Payung Vs Sepatu Boot Reyna
Juni 14th, 2007 by nita bintang
Namaku Reyna. Orang-orang yang mengenalku biasa memanggiku Rey. Jangan suruh aku untuk menulis namaku. Aku sudah lupa. Walau Bibiku pernah mengajarkan hal itu. Karena aku buta huruf.
Kata Bibiku, sekarang umurku 13 tahun. Aku anak tunggal. Kedua orangtuaku sudah meninggal ketika sedang menjalankan ibadah Haji. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Bibiku tidak pernah menceritakannya padaku walau aku selalu mendesaknya. Katanya aku masih kecil, masih belum mengerti. Saat itu aku masih berumur 7 tahun. Sampai sekarang pun, Bibi masih juga merahasiakannya.
Sekarang, aku tinggal di sebuah tempat. Aku tidak tahu namanya. Bibiku yang mengajakku ke sini tadi pagi. Lagipula, aku tak ambil pusing tempat apa ini. Yang aku tahu, di sini sangat ramai dengan orang-orang.
Sudah setengah jam yang lalu aku duduk di bangku taman. Disebelahku, kulihat ada seorang Bapak-bapak yang sedang asyik menghisap cerutunya. Aku termenung sambil menggigit-gigit ujung rambutku yang sedikit kusam. Aku lupa kapan terakhir kali aku mandi. Di sini, sepertinya tidak ada yang pedulikan aku. Tetapi aku senang melihat orang berlalu-lalang.
“Kakak yang pakai baju ungu itu, kenapa berteriak-teriak?” protesku kepada Bapak-bapak di sebelahku. Bapak-bapak itu hanya tersenyum tanpa menjawab. Mungkin ia tak mau melepas cerutu itu dari mulutnya. Aku menggaruk kepalaku yang sedikit gatal.
Kemudian aku melirik ke pemandangan lain. Di ujung jalan, aku melihat seorang kakek sambil menenteng radio berukuran kecil. Kakek itu sepertinya sedang serius mendengarkan radionya. Aku penasaran. Akhirnya aku putuskan untuk mendekatinya.
“Kakek, sedang apa?” sapaku ramah. Aku masih sibuk memelintir beberapa helai rambutku yang tak rapih lagi.
Kakek meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. “Ssstt…! Jangan berisik. Kakek sedang mendengarkan berita.” Jawabnya datar.
“Berita? Berita apa, Kek?”
“Kecelakaan kereta. Istriku ada di dalam kereta itu,” papar si Kakek. Ia masih menatap radio itu tanpa henti.
“Kecelakaan kereta? Kenapa istri Kakek ada di dalam kereta itu? Ada-ada saja! Biasanya, orang yang naik kereta itu, untuk berpergian jauh. Emang istri Kakek mau kemana?” tanyaku lagi. Aku menunggu beberapa saat. Aku mencoba menatap matanya. Tetapi Kakek itu tidak balas menatapku. Tatapannya hanya menjurus pada radio usang yang ada didepannya.
Sudahlah! Aku pergi saja! Kakek itu tidak peduli padaku. Ia hanya peduli pada radio tua itu. Aku cari teman yang lain saja! Ucapku dalam hati.
Brakk!!
Tubuhku tiba-tiba lerlempar ke tanah. Sakit juga. Aku lihat orang yang menabrakku barusan. Laki-laki tinggi memakai baju biru & topi baret. Dia membawa buku saku dan pulpen. Laki-laki itu sibuk menulis sesuatu di buku saku yang dibawanya. Entah menulis apa.
Aku berdiri pelan-pelan. Lalu mengusap bajuku yang sedikit kena kotoran. “Heh! Kalo jalan liat-liat dong! Jangan meleng aja! Liat nih, bajuku jadi kotor!”
“Aduh… maaf ya, Dik! Aku nggak sengaja. Aku lagi buru-buru nih, lagi dikejar dead line. Sori ya!” ucap laki-laki itu. Ia terlihat sangat tergesa-gesa.
“Dead line? Apaan tuh?” tanyaku sama sekali nggak ngerti.
“Aku wartawan. Namaku Rico. Ini kartu namaku. Aku buru-buru. Nanti kita ketemu lagi ya!” ujar laki-laki itu ramah. Ia meninggalkan secarik kertas di tanganku. Tak lama laki-laki itu langsung melesat pergi.
Wartawan? Hebat! Di sini juga ada wartawan? Tapi untuk apa dia ngasih kartu nama ini? Aku
kan tidak bisa membaca. Keluhku dalam hati.
Aku melanjutkan langkah kakiku. Dengan riang, aku berjalan sambil berloncat-loncat. Rokku yang panjang dan lebar menari-nari mengikuti gerakanku. Sesekali sepatu boot kuningku tersingkap. Sebagian orang disekitarku melihatku dengan tatapan yang tidak enak. Tetapi aku tak peduli. Aku tetap tersenyum ramah kepada mereka.
Langkahku terhenti pada seorang wanita yang sedang menimang-nimang boneka. Ia terlihat sangat sedih. Tapi, waduh! Dandannya kok mencolok banget! Aku tegur dia, ah!
“Kakak, sedang apa? Kok sedih?” aku menatap matanya dalam. Seperti ada yang lain dari tatap matanya.
“Aku bingung, Dik. Aku sedang mencari ayah anak ini. Sudah tiga tahun dia tidak pulang. Aku tidak tahu harus mencari kemana lagi.” wanita itu kemudian menangis sambil memeluk boneka itu dengan erat. Aku merasa tersentuh.
“Sudahlah, Kak…”
“Monic. Namaku Monic”
“Iya, Sudahlah Kak Monic. Sabar ya! Jangan sedih. Kenalkan, namaku Reyna. Panggil saja aku Rey. Kamarku ada di ujung situ.” Aku menunjuk ke arah kamarku yang terlihat lumayan jauh dari sini. Aku tidak tahu harus menghiburnya dengan kata-kata apa. Kayaknya, aku merasa masih terlalu dini dengan masalah orang dewasa seperti Kak Monic.
* * *
Hari kedua aku tinggal di sini. Sepertinya aku betah. Aku makin mengenal banyak orang. Terutama teman sekamarku. Namanya Renny. Dia satu tahun lebih tua dariku. Dia sudah enam bulan tinggal di sini.
“Ren, kamu punya keluarga?” tanyaku sambil melipat selimutku setelah semalam kupakai untuk tidur.
“
Ada.” Jawab Renny singkat. Ia berusaha menyisir rambutnya. Tapi belum juga rapih. Belahan rambutnya terlihat masih berantakan.
“Lalu, kenapa kamu tinggal di sini? Kenapa kamu nggak tinggal sama keluarga kamu?”
Sisir yang Renny gunakan masih menyangkut di sela ramburnya yang kusut. “Aku juga nggak ngerti. Ayah tiriku yang membawa aku ke sini.”
“Sini, aku bantu sisir rambutmu,”
“Makasih, Rey.”
“Mungkin ayah tiri kamu nggak suka sama kamu. Biasanya, ayah tiri itu galak,” ucapku sekenanya. Tetapi Renny hanya diam. Mungkin ia keenakan rambutnya aku sisiri.
“Kita jalan-jalan ke luar yuk! Nanti aku kenalin sama temen-temen aku.” ajak Renny tiba-tiba. Seolah ia mengelak dari pembahasan ayah tirinya itu.
Aku menangguk kegirangan. “Tunggu, Ren. Aku ambil payungku dulu.”
“Kenapa kamu kemana-mana selalu bawa payung?” tanya Renny heran.
“Aku takut kehujanan. Yuk kita keluar!”
Aku dan Renny berjalan bergandengan tangan. Rok merah mudaku sesekali melayang-layang terbawa angin. Sepatu boot-ku sudah lama tidak di cuci. Jadi sudah terlihat agak kusam. Renny pernah bertanya, kenapa aku selalu pakai sepatu boot. Aku bilang saja karena kakiku tidak bisa kena tanah yang becek. Renny tertawa lebar. Padahal suasana di luar panasnya nggak ketulungan. Nggak bakal dia temuin tanah becek di udara panas gini. Aku pikir benar juga kata-katanya Renny. Tapi, itu memang pesan ibuku. Untuk membawa payung dan memakai sepatu boot kemanapun aku pergi.
Aku dan Renny berhenti di sebuah kolam air mancur. Tempat itu sangat srategis. Bisa melihat kesegala arah. Karena kolam air mancur itu terletak di tengah taman yang cukup luas ini.
“Rey, kamu lihat orang yang bawa buntelan itu?” Renny menunjuk ke seorang bapak setengah tua.
“He-eh. Liat. Kenapa?”
“Namanya Mang Ujang. Dia udah dua tahun tinggal di sini. Kalo aku lagi bete, aku suka curhat sama dia.”
“Tapi, kenapa dia bawa buntelan? Apa isinya?”
“Aku juga pernah tanya kayak gitu sama Mang Ujang. Tapi dia nggak pernah kasih tau.”
“Oo…” mulutku membulat. Aku manggut-manggut walau sebenarnya aku nggak begitu mengerti.
“Nah, kalo Kakak yang itu…”
“
Namanya Rico, kan?” tebakku cepat. Aku tersenyum sumringah.
“Lho, kok kamu tahu?”
“Dia nabrak aku kemarin. Katanya, dia seorang wartawan, ya?”
“Iya. Tapi, beritanya nggak pernah masuk tivi. Aku juga nggak tahu kenapa.”
Aku mulai sedikit paham. Apa di sini kumpulan orang-orang gagal? Seperti yang aku lihat kemarin, seorang kakek yang sedang menunggu berita kecelakaan kereta. Lalu, Kak Rico. Wartawan yang beritanya nggak pernah nongol di tivi.
Ada lagi Kak Monic. Yang ditinggal pergi suaminya. Terus kenapa dandannya medok banget? Kalo Renny, kenapa dia tinggal di sini? Apa karena ayah tirinya? Lalu aku sendiri? kenapa Bibiku menitipkan aku di sini? Kenapa? Ah! Aku bisa gila kalo aku terus-menerus memikirkan hal ini. Nanti juga aku tahu sendiri.
* * *
Tidak sengaja saat aku berjalan-jalan, aku melewati kamar Kak Monic. Dia masih juga menggendong boneka sambil menyanyikan nina bobo. Jujur, suaranya bagus. Aku putuskan untuk mampir ke kamarnya.
“Kak Monic…” aku membuka pintu kamar sedikit.
“Eh, Reyna. Sini masuk.”
“Aku mendengar Kak Monic nyanyi. Suara Kakak bagus banget. Jadi aku ke sini.”
“Makasih, Rey. Dulu, sebelum aku menikah sama ayahnya Tobi, aku suka menyanyi di café-café.” Papar Kak Monic.
Ooo… pantas Kak Monic dandanannya aneh dan mencolok. Ternyata, dulu ia bekas penyanyi café? Ucap Reyna dalam hati.
“Rey, kamu kenapa mau tinggal di sini?” Tanya Kak Monic tiba-tiba.
Pertanyaan itu aneh menurutku. Apa perlu aku jawab?
“Emangnya, ada apa sama tempat ini, Kak?”
Belum sempat Kak Monic menjawab, seorang wanita cantik berbaju putih-putih datang membawa makan siang.
“Monic, waktunya makan. Reyna, kamu boleh kembali ke kamar kamu. Makan siang kamu sudah menanti.”
“Terima kasih, Bu.” Aku berjalan gontai kembali ke kamar. Ah! Payah! Hampir saja aku diberi tahu sebuah rahasia yang sangat penting oleh Kak Monic. Tapi Bu Melanie dateng. Jadi gagal deh!
Aku tiba-tiba saja berubah pikiran. Ketika Kakek yang biasa membawa radio tua yang setelah aku selidiki biasa di panggil Mbah Sastro di sini, lewat di depan kamarku. Aku batalkan niatku untuk makan siang. Aku lebih suka membuntuti kemana Mbah Sastro pergi.
“Mbah! Tunggu! Aku ikut, Mbah!” aku berusaha lari kencang menyusul Mbah Sastro yang berada
lima meter di depanku.
“Mbah, Hh… hh.. mauh..h… ke manah…h?” aku menyeimbangkan nafasku yang masih Senin-Kamis.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan. Ini urusanku!” jawab Mbah Sastro garang.
“Mbah, sudah ketemu berita tentang istri Mbah? Mbah mau nyusul ya?” tanyaku sok tahu. Tapi, aku lebih suka begitu.
“Walah, kamu anak ingusan nggak usah ikut campur urusanku,”
“Aku nggak sakit flu, kok Mbah!” jawabku spontan. Gimana bisa aku ingusan? Aku
kan nggak lagi flu. Aku jawab begitu, si Mbah malah marah-marah. Yah! Gagal lagi deh!
Terus terang aku masih belum mengerti. Sebenernya kenapa aku dititipkan Bibi di sini? Apa Bibi nggak mampu merawatku? Apa aku termasuk orang-orang yang gagal seperti Renny, Mbah Sastro, Mang Ujang, Kak Rico dan Kak Monic? Benarkah tebakanku bahwa di sini tempat orang-orang yang gagal?
Oh ya! kenapa aku nggak coba tanya sama Ibu Melanie? Sepertinya dia bekerja di sini untuk mendidik orang-orang yang gagal seperti kami. Berarti Ibu Melanie bukan termasuk orang-orang yang gagal? Sip! Habis makan siang aku mau ketemu sama Ibu Melanie, ah! Bodoh benar aku! Kenapa aku nggak kepikiran dari tadi!
* * *
Tok… tok…
“Siapa?”
“Reyna, Bu Mel… aku mau ngajak Bu Mel ngobrol. Boleh,
kan?”
Bu Melanie tampak mengembangkan senyum ramahnya. “Boleh, Rey. Sini duduk deket Ibu. Mau ngobrol apa?”
“Aku mau tanya tentang Renny, Mbah Sastro, Mang Ujang, Kak Rico dan Kak Monic. Sebenarnya ada apa sama mereka?” tanpa basa-basi aku langsung pada pokok persoalan. Lagi-lagi Bu Melanie mengembangkan senyum ramahnya. Ia terlihat sibuk dengan kertas-kertas yang ada di depannya. Mungkin Bu Melanie juga wartawan sama seperti Kak Rico. Tapi pasti bukan wartawan yang gagal.
“Reyna, Reyna. Pertanyaan kamu membuat Ibu nggak yakin kalo kamu sakit,”
“Sakit? Aku emang nggak sakit. Aku sehat-sehat aja, kok! Kenapa Bu Mel bilang aku sakit? Mbah Sastro juga bilang aku ingusan. Padahal aku
kan lagi nggak sakit flu,”
“Rey, mereka semua dalam tahap penyembuhan di sini. Kalo Renny, Mbah Sastro, Mang Ujang, Kak Rico dan Kak Monic udah sembuh, mereka boleh pulang. Kamu juga.”
“Tapi, mereka nggak kelihatan lagi sakit,”
Ibu Melanie diam. Ia meletakkan pulpen hitamnya di atas meja. Kemudian menatapku. Aku gugup. Lalu menunduk.
“Rey, kenapa kamu punya pikiran untuk menanyakan hal ini kepada Ibu?” tanya Ibu Melanie. Sepertinya serius. Terus terang, aku jadi takut.
“Aku… aku pingin tau aja kenapa Bibiku menitipkan aku di sini.”
“Memang, Bibimu tidak memberitahu kamu sebelum kamu di bawa ke sini?”
“Bibi cuma bilang, aku mau di bawa ke suatu tempat yang baik untuk aku,”
“Dan kamu merasa baik di sini?”
Aku berfikir lama. Mataku berputar-putar kea tap ruangan memikirkan pertanyaan Bu Melanie barusan. Dengan mantap aku mengangguk. Memang aku merasa lebih baik di sini dari pada di rumah Bibiku yang sempit dan bau obat nyamuk bakar itu. Apalagi, di sini aku menemui banyak orang yang senasib dengaku.
“Jadi, apalagi yang harus kamu tanyakan? Rey, Ibu yakin, di sini kamu akan baik-baik saja. Selama kamu bisa bertingkah laku baik. Oke?”
“Iya, Bu Mel.” Aku tersenyum senang. Sepertinya aku puas dengan jawaban Ibu Melanie.
“Sekarang kamu kembali ke kamar, ya.”
“Tapi, saya lupa kemana jalan ke kamar, Bu mel,”
“Nanti diantar Suster Febi, mau?”
“Mau, mau!!” jawabku sambil loncat-loncatan. Bagiku, suster Febi adalah suster terbaik di sini. Dia selalu membacakan buku cerita sebelum aku tidur.
“Suster Febi, antarkan Reyna ke kamarnya,” perintah Ibu Melanie.
“Baik, Bu Kepala. Ayo, Reyna kita kembali ke kamar,” kajak Suster Febi sembari menggandeng tanganku. Tangannya terasa halus.
“Tapi nanti malem, Suster Febi harus bacain aku dongeng lagi, ya!”
“Iya anak manis,” Suster Febi mengusap kepalaku dengan manja. Kemudian ia menggandeng tanganku lalu mengantarkan aku ke kamar.
* * *
Sepertinya sekarang aku sudah benar-benar paham. Aku juga merasa lebih baik di sini. Punya teman curhat seperti Renny, bisa ikut membantu masalah Kak Monic, bisa jadi artis karena sering di wawancarai Kak Rico, kadang aku juga suka bantuin Mbah Sastro cari berita tentang kecelakaan kereta. Sepertinya Ibu Melanie salah kalo ia bilang aku sakit. Tapi biarlah. Aku bahagia kok! Sekarang, aku mau jalan-jalan keluar dulu ah!
“Reyna…”
“Ya, Suster Febi,”
“Kamu nggak bawa payung?”
“Oh, iya! Aku lupa. Untung Suster Febi ingetin aku. Kalo enggak, nanti aku keujanan. Aku takut dimarahi Ibu kalo nanti aku pulang basah kuyup.”
“Ya udah. Nih payungnya. Jangan lupa pake sepatu boot-nya juga ya!”
“Makasih, Suster Febi baiii…k banget sama aku,” aku mengecup kedua pipi Suster Febi. Setelah itu aku langsung berlari ke luar.
Udara pagi ini cerah sekali. Secerah hatiku saat ini. Aku menari-nari di bawah terik sinar matahari. Aku biarkan payung biru yang aku pegang ikut menari juga mengikuti gerakanku. Rok merah muda yang aku pakai juga ikut berputar-putar hingga terlihat lebar seperti piring.
Aku beruntung bisa berada di sini. Aku merasa di sini adalah tempat yang tepat buatku. Walau aku tak tahu nama tempat ini. Tetapi di sini, aku bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Aku ingin tinggal di sini selamanya!