KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ksatria dan Dewi

Waktu itu pagi yang cerah seperti biasa. Halte bus disesaki oleh orang-orang yang akan pergi ke berbagai tempat. Biru yang menyandang tas ranselnya dan mendekap buku-bukunya berdiri tegak di sudut halte. Sementara itu kendaraan lalu lalang di depan sambil mengeluarkan asap knalpot yang hitam dan para pedagang kaki lima juga mulai beraksi mengeluarkan dagangan mereka sama seperti hari-hari sebelumnya. Benar-benar sebuah pagi yang amat biasa, sama sekali tidak menyiratkan jika hari itu Biru akan bertemu dengan sesuatu yang istimewa.

“Nama saya Caraka, ketua panitia pelaksana masa orientasi ini…” kata senior itu memperkenalkan diri. Beberapa mahasiswa baru tekun mendengarkan, termasuk Biru. “… dan ini Baruna, wakil saya dalam kepanitiaan kali ini.” tambah Caraka lagi sambil menunjuk cowok yang berdiri di sebelahnya.

Cowok jangkung itu tersenyum dan mengangguk. Tanpa sengaja tatapannya bertabrakan dengan mata Biru. Dan Biru merasakan nyeri tak kentara jauh di dalam dadanya

Akhirnya sang ksatria berhasil ditemukan…

*

Manusia menyebut tempat itu Angkasa tanpa tahu sebenarnya ada banyak makhluk yang tinggal dan bekerja di sana membantu para batara mengawasi bumi: dewi-dewi yang bertugas menyuburkan alam; para kinara, makhluk berkepala manusia dan berbadan burung yang jago bermain musik; serta para apsari yang pintar menari. Diantara semuanya, makhluk yang paling terkenal adalah ksatria. Mereka selalu diturunkan ke bumi untuk menolong para putri yang cantik dan baik hati saat mengalami kesulitan. Putri diharuskan menikahi ksatria penolongnya, dan saat mereka memiliki keturunan, anak-anak tersebut akan diserahkan kepada Angkasa. Anak lelaki dijadikan batara, sementara anak perempuan akan dijadikan apsari. Dan orang tua mereka akan tetap tinggal di bumi, menjadi manusia biasa…

“Ksatria selalu tampan dan gagah…” begitu selalu kata nenek di setiap akhir dongengnya. Dan setiap kali itu pula Biru selalu berpikir, dia akan menemukan ksatrianya sendiri.

*

Dimana kau, ksatria..
Angin tak lagi menyuarakan dentingan pedangmu
Begitu juga rumput
Adakah ia menyembunyikanmu?
Berkatalah,
Jangan diam karena suara itu indah
Itu anugerah
Sama seperti kau yang juga anugerah bagiku
Berkatalah ksatria
Karena aku merindukanmu

Selama ini Biru selalu bersenandung, menyuarakan pencarian terhadap ksatrianya. Walau tak pernah terlalu berharap, tapi jauh di dalam hatinya Biru yakin suatu saat nanti ksatrianya akan ditemukan, dan ternyata sekaranglah saatnya keyakinan itu terbukti.

“Biru..” panggil seseorang

Biru berpaling, menghadap Baruna yang tadi menyuarakan namanya. Cowok itu melambaikan tangan, lalu menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Biru mengangguk, mengambil buku yang dipilihnya dari rak, dan bergegas menghampiri Baruna.

Masa orientasi sudah berlalu beberapa bulan. Biru yang suka buku sering menjajaki perpustakaan kampus mereka, dan Baruna yang memiliki minat yang sama juga sering berada di sana. Awalnya cuma berhai-hai saja, tapi lama-kelamaan mereka sering duduk bersama mendiskusikan buku yang sedang dibaca atau sekedar mengobrol ringan.

Teman-teman di kampus mulai kasak-kusuk dengan kedekatan mereka yang semakin erat tersebut. Dan kalimat-kalimat sindiran seperti “ciee… pacaran” atau “ciee.. yang dah jadian” juga semakin sering dilontarkan orang-orang.

“Kalian berdua sadar ga sih kalo muka kalian berdua tuh mirip?” tanya Caraka yang terkadang suka bergabung dengan mereka di perpustakaan.
“Trus..?” timpal Baruna
“Kata orang zaman dulu kan cowok dan cewek yang mukanya mirip biasanya jodoh..” jawab Caraka dengan senyum jail di bibirnya. Kedua orang itu terdiam cukup lama dan Caraka yang akhirnya jadi salah tingkah sendiri memutuskan meninggalkan tempat tersebut tanpa tahu sebenarnya di dalam hati kedua temannya, mereka sedang mempertimbangkan kebenaran dari mitos tersebut.

*

Biru masih terpaku, memandangi punggung Baruna yang menjauh seiring dengan makin lebarnya langkah yang diambil cowok itu. Lalu perhatiannya teralihkan oleh secarik kertas berwarna biru yang wangi di tangan kanannya. Tadi Baruna memberikan kertas tersebut, kemudian buru-buru pergi setelah berkata dia akan menanyakan jawabannya nanti. Biru membuka lipatannya dan kemudian membaca sebuah puisi indah yang terukir di sana.

Walaupun awan di langit yang cerah itu
Dijadikan bidadari
Dan diberikan kepadanya mahkota dari mutiara
Gaun sutra yang lebih halus dari kapas
Serta sayap-sayap dari perak
Kau tak akan kalah dewi
Karena segala keindahan dunia tunduk di kakimu
Karena aku mencintaimu

Baruna

DEWI?
Sebenarnya Biru bahagia karena Baruna, ksatrianya, memiliki perasaan yang sama dengannya. Tetapi menganggapnya dewi? Yah.. hal ini sedikit mengganggu pikiranBiru.

Karena ksatria dan dewi tak akan pernah bisa bersatu…

*

Ksatria dan dewi lahir dari kilauan bintang yang sama, karena itu keduanya tidak boleh saling jatuh cinta. Pernah ada seorang ksatria, namanya Apanji, jatuh cinta pada seorang dewi cantik, Srawati, yang bertugas memberi warna pada bunga mawar. Mereka berdua tidak mempedulikan larangan yang berlaku dan memutuskan melarikan diri dari Angkasa. Akan tetapi alam menghukum mereka, keduanya dijatuhkan ke laut dan diubah menjadi naga. Kedua naga itu memiliki keturunan yang sangat banyak, dan anak-cucu mereka sering mengamuk karena kebodohan kedua leluhur mereka. Amukan itulah yang menyebabkan air laut selalu berombak.

*

Well … akhirnya Biru memutuskan tidak terlalu mempedulikan dongeng masa kecilnya. Hubungannya dengan Baruna pasti akan baik-baik saja. Dan semuanya masih akan tetap baik walaupun hari ini mereka akan menemui mamanya Baruna, pikir Biru untuk mengurangi rasa resahnya. Dan untunglah keresahan itu tak perlu, karena tante Astrid ternyata orang yang menyenangkan.

“Biru itu nama yang manis sekali. Berasal dari warna yang bermakna ketenangan, kedamaian, dan kesejukan sebab warna ini melambangkan air serta awan. Kamu tau ga, warna ini jugalah yang terpancar dari rambut Buddha Gautama saat mendapat pencerahan, dan ini menyimbolkan semangat perasaan cinta kasih yang universal untuk semua makhluk di dunia” kata tante Astrid sambil tersenyum, lalu terpaku karena melihat wajah kaget Biru.

“Tante.. kok bisa sih, apa yang tante bilang itu sama persis kayak yang dibilang sama almarhum papa aku?”

“Almarhum papa kamu?” tanya tante Astrid kaget.

“Iya ma, papanya Biru, Om Andre, memang sudah meninggal tiga tahun lalu karena kanker, dua tahun kemudian, mamanya, tante Niki menyusul karena serangan jantung. Jadi sekarang Biru hanya tinggal sama neneknya…” Jawab Baruna

“Andre dan Niki…” kata Tante Astrid tercekat

Dan sebuah kisah lain pun terkuak…

*

“Biru itu nama yang bagus, diambil dari warna dengan makna yang dalam, menunjukkan ketenangan, kedamaian, dan kesejukan sebab warna ini melambangkan air dan awan. Biru juga terpancar dari rambut Buddha Gautama saat mendapat pencerahan, yang sebenarnya menyimbolkan cinta kasih yang universal untuk semua makhluk. Karena itu anak perempuan kita harus diberi nama Biru, tapi kalau anak lelaki mungkin sebaiknya dinamai Baruna, Dewa Laut dalam Mitologi Hindu. Toh kedua nama itu juga ga terlalu jauh maknanya. Gimana menurut kamu?” Tanya Andre saat mereka sedang duduk berdua di pantai. Dan Astrid hanya mengangguk walau di dalam pikirannya ada sebuah masalah lain yang sedang bercokol.

Hubungan mereka tidak direstui orang tua Andre, karena ada Niki, wanita yang akan dijodohkan dengan cowok itu. Astrid sedih sekali dengan kenyataan itu, dan semakin sedih lagi saat tahu dia sedang mengandung bayi Andre. Keberadaan bayi itu memang sengaja dirahasiakannya karena takut keluarga Andre akan semakin membenci dirinya dan calon anaknya. Dia tidak punya jalan lain dan memilih kabur dari kota mereka, lalu melahirkan seorang bayi laki-laki, yang diberi nama Baruna, sesuai permintaan dari ayah yang tidak akan pernah tahu keberadaan putranya itu.

*

Semuanya menjadi sangat aneh bagi Biru. Sikap tante Astrid yang aneh setelah mendengar nama kedua orangtuanya, wajah nenek yang terkejut saat melihat tante Astrid sewaktu beliau berkunjung ke rumah mereka keesokan harinya, bahkan wajah Baruna yang pucat pasi.

Lalu terkuak dan hancurlah semuanya…

Tante Astrid menemui nenek keesokan harinya, lalu membuka sebuah kisah yang telah tersimpan bertahun-tahun lamanya. Baruna sebenarnya juga cucu kandung nenek, dia dan Biru saudara tiri. Dan itu benar-benar membuat keadaan menjadi sangat membingungkan karena mereka semua tidak tahu apakah harus merasa sedih atau gembira. Akan tetapi ada satu hal yang sudah pasti, betapa menyedihkannya masa depan hubungan Baruna dan Biru. Dan mau tak mau hal ini membawa Biru kembali pada kenangan dongeng masa kecilnya.

KSATRIA DAN DEWI TAK AKAN PERNAH BOLEH BERSATU…

 

 

 

 

 

4 Responses to “Ksatria dan Dewi”

  1. on 22 Oct 2007 at 11:50icha

    bagus…, lumayan.

  2. on 11 Jun 2008 at 14:45Lilc

    Kren:-D

  3. on 12 Jun 2008 at 10:27nyysha

    makasih ya dah nyempetin baca dan kasih komen :)

  4. on 15 Nov 2008 at 13:19shafina

    baguz…..
    kok terbawa ya….
    sama kaya….?
    tapi teope kok….

Tinggalkan Komentar