang atau menarik penumpang baru. Sesak didalamnya dan berbagai aroma keringat menghunus rongga hidung. Pekat dan kental, ditambah supir yang mengendarai dengan brutal dan sesuka hati menghentak pedal rem, seperti ingin membuat para penumpang bermuntahan ke jalan raya. Naussea. Begitulah yang dirasakan Ning. Sejenak hal itu menyita pikirannya dari kenangan siluet sewaktu ia duduk di Taman Menteng.
***
“Masih sedih, Ning?” tanya Ben pelan. Disudut kamarnya Ning sedang asyik memutar lagu Do You Want to Know A Secret milik The Beatles. Kelenjar lakrimalis masih terus mensekresi butiran-butiran air hingga membasahi pipinya. “Engga,” jawab Ning. “Sudahlah tak perlu pura-pura didepanku,” tangkis Ben. Keduanya diam, membeku sejenak sampai akhirnya Ning mencairkan suasana. “Kamu pernah patah hati?”
Ben terbahak spontan. “Cinta itu datang sekali, lalu tak berbalas. Aku pernah patah hati. Tapi aku masih tetap bahagia, karena aku masih bisa dekat dengannya.”
“Siapa perempuan itu, Ben?”
Ben diam.
“Ben?”
Mata Ben menatap kosong pada dinding kamar Ning yang biru, sebiru hatinya ketika Ning bertanya tentang cinta. “Perempuan itu bagiku istimewa. Ah tapi sudahlah, kamu tak perlu tahu namanya.” Ben gugup sendiri.
“Lalu sampai kapan kamu patah hati begini, Ning? Sampai dagingmu membuss…” cepat-cepat Ben menginjak pedal rem pita suaranya.
“Apa? Membusuk maksudnya? Iya, aku sudah membusuk. Memangnya kenapa?”
“Kenapa kamu terlihat begitu mati? Kemana senyum simpulmu, Ning?.” Dalam hati Ben berbisik sambil menatap wajah Ning.
“Ya sudah, aku pulang.” Ben membuang nafasnya sambil berlalu dihadapan Ning. “Oh ya, kamu mau tahu siapa perempuan istimewa bagiku? Itu kamu.” Ben menutup pintu kamar Ning. Ning hanya mematung.
Ben sudah menghilang, dan sekarang hanya ada Ning didepan PCnya. “Semua orang sok tahu! Hanya teoritis! Kalau saja mereka dihadapkan pada satu masalah yang sama yang membutuhkan pengaplikasian teorinya dalam realita, mereka hanya bisa bergumam dan mengumpat! Sok tahu semuanya! Sok tahu tentang kehidupanku! Tidak ada yang bisa merefleksikan dengan baik apa yang kurasa, yang bertaut rumit didalamnya. Yang kupunya hanya aku dan segelimat aku yang sedang menggelar sebuah monolog. Aku. Sendiri.” Ning memuntahkan perasaannya pada benda mati itu. “Eh, tapi tidak. Ada satu orang yang begitu mengerti apa yang kurasa. Dia tidak teoritis. Dia tidak sok tahu dengan memberikan rumus logikanya. Ya, dia,” lanjut Ning.
adalah lelaki dengan testosteronnya…
adalah wanita dengan estrogennya…
adalah ketika cinta yang datang dari jiwa,
saling bertaut.
adalah lelaki dengan otoritasnya
adalah wanita dengan kepatuhan absolutnya
apakah dua cinta masih saling bertaut?
adalah ego dan defensi
redam.
rendam.
jangan berpendar hilang…
tuan…
jangan berhenti mencinta betina meski Sang Ovarium sudah tidak bekerja dengan rutinitasnya.
atrofi.
cinta yang bukan sekedar sperma dan ovum
dan seperti itulah cinta abadi…”
“Apakah Ben begitu mencintai aku? Apakah aku harus meragukannya? Lelah. Lelah aku menangis. Ben benar. Aku harus memulai hari baru. Aku harus ikhlas. Dan memang untuk mewarnai hari bersama Ben tidak bisa dipaksakan. Tapi setidaknya, aku patut mencobanya. Mungkin pada akhirnya, warna-warni yang kami buat akan menciptakan sebuah rumah yang biasa-biasa saja, tapi berkerangka beton. Dengan sepetak kebun didepannya sebagai pemanis. Beberapa pot dengan bunga-bunga yang segar bersama tetes embun dikelopaknya, yang harumnya dapat kuhirup setiap pagi. Dan dari beranda kami melihat dua bocah kecil tertawa riang. Tawa Ben kecil dan Ning kecil.”
“Semoga.” Ning menutup percakapan monolognya.
Beberapa hari kemudian, dengan keputusan setengah bulat Ning mendatangi Ben. “Ben, aku mau mencobanya.” Senyum Ning merekah. Begitu pula dengan Ben. “Ning, thank’s. Aku sangat mencintaimu, walaupun aku tahu kamu belum.” Ben memeluknya erat.
***
Buat Ning sayang
Kamu punya dua kotak kenangan. Satu kotak kenangan sudah menghuni hatimu bertahun-tahun, berbulan-bulan, berhari-hari, berjam-jam, hingga bermili-milisekon. Kotak itu bahkan sudah bermetastase luas, daya infiltrasinya begitu hebat hingga kamu meraung-raung kesakitan dibuatnya. Ironis. Sesuatu yang indah malah membuat kita sakit, rusak, dan rapuh.
Kotak keabstrakan.
Satu kotak yang lainnya menghuni dalam kamarmu yang selalu meremang durja. Kotak berukuran 30 x 30 cm, berwarna jambon yang didominasi oleh gambar hati. Kotak yang dulu selalu kamu isi dengan segala dokumentasi suara hatimu, segala arsip-arsip penting antara kamu dan dia.
Kotak relita kotak.
Sekon demi sekon memakan hari, memakan waktu. Tanpa sadar bahwa kamu semakin layu, dan semakin lelah diperbudak Sang Kotak. Kotak kuno yang usang. Setiap hari-harimu hanya dipenuhi dengan dialog untaian curah hati antara kamu dan Sang Kotak. Tapi tanpa komunikasi. Tanpa interaksi. Hanya keabstrakan belaka.
Hidup ini tidak selalu indah. Tak ada stagnansi waktu hingga kita mampu merubah sesuatu seperti yang kita mau. Membuat sesuatu menjadi sempurna. Tapi yang sempurna itu tidak ada. Mustahil ada! Hidup itu fluktuasi. Layaknya yang tergambar pada monitor Echo Cardio Graphy. Naik turun. Yah…disitulah seninya.
Terlalu lama bagi kamu untuk menoleh ke belakang, lalu berjalan mundur dengan tatapan kosong ke depan, lalu kamu jatuh, jatuh, dan jatuh lagi. Darah dan air mata. Dan akhirnya kamu mati diperbudak ilusi. Kamu seorang bodoh, seorang pecundang yang kalah bertarung melawan sesuatu yang mati dan abstrak. Kotak kuno. Masa lalu.
Kamu takut mengepakkan sayapmu lagi. Dan kamu takut untuk terbang lagi. Tapi mungkin yang kamu butuhkan hanya sebuah terapi jiwa untuk saat ini. Terapi untuk melahirkan senyum kepada dua buah kotak, senyum untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kotak keabstrakan dan Kotak realita kotak. Tanpa perlu dibuang atau dibakar, dan tanpa perlu dikubur dalam-dalam. Karena semua itu indah walau pahit. Karena semua itu pahit, tapi indah.
Bersiaplah untuk sebuah terapi mujarab bagi penyakit kehampaan dari sebuah virus Kotak. Bersiaplah untuk sebuah terapi dari aku yang selalu mencintaimu, dari aku yang selalu tahu segala isi hatimu, sedari dulu, sedari kamu masih mengagung-agungkan namanya padaku ketika dia menggenggam tanganmu untuk pertama kali, dan ketika kamu mencaci-maki untuk sebuah cabikan kata perpisahan darinya. Sedari antara kamu dan aku adalah sepasang sahabat. Yang tak pernah kamu tahu.
Aku mencintaimu dengan segala bentuk kepahitan masa lalumu.
TAMAT