KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kejora

Vinka menghempaskan tubuh letihnya ke atas kasur. Kemudian ia mencoba memejamkan matanya. Barang-barang bawaan yang setumpuk miliknya dibiarkan tergeletak begitu saja dilantai keramik yang dingin itu. Ia merasa lelah sekali selama dalam perjalanan menuju puncak
Bogor. Liburan long weekend kali ini yang dipilih bersama teman-teman kuliahnya, Dara yang tomboy, Luna yang keibuan, Witri si jago masak dan Maya yang perempuan abis. Sementara Vinka sendiri di cap sebagai anak manja sama teman-temannya. Selain memang dia paling muda, dia juga masih bertingkah-laku seperti anak-anak.

Ia melihat sekeliling kamar. Walaupun cuma berukuran 3×3 meter plus kamar mandi, kamar ini termasuk kamar yang paling nyaman setelah ia melihat-lihat empat kamar lain di bungalow yang mereka sewa ini. Di pojok kamar yang Vinka tempati, terdapat lemari pakaian yang lumayan besar dan meja rias yang terbuat dari kayu ukiran. Di dinding kamar, digantung lukisan-lukisan sederhana bergambar air terjun dan pegunungan.

Airnya hangat. Di tempat yang lumayan dingin ini, nggak mungkin mandi pakai air dingin. Bisa beku nanti. Vinka menaruh handuknya di jemuran yang telah tersedia di setiap kamar.

Vinka membuka tas ranselnya yang masih tergeletak di lantai. Ia mengeluarkan isi dari setiap bagian dari kantung-kantung di tasnya. Kemudian memasukkan dan merapikannya di dalam lemari. Meja riasnya tidak banyak makan tempat berhubung Vinka tidak begitu suka dandan. Paling hanya deodorant dan bedak saja yang jadi pajangan meja riasnya. Selebihnya, ia masukkan di dalam lemari. Beres.

*     *     *

Vinka rebahan di atas tempat tidurnya. Menarik selimutnya panjang-panjang. Udara dingin seperti membalut tubuhnya. Padahal dia sudah mengenakan sweater plus kaus kaki tebal. Tetap saja ia kedinginan dan tidak bisa tidur. Ia memeluk boneka yang sengaja ia bawa dari rumah. Sembari membayangkan betapa kedinginannya Dara dan Maya yang nekat mau jalan-jalan keluar. Sementara Witri dan Luna masih asyik di dapur nyiapin makan malam.

Berselang sepuluh menit, Vinka mengacak-acak selimut tebalnya. Merasa selimutnya masih kurang mempan menutupi tubuhnya yang sudah beku karena kedinginan.

Vinka membuka pintu samping. Berrr… dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Udara dingin di luar masih menembus sweater tebalnya. Ia melangkah keluar dan duduk di kursi taman. Melihat keadaan sekitar. Lampu taman bersinar cukup terang.
Taman itu masih ramai dengan anak-anak kecil yang sedang bermain dengan teman sebayanya. Tetapi ia melihat ada seorang anak yang menyendiri. Duduk di sebuah ayunan sambil melihat ke atas.

Vinka menatap anak kecil itu. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia tidak pernah berhenti melihat ke atas? Tanpa ragu, ia menghampiri gadis kecil itu.

“Adik, sedang apa?” sapa Vinka. Sesaat gadis kecil itu menoleh kearahnya. Kemudian kembali melihat ke atas.

“Adik namanya siapa?” Vinka coba mengajukan pertanyaan lain. Tetapi gadis kecil itu tetap diam.

Vinka menghembuskan nafasnya. Ia menatap gadis kecil yang sedari tadi masih menengadahkan kepalanya ke atas. Kemudian Vinka juga melihat ke atas karena ingin tahu apa yang gadis kecil itu lihat. Tak lama, Vinka pun tersenyum seolah mengerti.

“Adik suka bintang, ya?” Tanya Vinka. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. “Kakak juga suka. Oh, ya. Nama kakak Vinka. Adik siapa?” gadis itu tersenyum manis. Dengan semangat, ia menunjuk ke arah bintang-bintang di langit.

“Bintang? Nama adik, Bintang?” lanjut Vinka lagi. Tetapi gadis itu menggeleng sambil terus menunjuk ke arah bintang. “Aduh… maaf, Dik. Kakak nggak ngerti.” Vinka bingung. Gadis itu terus menunjuk-nunjuk ke atas.

“Kejora! Ayo pulang!” seorang laki-laki usia belasan menghampiri gadis kecil itu. Mungkin kakaknya. “Maaf, Kak. Kejora bisu.” Sapa si Kakak sambil menarik tangan Kejora. Tetapi Kejora melawan. Tetapi akhirnya Vinka mengetahui namanya. Kejora. Nama yang indah.

“Adik, biar aja Kakak temani Kejora main sebentar. Tampaknya ia belum mau pulang.” Vinka mencoba membujuk Kakaknya.

“Kakak nggak usah sok tahu! Saya ini kakaknya! Saya yang tahu Kejora seperti apa! Dia bisa membahayakan orang! Apalagi perempuan seperti Kakak!” Jelas sang Kakak. “Ayo, Jora! Pulang! Kamu mau dimarahi Umi?” Kakaknya kembali menarik tangan Kejora yang kesakitan.

Sementara Vinka bertanya-tanya di dalam hati. Mencoba menerka maksud kakanya tadi. Membahayakan perempuan seperti aku? Memangnya ada apa dengan Kejora?

*     *     *

Vinka menyantap sandwich buatan Witri di meja makan. Ingatannya masih tentang Kejora. Kata-kata kakak Kejora pun masih terus diingat olehnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu? Apa benar ia membahayakan? Sepertinya ia hanya gadis kecil yang lugu.

“Woi! Bengong! Tuh sandwich dari tadi nggak abis-abis.” Dara menepuk bahu Vinka. Vinka tersentak. Ia terbatuk-batuk karena tersendak roti yang dari tadi dikunyahnya.

“Ih! Dara! Mau bunuh Aku pelan-pelan ya? Air mana air?! Air!!” Vinka berlarian kesana kemari. Membuka isi kulkas mencari air mineral, kemudian menengguknya. Pasalnya tuh roti nyangkut di tenggorokannya.

“Makanya! Jangan makan sambil bengong! He… he… he…” ledek Dara. Sementara Vinka cuma manyun ngeliat tingkah Dara yang suka isengin orang. Witri Maya dan Luna hanya bisa tertawa saja melihat tingkah mereka.

“Udah, udah! Abis makan pada mandi ya! Ntar kita jalan-jalan sekitar kampung sini. Sekalian olah raga,” usul Luna.

“Iya! May, kameranya jangan lupa nanti dibawa. Siapa tahu aja ada moment cantik yang sayang kalo dilewatin,” tambah Witri.

“Apalagi moment cantiknya itu foto-foto sama orang yang cantik pula kayak aku, he… he…” ujar Vinka pede. Yang lain langsung mengepung Vinka dan mengacak-acak rambutnya.

Pagi itu di daerah perkampungan memang tidak begitu ramai. Di daerah sini hanya ramai dengan orang-orang pendatang yang juga menginap di villa seperti Vinka dan kawan-kawan. Tetapi ada juga beberapa ibu-ibu penduduk desa yang terlihat sedang memetik sayuran dari hasil panennya sendiri.

Maya yang dipercaya sebagai seksi dokumentasi sibuk mencari pemandangan yang bagus untuk background foto-foto mereka. Vinka malah mengusulkan foto bersama penduduk desa. Usul yang aneh itu ditambahi celaan Dara. Sekalian aja foto bareng kerbau yang sedang membajak sawah.
Kan mirip, tuh!

Perjalanan pagi mereka berlanjut ke kampung tetangga. Mereka tetap meramaikan suasana dengan canda dan tawa. Sesekali penduduk sekitar ikut tertawa melihat tingkah mereka yang sedang berpose lucu-lucu. Beberapa kali Vinka mengajak penduduk ikut berfoto dengan mereka.

Keceriaan Vinka tiba-tiba buyar ketika mereka sampai di deretan rumah penduduk terakhir. Di deretan rumah penduduk yang paling ujung, Vinka melihat Kejora sedang duduk di depan rumahnya yang terbuat dari triplek yang sudah renta. Masih dengan pemandangan semalam. Gadi kecil itu sedang menatap langit.

 “Kejora…” ucap Vinka tiba-tiba.

“Vin, kamu kenal dengan anak itu?” Tanya Luna.

“Halah, nih anak
kan, sok tahu! Udah deh jangan di dengerin!” ledek Dara. Sementara Vinka masih berdiam di tempat ia berdiri sekarang. Memandang Kejora dari jauh.

“Anak kecil itu namanya Kejora. Semalam aku ketemu di taman depan bungalow,” papar Vinka. “Kita kesana yuk, Lun. Aku mau ngobrol sama orang tuanya.” Ajak Vinka. Ia masih penasaran dengan kata-kata kakaknya semalam. Luna pun mengangguk.

“Kejora? Apa kabar? Masih ingat Kakak?” sapa Vinka. Kejora hanya meliriknya. Kemudian tersungging sedikit senyum di wajah lugunya. Ia tampak manis.


Ada apa lagi sih? Udah siang nih! Vin, lu masih mau foto-foto bareng pendukuk ya?” Keluh Dara yang sudah mengeluarkan keringat.

Vinka tidak menggubris protesnya Dara. Ia hanya terpaku pada Kejora. Ia heran dengan gadis kecil itu. Kenapa ia tetap menatap langit? Apa Kejora tidak bisa membedakan antara siang dan malam?

“Kejora, Ibu kamu ada di rumah? Kakak mau ketemu, boleh?” Tanya Vinka. Kejora langsung lari masuk ke dalam. Vinka kebingungan. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? Tak lama Kejora keluar dengan menggandeng Ibunya.

“Aduh… Jora? Emak teh, jangan ditarik-tarik? Kenapa atuh? Eh, aya Neng-neng geulis?”

“Maaf, Bu. Kami mengganggu. Saya ingin ngobrol-ngobrol tentang Kejora.” Vinka memulai pembicaraan. Ibunya langsung diam. Melihat ke arah Vinka dari atas hingga ke bawah. Vinka jadi serba salah. Lalu menatapi Maya, Dara, Witri, dan Luna bergantian.

“Kalian teh wartawan, ya?” Tanya Ibu Kejora penuh selidik.

“Bukan, Bu. Kami bukan wartawan. Kami hanya mahasiswa yang sedang berlibur kesini. Kebetulan saya semalam bertemu dengan Kejora di depan bungalow yang kami tempati.” Jelas Vinka setengah menangis. Sementara Luna mencoba menenangkan Vinka.

“Terus kenapa? Kejora bikin masalah sama kalian?” ucap Ibunya makin keras. Vinka semakin takut.

“Nggak, Bu. Tapi saya mau tahu, apa Kejora…”

“Sudah! Saya teh tidak suka ada yang mendekati Kejora! Apalagi neng-neng seperti kalian! Saya nggak mau kalian merusak anak saya!” bentak Ibunya memotong kalimat Vinka.

Vinka tak tahan menahan air matanya. Lalu ia tumpahkan dipelukan Luna.

*     *     *

Akhirnya, Vinka menceritakan kejadian semalam yang ia alami bersama Kejora dan kakaknya. Yang paling ia ingat adalah kata-kata kakaknya. Ibunya pun berkata hal yang sama. Hal itulah yang membuat Vinka ingin tahu lebih banyak tentang gadis kecil itu.

Witri mengambilkan teh manis hangat dari dapur. Kemudian menyuguhkannya di gelas bening untuk Vinka. “Nih, Vin. Diminum biar tenang.” Tebak Witri.

“Lagian, cuma dibentak dikit sama ibu-ibu aja, langsung banjir! Gimana kalo disuruh ngirisin bawang merah? Bakalan kerendem deh!”  ledek Dara.

“Hus!! Udah, Ra. Jangan becanda terus.” Maya menyenggol lengan Dara.

“Tapi, gimana kalo kita nyelidikin sendiri? Emangnya lu-lu pada nggak penasaran sama bocah bisu itu?” usul Dara tiba-tiba.

“Udah, deh! Nggak usah diperpanjang. Lagipula besok pagi kita udah harus balik ke
Jakarta,
kan?” tambah Luna.

Suasana ruang tamu kembali hening. Cuma suara sisa tangis Vinka yang terdengar. Dara berlagak mikir. Tiba-tiba saja ia menggebrak meja. “Nggak!!” Spontan semuanya kaget. “Kita tetep harus selidikin. Entar malem, kita ke rumah tuh bocah lagi. Gimana?” Tambah Dara lagi.

Luna melepaskan pelukannya dari tubuh Vinka. “Kenapa sih lu ngotot banget, Ra?”  ia beranjak dari kursinya. Kemudian melanjutkan kata-katanya. “Lu nggak ngeliat Vinka sekarang? Dari pada nambah masalah, mending entar malem packing barang masing-masing aja biar paginya bisa langsung check out dari sini. Katanya sebelum pulang mau hiking ke Gunung Gede dulu?”

Dara mendengus kesal. Ia memicingkan mata. Kemudian mengalihkan pandangannya.

*     *     *

Vinka baru saja selesai mengemasi barang-barangnya untuk pulang ke
Jakarta besok. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang tertinggal. Pintu kamar Vinka sengaja tak tertutup rapat agar memudahkan teman-temannya untuk masuk. Lagipula, ia takut jika suasananya terlalu sepi. Kedua telinganya tersumbat ear-phone yang berasal dari mp3 player-nya. Itu pun sengaja ia lakukan untuk menghilangkan kegelisahan. Tetapi semua yang ia lakukan saat ini sepertinya sia-sia. Tetap saja ada rasa aneh yang terselip dalam hatinya. Kejora. Kenapa anak itu begitu menyita pikirannya?

Jam sepuluh malam. Vinka belum juga bisa memejamkan matanya. Ia melongok ke luar kamar. Sepertinya, teman-temannya sudah terlelap.

Vinka melongok ke luar jendela. Ia lihat seorang anak kecil duduk di atas ayunan. Kejora?! Malam-malam begini?

Vinka penasaran. Rasa takutnya tiba-tiba hilang. Ia abaikan untuk mengunci pintu belakang. Justru ia pergi keluar menghampiri Kejora.

“Kejora? Ngapain kamu di sini sendirian?” tanya Vinka. Seperti biasa, tanpa jawaban. Kejora malah semakin asyik menatap langit malam yang penuh bintang.

“Kak, tolong ambilkan bintang yang itu.” Ucap Kejora sambil menunjuk ke atas.

Vinka terkejut tidak percaya. “Kejora? Kamu… bisa bicara?”

“Kak, ambilkan bintang yang itu! Cepat, Kak!” kata-kata Kejora mulai kasar. Vinka makin heran dibuatnya.

“Kejora, kamu kenapa?”

“Dulu aku disebut bintang yang terang, Kak. Orang-orang bilang aku cantik. Aku perawan desa tercantik. Aku punya cahaya yang indah layaknya bintang. Tetapi sekarang aku bukan apa-apa lagi. Aku hanya perempuan kotor! Aku kotor!” jelas Kejora dengan lantang. Kejora makin menjadi.

“Maksud kamu?” pikiran Vinka penuh tanda tanya. Ia membiarkan Kejora menumpahka emosinya.

“Bintangku sudah hilang, Kak! Diambil oleh para lesbian! Aku benci perempuan-perempuan itu! Setelah mereka puas denganku, aku dibunuh! Lalu aku dibuang ke sungai!” Kejora bercerita seperti berapi-api. Emosinya kian meluap. Kemudian ia beranjak dari ayunannya. Berdiri tepat di depan Vinka.

“Apa?! Sebenarnya kamu siapa? Kamu bukan Kejora!” vonis Vinka dengan yakinnya.

“Aku benci perempuan seperti kamu! Kamu yang membunuhku!” lanjut Kejora. Ia mencengkram tubuh Vinka dengan keras. Nafasnya terasa sesak.

“Bukan Kejora! Bukan aku! Aku nggak tau apa-apa. Tolong!” Vinka berteriak sekencangnya. Berharap teman-temannya mendengar. Tetapi sama sekali tak ada jawaban. Ia sendirian. Ia merasa cengkraman Kejora makin keras. Tak lama, Vinka merasa lubuhnya sangat lemah dan tak sadarkan diri.

“Vin… bangun. Sadar, Vin…” Luna mengguncang-guncang tubuh Vinka yang masih belum sadarkan diri dan masih berteriak-teriak.

“Vin, istighfar. Astagfirullah… astagfirullah…” ujar Witri ikut khawatir.

Teriakan Vinka makin melemah. Bukan karena lelah. Tetapi Vinka mulai sadarkan diri. Kepalanya masih terasa pusing. Tubuhnya masih terasa sedikit sakit akibat cengkraman Kejora. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia melihat dirinya dikelilingi oleh teman-temannya.

“Kejora? Dimana dia?” Tanya Vinka tiba-tiba.

“Tenang, Vin. Kamu pingsan. Tadi habis shalat subuh kita ngeliat kamu pingsan di dekat ayunan.” Terang Maya.

“Kita udah nebak, ini pasti ada hubungannya sama Kejora. Tadi pagi kita nekat kerumahnya. Kita ketemu ibunya. Tadinya ibunya marah-marah lagi. Tapi setelah kita ceritain kondisi kamu, akhirnya ibunya mau cerita hal yang Kejora alami.” Tambah Dara.

“Aku tahu. Kakaknya meninggal karena dibunuh oleh lesbian.” Potong Vinka tiba-tiba.

Kakaknya Kejora bernama Bintang. Ia dibunuh tiga tahun yang lalu di bungalow tempat Vinka dan kawan-kawan menginap. Ketika itu umurnya masih limabelas tahun. Ia diiming-imingi banyak makanan. Tetapi, sampai di bungalow, ia malah dicabuli oleh pengunjung bungalow itu yang semuanya adalah seorang lesbian. Satu-persatu bergiliran dengan teman-temannya. Bintang menjerit. Tetapi tidak ada yang mendengar. Karena takut ketahuan anak itu melapor pada penduduk kampung, akhirnya sekelompok lesbian itu memutuskan untuk membunuhnya. Dan kemudian mereka membuang mayat Bintang di hulu sungai.

Setelah Vinka siuman dan sudah agak baikan, akhirnya mereka bergegas meninggalkan bungalow. Dan mengurungkan niat mereka untuk hiking ke Gunung Gede, melihat kondisi Vinka masih trauma atas kejadian semalam.

Karena kejadian semalam, akhirnya ibu Kejora memutuskan untuk memasung gadis kecil lugu itu. Seharian Kejora menangis tiada henti. Ibunya memang harus melakukan hal itu. Mengingat anaknya selalu membahayakan orang lain yang menginap di bungalow itu akibat arwah Bintang yang belum tenang.

5 Responses to “Kejora”

  1. on 20 Sep 2007 at 11:27hazuki

    bagus…!!!!
    keren…!!!!

  2. on 28 Sep 2007 at 14:57zaenal arifin

    good story

  3. on 30 Sep 2007 at 23:10realtime

    baca dulu ya… panjang sih jadi tak bawa pulang aja, buat nambah koleksi

  4. on 08 Aug 2008 at 15:13layla

    hihihihihi,,,,,,,,,,,,,,,,,
    serem jg yach’!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. on 21 Sep 2008 at 10:13Addji

    lumayan!
    baguuz!!

Tinggalkan Komentar