Romansa Cinta di Kota Malang
Juli 5th, 2007 by haryobagushandoko
Tak terasa sudah dua bulan sejak terakhir aku bertemu dengan Grietje Van Daan, seorang mahasiswi yang selama beberapa waktu yang lalu sempat berlibur ke kota kecil tempat aku tinggal, yaitu kota Malang. Sudah sejak lama kota Malang menjadi tujuan wisatawan asal negeri Belanda yang ingin sekedar bernostalgia mengingat masa lalu saat Oma dan Opa mereka dulu pernah tinggal di kota ini puluhan tahun yang lalu. Kota Malang konon jaman dulu memang sengaja dirancang oleh para arsitek planologi asal Belanda untuk maksud sebagai kota peristirahatan dan tempat tinggal bagi para pegawai pemerintah Hindia Belanda saat masa kolonial dulu.
Saat pertama aku berkenalan dengan Grietje, aku sungguh terpesona oleh keindahan bola matanya yang berwarna hijau yang indah bagaikan emerald yang bersinar-sinar. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan diterpa oleh angin sehingga selalu menimbulkan sensasi yang indah saat memandangnya. Senyumnya yang lembut dan bersahabat dari bibirnya yang merah membuat dadaku terasa sesak dan berdebar-debar. Perutku serasa digelitik oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan, saat aku memandang wajahnya yang cantik. Sungguh suatu sensasi yang aneh bila aku berdekatan dengan dirinya. Harum tubuhnya yang wangi membuatku merasa nyaman berdekatan dengannya. Grietje sungguh adalah seorang gadis sederhana yang benar-benar mempesona. Kesederhanaannya adalah sesuatu yang unik dan berbeda dengan gadis-gadis jaman sekarang yang cenderung gemar memakai make-up dan tatarias tebal seperti tokoh drama kabuki dari Jepang. Wajah cantik Grietje yang hampir tidak memakai make-up merupakan suatu kecantikan alami yang tidak dibuat-buat. Satu-satunya make-up yang ia pakai sepertinya hanyalah lip gloss yang dipoles tipis-tipis.
Waktu itu aku tidak sengaja berkenalan dengan Grietje. Saat itu aku baru pulang dari membeli buku di Toko Buku Gramedia di Jalan Basuki Rachmad di pusat kota Malang. Siang itu cuaca sangat panas, maka aku membelokkan langkahku ke arah “restoran Oen” yang kebetulan ada di sebelah Toko Buku Gramedia. Aku berniat membeli es krim dan sedikit kue-kue untuk dimakan sambil membaca buku yang baru saja aku beli. Saat itulah aku melihat sesosok gadis bule yang sangat cantik yang sedang duduk sendirian di salah satu meja yang ada di restoran itu. Gadis itu sedang asyik makan es krim. Dia tidak tahu kalau aku sedang memperhatikannya. Wajahnya benar-benar cantik, dan sangat berbeda dengan gadis-gadis yang pernah aku kenal.
Setelah aku memesan sepiring kue kering dan dua potong taart black forrest, aku tak sadar melangkah menghampiri meja gadis itu. “Hai,” kataku menyapanya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum,”Hai, Apa kabar ?” sapanya dalam bahasa Indonesia yang terpatah-patah. Aku pun menyapanya dalam bahasa Inggris dan mengajaknya berkenalan. Aku tahu bahwa gadis itu hanya bermaksud sopan dengan menyapaku dalam bahasa Indonesia walaupun sebenarnya ia tidak bisa berbahasa Indonesia. Tak kusangka ternyata gadis itu sangat ramah dan sama sekali tidak sombong. Ternyata namanya Grietje. Grietje Van Daan. Ternyata dia tiba di kota ini kemarin dan sedang menginap di penginapan “Splendid Inn”. Untuk gadis secantik dia, dia sangat pemberani karena bepergian seorang diri ke negeri asing dengan budaya yang jauh berbeda dengan negeri asalnya, negeri Belanda. Ternyata Grietje ingin tahu lebih banyak tentang kota kelahiran Omanya yang kebetulan adalah orang pribumi yang lahir di Malang. Omanya selalu berkata dan menasehati Grietje agar suatu saat nanti menyempatkan waktu untuk datang dan menelusuri kota Malang, kota kelahiran Omanya puluhan tahun yang lalu. Indonesia adalah negeri yang indah dan hangat, matahari selalu bersinar cerah, dan kota Malang yang indah memiliki banyak obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satu obyek wisata terkenal yang sudah ada di kota Malang sejak jaman kolonial Belanda adalah pemandian Selecta.
Untuk gadis selangsing Grietje, ternyata selera makannya banyak juga. Kegemarannya makan kue dan es krim ternyata sama denganku. Saat aku tawari sepiring kue yang berisi aneka kue kering seperti katetong, spekulaas, dan aneka biskuit buatan restoran ini, dengan lahap ia memakannya sambil asyik mengobrol denganku. Aku pun menawarinya sepotong taart black forrest, karena kebetulan aku memesan dua buah. Satu untuknya dan satu untukku. Aku kemudian memesan es krim dan saat menawari Grietje dengan es krim favoritku, ternyata dia mau. Padahal sebelumnya ia sudah menghabiskan semangkuk es krim banana split. “Aku lapar”, katanya sambil tertawa. “Aku kelihatan rakus ya ? Maaf, tidak biasanya aku selapar ini. Sebenarnya aku hanya berniat membeli es krim saja, karena aku sebenarnya sedang diet, tapi saat kamu menawari aku kue-kue itu aku tidak kuat menahan godaan untuk mencicipinya,” katanya lagi sambil tertawa geli. Wajahnya memerah mungkin karena merasa malu. Gadis itu menutupi rasa malunya sambil terus tertawa. Wow, ternyata dia juga jago makan seperti aku. Grietje merasa sangat lapar karena setelah seharian berjalan-jalan menelusuri kota ini dengan berjalan kaki di bawah sinar matahari yang cukup terik, tak terasa perutnya meronta minta diisi. Memang suasana di negeri Belanda jauh berbeda dengan di Indonesia. Walaupun untuk ukuran orang Indonesia, kota Malang tergolong cukup sejuk dibanding kota-kota lainnya di Indonesia, namun bagi gadis Belanda seperti Grietje yang terbiasa dengan iklim dingin, sinar matahari Indonesia tak hanya hangat tapi juga terasa menyengat. Untunglah dia memakai sun block cream untuk melindungi kulitnya yang hanya memiliki sedikit pigmen itu. Tampaknya Grietje senang sekali bisa mengenal diriku, karena di kota yang sebagian besar penduduknya biasa berbahasa Indonesia ini, sangat sulit menjumpai orang yang bisa berkomunikasi dengannya dalam bahasa Inggris seperti aku. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menjadi akrab. Bahkan sudah seperti teman lama. Setelah selesai makan kue dan es krim, kami pun membeli beberapa kue untuk dibawa pulang. Kami membeli beberapa kue tradisional Jawa yang juga dijual di restoran “Oen”, seperti kue “semar mendem”, “onde-onde” dan juga kue “wajik”.
Aku dan Grietje pun saling bertukar alamat dan nomor telepon, sebelum aku dan dia berpisah pulang ke tempat tinggal masing-masing karena tak terasa hari sudah sore. Keesokan paginya Grietje menelponku dan menanyakan apakah aku ada kesibukan hari itu, karena ia ingin ditemani lagi berjalan-jalan menyusuri obyek wisata kota Malang. Akupun menyanggupinya. Kali ini tidak sambil berjalan kaki, karena aku cukup malas untuk selalu berjalan kaki di bawah terik matahari bulan Juni yang cukup menyengat. Aku pun mengajaknya naik mikrolet, kendaraan umum yang murah meriah. Semua tujuan mulai dari kota hingga pelosok desa di Malang dilewati oleh jalur kendaraan umum yang disebut mikrolet ini. Dengan biaya yang murah kita sudah bisa sampai ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Aku pun mengajaknya naik mikrolet dengan tujuan Jalan Besar Ijen. Orang-orang Belanda jaman kolonial dulu menyebut jalan itu dengan Ijen Boulevard. Namun karena aku orang Indonesia, aku lebih senang menyebutnya dengan Jalan Besar Ijen. Dahulu saat jaman kolonial Belanda, Jalan Besar Ijen adalah kawasan perumahan bagi para pegawai tinggi Belanda. Bahkan sampai sekarang beberapa gaya arsitektur Belanda masih bisa dijumpai di rumah-rumah yang ada di kawasan itu. Di Jalan Besar Ijen juga ada bekas peninggalan Belanda yaitu Gereja Kathedral Ijen. Walaupun aku beragama Islam, aku mengantarkan Grietje untuk melihat dari dekat Gereja Kathedral itu, dan menceritakan pada Grietje bahwa Gereja itu sudah ada sejak jaman Belanda dan sudah berkali-kali direnovasi.
Rencana Grietje yang semula hanya ingin tinggal di kota Malang selama seminggu, akhirnya berubah. Grietje yang banyak mendapat cerita mengenai keunikan dan berbagai tempat menarik di kota ini akhirnya memutuskan untuk tinggal lebih lama. Akhirnya aku mengusulkan padanya agar menyewa kamar kos untuk ditinggali daripada tinggal di penginapan, karena harga sewa kamar kos selama sebulan di kota ini sama dengan harga dua hari sewa kamar di penginapan. Jadi kalau menyewa kamar kos tentu saja jauh lebih hemat daripada tinggal di penginapan atau motel termurah sekalipun. Kebetulan di kota Malang ada kos-kosan khusus yang menyewakan kamar kos untuk mahasiswa-mahasiswa ekspatriat (mahasiswa asing yang kebetulan sedang kuliah di universitas di Indonesia). Grietje akhirnya setuju dan tampak sangat gembira karena dia bisa menemukan alternatif murah untuk tinggal lebih lama di Malang dan menjelajahi pelosok kota ini lebih dalam. Grietje terheran-heran akan betapa murahnya sewa kamar kos dibanding dengan sewa kamar penginapan. Apalagi saat ia membandingkannya dengan nilai kurs mata uang euro.
Waktu demi waktu banyak kami habiskan bersama menelusuri berbagai obyek wisata di kota Malang ini. Grietje tampak sangat senang dan bahagia saat aku ajak mengunjungi desa-desa di Tumpang. Tumpang merupakan salah satu kecamatan yang ada di wilayah kabupaten Malang. Kecamatan Tumpang terdiri dari beberapa desa yang cukup unik. Bahkan ada desa di kecamatan Tumpang yang terkenal dengan kerajinan topeng kayu khas kota Malang. Juga bisa ditemui pula paguyuban atau perkumpulan seni tari topeng Jawa di desa tersebut. Grietje juga tampak sangat bahagia saat aku ajak mengunjungi salah sebuah desa di Tumpang, di mana di desa itu tinggal pasangan suami istri seniman. Si suami adalah seorang dalang wayang kulit Jawa (Javanese Puppet Master) yang memang asli kelahiran Tumpang, sedang istrinya adalah seorang wanita Amerika yang sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia. Wanita Amerika itu cukup fasih berbicara bahasa Jawa halus (krama inggil) dan cukup pandai pula menyanyikan tembang-tembang dalam bahasa Jawa kuno dan juga memiliki paguyuban seni tari tradisional Jawa dan karawitan gamelan Jawa. Wanita Amerika itu ternyata lebih banyak memahami budaya Jawa daripada aku yang asli pribumi kelahiran Jawa. Grietje dan wanita Amerika itu tampak asyik mengobrol banyak hal mengenai berbagai aspek kebudayaan Jawa, mulai dari pakaian tradisional, seni tari, seni musik gamelan Jawa, kain batik, makanan dan kue tradisional dan banyak hal lainnya. Wanita Amerika itu juga tak kalah ramah dan tidak berkeberatan menerangkan banyak hal dalam bahasa Inggris kepada Grietje yang tampak bersemangat mempelajari banyak hal. Bahkan wanita itu juga mengajarkan beberapa gerakan tari tradisional Jawa yang mudah untuk diingat. Selama beberapa hari kami terpaksa harus bolak-balik melakukan perjalanan dari Malang ke Tumpang pulang pergi untuk mengunjungi berbagai tempat wisata di Tumpang. Bahkan kami sempat mengunjungi sebuah candi Jawa kuno peninggalan purba di salah satu desa di Tumpang. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi situs candi kuno di salah satu desa di Singosari pada hari yang lain. Dalam setiap kesempatan aku selalu mengajak Grietje untuk mencicipi berbagai makanan dan kue-kue tradisional Jawa. Aku mengajaknya makan nasi pecel di Jalan Kawi, mencicipi gado-gado di Plaza Mitra, jajanan pasar di Pasar Klojen dan Pasar Tawang Mangu, makan sate ayam di Pasar Bunul (Pasar Boenoel), mencicipi masakan cina di Oro-Oro Dowo, mencoba bakso sapi di warung bakso di Stasiun Kereta Api Malang Kota Baru, serta membeli kripik tempe di pusat industri kripik di daerah Sanan. Kami juga menyempatkan diri membeli berbagai kue khas Jawa lainnya di Pasar Besar Malang. Begitu banyak waktu dihabiskan bersama-sama dalam berbagai perjalanan kami menelusuri pelosok kota Malang dari kota hingga ke desa-desa terpencil. Dari berbelanja bunga dan aneka buah segar, sampai minum susu sapi segar di desa-desa di daerah Batu.
Tak sadar kami pun ternyata saling cocok dan menyukai satu sama lain. Kami menikmati kebersamaan, persahabatan, dan kasih sayang yang kami jalin. Walaupun awalnya aku menyukai Grietje secara fisik karena kemolekan, dan kecantikannya, namun akhirnya aku lebih mencintai pribadinya yang lembut dan penuh kasih. Kata-katanya yang halus dan sopan, tingkah lakunya yang tulus dan tidak dibuat-buat serta kebaikan hatinya adalah sebuah kecantikan abadi tiada tara yang jauh lebih tinggi nilainya daripada sekedar kecantikan fisik yang bisa lapuk oleh berjalannya waktu. Bila kita mencintai seseorang, kita akan lebih bisa melihat isi jiwanya, mencintai jiwanya, kepribadiannya daripada sekedar ketertarikan fisik yang sifatnya sementara saja. Aku yakin benar-benar bahwa aku memang mencintai Grietje, walaupun suatu saat ia tidak secantik sekarang, saat ia sudah tua dan keriput kelak, aku yakin aku akan masih mencintainya, karena aku mencintai jiwanya dan bukan hanya fisiknya. Mungkin aku kelihatan sangat bodoh karena mencintai seseorang sedemikian rupa, karena jaman sekarang hampir sudah tidak ada lagi cinta yang semacam itu, tapi entah mengapa aku yakin bahwa aku benar-benar mencintainya sedalam laut di tujuh samudera. Aku tidak tahu apakah Grietje berpikiran yang sama denganku, apakah ia mencintaiku sebanyak aku mencintainya, tapi yang jelas aku melihat cinta di setiap sorot matanya yang lembut.
“Aku menyukaimu,” kataku pada suatu pagi sambil meremas jari tangannya yang lentik dan menatap matanya. Saat itu aku dan Grietje sedang duduk berpiknik di bawah pohon rindang di Taman Rekreasi Selecta. Grietje menanggapinya sambil tertawa, ”Kamu pasti bercanda, kamu tidak serius kan ?” katanya sambil tertawa geli. Aku menatap terus matanya dengan pandangan bersungguh-sungguh. “Apakah aku kelihatan sedang bermain-main ?” kataku tetap dengan nada serius. Kemudian aku mencium tangannya dengan lembut dan kembali menatap wajahnya yang cantik. Grietje kelihatan tersipu malu dan seketika berhenti tertawa. “Apa kamu sungguh-sungguh mengatakannya dari dalam hatimu ?” katanya ragu-ragu. “Apakah kamu benar-benar serius ?” ulangnya lagi. Aku terus menatap matanya sambil kembali mencium tangannya, “Belum pernah aku demikian mencintai seseorang dan tertarik sejak pandangan pertama seperti saat pertama aku melihatmu,” kataku dengan lembut. “Aku mencintaimu karena kamu wanita sederhana yang apa adanya, dan kamu juga selalu menghargaiku sebagai manusia apa adanya.” Dia terdiam beberapa saat. Aku merasa tak enak. Apakah mungkin aku saja yang salah mengerti akan maksud persahabatannya. Mungkin Grietje hanya menganggapku sebagai sahabat saja dan bukan sebagai kekasih. Kalau begitu kenyataannya, betapa bodohnya aku karena mengira ia juga tertarik padaku. Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Grietje mulai berkata atau hampir tepatnya setengah berbisik, “Sebenarnya aku juga menyukaimu karena kamu lucu dan ramah. Aku menyukaimu sejak pertama kamu mengajakku berkenalan dan mengajakku berkeliling kota Malang”, katanya malu-malu. Aku menghela napas dengan lega, “Oh Tuhan, terima kasih telah mempertemukan aku dengan wanita impianku, wanita yang cantik parasnya dan cantik kepribadian serta budi pekertinya,” kataku dalam hati. Sejak saat itu kami pun semakin akrab. Sering aku mengundang Grietje untuk makan siang di rumahku dan bertemu dengan ayah dan ibuku. Grietje mudah sekali menyesuaikan diri dengan keluargaku yang sederhana dan sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap sombong.
Kami semakin sering menghabiskan waktu bersama-sama dengan berpiknik dan mengunjungi daerah-daerah wisata di Malang. Grietje bahkan rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa kendaraan lengkap dengan sopirnya untuk mengantarkan kami menuju tempat-tempat wisata yang ada di Malang, walaupun harga sewa kendaraan atau mobil cukup mahal menurut ukuranku. Suatu hari kami berangkat ke Pantai Sendang Biru pagi-pagi sekali dengan diantar oleh kendaraan sewaan yang sudah menjemput kami pagi-pagi sekali. Akhirnya kami tiba di Pantai Sendang Biru sekitar pukul setengah sembilan pagi. Pantai Sendang Biru pagi itu tampak sangat tenang. Pantai Sendang biru lebih mirip sebuah laguna yang tenang dengan dasar laut yang jernih dan indah. Langit biru cerah menghiasi indahnya suasana pagi itu. Sesekali tampak awan berarak perlahan ditiup angin. Matahari bersinar cerah menebarkan sinarnya yang hangat ke permukaan bumi. Birunya air laut yang jernih tampak sangat indah. Grietje sangat senang berbaring di pasir yang serba berwarna putih sambil menikmati hangatnya sinar matahari. Rupanya ia sudah capek setelah beberapa waktu berenang di laut yang biru dan jernih itu. Aku sendiri hanya berani bermain air di tepi pantai karena aku tidak bisa berenang. Di sana-sini tampak berbagai burung laut yang beterbangan mencari ikan. Terdengar pula suara-suara burung tersebut yang ramai berebut ikan disertai kerasnya suara deburan ombak yang menerpa pantai. Tampak beberapa perahu wisata hilir mudik mengangkut para wisatawan atau turis yang ingin melihat keindahan batu koral dan karang serta aneka ikan hias warna-warni yang banyak dijumpai di dasar laut perairan ini. Perahu-perahu wisata biasanya dilengkapi pula dengan kaca pembesar khusus untuk melihat pemandangan bawah air, batu-batu koral, anemon laut dan aneka ikan warna-warni yang berenang di dasar laut. Tak jauh dari tempat kami berpiknik dan berjemur di hangatnya sinar matahari, tampak di kejauhan dermaga pelelangan ikan hasil tangkapan para nelayan. Begitu banyak orang yang melakukan jual beli lelang ikan, mulai dari ikan hiu, ikan tongkol, cumi-cumi, ikan pari, sampai aneka ikan lainnya yang bisa dimakan. Ada pula yang menjual aneka ikan bakar. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana pelelangan ikan itu dilakukan. Meskipun acara lelang ikan sangat sederhana namun ternyata banyak menyita perhatian kami. Grietje tampak sangat antusias dan tertarik. Saat hari sudah senja dan matahari benar-benar sudah tenggelam di horison, barulah kami beranjak pulang ke pusat kota Malang dengan kendaraan sewaan kami.
Beberapa hari kemudian kami mengunjungi pula pantai Balekambang, salah satu pantai yang ada di Malang bagian selatan, untuk melihat upacara tradisional agama Hindu di pura yang ada di atas pulau karang di pantai Balekambang. Obyek wisata pantai Balekambang sangat mirip dengan pantai Tanah Lot yang ada di Bali. Keduanya sama-sama memiliki pura peribadatan Hindu yang dibangun di atas pulau karang kecil dekat pantai. Keduanya sama-sama indah, apalagi saat matahari terbenam, sangatlah asyik untuk menghabiskan waktu berdua di pantai eksotik yang mempesona itu. Begitu matahari sudah tenggelam, kami segera pulang kembali ke pusat kota Malang dengan diantar oleh kendaraan sewaan yang memang telah kami sewa sejak berangkat dari kota Malang.
Tiap akhir pekan biasanya kami pergi main game di Time Zone atau menonton film di bioskop yang ada di Plaza Sarinah yang berlokasi di pusat kota Malang. Plaza Sarinah merupakan sebuah department store dan pusat hiburan yang letaknya berseberangan dengan Toko “Oen”. Plaza Sarinah ini dahulu pada masa kolonial adalah sebuah gedung souciteit yang bernama “Concordia”. Setelah Indonesia merdeka, gedung tersebut dirobohkan dan dibangun sebuah pusat perbelanjaan bernama “Plaza Sarinah”. Namun terkadang bila film yang sedang diputar di bioskop Plaza Sarinah temanya kurang bagus, kami lebih memilih menonton film di bioskop “Dieng Cineplex” yang ada di “Plaza Dieng” atau menonton film di bioskop-bioskop yang ada di “Malang Town Square”. Grietje juga pernah menanyakan apa sebenarnya pekerjaanku selama ini. Aku menceritakan padanya tentang pekerjaanku sebagai seorang penulis. Ya, aku adalah seorang penulis. Bukan penulis profesional, namun aku memang sedang berusaha untuk menjadi seorang penulis profesional. Aku sering mengirimkan tulisan-tulisanku ke berbagai media, mulai dari majalah, koran, sampai penerbit buku. Walaupun tak jarang tulisanku ditolak oleh beberapa majalah, namun aku tidak pernah putus asa dan terus mengirimkan karya-karyaku.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat dan tidak terasa Grietje sudah cukup lama tinggal di kota Malang. Sudah satu bulan lebih Grietje tinggal di kota ini dan kami sudah sangat akrab dan saling mencintai satu sama lain. Namun waktu pula yang harus memisahkan kami ribuan kilometer jauhnya, karena sudah saatnya Grietje kembali ke Belanda. Walaupun ia sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama di sini, namun ia harus kembali ke Belanda karena harus segera masuk kuliah di Universitas Leiden tempat ia menuntut ilmu. Setelah saling bertukar alamat e-mail, nomor telepon dan alamat rumah, akhirnya kami harus berpisah di “Bandar Udara Abdul Rahman Saleh”, satu-satunya bandar udara atau airport di kota Malang. Aku mengantarkannya ke bandar udara tersebut. Rencananya Grietje akan naik pesawat “Sriwijaya Air” yang akan mengantarkannya ke “Bandar Udara Soekarno Hatta” di Jakarta. Sesampainya di Jakarta ia akan meneruskan perjalanannya pulang ke Belanda dengan naik “KLM” atau mungkin “Garuda”. Mata Grietje yang indah sempat berkaca-kaca dan menangis saat harus berpisah denganku di bandar udara. Ia berjanji akan selalu tetap berhubungan lewat e-mail ataupun mengobrol denganku di Yahoo Messenger. Akhirnya kami pun harus berpisah, karena pesawat yang akan mengantarkan Grietje ke bandar udara di Jakarta sudah akan berangkat. Aku pun hanya bisa melambai-lambaikan tanganku melepas kepergiannya dari balik jendela kaca di ruang tunggu bandar udara.
Meski hanya beberapa saat saja tinggal di kota Malang, setiap waktu yang kami lewati bersama sangat terasa berkesan dan tidak akan pernah terlupa. Kami pun masih sering berkomunikasi lewat e-mail dan juga mengobrol di internet. Untunglah ada fasilitas Yahoo Messenger yang memungkinkan kami untuk tetap bisa saling memandang wajah satu sama lain walaupun hanya lewat web camera (web cam). Namun hal itu sudah cukup mengobati kerinduan kami akan hangatnya cinta yang kami rasakan. Semoga suatu saat kelak kami bisa bersatu, menikah dan hidup bahagia entah di Indonesia atau di Belanda. Atau mungkin kedua-duanya karena cinta tidak pernah mengenal ruang dan waktu, cinta akan selalu abadi hidup dalam jiwa kita. Mungkin kelak aku bisa menjadi penulis profesional baik di Indonesia atau bahkan di Belanda dengan menulis buku-buku tentang Indonesia dan Belanda. Biarlah waktu yang akan menentukan segalanya.
===
Semua tokoh dalam cerita ini sifatnya fiktif dan tidak nyata. Tempat-tempat wisata di Malang yang disebutkan dalam cerita ini memang ada dan nyata.
wah ceritanya bagus…….mengharukan…..aq suka…………kalau ada cerita lagi aq mau dong di kirim lewat email mas…….
wah benar-benar kayak kenyataan yah…..
bakalan jadi penulis besar nih…
kembangkan terus imajinasimu mas…
aku dukung deh…